Senyumnya kembali mengembang, matanya kembali terpejam sebelum akhirnya kembali terbuka saat merasakan hembusan angin pagi yang membawa harumnya bunga bercampur wanginya dedaunan yang menjadi pemandangan sejauh matanya memandang. Dia mencintai tempat ini, lihatlah taman bunga itu dan beberapa pohon mangga serta jeruk yang mulai berbuah, seolah lelaki itu tahu apa yang akan dia suka saat waktunya tiba.
Ah, jangan lupakan kolam ikan yang berada disisi lain rumahnya yang masih bisa dia lihat dari balkon kamarnya.
Benar-benar menakjubkan, dia tidak menyangka Alex memiliki selera yang bagus. Ini benar-benar sangat sesuai dengannya.
Nyaman, juga menenangkan
"Rasanya aku tidak ingin kembali" gumamnya pelan, sesaat tatapan itu menyiratkan akan kerinduan yang begitu dalam, yang selalu ditolak oleh hatinya dan bibirnya yang terus mendukung penolakan itu.
Dia tidak akan kembali kesana lagi!
"Aku merindukan kalian, berbahagialah disana" Alexsa menerawang jauh, mengingat bagaimana saat pertama sekali dia tahu mengenai orang tuanya.
Orang Tua kandungnya.
Playback
Suasana hening di ruang keluarga kediaman Wilshon seolah menjadi latar suasana tempat itu,. lihatlah beberapa orang yang sudah duduk di atas sofa empuk itu masih dalam keheningan seolah enggan membuka suara.
"Apa tidak ada yang ingin memulainya" Alex mulai bersuara, kenapa baru sekarang mereka ingin menceritakan semuanya.
Satu minggu setelah gadisnya sadarkan diri, Robect memaksa mereka kembali keindonesia. Dengan berat hati Alex menyetujui semua itu. memaksakan kakinya menuju rumah kediaman orang tuanya.
Tempat dimana kisah manis dan pahit mereka dimulai.
"Ada apa Daddy meminta kami kemari?" Alex bertanya dengan tidak sabaran sambil menggenggam tanggan gadisnya yang masih menatap orang tuanya penuh tanya.
Padahal jelas dia tahu kenapa Robert memanggil mereka. Tapi dia ingin Robert yang menceritakan semuany. Bukan dia. Dan Dia ingin Alexsa tahu semuanya dari orang tua mereka.
"Kami tidak punya banyak waktu untuk berdiam-diam seperti ini'' Lexsa menatap kesal lelaki di sampingnya. Dia ingin tahu apa yang hendak Daddynya sampaikan, Tapi Alex sejak. Tahu benar-benar tidak sabaran.
Robert menghela nafas pelan, ini berat untuknya. Tapi ini pilihan terbaik. Alexsa pantas untuk tahu semuanya.
"16 tahun lalu, saat kamu masih berumur 3 tahun. " Robet menatap Alex seolah ingin anaknya itu tahu. Apa yang sedang dia rasakan sekarang
Dia juga terluka disini, kisah lama yang sebenarnya sudah lama dia lupakan dan kini Robet harus mengingat nya kembali hanya untuk agar Alexsa tahu dan karena Beny Kear yang sudah membuat mereka kembali menggali kisah kelam itu.
Kisah kelam yang akan membuat Putrinya terluka.
"Paman dan Bibi kamu pergi ke amerika. untuk mengurus kekacauan di perusahan cabang disana. Dan mereka menitipkan bayi nya yang saat itu baru saja berumur dua belas bulan pada Dady dan Mommy mu."
Alex menahan nafasnya sesaat. Dia ingin tahu semuanya tapi ada bagian dalam dirinya yang ingin semuanya biar jadi masa lalu saja. Tapi Alexa, Dia tahu Alexsa pasti ingin tahu lebih darinya.
"Satu minggu kemudian Andrew menelpon, dia mengatakan akan segera kembali dan menjemput putri mereka. Dan Daddy menyetujuinya. Tapi kamu memaksa dan tidak membiarkan Alexsa kecil pergi, kamu bilang kalau itu adikmu, jadi Dia tidak boleh pergi kemanapun tanpa kamu" Robecha menarawang jauh, dia ingat betul kejadian itu.
Saat Alex marah besar saat tahu Alexsa akan meninggalkan rumah mereka, dan mereka yang kesusahan membuat Alex mengerti. Karena bagi Alex, Alexsa adalah miliknya. Ah, Alex memang tidak pernah berubah bahkan sampai sekarang pun Alex seperti itu.
Robert menatap Alex sebentar dengan senyum tulusnya sebelum melanjutkan.
"Tapi akhirnya Daddy bisa menenangkanmu, dan akhirnya Paman dan Bibi mu kembali ke indonesia. Sopir keluarga william menjemput mereka di bandara. Tapi sayang seseorang telah menyabotase mobil mereka, sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi . kejadiannya begitu cepat. kami berusaha melakukan semuanya agar mereka bisa melewati masa kritis dan kembali sehat . dan akhirnya setelah menunggu selama satu mingggu akhirnya mereka siuman, saat itu Alexsa kecil begitu senang. Tapi tuhan berkata lain, tuhan hanya memberikan waktu mereka beberapa jam saja untuk bertemu putri mereka, dan menitipkannya pada Mommy dan Daddy. Mengganggapnya sebagai anak kami dan merubah marganya'" Alexsa menutup mulutnya tap percaya. Tatapannya kosong, air mata terus merembas keluar dari mata indahnya.
Jadi benar?
Dia bukan anak kandung Robert dan Robecha
"Alexsa adalah pewaris tunggal dari perusahaan besar milik Andrew William, dan pemilik sah Butik mewah Alona Bortique dan semua properti atas nama Andrew william. Bahkan Grandma telah menunjuk Alexsa sebagai pewarisnya, menjadi pemilik tunggal dari yayasan William. Seorang bayi kecil yang menjadi pewaris semua kekayaan keluarganya menjadi millioner saat usia 12 bulan membuatnya menjadi incaran para musuh. Bahkan Alexsa pernah menjadi korban penculikan beberapa kali. Dan puncaknya saat usianya menginjak 9 tahun saat itu kamu baru saja lulus dari sekolah dasar'' Alex mendekap gadis nya erat dia ingat kejadian itu. Kejadian yang membuat Alexsa melupakan masa kecil mereka. Alexsa hilang ingatan.
"Alexsa di culik oleh Bernord Kear ayah dari Beny Kear. Semua itu karena kamu dan teman-temanmu yang membuat pesta kelulusan di dekat dermaga tempat mereka melakukan transaksi dan Daddy yang meminta beberapa polisi untuk menjaga kalian. Tentunya saat pesta dimulai. Alexsa berada disana menemani mu. Dan saat transaksi itu di mulai. Para polisi yang melihat ada kapal lain yang mendekat kearah sisi lain dermaga akhirnya melaporkannya pada polisi pantai. Kalian tentu tahu apa yang terjadi akhirnya pesta kalian di bubarkan dan Bernard Kear menjadi incaran polisi. Tapi sayangnya Bernard akhirnya tahu bagaimana polisi bisa berada disana. Dan menjadikan Alexsa sebagai umpan untuk balas dendam. Yang mengakibatkan Alexsa kecelakaan dan hilang ingatan" cerita itu terus mengalir bagaikan tiada akhirnya . Alexsa menutup matanya seolah meminta agar cerita itu cepat berakhir. Apa separah itu hidupnya. Bahkan sejak kecil dia sudah jadi incaran musuh keluarga nya. Bahkan sejak kecil dia sudah terluka.
Menyedihkan. Dia kaya, tapi sayangnya begitu banyak orang yang menginginkan nya terluka. Apa bagusny itu semua. Menyedihkan, dia benar-benar menyedihkan.
"Setelah kami selidiki. Kecelakaan yang menimpa Andrew dan Adira juga berhubungan dengan Bernard Kear. Bahkan dia telah menghasut anaknya sendiri untuk menghancurkan keturunan Wilshon dan William" Alex mengepalkan tangannya erat. Apa seperti itu. selama ini dia bersikap terlalu santai dalam menghadapi Beny dan keluarga pria itu.
Seharusnya sejak awal dia singkirkan saja keluarga Kear sampai ke akar-akarnya.
Mereka benar-benar pantas di Singkirkan!
"Aku pasti akan melenyapkan pak tua sialan itu" Alex mendesis rendah. Suaranya terdengar berbahaya
Lexsa menatap Alex seolah ingin lelaki itu membuktikan kalimatnya. Membunuh lelaki yang sudah membunuh keluarganya, melenyapkan mereka yang sudah merengut kebahagiaannya
"Bunuh mereka!" ucapnya tampa sadar. Robecha menangis pilu melihat tatapan penuh dendam dimata putrinya. Ini pula yang membuatn Alex tidak ingin gadisnya tahu kebenarannya.
Gadisnya yang polos tidak boleh menjadi pembunuh.
Flaceback of
***
"Bunuh mereka!'' ucapnya lagi seolah ingatan itu semakin merasukinya menampilkan sisi gelab dirinya.
"Hn" gumaman lelaki di belakangnya tidak sedikitpun mengganggu Alexsa. Sampai sebuah tangan kokoh memeluknya erat dari belakang. Merengkuhnya erat memberikan rasa aman yang selalu dia rindukan.
"Bunuh mereka!" Alex memposisikan dagunya di lekukan leher gadisnya, menyesap wangi yang sudah menjadi candunya. Dan sesekali mendaratkan ciuman ringan disana mencoba membuat exsa sedikit tenang. Karena nyatanya ekpresi Alexsa yang sekarang malah membuatnya khawatir alexsanya semakin terluka.
"Pasti sayang" Alex berucap pasti, dia tahu betul siapa yang dimaksud kekasihnya itu. dan bukan perkara mudah membunuh Bernard Kear mengingat selicik apa lelaki itu.
"Lupakan semuanya, biarkan Aku yang memikul semuanya. Biarkan Aku yang menyelesaikan semuanya. Jangan libatkan dirimu lagi, Aku tidak ingin melihatmu kembali terluka"
Lexsa mengelurkan tangannya menyentuh kepala yang sudah begitu nyaman bersandar di atas bahunya. Mengusabnya pelan, membuat prianya semakin liar mencium lehernya. Kembali memberikan tanda yang semula sudah agak memudar.
"Kakak baik-baik saja'' Lexsa menyentuh perban yang menutupi luka yang dia ciptakan dikepala Alex, mencoba mengalihkan atensi kakaknya.
Alex terlalu khawatir dia akan terluka padahal sejak dulu dia sudah terluka. Dan sudah saatnya Alex menghilangkan lukanya. Dengan menyingkirkan mereka yang menjadi penyebab lukanya ada.
Bernard Kear
Lelaki tua itu harus mati!
''Sedikit pusing" Lexsa tersenyum tipis. Mendengar kejujuran Alex.
Dengan pelan Lexsa memutar tubuhnya sehingga dia bisa melihat wajah prianya yang terlihat jelas kalau lelaki ini masih lelah.
"Kakak masih ngantuk" tanya Lexsa lagi. Alex menganguk mengiakan. Lexsa mendorong pelan tubuh tegab di depannya. Meminta lelaki itu duduk di kursi di balkon kamar mereka.
"Kenapa bangun?" Lexsa mengambil posisi duduk di atas pangkuan Alex, mengusap pelan rahang kokoh lelaki di depannya.
Lexsa terkekeh pelan, saat Alex ingin mengucapkan sesuatu namun segera dia urungkan, seolah tidak ingin membuat gadisnya kembali marah.
"katakanlah. Aku tidak akan marah lagi" Lexsa mengusab penuh sayang wajah lelaki yang sekarang menatap nya tajam namun dia tahu ada cinta disana.
"kamu ninggalin aku" Lexsa tertawa geli, melihat bagaimana lelaki ini akan merajuk setiap kali dia tinggalkan. Lexsa mengucup pelan bibir yang selalu menciumnya dengan rakus.
"aku disini" Lexsa memeluk Alex erat, membiarkan lelaki itu memposisikan kepalanya di depan dadanya. Lexsa mengusab pelan helaian rambut kekasihnya, seolah ingin mengusir semua yang membuatnya gundah dan marah.
"Auu. Aku masih membutuhkan rambut itu sayang" Lexsa tersentak kanget. Dengan cepat Dia mengusab kepala Alex.
Dia tidak sadar telah menarik kuat helaian rambut prianya
"Apa sakit" Alexsa memperhatikan tangannya, terdapat beberapa helai rambut kakaknya disana.
"Maaf" UCAPNYA menyesal
"hm"
"Apa yang kamu pikirkan sayang" Lexsa menggeleng pelan, seolah enggan mengatakannya
Alex melepaskan pelukannya, menatap dalam gadis diatas pangkuannya. Dengan pelan tangannya terulur mengusab pelan pipi gadisnya.
"Katakanlah!" Alex tahu betul ada kegundahan di mata gadisnya. Lexsa tetap bungkam, seolah ada yang da takutkan
''Apa masalah tadi malam" sesaat tubuh lexsa menengang, dan Alex tahu kalau dia tepat sasaran, tapi sayangnya gadisnya tetap memilih diam.
Sebelum netra gelap itu kembali berkaca-kaca dan menatapnya penuh luka.
"Aku mohon, jangan acuhkan aku" Alex mengerang frustasi. ada apa sebenarnya dengan gadisnya ini.
''Jangan memaksaku kak, aku tidak ingin kejadian tadi malam terulang" Alexsa menyentuh pelan luka di tubuh kakaknya. Alex mengerti sekarang, adiknya takut kehilangan kontrol
"Kami pernah melakukannya" Lexsa menutup telinganya cepat, Bukankah dia sudah melarang Alex membahasnya lagi?.
"Cukup!, aku tidak ingin mendengarnya lagi. Tolong mengertilah . aku tidak ingin mebicarakannya sekarang"
"Dan kamu memilih untuk mengacuhkan ku. Bahkan tadi malam pun, kamu tidak mau mendengar penjelasan ku" Alex benar-benar di buat frustasi, ini harus secepatnya dia selesaikan. Sebelum akhirnya mereka semakin terluka
''Lalu apa, Aku harus mendengarnya, membiarkan mu mengucapkan kebohongan yang lain dan membiarkan mu melakukan kesalahan yang sama" Alexsa berteriak marah. Cukup sudah. Lelaki ini yang memancingnya.
Alex mengerang frustasi.
''Dengarkan penjelasanku, setelahnya kamu bisa menyelidiki sendiri kebenarannya" Alex mencengkram kuat bahu lexsa. Sampai gadis itu meringis pelan menahan sakit di kedua bahunya. Alex tersadar, netra gelapnya menatap Alexsa menyesal.
"Dengarkan aku sayang" Alex menatap lembut gadis di depannya.
"Malam itu aku pergi ke Night Clup bersama mereka.. itu Aku lakukan karena kamu, kamu yang terus muncul di mimpiku, memaksaku kembali, memaksa ku mengingat semuanya yang semakin membuatku bingung kenapa aku bahkan tidak ingat apapun. Semuanya membuatku frustasi. Dan akhirnya aku tidak menolak saat Ken menawarkanku minum. Dan yang ku tahu setelah itu aku mabuk dengan seorang wanita yang terus menempel pada ku. "Alexsa menahan nafasnya. Semua ini benar-benar menyiksanya, semua masa lalu yang belum dia ketahui. Dan Alex malah memaksanya mengetahui semuanya di waktu yang bersamaan membuka lukanya semakin dalam
Menyakitkan.
"Dan kakak menidurinya. Kakak memilih mabuk, dari pada mencari tahu semuanya, bahkan kakak menerima saja saat jalang itu merayu mu" Alex mengangguk kepalanya pelan, tapi itu cukup membuat Lexsa melayanggkan tangannya.
PLAKK
"Aku kecewa padamu Alex" Alex memeluk gadisnya erat saat gadis itu memilih untuk pergi.
"Tetaplah disini!" Alex memeluk tubuh Alexsa erat, seolah melupakan nyeri dipipinya. Yang semakin memanas. Yang dia tahu Alexsa tidak boleheninggalaknnya saat Alexsa marah. Dia egois, memang!. Tapi Alexsa miliknya dan selamanya Alexsa tidak boleh meninggalkan nya.
"Kau b******n " umpat Alexsa
"Maaf"
"b******k"
''Karena itu maafkan aku. Aku dibawah pengaruh alkohol saat itu , tubuhku memanas, dan rasanya semakin nikmat saat tubuh wanita itu menempel erat di tubuhku" Alexsa menutup telinganya seolah berusaha menulikan pendengarannya,
"Maafkan aku. Pukul aku, marahlah. Tapi aku mohon, jangan pergi, jangan acuhkan aku . jangan tinggalkan aku. Aku mohon'' Alexsa tersenyum getir. Suara itu kentara sekali dengan keputus asaan. Dia mencintai lelaki ini. Tapi bisakah Dia meningggalkan lelaki ini. Setelah Dia tahu semua ini.
Dia bimbang dan dia terluka dengan semua kejujuran Alex. Siapa sangka Alex pernah melakukan itu saat seharusnya Alex mencari tahu tentangnya.
"Apa kamu ingin melihat aku membunuh wanita simpananmu itu. atau kamu memilih aku membunuhmu sebelum nanti akan ada yang datang pada ku dan mengaku hamil anak mu" Alexsa melepas paksa pelukan kakaknya. menatap tajam dalam netra gelap di depannya.
Jangan sampai ada yang datang dan mengaku hamil anak Alex, dia benar-benar tidak akan sanggup menghadapi itu.
"Semua itu tidak akan terjadi. Karena aku selalu bermain aman sayang" Alexsa menekan kasar luka di tangan kakaknya
Kenapa sepercaya diri itu saat dia bahkan benar-benar takut semuanya jadi nyata.
"AU.. "Alex kembali meringis kesakitan. Dan ALexsa menyeringai sinis melihatnya
''Percaya diri sekali kau" Alexsa melotot marah
"Percayalah!, kalau pun itu terjadi, aku yakin itu bukan anakku" Alexsa tertawa remeh. Percaya diri sekali kekasih brengseknya ini.
"Yakin sekali kau" Alex mengambil tangan Alexsa dan membawa tangan itu untuk mengusab rahang kokohnya. Dia senang saat Alexsa melakukan itu.
"Karena benihku hanya untuk rahimmu" ucapnya tampa beban. Yang membuat Lexsa kembali menekan luka di tubuhnya
''Sakit sayang" ringisnya lagi, tapi sepertinya Alexsa Tidak peduli.
"Kau akan mati, kalau sampai itu terulang lagi" ancamnya, dan Alex langsung mengangguk patuh.
"Tidak lagi sayang" janjinya sambil mengecup pelan bibir kekasihnya.
Lexsa menatap tajam lelaki didepannya, dia masih tak percaya dengan janji lelaki di depannya ini. Bagaimana kalau nanti semua yang dia pikirkan akan terjadi. Wanita-wanita yang pernah bermalam dengan Alex akan datang dan mengaku hamil anak Alex, apa saat itu dia masih sanggup untuk tersenyum manis Seperti biasanya. Atau dia akan memilih membunuh wanita jalang itu.
Dia bimbang.
***