Biarkan takdir yang menentukan dan kita akan menyelesaikannya bersam melewati semuanya bersama. Tapi kenyataan akan fakta rumit yang kembi terkuak benar-benar membuatku sakit. Aku terluka dengan luka yang sama yang kembali coba kau sembuhkan.
Akankah semuanya baik-baik saja?
Akankah kita bahagia selamanya?
Akankah?
Nyatanya semuanya masih penuh tanda tanya.
***
Alex menatap malas kearah lelaki yang sedang duduk tenang di depannya. Seolah ingin mengusir dia yang telah mengganggu waktunya untuk bermestraan dengan kekasihnya. Ken yang melihat itu mendengus kesal, padahal dia juga malas duduk di depan Alex seperti ini. Kalau boleh memilih dia pasti akan memilih menyusul kekasihnya saja. tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan itu.
Jadi, lebih baik duduk disini dan menunggu kekasihnya kembali.
"Ayolah jangan menatapku seperti itu" Ken mendengus kesal dengan sambutan sepupu Brengseknya itu. Alex yang melihat itu mendengus jengkel, padahal Ken bisa saja memilih duduk di ruangan lain bukan malah di depannya.
Membuatnya kesal saja.
"Pengganggu!" Ken kembali mendengus malas. Apa salahnya sampai alex terus menatap kesal kearahnya. Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun.
Alex menatap kesal Ken yang bahkan tidak sadar dengan kesalahan lelaki itu.
"Apa tujuanmu kembali, bukannya kau sudah kembali kerumahmu" Alex berucap angkuh, ssuudah jelas bukan dia memangg ingin mengusir Ken dari sini tapi sepertinya Ken memang tidak peka sama sekali. Atau lebih tepatnya pura-pura tidak sadar dengan ekpresi kesal yang sejka tadi dia tampilkan.
Menyebalkan!
"Hy, kau tega sekali sepupu, kau bahkan mengusirku" Ken berucap tak terima, yang membuat Alex kembali berdecih tak suka. Dramatis sekali lelaki ini.
Ck!
"Pergilah, kau membuang-buang waktuku" Ken menatap kesal, kalau bukan karena Ladys day para kekasih mereka yang sekaligus menyeret kekasihnya, dia juga malas harus mengobrol dengan Aalex seperti ini.
Tapi kembali kerumahnya, dia bahkan tidak ingin kembali kesana sebelum Skyla kembali dan mereka akan pulang Bersama.
Atau_
Menginap disini saja, Toh juga dia punya kamar pribadi disini.
“Ingat siapa yang sudah menyeret kekasihku. Seharusnya kau menahan Lexsa tadi" Alex mendengus tak terima, enak saja dia yang disalahkan.
"Kalau bukan kekasihmu yang memberitahunya tentang produk terbaru limited edition itu. dia pasti masih disini sekarang" Alex menatap tajam seolah siap membunuh sepupunya itu.
“Ck! Yang benar saja” Ken mendelik kesal, jelas ini bukan salah kekasihnya.
"Kau menyalahkan kekasihku. Seharusnya kau juga menyalahkan Eve yang mengirimkan itu pada Skyla" Alex mendengus kesal, sepupu perempuannya itu memang harus diwaspadai. Terlalu mengganggu membuatnya kesal saja.
“Berhentilah membicarakan itu, toh juga mereka sudah pergi dan kita tidak bisa menahan mereka" Daniel yang baru saja datang dengan segelas jus orange di tangannya menatap malas dua orang di depannya. Setelalh memilih bergabung dengan Alex dan Ken dan sekarang dia menyesali keputusannya itu. Ken dan Alex bahkan dengan terang-terangan menatapnya tajam dengan tangan terkepal sempurna siap menghajarnya.
Ok, Dia ingin pergi sekarang.
"Ini juga karena kekasihmu yang terus saja merengek ingin pergi' ucap Alex kesal. Seharusnya Dia sekarang bersama Alexsa gadisnya, bukannya disini dengan para lelaki haus belaian ini.
Daniel yang mendengar itu mendengus kesal. Dia seharusnya memang tidak bergabung dengan Ken dan Alex.
"Salahkan Feby yang terus mengancam Devon agar diizinkan pergi, lelaki Psiko itu tidak bisa diandalkan" Daniel kembali menyalahkan yang lain, tidak ada yang mau dianggap salah disini. Dan matanya yang sempat melihat kedatangan devon tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan membuat Devon juga ikut disalahkan disini.
"Ck! kau lupa?, kau bahkan tidak berusaha menahan Clara "Devon yang baru saja datang dengan bola basket ditangannya menatap tajam lelaki yang baru saja menyalahkannya. Ingin dia menghantam kepala Daniel dengan bola di tangannya, dia yakin tidak aka nada yang menahannya sekarang.
Dia benar-benar tergoda ingin melakukan itu.
"Untuk apa kalian masih disini" Alex menatap tajam kearah Devon dengan Bram, Davit dan mantan laknat kekasihnya itu juga sudah ada disana.
Ck! Membuatnya semakin kesal saja.
Rumahnya sudah bagaikan tempat penampungan saja, kenapa juga mereka betah sekali berada disini.
Heran!
"Tentu saja kami disini, sampai kekasih kami kembali" ucap Bram acuh dan langsung mengambil posisi duduk di samping Ken. Ingin duduk disamping Devon tapi aura kelam yang terus lelaki itu keluarkan langsung membuatnya enggan uuntuk mendekat. Apalagi disamping Alex, dia benar-benar tidak ingin mendekati mereka.
"Ck!!. Keluar dari sini atau kuhancurkan mobil kalian" Bram bergidik ngeri. Mobilnya sudah terparkir indah di depan perkarangan rumah Alex. Dan itu mobil barunya dia tidak akan membiarkan mobil itu hancur karena amukan Alex.
Tidak dengan mobil barunya itu.
"Kau sedang PMS?" Al menatap jail Alex yang sudah menatapnya tajam siap menghajarnya kapan saja. Ah, Alex ini benar-benar tidak bisa diajak becanda sedikitpun. Entah bagaimana Alexsa betah dengan lelaki seperti alex.
"Sudahlah, kalian buat pusing saja" Reno menatap malas, di belakangnya sudah ada Dion yang sedang memasang ekspresi bingung. Masalah lelaki yang satu ini juga tidak ada habisnya.
"Emm, dia keras kepala sekali, apa aku harus memberikannya kejutan" ucap Dion pelan, namun itu cukup keras untuk di dengar yang lainnya.
"Ck. Mungkin kau boleh mencoba untuk tidur dengan salah satu packnerku. Untuk memberi kejutan kekasihmu" Davit menatap serius kearah Dion yang sudah menggepalkan tangannnya erat.
Davit yang belakangan sibuk mengurus perusahaan warisan dadynya yang bergerak di bidang perfilman yang sekarang sedang mereklut model- model baru itu dan juga mengurus kerja sama mereka dengan Scout Intertaimen. sedang beristirahat dari penatnya. tak disangka dia akan disuguhi pemandangan yang menggelikan sekaligus mengerikan ini.
Sepertinya memilih untuk ikut bergabung dengan sepupunya itu memang pilihan yang tepat.
"Mati saja kau b******k" umpat Dion kesal.
“Hahaha” mereka benar-benar lucu sekali. Dia menyesal tidak bisa sering-sering berada disini.
"Kalian perlu senjata, aku membawa beberapa" Ken berucap tenang, yang membuat semuanya menatapannya heran seolah bertanya,
“untuk apa?”
"Tentu saja untuk membungkam mulut kalian" Kompak semuanya melemparkan cemilan yang ada diatas meja di depan mereka kearah Ken.
"Mati saja kau" umpat mereka bersamaan.
"Sepertinya kita memang akan saling membunuh, kalau tetap seperti ini. Kita harus memikirkan hal lain yang bisa kita lakukan untuk pengalihan" Daniel berucap bijak. lagi pula itu benar. Mereka yang awalnya musuh tentu tidak akan segan-segan untuk saling membunuh. Dan keadaan yang terus memanas seperti ini malah semakin membuka peluang mereka akan melakukan itu tanpa perlu khawatir tentang apapun lagi.
"Berenang. Kita bisa tanding" usul Dion yang seolah itu berguna untuk mendinginkan kepalanya. Belakangan ini masalahnya dengan mOna jadi semakin banyak saja, terkadang bahkan dia bertanya-tanya sebenarnya bagaimana caranya membuat Mona tenang.
“Ck, tidak menantang" komentar Alex yang membuat Dion menatapnya tajam, seolah menuntut sebuah saran.
"memancing" Al menatap jauh kedepan kesebuah sungai buatan yang jelas tidak terlalu tampak dari tempatnya berdiri. Dia benar-benar butuh hall yang menenangkan sekarang dan sepertinya memancing adalah pilihan yang tepat.
“Membosankan” komentar Devon tampa dosa. Yang sukses membuat Alcio mendelik jengkel.
"Bagaimana dengan Basket, bukankah itu menyenangkan. Kita bisa bagi dua tim sekarang, dan karena kita berjumlah 10 orang bagi dua saja" usul Bram sambil menunjuk bola bbasket yang masih berada di tangan Devon.
"Boleh juga. Aku ingin mengalahkannya lagi" Al yang ditunjuk oleh Alex tersenyum miring seolah menantang. Sepertinya memang hanya basket yang cocok dengan mereka. Bahkan semuanya langsung terlihat antusias setelah mendengar ucapan Alex.
“siap-siaplah untuk kalah Wilshon” ucap AL remeh.
"Baiklah tidak masalah, dan sepertinya aku akan berada di Tim Corner" Ken mengidikkan bahunya acuh. Ini pasti seperti pertandingan waktu adik tingkatnya ini SMA. Mereka akan kembali saling bunuh di lapangan dan dia hanya akan menjadi penonton yang berstatus sebagai pemain.
Menyebalkan!
"Jacky, kau jadi wasit" Jacky yang merasa dipanggil menghentikan acara makannya, dengan cepat dia mengangguk mengiakan perintah Alex tuannya.
"Baiklah ayo, siap-siap untuk kalah Corner" AL menatap remeh seolah kali ini dia yakin akan menang. Yang dibalas sama remehnya oleh Alex, Al tidak lupa bukan sudah berapa kali lelaki itu kalah darinya.
"Terserah kalian" Ken berucap bosan, menjadi penengah bukan hal yang dia suka. Rasanya dia menyesal berada disini sekarang. Tapi tidak apa juga sudah lama dia tidak bermain basket apalagi dengan aura membunuh dari sepupunya itu. Ken tersenyum miring.
Inii akan menyenangkan
Tinggalkan kesibukan para pria yang sudah bagaikan mau terjun kemedan perang itu. para gadis yang sedang berburu belanja bahkan tidak akan peduli dengan apa yang para lelaki itu lakukan.
Karena hari ini adalah hari dimana mereka bisa bersenang-senang tanpa melibatkan para pria.
"Aku khawatir, apa tidak apa-apa kita meninggalkan mereka" Feby berucap cemas. Tentu dia hafal betul watak kekasihnya itu. Apalagi davit ada disana tentu itu bukan pilihan yang cerdas dia berani meninggalkan Devon dan davit dalam satu ruuangan yang sama.
Dia tidak akan lupa sudah berapa kali Devon hampir membunuh Davit. Dia tidak mungkin lupa itu_
"Biarkan saja mereka. Yang terpenting sekarang, kita bersenang-senang' Alexsa berucap Heboh, matanya sibuk memilih tas-tas dengan harga selangit yang akan dibawanya pulang. Feby yang melihat itu merotasikan matanya malas, Alexsa tidak tahu saja mereka sudah meninggalkan sekumpulan psikopat disana.
"Shoping Shoping" Bella sudah bernyanyi Ria gadis itu terlalu senang karena berhasil mendapatkan Dres yang menjadi rebutan para teman-temannya.
Ah, seppertinya dia juga harus mulai menikmati ini. Lagi pula disana ada Daniel, paling tidak lelaki itu masih cukup waras dari pada yang lainnya.
“Dasar Gila" cibir Monica kesal, sambil menatap tajam peper bag di tangan Bella. Baju incarannya. Dia benar-benar ingin menangis rasanya mengingat dia bahkan tidak bisa mendapatkan baju itu.
"Biarin." Ucap gadis itu masa bodoh
"Guys, sebaiknya kita istirahat dulu. Sudah tiga jam kita berputar-putar" Mega mengusab kakinya dengan gerakan atas bawah, seolah menunjukkan betapa pegal kakinya sekarang. Tapi para gadis ini bahkan tidak terlihat Lelah sedikitpun.
"Baiklah guys, sepertinya calon istri Bram sudah lelah, ayo kita mampir di caffetaria Moll ini. Aku juga lapar" ucap Lexsa tersenyum jail kearah Mega yang mendengus kesal kearahnya dan membuat yang lainnya memutar mata malas.
"Ayo makan" Eve berucap semangat. Dia juga lapar disini
Mereka berjalan serempak dengan beberapa peper bag di tangan mereka. Yang pastinya berisi barang-barang yang berhasil menguras kantong mereka. Lexsa melangkah kedepan, mata nya menatap sekeliling tajam hendak mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah mendapatkannya Lexsa langsung menarik mereka kesana.
"Selamat datang nona" seorang pramusaji mendekati mereka sambil menyerahkan buku menu
"Kami juga menyediakan makanan Khas dari berbagai negara dengan jaminan rasa dan mutu yang berkualitas" Lexsa menatap punuh minat buku menu di depannya. Tanpa menunggu pelayan itu menjelaskan lebih panjang lagi, Alexsa langsung menunjukkan apa yang hendak di pesanya. Dan kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain yang sepertinya sudah menetapkan keputusan.
"Baiklah, mohon ditungu 10 menit" mereka mengangguk serempak.
"Pelayan itu banyak sekali menjelaskan, aku rasanya semakin lapar" Clara mengurutu kesal. Diikuti anggukan semua temannya.
"Emm, sepertinya mereka ingin kita mengetahui semua makanan yang mereka sediakan, dan kemudian memesan semuanya"' tambah Mega sambil mengurutu kesal.
"Ah sudah lah, yang penting kita bisa makan, dan kemudian pulang. aku khawatir mereka akan saling membunuh, kalau kita tinggalkan terlalu lama" Lexsa berucap sambil menerawang jauh, dia tahu betul kakaknya itu sangat mudah emosi apalagi disana ada AL.
"Ah kau benar" balas Monika setuju, Akhirnya mereka kembali berbincang- bincang ringan, sebelum akhirnya pesanan mereka datang. beberapa pelayan datang menyanjikan makanan yang mereka pesan.
"selamat menikmati nona." Ucap pelayan itu sebelum akhirnya berlalu pergi..
Lexsa menatap penuh minat pada jus tomat di depannya. Itu kesukaan kekasihnya dan entah kenapa dia malah memesan itu. yang malah semakin membuatnya teringat dengan apa yang baru mereka debatkan tadi pagi. Yang jelas itu semakin membuatnya bertanya-tanya. Apa itu benar,
"Ada apa. Apa ada masalah" Clara menatap heran pada Alexsa yang terus memperhatikan jus tomat pesanannya. Dengan wajah di tekuk sempurna.
"Entahlah” Jawabnya ambigu. Yang jelas itu menandakan kalau ada yang mengganggu pikirannya.
"Ceritakanlah, kami akan mendengarkannya" Skyla berucap membujuk. dia tidak ingin melihat gadis di depannya ini kembali bersedih. Dia pernah melihat bagaimana hancurnya ALexsa dulu dan tentu dia tidak ingin melihatnya lagi. Bahkan kekasihnya juga ikut hancur saat gadis di depannya ini hancur.
"Dia meniduri jalang itu” ucap Lexsa yang membuat mereka menatanya penuh tanya
“Carolin" ucap Lexsa menjelaskan
"Kamu sudah tahu” tanya Skyla. yang hanya di balas anggukan oleh Lexsa.
"Hmm" Skyla menatap dalam, dia tentu tahu bagaimana perasaan gadis itu sekarang, bahkan dia juga tahu bagaimana liarnya alex saat lelaki itu hilang ingatan dulu. Dia tahu, dia melihatnya dengan jelas dulu.
Tapi dia tidak menyangka ternyata Charolin juga salah satu di antara mereka.
"Dia tahu aku benci alkohol, dia tahu aku benci saat Dia dekat dengan para wanita jalang, tapi dia tetap melakukannya" Feby mengusab bahu Lexsa pelan seolah menenangkannya. Bahkan makanan di depan mereka sekarang terlihat tidak menarik lagi.
"Bahkan dia berani sampai meniduri wanita itu. dia menghiraukan peringatanku. " Lexsa menatap marah pada jus tomat di depannya seolah itu adalah kekasihnya. Sebelum meminumnya sampai habis seolah inilah yang ingin dia lakukan pada Alex sekarang
"Apa kau yakin Alex menidurinya karena mabuk" Alexsa menatap Skyla tak paham, jelas dia mendengar sendiri dari Alex, lelaki itu sudah meniduri Charolin, jadi kenapa dia harus ragu.
“Tentu, bahkan dia mengakuinya" ucap Lexsa yakin
“Aku bahkan tidak pernah melihat lelaki itu benar-benar terpengaruh oleh Alkohol" Eve berucap yakin yang kembali membuat Lexsa bingung
Eve tersenyum paham. Dia cukup paham dengan sepupunya ini, yang tidak tahu senakal apa Alex. tapi dia cukup yakin, pria itu tidak pernah benar-benar terpengaruh alkohol. Karena Dia bahkan sering melihat Alex keluar masuk Clup malam milik Kenzo.
"Apa maksudmu?" sebbenarnya apa yang dia tidak tahu, Dia benar-benar butuh penjelasan disini.
"Aku tidak tahu pasti, tapi yang pasti Alex punya pengendalian diri yang bagus terhadap alkohol, dia tidak akan sampai mabuk berat. Tapi hari itu. aku mendapat kabar dari satpam, kalau Alex dibawa pulang oleh seorang wanita dalam keadaan mabuk berat bahkan sampai tak sadarkan diri" Lexsa tersentak kaget. apa itu benar? Tapi kenapa dia tidak tahu.
"Pasti Carolin sudah menyabotase minuman itu. saat itu kami tidak mau ambil pusing. Kau tahu setahun lalu adalah saat terliarnya Alex. Dan saat Alex bahkan tidak mengeluhkan apapun setelah kembali, membuat kami berpikir tidak ada hal yang aneh dengan itu" Ucap eve mengakiri ceritanya
"b******k, aku akan mencari kebenarannya. Wanita ular itu pasti punya rencana di balik semua ini" Eve mengangguk setuju, selama ini tidak ada satu wanita pun di kampus sepupunya itu yang terus menempel bagai perangko pada Alex selain wanita yang diceritakan Alexsa tadi.
Dia harus menyelidiki ini. Ini sedikit aneh untuknya
***
benci saat Dia dekat dengan para wanita jalang, tapi dia tetap melakukannya" Feby mengusab bahu Lexsa pelan seolah menenangkannya. Bahkan makanan di depan mereka sekarang terlihat tidak menarik lagi.
"Bahkan dia berani sampai meniduri wanita itu. dia menghiraukan peringatanku. " Lexsa menatap marah pada jus tomat di depannya seolah itu adalah kekasihnya. Sebelum meminumnya sampai habis seolah inilah yang ingin dia lakukan pada Alex sekarang
"Apa kau yakin Alex menidurinya karena mabuk" Alexsa menatap Skyla tak paham, jelas dia mendengar sendiri dari Alex, lelaki itu sudah meniduri Charolin, jadi kenapa dia harus ragu.
“Tentu, bahkan dia mengakuinya" ucap Lexsa yakin
“Aku bahkan tidak pernah melihat lelaki itu benar-benar terpengaruh oleh Alkohol" Eve berucap yakin yang kembali membuat Lexsa bingung
Eve tersenyum paham. Dia cukup paham dengan sepupunya ini, yang tidak tahu senakal apa Alex. tapi dia cukup yakin, pria itu tidak pernah benar-benar terpengaruh alkohol. Karena Dia bahkan sering melihat Alex keluar masuk Clup malam milik Kenzo.
"Apa maksudmu?" sebbenarnya apa yang dia tidak tahu, Dia benar-benar butuh penjelasan disini.
"Aku tidak tahu pasti, tapi yang pasti Alex punya pengendalian diri yang bagus terhadap alkohol, dia tidak akan sampai mabuk berat. Tapi hari itu. aku mendapat kabar dari satpam, kalau Alex dibawa pulang oleh seorang wanita dalam keadaan mabuk berat bahkan sampai tak sadarkan diri" Lexsa tersentak kaget. apa itu benar? Tapi kenapa dia tidak tahu.
"Pasti Carolin sudah menyabotase minuman itu. saat itu kami tidak mau ambil pusing. Kau tahu setahun lalu adalah saat terliarnya Alex. Dan saat Alex bahkan tidak mengeluhkan apapun setelah kembali, membuat kami berpikir tidak ada hal yang aneh dengan itu" Ucap eve mengakiri ceritanya
"b******k, aku akan mencari kebenarannya. Wanita ular itu pasti punya rencana di balik semua ini" Eve mengangguk setuju, selama ini tidak ada satu wanita pun di kampus sepupunya itu yang terus menempel bagai perangko pada Alex selain wanita yang diceritakan Alexsa tadi.
Dia harus menyelidiki ini. Ini sedikit aneh untuknya
***