Suasa tenang, dan suara derap langkah kaki yang terkesan seolah berlari dan wajah khawatir itu mengiringi Langkah alexsa yang terus melangkah cepat memasuki kediamannya, dia benar-benar khawatir tanpa sebab bahkan semua sahabatnya juga melakukan hal yang sama, mereka benar-benar khawatir.
Nyatanya setelah bersenang-senang seharian, mereka tetap harus dihantui dengan sifat para pria yang mereka tinggal.
"Oh Tuhan, apa yang kalian lakukan?" Lexsa melotot kaget melihat semua kekacauan yang mereka lakukan. Padahal hanya mereka tinggal sebentar, tapi semuanya sudah sekacau ini. Benar-benar kacau, dia tidak menyangka para lelaki itu akan bertindak sejauh ini hanya karena mereka tinggalkan.
“Main" jawab Devon yang sedang menyikut perut Daniel keras sampai lelaki itu meringis kesakitan. Feby yang melihat itu mendengus kasar, kekhawatirannya benar-benar terjadi, dan Devon kembali berulah lagi.
"Berhenti" teriak Clara marah, melihat bagaimana tampang kekasihnya sekarang. Dia pikir Daniel cukup waras disini tapi ternyata lelaki itu sama gilanya dengan mereka.
Dengan luka lebam di wajahnya. Hidung yang berdarah. Pelipis yang sobek. Bahkan semua lelaki di lapangan itu tidak jauh berbeda. Mungkin hanya Jacky yang masih terlihat baik-baik saja mengingat dia hanya wasit di luar lapangan. Sedangkan yang lainnya, benar-benar kacau.
"Memalukan!" Lexsa menatap tajam kekasihnya dan mantannya yang masih saling merebut bola dengan tangan dan kaki mereka yang tidak tinggal diam, saling tendang dan tonjok. Mmebuatnya kesal saja.
Menghela nafas kasar, Alexsa menatap heran Wanita paruh baya yang juga berada diantara mereka, apa pembantunya ini mengikuti mereka tadi, atau memang sudah ada disana bahkan sebelum mereka datang?
Entahlah
"Bik. Bawa kan kami cemilan, jangan lupa minumannya juga yang dingin-dingin ya bik. Oya bik ambilkan es kriem juga di kulkas ya". Mengambil tempat duduk di atas sofa teras belakang untuk menonton para pria gila di tengah lapangan yang sedang menggila. Siapa tahu mereka butuh bantuannya nanti, paling tidak dia bisa menelpon ambulan kalau di butuhkan.
"gak waras memang" Feby menghepaskan belanjaannya begitu saja dan langsung mengambil posisi di samping Lexsa dan yang lainnya yang sudah lebih dulu duduk mengelilingi meja kecil di sana. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin semua pria itu berakhir berkelahi di tengah lapangan dengan dalih bermain basket.
"mungkin kita harus siapkan ambulan” Mega menatap khawatir kekasihnya yang juga ikut bermain basket di sana. Bahkan keadaan Bram saja tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Benar-benar kacau, dia bahkan khawatir Bram akan terluka parah.
"Aku bahkan tidak habis pikir kenapa mereka malah berakhhir seperti itu, kalian tahu_ itu terlalu kreatif dan gila" Monika menatap penuh minat kearah lapangan mengabaikan pertanyaan Mega yang mungkin akan mereka perlukan nanti.
“Memuakkan” Alexsa kembali mendengus jengkel, dia masih ingat dengan semua perdebatan mereka. Dan dia pikir saat dia kembali dengan suasana hati yang lebih tenang mungkin dia bisa berbicara dengan Alex dan kembali mencari tahu semuanya. Dan kembali membiarkan hatinya terluka, karena nyatanya masa lalu Alex masih saja menjadi belati tak kasat mata yang siap menggores hatinya.
"Nona. Ini makananannya" Alexsa mengangguk pelan sebagai jawaban sebelum menunjuk meja kecil di tengah mereka dengan tangannya sebagai perintah agar semua pesanannya di letakkan disana. Dan sekarang dia sudah siap untuk melihat pertunjukan yang kekasihnya sajikan di depan mereka. Bahkan dia kembali lapar hanya dengan melihat Alex yang bagaikan anak kecil dan terus menyikut Alcio disana.
"Kalau begitu saya permisi Nona" Kembali Alexsa mengangguk tenang.
“Ah” Eve menepuk tangannya heboh dan berhasil menarik atensi semua teman-temannya dan menatapnya heran.
"Mau taruhan?" eve menatap teman-temannya dengan mata berbinar senang saat Al berhasil memasukan bola kedalam keranjang setelah terlebih dulu mendorong Alex sampai jatuh.
Kasian sekali sepupunya itu.
“Taruhan? Yang benar saja” ejek bella kesal, bahkan dia sudah sangat kesal melihat lebam di wajah Reno yangbahkan bisa dia lihat dari sini.
“Ayolah” Eve kembali membujuk, dia punya rencana hebat dan dia yakin semua teman-temannya akan senang mendengar ini.
“Jadi apa” Tanya Mona tidak sabar. Kalau taruhannya bisa membuat dia menghukum Dion, maka dia akan setuju, bahkan dia belum lupa dengan kesalahan dion. Beraninya lelaki itu menggoda mahasiswa dari jurusan ilmu politik saat dia tidak ada.
Ck! Memang ya, kalau sekalinya buaya. Taubatnya susah.
"Ayo pasang taruhan, untuk tim andalannya" Feby mengangguk semangat sambil mengunyah keripik pisang miliknya, bahkan dia tidak mau ambil pusing lagi saat melihat Devon yang malah memukul kuat reno yang mencoba menghalanginya. Dan Davit yang menahan Daniel. Dan Bella yang langsung menatapnya sinis.
“Apa, bukan aku yang memukul kekasihmu” kesalnya, yang malah di balas dengusan kesal oleh Bella.
Gadis itu benar-benar memang. Bahkan hanya Bella yang akan menyalahkan semua Wanita yang mendekati reno dan menganggap reno adalah lelaki paling suci dan semua Wanita yang menggoda reno salah. Bahkan walaupun reno yang mungkin lebih dulu melempar godaan tetap saja Wanita-wanita itu yang salah. Pemikiran Bella memang seaneh itu.
“Ck! Seharusnya dia menghajar davit saja” kesal Bella lagi dan menatap sinis Devon yang masih menghadang kekesihnya. Feby mendengus jengkel. Sepertinya Devon dan Davit hanya akan akur saat bermain basket saja, buktinya sedari tadi keduanya kompak untuk saling membantu menyingkirkan siapapun yang menghalangi mereka.
"Ayo” Alexsa berucap semangat sambil tetap menyendokkan es kriemnya. Sepertinya memasang taruhan memang bukan masalah, dia butuh pengalihan dari sifat menyebalkan Alex sekarang.
Eve tersenyum senang, akhirnya semuanya setuju dengan usulannya.
"Baiklah . tim siapa yang kalah maka Dia harus bersedia membiayai semua biaya liburan kita ke jeju minggu depan" ucap eve semangat, sambil menatap satu-persatu temannya
"Deal?" ucapnya mencari kepastian
"Bentar" Alexsa menatap Eve heran, seingatnya mereka bahkan tidak berencana kesana.
"Sejak kapan kita ada rencana liburan minggu depan ke jeju" tanyanya heran
"Sejak sekarang" jawab Eve acuh seolah semua kekasih mereka sudah setuju, tapi bukankah itu mudah, mereka hanya harus membujuk kekasih keras kepala mereka itu. Dan membuat para lelaki keras kepala itu mau membiayayai liburan mereka.
Kalau tidak_
Membayar sendiri juga tidak masalah, lagi pula uang mereka lebih dari cukup kalau hanya untuk liburan.
"Baiklah Deal" Alexsa tersenyum senang, membayangkan akan pergi liburan Bersama benar-benar membuatnya senang.
"Kenapa tidak"
"Hn"
Eve tersenyum senang menerima respon yang sangat bagus dari sahabat-sahabatnya. Ini kabar baik, dia merencanakan acara liburan ini dan ini akan menyenangkan, dia yakin itu.
“Mereka benar-benar ingin mati" Mona menatap khawatir, mengabaikan ekspresi bahagia di wajah sahabat-sahabatnya. bagaimanapun juga Dion tetap kekasihnya bukan?. Walaupun Dion itu masih sering sekali membuatnya marah.
"Ck!! Biarkan saja" Lexsa menatap tak peduli. Lagi pula mereka memang begitu bukan?, tidak bisa berada di tengah lapangan dengan tangan memegang bola basket. Apalagi ini bukan pertandingan resmi, jadi mana mungkin mereka menyia-nyiakan kesempatan untuk saling menyerang.
"Yokk makan" Alexsa meyendokkan kembali es kriemnya yang sudah tinggal setengah itu sambil menikmati pertandingan di depannya.
"Terserah" Skyla bergidik tak peduli. Sepertinya tunangannya itu baik-baik saja. Keadaan Kenzo bahkan lebih baik dari pada yang lainnya.
Feby mengangguk mengiakan, dan mulai mengikuti apa yang dilakukan sahabat-sahabantnya. Dia juga butuh ketenangan.
"Jeju i will come" Feby tersenyum senang lebih baik dia mulai mengatur rencana perjalannya. Kali ini Devon tidak akan bisa menahannya. Kalaupun lelaki itu mencoba menahannya, dia tetap akan pergi. Pasti!.
Lexsa memicing curiga ketengah lapangan basket yang memang ada di rumah mereka itu. mengawasi setiap gerak-gerik para lelaki mereka. Sampai akhirnya dia bisa melihat bagaimana Alex menyikut perut Al, sampai Al jatuh di tengah lapangan sambil meringis kesakitan, dia yakin itu pasti sakit sekali. Kemudian Bram yang sejak tadi mengawasi Alex mulai mendekat. Lexsa menatap tak percaya saat Bram dengan sengaja menendang kaki Alex sampai kekasihnya itu tersungkur di lapangan. Lexsa menatap sepupunya Ken yang tak kalah sibuk dengan Daniel yang mencoba menghalanginya di bawah Ring.
Ayolah, mereka bahkan tidak peduli dengan bola yang mengelinding jauh.
Ck! Sebenarnya mereka itu mau main apa kelahi sih.
"Ck!!mereka benar-benar seperti orang gila" Alexsa membatin ngeri sambil terus melihat ke tempat yang menjadi arena perang para kekasih mereka itu.
Tak lama setelah itu dia bisa melihat Jacky yang berlari kearah mereka seolah sedang di kejar setan. Ahh, dia lupa raja setannya kan ada di tengah lapangan.
"hahu" jacky bernafas dengan rakus, Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, melainkan apa yang sedang lelaki itu pegang.
"Mereka akan saling membunuh" ucapnya sambil menjatuhkan dirinya di lantai di depan mereka.
"ini?" Alexsa menatap heran bola yang sudah berada di bawah kaki nya itu. Padahal tadi dia melihat bola itu mengelinding jauh dan menghantam kaki Xarly. Dan Dia yakin Xarly sudah mengambilnya, lalu kenapa?
"Lalu, disana" Lexsa menatap heran kearah jacky yang sedang menyeka keringatnya. Seolah mengerti apa yang dimaksud Alexsa. Jack menggeleng pelan
Lexsa yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya kearah lapangan.
“s**t!, mereka bukan bermain basket. Malah berkelahi bagai preman” ucapnya marah sambil mengambil botol minumannya dan membawanya kearah lapangan. dimana para lelaki yang bahkan sudah mulai berkelahi bagai orang gila disana.
"Dasar tetangga tidak tahu diri" Lexsa menatap tak percaya saat mendengar ucapan kekasihnya.
"ku usir kau dari rumah mu, pergi sana. Cari rumah lain sana" yang benar saja, Lexsa menggeram kesal. Mereka memang gila.
"Emm tidak-tidak. Aku yang akan mengusirmu, gara-gara kau, kencanku dengan Evelyn gagal" Alex tertawa senang, sangat senang dengan apa yang Dia dengar sambil mencoba menghindar dari pukulan Al yang hampir mengenai wajahnya lagi.
"Dasar perjaka Sialan. Seharusnya kau lebih pandai merayu kekasihmu itu. jangan coba-coba mendekati Alexsa lagi. Atau ku bunuh kau" balas Alex sambil melayangkan tinjunya lagi dan lagi.
Memuakkan. ALexsa mendengus kesal, dia benar-benar sudah tidak tahan.
"YAAAA,. BERHENTI"
PRANGGG
Lexsa berteriak nyaring dengan satu botol minuman melayang cepat kearah alex sampai pecah dan berserakan.
"Auuuu isss "Lexsa mengabaikannya. Sialnya yang dia abaikan adalah kekasihnya. Beling itu mengenai kaki kekasihnya yang baru saja menendang AL sampai Al tidak mengenai beling dari botol yang dia lempar.
"Gila! Kalian ingin mati. HAH" Lexsa menatap nyalang para lelaki yang sudah mulai menjauh dari masing-masing lawannya itu.
"Ck!!, memalukan" ucapnya masih menatap tajam mereka. sambil berlalu pergi dari sana.
"Isss" Alex meringis pelan. Sambil mencabut beling yang tertancap di betisnya.
"Sial. Ini perih" Darah terus merembas keluar, sepertinya luka yang disebabkan oleh beling tersebut cukup dalam. Al yang melihat itu melangkah mendekat, paling tidakk dia harus berterimakasih pada Alex, berkat Alex dia tidak terkena beling.
"Lo bisa jalan?" Al yang sudah berdiri di samping Alex, mengulurkan tangannya hendak membantu. Alex menatap tajam musuhnya itu.
"Lo mau Jacky nolong lo gitu, yang benar saja” ucapnya remeh. “dia bahkan sedang makan disana" Alex mengikuti arah pandang Al, dan lihat lah siapa disana yang sedang duduk manis di depan meja sambil memakan cemilan dengan para Wanita.
"awas saja, akan ku pecat dia nanti" ucapnya geram sambil meraih tangan Al yang sudah lama melayang di depan wajahnya.
"Baguslah kalau begitu. Aku bisa mengangkatnya jadi orang ku" Al menyeringai senang. Siapa yang tidak mengenal tangan kanan seorang Alex Wilshon yang sangat ahli dalam meretas dan dikenal sebagai hekker terbaik. Jangan lupakan dengan keahlian lelaki itu dalam menyembunyikan semua kebusukan tuannya. Bahkan lelaki itu tidak di ragukan lagi dalam keahliannya mencari informasi musuh-musuh tuannya. Bahkan gara-gara Jacky juga dia hampir di bunuh Dadynya akibat kelakuannya yang suka bermain wanita. Rasanya kalau mengingat itu dia semakin ingin membunuh tuan dari lelaki itu, yang sudah memberi perintah laknat untuk membocorkan semua rahasianya.
"Ck!!!,. bermimpilah, dia tidak akan mau memiliki tuan sepertimu" AL berdecih tak suka dengan tanggapan Alex. Dia cukup sadar Jacky itu sangat setia.
"OO kalian sudah selesai bermainnya" Mega yang sedari tadi memilih diam, menatap tak suka pada kekasinya yang sedang di bantu dan saling membantu dengan Daniel.
"BIBIK" Lexsa kembali berteriak nyaring tak peduli dengan teguran Skyla yang berada disampingnya.
"Bawa kotak P3K kesini. Sekalian dengan es batu air hangat jangan lupa kain kecil untuk mengompres luka mereka. " ucapnya memberi perintak. Alex yang mendengar itu langsung duduk dihadapan Lexsa. Untungnya meja yang berada di tengah mereka sudah di pindahkan. Kalau tidak pasti meja kaca itu akan dia tendang.
Ck! Dia benar-benar kesal.
Lexsa menatap tajam alex yang sudah memposisikan kepalanya di atas pangkuannya. Membuatnya bisa melihat dengan jelas luka yang ada di wajah kakaknya itu. Ah, jangan lupakan kaki Alex yang terluka karena botol yang dia lempar tadi, bahkan darahnya belum mengering.
"Letakkan disana bik, dan bawa baskom itu kemari" Alexsa mengambil baskom berisi es batu dan mulai mengompreskan ke wajah Alex.
"Issss” Alexsa kembali menatap tajam alex yang kembali meringis kesakitan, memaksa Ale untuk diam dan sebaiknya tetap diam kalau tidak ingin semakin kesakitan.
"Sayang sakit" Alex mengucap lirih. Seolah tuli, lexsa tetap menekan luka itu bahkan semakin keras. Yang membuat Alex telonjak kesakitan.
"Sakit!?" Alex meringis pelan, sebagai jawaban atas apa yang Lexsa ucapkan yang jelas itu bukan sebuah pertanyaan. Dia tahu itu.
Al yang melihat itu bahkan sampai meringis sendiri, bahkan Evelyn tidak mengobatinya sekasar itu.
"Jacky. Obati kaki nya!" Jacky mengangguk patuh. Jangan membantah atau Lexsa akan semakin marah.
Dengan pelan dia mulai mengobati kaki Alex. sambil sesekali melirik ke arah Alex yang kembali meringis kesakitan, sambil menyentuh wajahnya, kemudian kembali menyentuh perutnya yang pasti terasa sakit akibat ulah tangan AL.
"Itu pasti sakit" gumamnya pelan yang sayangnya itu bisa di dengar Alex yang sekarang sedang menatapnya tajam, dan kemudian kembali meringis kesakitan.
"Sayang pelan-pelan" tanpa mendengar apa yang diucapkan Alex lexsa menekan pelipis Alex kasar. Sampai darah yanng semula kering kembali keluar. Alex telonjak kaget. dengan rasa pusing di kepala akibat luka yang terus di tekan oleh kekasihnya.
Ck! Alexsa benar-benar iingin menghukumnya.
"Cukup!!" Alex berucap kesal. Sambil bangun dari posisi duduknya. Sampai es batu yang sudah mencair di dalam baskom tumpah mengenai kakinya.
"Isss" Alex kembali meringis merasakan sakit dikakinya. Ken yang melihat itu memilih diam, mereka sudah dewasa bukan. dia tahu Lexsa marah. Sama seperti kekasihnya yang juga menekan-nekan lukanya tapi dia tahu Lexsa menekannya lebih keras dari Skyla.
"Kau mau marah, seharusnya aku yang marah disini” Ucap lexsa tak tahan dengan tatapan Alex yang menatap tajam kearahnya. Alex yang mendengar itu mendengus kesal, Dia juga berhak marah disini, bahkan ALexsa memperlakukannya dengan kasar
"Karena itu maaf. " ucap Alex sambil berlalu pergi memaksakan kakinya yang terasa sakit saat dia berjalan. Lebih baik dia beristirahat sebelum kekasihnya itu membuatnya pingsan akibat luka yang yang terus di tekan-tekan bagaikan mainan.
Alexsa benar-benar ingin menyiksanya.
"Ck!!, menyebalkan. Apa para pria hanya bisa berkelahi saja" mendengar gerutuan lexsa mereka memilih diam. Mendiamkan Alexsa sekarang lebih baik. Dari pada gadis itu kembali mengamuk nantinya.
"Ck! menyebalkan. Bahkan aku belum selesai mengobatinya" ucapnya sambil mengambil kotak P3K dan berjalan menyusul Alex yang Dia tahu sudah menuju kamar mereka.
"itu pasti sakit sekali tadi" Eve yang mendengar itu langsung menekan luka Al kasar, kekasihnya ini terlalu suka ikut campur.
"Auuu. Pelan-pelan sayang" ucapnya kesal yang dibalas senyum sinis oleh Evelyn dengan tangan yang sudah siap menekan paksa luka Al lagi.
"Kalian hanya tahu berkelahi saja. Sampai bermain basket pun harus berkelahi" ucap Mona kesal, sambil terus mengobati Dion yang sudah memejamkan matanya dan sesekali meringis kecil kalau lukanya di tekan.
Dikamarnya.
Alex menyentuh kepalanya pelan. Kakinya yang semakin terasa sakit memaksanya untuk tidur saja dari pada hanya sekedar berbaring. Dengan pelan di tutupnya mata nya yang bahkan terasa tidak mengantuk sama sekali.
"Ini menyakitkan" gumamnya sebelum akhirnya mengambil obat sakit kepala di laci samping ranjangnya dan langsung meminumnya tampa pikir panjang. Lagipula obat itu bisa membuatnya mengantuk dengan cepat.
"Ck bahkan aku sudah merasa ngantuk sekarang" ucapnya sambil menutup matanya pelan. Rasa ngantuk itu semakin membuat kepalanya sakit. Bahkan saat pintu kamarnya terbuka pelan. dia tidak sanggup lagi membuka matanya
"Apa begitu sakit" samar-samar dia bisa mendengar gumaman kekasihnya. Diikuti oleh benda dingin yang menyentuh pelipisnya. Dan kemudian kembali terasa perih. Itu pasti obat merah dan alkohol. Masa bodoh dengan itu bahkan apabila Alexsa kembali menekan lukanya dia tidak akan peduli. Karena rasa sakit itu sudah tidak terasa.
"Jangan ulangi lagi" Lexsa berucap pelan. Tapi sayangnya Alex bahkan sudah tidur
"dia pasti meminum obat ini" Lexsa mengambil tablet obat yang di buang Alex sembarangan.
"Aku pasti akan memarahimu nanti kak, tapi sekarang aku harus obati dulu lukamu"
***