Bani menghela napas dalam. Ia masih menunggu perempuan di depannya untuk berbicara. Namun, sudah lebih dari tiga puluh menit mereka terdiam. Tak ada satu kalimat pun yang terlontar dari bibir wanita tersebut setelah memesan minuman. Sedangkan Bani, tak tahu harus memulai dari mana.
"Kana!"
Cia mendongak. "Jangan panggil aku dengan nama itu, bisa?"
"Kenapa?"
"Anda tahu jawabannya." Cia benci harus mengatakan alasan itu berkali-kali. Ia memilih menyandarkan punggungnya di kursi. Sedangkan tangannya bermain pada telinga cangkir berisikan kopi hitam yang ia pesan.
Bani tersenyum kecut. Ia terlalu berharap semua akan baik-baik saja. Akan tetapi pada kenyataannya sangatlah rumit. Untuk kesekian kalinya, ia membuang napas dalam. Memperhatikan Kana menjadi kesibukannya untuk beberapa menit ini.
Cia bukannya tak tahu kalau ada seseorang yang memandangnya. Ia mencoba biasa saja. Namun tidak dengan hatinya. Bagaimana bisa ia duduk tenang sedangkan di muka terdapat orang yang bisa memacu kinerja jantungnya lebih cepat. Tapi, ia tepis perasaan ini. Semua sudah berakhir. Dan sekarang saatnya menghentikan cerita ini. Bukan malah mengulur waktu untuk duduk berdiam diri bersamanya.
Keputusan salah untuk Cia menyetujui ajakan lelaki tersebut. Sebab saat kedua bola matanya memandang netra Bani ia terseret dalam arus masa lalu. Waktu di mana pertama kali mereka bertemu dan menjalakan lakon untuk cerita yang sudah di gariskan.
Saat itu, Kana memasuki rumah dengan gembira. Ia baru saja lulus dan memperoleh nilai yang memuaskan. Dengan langkah ringan, ia membuka pintu. Berjalan masuk ke dalam rumah terasa sepi. Berbeda dengan dulu ketika masih ada keluarga pamannya. Rumah ini tampak lengang. Karena yang tinggal di sini hanya ayah, dirinya, bibi serta suaminya yang menjadi sopir pribadi.
Walaupun Kana lahir di keluarga yang berkecukupan, tak membuat dirinya terlena akan kekayaan sang ayah. Ia menjelma bagai seorang perempuan yang sempurna. Pandai memasak dan mengatur rumah. Bukan hanya itu, sejak ia duduk di bangku putih abu-abu Kana sudah menutup auratnya. Pergaulan gadis itu pun terjaga. Ia tak biasa berbicara dengan lawan jenis. Kana selalu menjaga lisan dan pandangannya.
Kana pula menjadi wanita mandiri. Sudah sejak lama ia bisa membiayai kebutuannya sendiri. Uang jajan dari ayah ia kumpulkan sendiri. Untuk keperluan mendesak. Ia mengandalkan penghasilan dari usaha yang telah dirintis sejak duduk di bangku putih biru.
"Sudah pulang, Nak."
Terdengar suara dari ruang tamu. Sontak Kana menoleh. Ia memicingkan kedua matanya. Tampak seseorang yang sedang duduk di sebuah sofa.
"Ayah?"
"Iya, Sayang. Kemari."
Kana mengangguk. Ia mendekat ke arah ayahnya. Duduk bersebelahan dan menyandarkan tubuh pada lengannya adalah kebiasaan Kana. Terasa nyaman dan tenang berada dalam dekapan lelaki yang sudah terlihat menua tersebut. Hingga ia memejamkan mata sejenak.
"Bagaimana sidangnya?"
"Kana lulus, Yah!" jawabnya yang masih dengan posisi sama. Entah kenapa, hari ini ia ingin sekali terlelap dalam pelukan sang ayah. Mungkin, efek ditinggal beberapa minggu. Kana ingin bermanja-manja.
"Selamat, Sayang." Ayah bangga dengan Kana. Walaupun anaknya tumbuh tanpa kasih sayang ibu. Kana bisa membanggakannya. Sebab tak pernah terdengar rengekan keluh kesa keluar dari bibir mungilnya. Paling-paling hanya cerita kesehariannya bersama anak jalanan. Ayahnya memang tidak membatasi Kana untuk bergaul dengan siapa pun. Yang terpenting anak gadisnya mampu menjaga diri dan tidak melenceng dari aturannya-Nya. Itu sudah cukup.
Kana membuka mata sejenak sebelum semakin membenamkan kepala di d**a bidang yang dulu menjadi sandaran Kana semasa kecil. Umurnya boleh diatas dua puluh. Namun ia akan menjadi anak kecil ketika berada di samping ayahnya.
"Putri Ayah sudah besar ya. Kapan menikah?"
Sontak Kana membuka mata. Pertanyaan yang sangat ia benci. Dirinya ingin menggapai cita-cita. Namun, ketika pertanyaan itu diutarakan pupus sudah semua impian Kana. Dalam benaknya ketika ia sudah menikah berarti seluruh kehidupannya tak bisa sebebas ini. Ia harus menjadi ibu dan juga istri yang harus patuh kepada suami. Padahal banyak sekali angan-angan yang ingin ia capai.
"Kamu sudah dewasa, Sayang. Siapa lagi yang mau menjagamu. Kelak ada suami yang bisa melindungimu. Bahkan sangat menyayangimu."
Kana memasang wajah masam. Sudah beberapa hari ini, Ayahnya selalu berkata seperti itu. Bahkan, tak tanggung-tanggung sang ayah menyodorkan rekaman ceramah tentang hikmah sebuah pernikahan. Kalau boleh jujur, Kana belum siap. Bukan karena hatinya terpaut dengan seseorang yang jauh di sana. Akan tetapi, ia takut kelak tak bisa membahagiakan anaknya. Cukup ia saja yang tak pernah merasakan kehadiran sosok ibu. Jangan sampai anaknya kelak mempunyai rasa yang sama seperti Kana alami. Dan masih banyak lagi keraguan untuknya melangkah ke jalan tersebut.
"Ayah tahu kamu masih berat untuk menikah. Kalau tidak sekarang, terus kapan? Ayah tak tahu sampai kapan bisa bersamamu, Kana."
Gadis yang saat itu memakai kerudung warna hijau muda hanya bisa menghela napas dalam. Ia tak ingin menyakiti hati orang tua satu-satunya tersebut. Akan tetapi, untuk menikah dalam waktu dekat bukan keinginan Kana. Masih ada harapan yang ingin ia wujudkan. Ada mimpi yang ia kejar. Namun melihat binar harapan di mata Ayah, Kana menjadi ragu.
"Kelak, kalau kamu sudah menikah pasti akan lebih bahagia. Dan tidak menghambat impianmu, Kana."
Ingin rasanya menyanggah semua ucapan Ayahnya. Namun setelah melihat sorot penuh harap, Kana urung berbicara. Ia semakin membenamkan kepalanya dalam bidang lelaki yang sudah mengasuhnya sejak lahir.
Untuk mengiyakan sangat susah bagi Kana. Ia tak ingin kelak berdosa pada suaminya bila hati kecil Kana masih terpaut pada lelaki yang jauh di sana. Dalam setiap doa, gadis tersebut selalu meminta agar perasaan ini menghilang. Bukannya lenyap, malah terpatri dalam diri Kana. Seharusnya, sejak awal Kana menghilangkan rasa ini. Bukan memendam sampai puncaknya, ia harus melalui kesendirian di dalam rumah ini sendirian.
Kana membuang napas dalam. Ia menarik tubuhnya dari dekapan sang ayah. Netranya memandang seluruh wajah orang yang berjasa dalam hidup Kana. Terlihat jelas guratan lelah di sekitar matanya. Belum lagi banyak sekali rambut putih yang tumbuh di sela-sela surainya. Mungkin, ini adalah bentuk pengabdian Kana kepada ayahnya. Kalau ayahnya meridhoi ia menikah, kenapa ditunda. Insya Allah ada jalannya. Bukannya kehidupan ini sudah diatur oleh-Nya.
"Kenapa, Sayang?"
Ayah bertanya karena sedari tadi sang anak tercinta memperhatikannya dengan intens. Tak seperti biasanya. Kali ini, Kana terlihat sangat pendiam. Umumnya, Kana akan menggerutu tak jelas bila perkara ini diangkat oleh ayahnya. Namun kali ini, Kana lebih memilih diam. Tak menolak dan tidak menerimanya.
"Apa Ayah meridhoi Kana menikah?"
Ayah yang mendengar pertanyaan sang anak tersenyum bahagia. Ia membelai kepala Kana penuh kasih sayang. Anak perempuan yang ia besarkan seorang diri kini sudah menginjak dewasa. Sudah waktunya ia mencarikan jodoh yang terbaik untuk buah hatinya.
"Mama pasti bangga punya anak sepertimu."
"Ayah ..." Kana merajuk. Bukannya menjawab pertanyaannya, sang ayah malah berkata seperti itu. Kana mengenal Mamanya dari foto dan juga cerita berbagai orang.
Mulai dari Bibi, seseorang yang membantu mengurus rumah ini sangat mengenal sosok Mama. Dari Bibi, Kana mengetahui bagaimana keseharian dan sifat Mama. Belum lagi Bunda Nina, sahabat yang merangkap sebagai adik ipar Mama banyak mengenang masa lalu semasa mereka duduk di bangku putih biru. Semua mengenal sang Mama. Namun tidak bagi Kana. Karena setelah ia lahir, Mamanya pergi untuk selama-lamanya. Yang menyisahkan sebuah cerita untuk dikenang saja.
Kana tidak menyesal telah dilahirkan. Ia bangga kepada Mama karena rela mempertaruhkan nyawanya untuk menghadirkan dirinya di Dunia ini. Sungguh, Kana tak bisa membalas semua jasa beliau. Yang bisa ia lakukan hanya berdoa. Agar Mamanya bahagia di alam sana.
"Bagaimana? Apa kamu mau menikah, Sayang?"
Pertanyaan sang ayah menarik kesadaran Kana. Ia menatap heran lelaki yang memakai kaos berwarna putih membungkus d**a tegapnya. Ada angin apa ayahnya bertanya seperti itu. Jangan-jangan sudah menyiapkan kandidat untuk menjadi calon suami Kana.
"Ada lelaki soleh. Ayah mengenal keluarganya juga. Dia sosok yang bertanggung jawab. Belakangan ini, Ayah menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Bagaimana, Kana?"
"Bagaimana apanya, Yah?"
Sudah Kana duga. Ayahnya pasti mempromosikan seorang kandidat. Kali ini siapa lagi lelaki tersebut. Terhitung banyak sekali Kana menolak profil lelaki yang disodorkan oleh sang ayah. Dan ia anya bisa menjawan ingin fokus kuliah dahulu. Lalu sekarang, alasan apalagi yang akan ia utarakan.
"Kamu setuju kalau lelaki itu meminangmu?"
Kana mengerjap pelan. Pikirannya terasa kosong. Tak mungkin ia menolak lagi. Ayahnya telah memilihkan jodoh terbaik untuknya. Lalu, apa yang ia tunggu.
"Bagaimana, Sayang?"
Kana menghela napas dalam dan mengucap bismillah dalam hati sebelum memantapkan jawabannya. "Kalau menurut Ayah lelaki tersebut baik untuk Kana, maka..."
"Iya, Sayang?"
"Kana butuh sholat istikharah dulu, Yah." Akhirnya jawaban itu yang keluar dari bibir mungil Kana. "Tidak apa-apa, 'kan?"
Ayah Kana menggeleng sembari tersenyum, "Atau kamu mempunyai calon sendiri?”
Kana menggeleng. Untuk berinteraksi dengan lawan jenis saja ia membatasi diri. Bagaimana bisa punya seorang kandidat sebagai calon suami. Akan tetapi kalau orang yang jauh di seberang sana dibolehkan menikah dengannya, Kana tak akan menolak. Namun kenyataan berkata lain. Sampai kapan pun perasaan terpendam Kana akan bertepuk sebelah tangan. Dab nungkin suah Kana lupakan. Karena bagaimanapun mereka adalah saudara.
"Ya sudah. Ayah tidak akan memaksa Kana lagi. Asal, Kana harus berjanji pada Ayah untuk melupakan perasaanmu kepadanya. Itu tak boleh, Kana."
Kana menelan ludah dengan sudah payah. Ia tertunduk malu. Sangat berdosa bila Kana mencintainya. Karena sampai kapan pun status mereka tak akan berubah. Dan seharusnya, ia tahu akan hal itu. Bukannya membiarkan rasa itu tumbuh sampai susah untuk membuangnya. Dan sialnya, sang ayah selalu tahu apa yang bersarang diotaknya.
"Kamu sudah besar, Sayang. Tahu mana yang salah dan benar. Sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Mungkin, dengan kamu menikah dapat mengubur perasaan itu dan berusaha mencintai suamimu kelak. Ingat, Tuhan dapat membolak-balikkan hati manusia."
Kana tak tahu harus menjawab apa. Yang dikatakan Ayahnya semua adalah kebenaran. Sampai kapan hatinya terjebak dalam ilusi masa lalu. Ia malu. Ya Allah, hapus dia dari hidupku.
"Yah ..."
"Iya, Sayang?"
Kana menghela napas dalam, "Kalau memang dia baik menurut, Ayah. Kana mau menikah dengannya, Yah. Pilihan Ayah adalah yang terbaik buat Kana."
Kana ragu. Ia tak tahu dengan perasaannya. Semua yang gadis itu lakukan hanya untuk kebahagiaan Ayahnya. Hanya lelaki paruh baya itu yang ia punya. Apapun akan dilakukannya untuk membuktikan baktinya.
"Sholatlah dulu, Sayang. Baru kamu kasih jawaban ke Ayah. Mantapkan hatimu terlebih dulu. Nanti Ayah kasih tahu siapa lelaki soleh tersebut.”
Ayah Kana menutup pembicaraan sore ini. Ia tak ingin menambah beban pikiran sang anak. Sebelum beliau beranjak, ia menepuk punggung gadisnya. Memberikan senyuman yang bisa menenangkan hati Kana.
Memang benar, cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Karena sosok lelaki tersebut tak akan tega menyakiti hati putri kecilnya. Sampai besar pun, seorang anak perempuan pasti menjadi malaikat kecil ayahnya. Begitu pula dengan Kana. Walaupun ia sudah lulus kuliah, namun akan menjadi sosok yang ingin dimanja sama ayahnya.
Kana membuang napas dalam. Menyandarkan tubunya pada sofa. Mata gadis itu menatap langit-langit ruang tamu. Hatinya bergemuru. Ia bingung dengan keadaannya. Memikirkan kembali sebuah pernikahan. Bagaimana cara menjalani. Apa saja tugasnya setelah ini. Dan beraneka ragam pertanyaan yang muncul dari benaknya. Semakin memusingkan kepala.
Ia ingin seperti sang Mama yang mencintai ayahnya sampai napas terakhir. Begitu pula dengan sang ayah yang enggan menikah lagi selepas Mama tiada. Saling menjaga agar ditemukan kembali di surga. Sebuah kisah romantis yang selalu Kana ingat. Tapi apakah mungkin rumah tangganya kelak akan seperti itu. Saling mencintai dan melengkapi. Bukan karena sebuah permintaan semata.
Dirinya hanya bisa berharap. Berdoa agar semua berjalan baik-baik saja. Tak ada luka yang akan timbul dari masalah ini. Semoga saja. Karena ia tak tahu kedepannya seperti apa dan bagaimana. Yang Kana lakukan hanya menjalaninya saja. Sebab hidup ini akan terus berjalan semestinya.