Seminggu setelah pembicaraan itu, Kana lebih banyak diam. Setiap malam ia berusaha mendekatkan diri pada pemilik alam semesta ini. Berharap ada sebuah petunjuk untuknya. Dan selama sepekan pula Ayahnya ada urusan ke luar kota. Kana berada di rumah sendirian. Ia bukan tipe orang yang mudah bergaul. Bahkan katagori teman akrab pun tak ada. Yang selalu menemaninya selama ini hanya laptop ungu kesayangan gadis penikmat teh hijau tersebut.
Ia bukan sosok yang anti untuk berkawan. Akan tetapi, Kana lebih suka mencurahkan isi hatinya dalam bentuk tulisan atau langsung mengadu pada-Nya selepas sholat. Karena gadis itu yakin, hanya pada-Nya tempat mengadu dan berkeluh kesah. Lagian, ia masih punya laptop yang bersedia menyimpan semua ceritanya. Baginya, sesuatu yang tak bisa diutarakan dapat dituangkan dalam bentuk tulisan.
Masalah teman pun, ia tak memilih. Namun, kebanyakan mereka tak mau dekat dengannya. Karena Kana suka menyendiri dan terkenal cuek. Berbicara dengannya pun hanya masalah penting saja. Selebihnya gadis tersebut jarang menanggapi. Apalagi membicarakan orang lain. Bisa dipastikan Kana akan pergi.
Bukannya tak mau bergabung atau meladeni temannya berbicara. Namun, ia takut termasuk golongan orang yang suka ghibah. Membicarakan keburukan orang lain. Padahal aib diri sendiri saja sudah ditutupi oleh Yang Maha Kuasa. Lalu buat apa dirinya mengumbar keburukan orang lain. Tak ada gunanya.
Tapi, sebagian dari mereka pasti beralasan. Toh, yang diucapkan adalah kebenaran. Semua itu fakta. Akan tetapi tidak bagi gadis penggila doraemon tersebut. Ia berpikir itu sama saja. Yang intinya sama-sama membicarakan orang lain. Dan ia tak suka itu.
Sang Ayah selalu berpesan kepadanya agar tidak menggunjing orang lain. Karena itu sama saja memakan bangkai saudara sendiri. Sesuai dengan yang teradapat di Al-qur’an surah Al-Hujurat ayat 12, yang artinya, “Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Itulah alasan Kana kenapa dia memilih menyendiri. Berteman dengan sepi sudah tak asing baginya. Karena ia masih punya Tuhan yang memiliki segalanya.
Deringan ponsel Kana menariknya dari lamunan. Ia melangkah ke arah meja rias. Di sana terdapat benda persegi yang tertumpuk di atas aneka buku. Baik novel islami atau sejarah tentang Islam. Kana sangat menyukai buku seperti itu. Setidaknya dengan membaca dapat membunuh kebosanan. Dan juga jangan lupa, buku adalah jendela Dunia. Ia dapat banyak pengetahuan di dalamnya. Bisa juga dijadikan referensinya untuk menulis. Karena belakangan hari ini, ia gemar sekali mengola kata-kata yang biasa menjadi bermakna dalam.
Terdapat sebuah notifikasi pesan pada layar telepon genggamnya. Ia langsung membukanya. Sebuah pesan dari sang ayah yang menanyakan kabar Kana. Dengan senyuman yang merekah, Kana menekan tombol telepon. Yang akan menghubungkannya pada seseorang di seberang sana.
"Hallo?" terdengar suara penuh wibawa yang menjawab.
"Assalamualaikum, Ayah!" sapa Kana penuh keceriaan.
"Waalaikumsalam, Sayang. Bagaimana kabarmu?"
Kana menghela napas, "sepi, Yah."
"Makannya menikah. Kalau Ayah tinggal masih punya teman, 'kan?"
Kana mengerucutkan bibirnya walaupun ayahnya tak akan bisa melihat. Topik itu seakan tak pernah habis untuk dibahas. Padahal dari segi umur, ia masih terbilang cukup muda. Belum saatnya untuk melangkah ke jenjang tersebut.
"Ayah ..."
"Iya, Sayang?"
"Kapan pulang?"
"Kenapa? Kamu bersedia menikah?"
Kana mengacak rambut frustrasi. Haruskah ia memulai hidup baru secepat ini. Bukannya tak ingin. Namun, hatinya masih dalam keraguan. Kebimbangan atas masa depannya kelak.Lagian kenapa hal tersebut selalu diungkit oleh ayahnya. Hatinya kan jadi tambah galau.
Ia berjalan mondar-mannir dalam kamar. Otaknya berpikir keras. Ayo, alasan apa lagi agar ayah berhenti membicarakan tentang pernikahan.
"Kamu tahu kalau menikah salah satu cara agar terhindar dari zina?"
Pertanyaan dari sang ayah membuyarkan lamunannya. Ia hanya bergumam. Kana sudah tahu itu. Akan tetapi, secepat inikah ia melepas masa lajang. Kana takut, selepas menikah ia tak bisa melanjutkan cita-citanya sebagai seorang pengajar. Dan banyak lagi ketakutan yang tak bisa ia sampaikan ke ayah. Tapi, semua perkataan lelaki paruh baya tersebut ada benarnya. Tuhan, kenapa rasanya sulit sekali?
"Bagaimana, Kana?" desak sang Ayah, “bukankah kamu ingin menyempurnakan separuh agamamu?”
Telak. Kana tak dapat menjawab lagi. Ia tahu dengan hadist tersebut. tapi, haruskah ayahnya mengatakan hal demikian. Ia semakin tak bisa berkutik. Bahkan menyangga pun tak kuasa. Tuhan, tolong aku.
"Kana akan menjawab jika Ayah sudah ada di rumah. Lagian, Ayah ini di mana?"
Terdengar kekehan di seberang sana. Kana mengernyit bingung. Kenapa Ayahnya malah tertawa. Dan tunggu, Kana mendengar sebuah langkah mendekati kamarnya. Sontak saja ia langsung membuka pintu. Terlihat seseorang yang sedang di rindukan sedang memegang telepon genggamnya di telinga.
"Ayah!"
Kana langsung berlari memeluk sang Ayah. Ia mendekapnya erat. Menyalurkan kerinduan yang selama ini ia pendam. "Kana takut. Takut tak bisa memeluk Ayah seperti ini."
Sang Ayah mengelus punggung anaknya dengan sayang. Sesekali beliau mengecup kening putri kecilnya. Kana tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik. Lelaki tersebut takut bila ada seseorang yang berniat buruk. Jalan satu-satunya adalah menikahkannya. Namun, ia juga tak bisa memaksa. Karena semua keputusan ada di tangan Kana. Sebenarnya ia pun belum rela melepas anak semata wayang. Akan tetapi, usianya tidak muda lagi. Ia takut tak ada menjaga Kana setela kepergiannya.
"Kana ingin selamanya sama Ayah."
Ayah tersenyum sembari melepas pelukan Kana. "Selamanya Kana akan menjadi putri kecil Ayah. Tak ada yang bisa menggantikan itu."
"Tapi, kalau Kana menikah ..." Kana ragu melanjutkan kata-katanya. Ia melihat kelelahan di wajah Ayah. Tak mungkin Kana menambah beban pikirannya lagi. Mungkin ini saatnya membuat lelaki tersebut bahagia. Kana akan melakukan apapun untukmu, Yah.
"Kenapa?" tanya Ayah bingung dengan sorot gadis satu-satunya tersebut.
"Ayah sudah makan?"
Kana sengaja mengubah arah pembicaraan. Sebelum mendengar jawaban sang Ayah. Kana langsung merangkul lengannya dan menarik menuju ke dapur yang berada di lantai bawah. Ayah yang melihat kelakuan sang anak hanya bisa menggeleng dan tersenyum bahagia. Kana tak pernah menyusahkannya. Ia tumbuh menjadi perempuan mandiri. Dan tentu saja itu membuatnya bangga.
"Ayah mau Kana masakkan apa?"
"Terserah Kana saja. Ayah mau mandi dulu ya."
Kana mengangguk sembari menyiapkan bahan makanan. Ia ingin membuat sesuatu yang sangat mudah dan cepat. Pilihannya jatuh pada sop ayam dan juga sambal kecap. Makanan kesukaan sang ayah.
Ayamnya di masak bersama sayur sop dahulu baru di goreng setengah matang. Lalu tinggal buat sambal kecapnya saja. Dijamin sang Ayah akan makan banyak kali ini. Masakan yang singkat dan tidak membutuhkan waktu yang lama namun dijamin kelezatannya.
"Wanginya buat Ayah lapar."
Kana menoleh. Ia melihat Ayahnya sudah memakai kaos dan celana rumahan. Dengan langkah senang, ia berjalan menghampiri lelaki paruh baya tersebut. Mengajaknya untuk duduk di meja makan. Tak lupa Kana juga mengambilkan nasi dan lauknya.
"Sekarang Ayah makan dulu ya."
Kana berkata sembari menyerahkan sepiring nasi beserta lauknya. Ia sangat senang makan bersama ayahnya. Karena waktu-waktu seperti ini jarang mereka dapatkan.
Sejak kecil, Kana hidup mandiri. Ia tak bergantung pada orang lain. Seiring berjalannya waktu, ia menjadi sosok gadis dengan pemikiran dewasa. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah dan berbagai masalah. Bukan hanya itu, di saat ia masih duduk di biru putih mampu menghasilkan pendapatan sendiri. Tentu saja tanpa sepengetahuan sang Ayah.
Jiwa mandiri Kana terbentuk sejak kecil. Itu yang mengakibatkan ia sudah bisa berdiri sendiri pada kedua kakinya. Ia juga mempunyai rumah singgah. Di sana banyak sekali anak jalanan yang Kana bimbing. Dalam rumah tersebut, terdapat aneka buku bacaan. Dan sesekali Kana datang untuk mengajari mereka. Kalau tidak biasanya ada orang dari LSM yang bekerja sama dengan Kana.
"Kamu sudah memutuskannya, Kana?"
Kana tersedak mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang Ayah. Langsung saja ia meminum air yang sudah tersedia di samping.
"Pelan dong, Sayang."
Kana menggeleng mendengar peringatan Ayahnya. Ia keselak juga karena pertanyaan lelaki yang masih menyantap makanan dengan nikmat. Tak terganggu dengan mimik wajah anaknya yang terlihat kesal.
"Ayah juga, sih. Kenapa bertanya seperti itu."
Lah, kamu sendiri yang bilang kalau menjawab saat Ayah sudah datang. Wajar kalau Ayah bertanya, 'kan?"
Kana menelan dengan susah nasi yang berada di mulutnya. Ia menatap Ayahnya dengan heran. Terasa ada yang lain. Biasanya Ayahnya tak memperbolehkan bicara saat makan. Akan tetapi saat ini, sang Ayah malah asyik makan sambil berbicara. Dan terasa lebih menyenangkan.
"Tapi juga nggak sekarang juga, Yah."
Ayah mengangguk. "Baiklah. Ayah sudah selesai. Kalau Kana sudah selesai, tolong buatkan teh ya. Ayah tunggu di ruang keluarga."
Hilang sudah nafsu makan Kana. Ia menatap kepergian sang Ayah dengan pandangan nanar. Ayahnya sudah membuat titah. Tak mungkin Kana mengabaikannya. Dengan cepat-cepat ia selesaikan makan dan membersihkan meja makan. Lepas itu membuatkan teh dan siap-siap dengan jawaban yang masih meragukan hati Kana.
Sebelum melangkah ke ruang keluarga, Kana menghela napas berulang kali. Ia menata hatinya terlebih dahulu. Ini pilihan yang sangat sulit. Semua demi masa depannya. Ia melangkah dengan membaca basmallah.
"Ini tehnya, Yah."
"Terima kasih, Sayang." Ayah berkata sembari menaruh tab yang sedari tadi menemaninya. "Bagaimana?"
Ayah bertanya setelah melihat Kana yang sudah duduk di sofa seberangnya. Sebenarnya ia tak ingin mendesak Kana. Namun, usia Kana sudah siap untuk menikah. Dan ia ingin sekali menjabat tangan lelaki yang akan mengambil alih tanggung jawabnya.
"Kana ..."
"Iya?"
Jantung Kana terasa berdetak lebih kencang. Ia meremas kedua tangannya untuk menghilangkan rasa gugup. Berulang kali ia membuang napas alam. Menegakkan tubunya untuk lebih memudakan udara masuk ke organ paru-paru. Sebab ia terasa sesak. Pertanyaan Ayahnya kali ini sulit untuk ijawab. Bahkan tak ada alasan lagi untuknya menolak. Tuhan, aku pasrahkan semua kepada-Mu.
"Apa lelaki tersebut tahu Kana, Yah?"
Pertanyaan itu yang justru keluar dari bibir Kana. Sang Ayah mengangguk sebagai jawaban.
"Apa dia mengenal Kana, Yah?"
Sang Ayah menggeleng. "Ia hanya tahu kamu anak gadis Ayah. Selebihnya, tidak."
Kana membuang napas dalam. "Kalau Ayah setuju, Kana juga setuju. Akan tetapi, Kana tidak mau bertemu dengannya sampai acara ijab qobul."
Jawaban dari Kana membuat mata sang ayah berbinar bahagia. Anak gadisnya ternyata menerima. Berulang kali ia ucapkan kata syukur.
Kana yang melihat kebahagiaan tersebut ikut tersenyum senang. Kebahagiaan Ayahnya adalah tujuan hidup Kana. Semuanya akan ia lakukan asal Ayahnya bahagia. Dan ia ikhlas menerima ini semua. Mungkin ini jalan takdir yang harus Kana lalui. Dan ia sangat percaya dengan rencana Tuhan akan selalu berakhir indah.
Selepas pembicaraan tersebut, Kana memilih masuk kamar. Berkutat kembali dengan buku yang sempat ia baca sebentar. Ia menghela napas alam. Menyanarkan tubuhnya pada kursi. Sedangkan jemarinya memainkan bulpoint yang tergeletak pada meja belajar.
Ia masih menyakinkan dirinya kalau ini adalah yang terbaik untuk masa depannya. Sang Aya suah percaya dengan lelaki tersebut. Lalu kenapa hatinya masih meragu.
Semua masih abu-abu. Ia memilih bertemu dengan lelaki itu setelah ijab karena alasan tertentu. Bukan karena ia tak ingin berkenalan atau bertemu dengan lelaki itu. Namun, ia ingin melihat sesuatu yang telah halal untuknya. Agar cinta datang di waktu yang tepat. Yaitu saat mereka sudah resmi menjadi pasangan halal.
Tatapan mereka akan menjadi ladang pahala. Bukan hanya itu, masih banyak lagi pahala yang bisa digapai dalam penikaan. Sebab yang halal yang lebi berharga. Maka dari itu, Kana selalu menundukkan pandanganya ketika berbicara dengan lelaki lain. Bukan karena ia tak menghargai orang tersebut. Akan tetapi ia menghindari dari zina mata.
Hidup ini hanya tempat persinggahan. Di mana ia harus mencari rido-Nya dan bekal untuk di alam yang kekal. Ia bukanlah sosok perempuan yang sholehah sekali. Namun, ia terus belajar dan berubah menuju yang baik. Termasuk menuruti permintaan sang Ayah. Ini menjadi salah satu baktinya kepada orang yang telah berjasa dalam merawatnya sampai sebesar ini.
Kana percaya, rasa itu akan ada dengan sendirinya. Ia hanya perlu menjalani dan berdoa agar semua menjadi kebahagian yang tak ternilai dalam perjalanan hidup. Semoga saja.