Kana menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia tak menyangka secepat ini akan memakai kebaya putih tulang menjuntai ke tanah. Dipadukan dengan kain batik sebagai bawahan terlihat indah. Tak lupa kerudung yang menjulang menutupi d**a. Sebagai pemanis, ia menggunakan headpiece rangkaian bunga yang sangat indah di kepalanya.
Ia menjelma sebagai putri cantik. Kana terlihat sangat berbeda dari biasanya. Walaupun riasan yang ia gunakan sangat simpel dan flawlees. Tak menutupi kecantikan yang selama ini tersembunyi dalam dirinya. Namun smeua tak menutupi kegugupannya.Sedari tadi ia meremas kedua tangannya. Sedangkan mulutnya tak berhenti berdzikir. Hanya mengingat-Nya lah hati akan tenang. Itu yang selalu Kana lakukan ketika gelisah.
Kana membuang napas dalam. Masih ingat dalam benaknya percakapan terakhir dengan sang Ayah. Ia menginginkan pernikahan yang sederhana. Dan juga, semua dilakukan oleh keluarganya saja. Baik Kana maupun calonnya hanya bisa berinteraksi lewat orang tua mereka. Sedikit aneh, akan tetapi itulah permintaan dari Kana. Untung saja pihak lelaki pun menyetujuinya. Berhubung si calon sudah pernah melihat Kana, ia pun terima saja persyaratan dari pihak perempuan.
"Kamu yakin dengan syarat itu, Sayang?"
Kana mendengarkan pertanyaan sang Ayah kala itu. Ia hanya mengangguk. Entah mengapa hatinya masih terasa bimbang. Mungkin, dengan cara seperti ini ia bisa mencintai sosok suaminya kelak.
"Iya, Yah. Dia sudah mengetahui tentang Kana. Biar nanti Kana berkenalan dengannya selepas sudah halal. Ayah nggak keberatan, 'kan?"
Ayah menggeleng. "Apa pun keputusanmu Ayah akan dukung. Tetapi, apa kamu tak mau mengenal calonmu?"
Tentu saja ia ingin mengetaui siapa sebenarnya lelaki yang kelak akan menjadi imam masa depannya. Akan tetapi, ia takut jatuh pada zina. Karena memikirkan lelaki yang belum halal oleh gadis penggila warna ungu tersebut. Dalam hatinya selalu ditekankan semua akan baik-baik saja. Pernikahan ini mendapat restu dari sang ayah. Apa yang ia cemaskan. Allah pasti membukakan jalan dan menuntunnya untuk mengarungi baterah rumah tangga.
"Kana percaya pilihan, Ayah. Bukankah Kana sudah pasrahkan semuanya kepada, Ayah. Kalau ini pilihan, Ayah. Kana setuju. Karena Kana yakin, pilihan dari Ayah adalah yang terbaik."
Mendengar jawaban dari sang anak, beliau tersenyum senang. Ia tela mendidik Kana menjadi perempuan yang sholehah. Insya Allah, ia akan merestui apa pun keputusan putri kecilnya. Tak terasa waktu cepat berlalu. Kini ia harus rela menyerahkan anak perempuannya pada lelaki yang telah dipercayainya.
Saat seperti ini, lelaki paru baya tersebut merindukan sosok sang isteri. Mungkin wanita yang ia cintai itu akan antusias dan bahagia melihat anaknya hendak menikah. Atau malah kerepotan mempesiapkan semua yang ada. Membanyangkan hal tersebut, ia tersenyum sendiri. Sungguh dalam hatinya selalu berdoa untuk almarhumah ibunya Askana.
“Ayah kenapa?” Tanya Kana melihat keanehan dalam raut wajah orang tuanya.
Ayah menggeleng pelan, “Tidak apa-apa,” ujarnya sembari mengelus lembut kepala Askana, "nanti biar Ayah saja yang berbicara kepada mereka dan mengatur semua kebutuan anak ayah."
Kana mengangguk setuju. Walaupun pada akhirnya gadis itu akan merepotkan sang Ayah. Sebab yang mengurus semuanya adalah ayah sendiri. Sesuai kesepakatan, pernikahan akan dilaksanakan selepas Kana wisuda. Tak terasa waktu berputar dengan cepat. Sekarang saatnya Kana memasuki jenjang kehidupan yang lain. Ia akan segera menikah dengan pilihan sang ayah.
Sejak semalam Kana selalu berpikir, bagaimana lelaki yang akan menikahinya. Ia kenal pun sekadar nama. Bertemu pun hanya sekali saat mereka lamaran. Selepas itu, Kana tak pernah berkomunikasi dengannya. Sedikit aneh, akan tetapi Kana lebih menyukai hal seperti ini. Terasa mendebarkan dan memacu kinerja jantung Askana. Tuhan, lancarkan semuanya. Ridhoi langkah yang aku ambil.
"Kamu terlihat sangat cantik, Kana."
Terdengar suara dari seseorang menarik kesadaran Kana. Sontak, ia membalikkan tubuh. Ia tak menyangka melihat seorang perempuan yang masih terlihat muda diusainya. Wanita yang dahulu rela memberikannya air s**u serta merawat sampai tumbuh besar.
"Bunda ..."
Matanya berkaca-kaca. Ia tak percaya Bundanya akan menghadiri acara pernikahan Kana. Karena sebuah peristiwa di masa lalu membuat mereka saling berjauhan.
"Iya, Sayang."
"Kana kangen."
Kana langsung memeluk tubuh rentanya. Sungguh, ia tak akan melupakan hari ini. Di mana Kana bisa melihat sosok Bunda yang selama ini hanya bisa dengar suara lewat telepon. Suda lama sekali mereka tidak bertemu. Terakhir kali mereka berjumpa saat Kana duduk dibangku putih abu-abu. Dan kini mereka dipertemukan kembali. Sunggu hari ini adalah waktu terbaik bagi Benicia Askana.
"Maafkan Kana, Bunda. Kana ..."
Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu. Yang ia gumamkan sedari tadi hanya ucapan maaf. Sedangkan Bunda mengusap punggungnya dengan hangat. Kana tak bisa lagi membendung air mata. Perlahan tapi pasti cairan bening keluar dari bola matanya.
Dekapan ini masih terasa nyaman. Kana sangat rindu elusan ini. Ingin rasanya ia kembali tertidur dalam pangkuan sang Bunda sampai terlelap. Seperti saat ia masih kecil dulu. Bahkan waktu itu ia harus bertengkar dulu dengan sang Kakak untuk dapat merebahkan kepala pada kaki Bunda.
"Jangan menangis, Sayang." Bunda berkata sembari melepaskan pelukannya. "Menangislah untuk berbahagia. Lupakan apa yang terjadi di masa lalu. Biarlah semua menjadi cerita dan kenangan." Lanjutnya sembari menghapus air mata Kana yang entah sejak kapan sudah turun membasahi kedua pipi.
Kana tersenyum melihat pancaran keteduhan dari Bunda. Ia memeluk Bundanya lagi dan semakin erat. Sampai terdengar suara menginterupsi kegiatan mereka.
"Nggak ada yang mau peluk Papa?"
Kana mengangkat kepalanya. Ia bisa melihat seseorang lelaki yang wajahnya mirip dengan sang Ayah tersenyum ke arahnya. Senyuman indah merekah pada bibir Kana.
"Papa ..."
"Iya, Sayang."
Lelaki tersebut berjalan memasuki kamar. Ia langsung memeluk tubuh Kana dan Bunda secara bersamaan. Kana tak berhenti bersyukur. Ia tak menyangka Papa dan Bundanya rela datang ke sini untuk menemani langkahnya menuju gerbang pernikahan.
Kebahagian Kana telah lengkap. Semua keluarganya telah berkumpul. Namun terasa ada yang kurang. Ia mengharapkan seseorang itu akan hadir. Namun, apa mungkin setelah peristiwa beberapa tahun yang lalu terjadi. Ia pesimis. Mengharapkan lelaki berada di sampingnya menjadi angan-angan untuk Kana.
"Ehem ..."
Deheman seseorang membuat pelukan mereka melepas. Kana melihat sosok lelaki yang bertubuh tegap dan penuh wibawa sedang mengamatinya lekat. Kana tersenyum haru. Ia tak percaya kalau lelaki itu ada di hadapannya sekarang ini. Apalagi meliat senyuman indah yang terbit pada bibir ayah dan juga bunda. Serta anggukan kepala seolah menyetujui dirinya untuk menghampiri lelaki tersebut.
Dengan langkah tergesa-gesa ia menghampiri lelaki yang terlihat dewasa itu. Tak memperdulikan jarik yang menyempitkan langkahnya. Ia ingin sekali mendekap erat lelaki itu. Mencurakan segala kerinduan di dalam d**a. Seorang yang dulu ada bersamanya. Menemani sepanjang waktu. Namun waktu tega memisahkan mereka. Kana sangat merindukannya.
“Kakak …”
***