“Kak …”
Kana langsung memeluk tubuh tegapnya. Awalnya Kana merasakan tubuh lelaki tersebut menegang. Namun setelah berapa detik terasa biasa. Malahan lelaki tersebut terkikik geli sembari melingkarkan kedua tangannya pada bahu Kana.
Ia harus bisa merelakan adiknya untuk seseorang yang sudah berada di bawah sana. Dirinya berusaha ikhlas. Senyuman adiknya adalah kebahagiaan untuknya. Ia tak ingin melunturkan hanya karena keegoisan di masa lalu. Yang mengakibatkan menjauhkan mereka berdua.
Cinta banyak bentuknya. Ia yakin rasa yang tersimpan untuk Kana hanya sebatas kakak dan adik. Bukan perasaan untuk lawan jenis. Bagaimanapun mereka tak akan bisa bersatu. Mungkin waktu itu ia masih remaja. Belum bisa menafsirkan gejolak dalam hati. Karena kebiasaan mereka bersama benih-benih afeksi muncul begitu saja. Memberikan pengalaman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Semakin ia pendam rasanya begejolak dalam jiwa. Hingga ia beranikan mengutarakan semuanya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mencurahkan semuanya pada Kana. Alhasil, menyakitkan bagi Askana. Masih ingat dalam memori otaknya saat Kana meneteskan air mata. Gadis itu terisak pelan. Namun mampu menggoreskan sakit dalam hatinya.
“Kana …”
“Apa Kakak serius?” sela Kana sembari mengusap cairan bening yang tega turun begitu saja. “Kakak tahu itu tak mungkin!”
Ia terpaku. Tak pernah sekalipun melihat Kana seperti ini. Ia merasakan gadis tersebut kacau. Dan itu semua karena dirinya.
“Maaf …”
Kana menggeleng. Ia tak mengerti dengan pemikiran lelaki di hadapannya. Jadi ini alasan lelaki tersebut mengajaknya makan malam yang terkesan romantis. Masih terngiang di gendang telinganya ucapan rasa cinta kepadanya. Bukannya bahagia, Kana justru merasa hancur. Ia tak menyangka Kakak yang selama ini menjaga menyimpan rasa telarang untuknya.
“Apa kamu tidak merasakannya, Kana?”
Gadis yang kala itu memakai gamis warna hitam tak tahu harus menjawab apa. Tangannya saling bertautan di bawag meja. Ia mencoba menenangkan diri. Sebab ia juga memahami rasa itu. Rasanya nyaman dan aman ketika bersama lelaki tersebut. Namun ia tahu pasti kalau mereka tak akan bisa bersatu. Maka dari itu, ia berusaha menekan dan mengabaikan gejolak ini. Akan tetapi malam ini lelaki tersebut mengutarakan semuanya. Harapan itu muncul kembali. Egonya berkata untuk menerima lelaki tersebut. Seakan semua bersatu untuk menerima cinta lelaki yang kini tampil berbeda dari biasanya.
“Ini …”
“Salah?” potong lelaki itu sembari mencodongkan tubuhnya ke depan. “tisak benar kalau kamu juga nggak merasakan perasaan ini juga. Nyatanya … kamu juga mencintaiku, ‘kan?
Kana memejamkan kedua matanya. Menutup rapat. Membiarkan bening air mata turun membasahi pipi. Menahan setiap amarah yang ingin keluar. Dirinya terasa terpojok begitu saja. Membiakan lelaki tersebut mengetahui rahasia dalam hatinya akan berakibat buruk. Karena ia tahu, lelaki itu akan melakukan apa saja tanpa memperhitungkan kerugian dan ke depannya.
“Aku mencintaimu sebagai Kakak. Bukan Lelaki.”
Jawaban itu yang akhirnya keluar dari mulut manisnya. Ia selalu menekankan pada dirinya. Hubungan mereka adalah sebatas saudara. Tidak boleh lebih.
“Bohong!”
“Itu kenyataannya!” ujar Kana lirih, “karena kita saudara sepersusuan.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Kana memilih pergi. Membiarkan sang kakak mencerna kembali semua pembicaraan mereka tadi. Ia tak ingin menambah dosa lagi. Cukup dengan mencintai lelaki itu dalam diam. Tidak ingin mengakumulasi dengan membalas perasaan kakanya. Karena itu akan memperbanyak dosa mereka. Tuhan, maafkan hamba.
“Kak …”
Panggilan tersebut membuyarkan ingatannya. "Apakah kamu bahagia?"
Kana terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Haruskah ia berbohong. Pernikahan ini bukan keinginannya. Dan kebahagiaan kali ini karena kedatangan lelaki tersebut. Hanya seorang pria yang dalam dekapannya yang di nanti. Tapi sampai kapanpun itu tak mungkin. Tuhan, aku mohon hapus rasa ini.
"Kalau kamu bersedih, ingat masih ada aku buat bersandar. Maafkan keegoisanku di masa lalu, Kana. Selamanya kamu akan menjadi peri kecilku."
Kana mengangguk. Hatinya berangsur-angsur tenang. Ia memantapkan pilihannya. Melihat semuanya bahagia, tak urung melukiskan senyuman di bibir Kana. Ini adalah masa depannya. Dan ia akan melupakan masa lalu. Membuka lembaran baru dan menutup yang lama. Semoga saja ia langsung jatuh cinta pada suaminya kelak. Lalu membangun rumah tangga seperti ayah dan mamanya sampai maut memisahkan mereka.
"Aduh, yang dari tadi saling peluk. Sampai lupa ada Ayah di sini."
Kana melepaskan dekapannya. Ia menoleh, menemukan sang ayah dengan senyuman penuh kebahagiaan. Melihat itu, hati Kana menjadi menghangat. Tak sia-sia ia menyetujui permintaan Ayah. Bismillah ... ini yang terbaik bagiku ya, Allah.
"Yuk, ke bawah semua. Ijab qobul akan segera di mulai." Ayah mengajak paman dan juga kakak, "dan kamu Kana. Tetap di kamar sama Bunda ya."
Kana menganggukkan kepala. Ia berjalan menghampiri sang Bunda. Duduk bersebelahan dengan beliau di detik-detik yang terpenting dalam hidupnya. Sebuah peristiwa yang akan mengubah status dan jalan ceritanya.
"Mamamu pasti senang melihatmu di atas sana."
Kana memeluk Bunda sekali lagi. Lalu melepaskannya. Ia memandang wajah renta yang sudah memberikannya asupan gizi sejak ia masih bayi.
"Selamanya Bunda adalah bunda kamu, Kana. Kamu akan tetap jadi putri kecil, Bunda. Selepas kejadian masa lalu, Bunda harap kalian sama-sama dewasa dan melupakannya."
Kana mengangguk. Ia memegang erat tangan sang bunda. Menanti detik-detik melepas masa lajangnya. Ini adalah awal baru bagi kehidupan Kana. Dan selamat memasuki lingkaran tak berujung yang biasa disebut dengan pernikahan.
Kali ini ia merindukan sosok ibunya. Walaupun sudah ada sang Bunda. Namun rasanya pasti berbeda bila ada orang yang telah berjasa melahirkan dirinya di Dunia ini. Sebelum menikah, ia sempat berkunjung ke makam beliau. Di sana Kana bercerita banyak hal. Mulai kesehariannya, perasaannya, hingga pernikahan. Ia berbagi semua di samping nisan sang ibunda.
Sesekali ia tertawa, mengingat hal konyol yang pernah ia lakukan. Atau mengeluarkan air mata tatkala mengenang rasanya sepi dan kesendirian. Dulu, bila masih ada sang kakak, yang menjadi tempat cerita dan bekelu kesah adalah lelaki tersebut. Menjadi teman bermain, sahabat, sekaligus penjaga dirinya dari orang jahat di luar sana. Namun semua berubah. Tatkla lelaki tersebut mengungkapkan sebuah rasa yang tak seharusnnya ada di antara mereka.
Tentu saja ia terkejut. Bahkan tak ada di dalam pikirannya untuk membalas rasa tersebut. Otaknya mengatakan itu tak mungkin. Sebab mereka bersaudara. Akan tetapi, hatinya membelot. Rasa sayang yang ia terima selama ini membuka sedikit celah dalam lubuk jiwanya. Menghadirkan rasa terlarang untuk mereka berdua.
Akan tetapi itu semua terjadi di belakang. Kini ke depannya ia akan mencintai suaminya kelak. Hanya lelaki yang telah menjabat tangan ayahnya yang berhak atas rasa cinta ini. Sebab ia yakin, Allah maha membolak balikan hati. Tinggal seberapa besar usahanya untuk menumbukan rasa tersebut. Dan tentu saja dengan rangkain doa yang akan menguatkan dirinya.
Selamat tinggal kisah masa lalu. Selamat datang kehidupan yang baru. Tutup semua celah di hati dan kenangan yang tak berarti. Buka kembali semua dengan kertas kosong yang siap untuk dilukis bersama. Menulis cerita dan warna baru dalam hidupnya bukan hal yang mudah. Akan tetapi semua menjadi mungkin saat ia mencobanya. Dan tentu saja libatkan pemilik alam semesta.
Bismillahiraḥmaniraḥimi ....