"Selamat, Kana. Kamu sekarang menjadi seorang istri."
Pelukan serta doa dari Bunda menarik kenangan Kana akan masa lalu. Terlihat cairan bening jatuh dari pelupuk mata wanita yang telah menyanyangi dirinya seperti anak sendiri. Jarinya mengusap perlahan lelehan kristal yang telah membasahi pipi sang Bunda. Ia juga terharu mendengar kalimat sakral tersebut terucap. Kini bakti Kana berpindah pada sang suami. Dan statusnya bukan sendiri lagi.
"Jadilah istri yang berbakti kepada suami. Sayangi dia setulusnya. Karena kini surgamu berada di bawah kakinya, Kana."
Kana mengangguk sembari memeluk Bunda untuk kesekian kalinya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Yang pasti, Kana akan berusaha mencintai suaminya kelak. Dan membuang masa lalu yang tak bearti apa-apa. Ini lembaran baru baginya. Yang akan diisi kisah baru antara Kana dan juga kekasih halal.
"Bunda tinggal ya. Sambutlah suamimu dengan senyuman bahagia, Kana."
Bunda melepaskan pelukan gadis kecilnya. Tak terasa waktu berlalu semakin cepat. Ia masih ingat saat mengasuh Kana sejak lahir. Bunda memang menginginkan anak perempuan. Namun, saat ia melahirkan anak pertamanya harus kehilangan rahim karena pendarahan yang sangat hebat. Akan tetapi, Tuhan memberikan Kana kepadanya. Sejak sahabatnya meninggal, ia berjanji akan menjadikan Kana sebagai anaknya. Dan sekarang, waktunya ia melepaskan Kana. Membiarkan gadis kecilnya menikmati kehidupan rumah tangga.
Andai Mamanya berada di sini pasti bisa merasakan kebahagian Kana. Dalam hati ia berharap anak gadisnya akan selalu bahagia dan dalam lindungan-Nya. Seuntai doa yang selalu diucapkan setiap selesai sholat. Dan sekarang, ia bisa melihat binar senang dalam bola mata Kana.
"Bun ..."
Bunda tersenyum menenangkan, "Kana tidak usah takut. Bunda tinggal ya."
Wanita paruh baya tersebut mulai melepaskan genggaman tangan Kana. Ia mengetahui bagaimana gugupnya pengantin wanita tersebut. Karena setahunya, gadis tertutup itu tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenis. Jadi wajar saja kalau ia merasa takut dan cemas. Sungguh ekspresi yang menggemaskan.
“Tidak apa-apa, Kana,” Bunda mencoba menenangkan anak gadisnya, “Dia suda halal buat kamu. Jadi tenangkan dirimu ya!”
Kana mengangguk ragu. Netranya masih memandang kepergian sang bunda. Sampai pintu kamar tertutup sempurna, ia bingung harus bagaimana nanti. Membayangkan berdua dengan seorang lelaki di kamar, ia gamang dan bimbang. Apa yang harus diperbuat. Berbicara dengan calonnya saja tak pernah. Dan sekarang, ia harus menjalani peristiwa yang aneh dalam hidupnya. Ah, seketika kepalanya terasa pusing.
Ia memejamkan mata sejenak. Mungkin bila ada sang Mama pasti akan terasa lengkap. Ia dapat mendengarkan petuah pernikahan secara langsung. Akan tetapi, ia yakin Mamanya juga pasti bahagia. Melihat anak yang telah dilahirkannya kini sudah menjadi seorang istri. Saat seperti ini lah Kana membutuhkan sosok ibu sebenarnya. Ia merindukan sang Mama. Tak ada seorang pun yang dapat menggantikan sosok wanita yang telah melahirkannya ke Dunia ini.
Hingga terdengar suara ketukan pintu sebelum terbuka. Kana membuka mata perlahan. Menghapus sedikit air mata yang hendak turun membasahi pipi. Menghela napas dalam serta berdzikir sebentar untuk mengurangi rasa gugup.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
Kana menjawab lirih. Ia tak sanggup mengangkat kepalanya. Sedangkan kedua tangannya saling meremas. Menatap lantai menjadi pilihannya untuk mengurangi rasa grogi. Berusaha mengatur kondisi jiwa dan hatinya. Kenapa harus secepat ini dia datang, sih?
"Assalamualaikum …"
Gendang telinganya menangkap suara salam lagi. Namun terasa dekat. Mengakibatkan jantung Kana berdetak lebih kencang. Sedangkannya tangannya penuh dengan butiran keringat. Padahal penyejeuk di kamarnya terasa dingin. Akan tetapi tidak mengurangi rasa panas karena gugup yang menjalar pada tubunya. Entah mengapa mendengar suaranya, ia semakin salah tingkah.
"Waalaikumsalam."
Kana merasa kikuk. Ia takut untuk mengangkat kepalanya. Padahal pesan bundanya agar ia menyambut sang suami dengan senyuman. Namun mau bagaimana lagi. Kana merasa malu dan grogi. Hati dan tubunya tak berjalan sinkron. Jadi ia memutuskan untuk diam saja, dari pada memberi kesan malu -maluin pada pandangan pertama.
"Ehem ..."
Terdengar deheman seseorang. Kana mendongak. Matanya bertemu dengan pupil indah milik lelaki tersebut. Sejenak, Kana terdiam. Ia merasa tak asing dengan bola mata tersebut. Kana merasa dejavu. Apalagi melihat senyuman itu. Seakan membawa Kana ke masa lalu. Masa di mana Kana menyukai senyuman itu namun hanya bisa menyimpannya dalam hati.
"Sauqi—"
"Mas Bani?"
Kana menyela keheranan. Ia baru ingat. Sosok di hadapannya adalah kakak kelas Kana semasa putih abu-abu. Dan bodohnya ia kenapa baru menyadari sekarang.
Matanya memanas. Tak disangka-sangka lelaki yang dulu sempat hadir pada hati saat ia duduk di bangku sekolah menengah akhir kini menjadi suaminya. Hatinya terasa berbunga-bunga. Semua terasa mimpi. Lelaki yang dulu pernah terlintas dalam doanya. Sekarang berada di hadapannya. Allah tak tanggung-tanggung memberinya hadiah. Sosok lelaki yang dulu ia idamkan menjadi imam sekarang nyata berdiri di depan. Kalau sudah begini, bisa dipastikan cinta akan hadir lebih cepat. Karena Kana memang mempunyai rasa pada lelaki tersebut. Sauqi Arbani Salam, nama yang tak akan pernah Kana lupakan. Lelaki yang mengajarkan arti cinta dalam diam. Membuat dirinya dilema saat menjalani masa remaja. Dan lelaki itu pula yang tanpa sengaja menyadarkan Askana tentang makna cinta sebenarnya.
Pria yang dulunya sempat dihilangkan di hatinya. Karena selepas lulus, Kana sudah pernah meliat lagi. Sampai sekarang dengan status yang berbeda. Tuhan begitu baik padanya, bukan. Maka nikmat mana yang kau dustakan.
Sedangkan lelaki tersebut hanya tertawa mendengar suara istrinya. Ia tak menyangka Kana adalah adik tingkatnya dulu. Awalnya Bani hanya menebak saja gadis tersebut. Karena awal bertemu pun hanya sekilas. Sampai pada saat lamaran. Ia melihat jelas wajah Benicia Askana. Dan benar dugaannya. Kalau Kana adala adik tingkat yang dulu menjadi bahan pembicaraan kelompoknya. Dunia sangat sempit, bukan.
Bagaimana jika para sahabatnya tahu kalau ia menikahi Kana. Gadis yang terkenal dengan kesombongannya karena tak mau berbaur dengan teman yang lainnya. Bahkan terkesan menyendiri. Akan tetapi berbeda dalam pandangannya. Bani tahu, perempuan tersebut anya menjaga dirinya. Sungguh, ia tak menyangka akan mendapatkan wanita sholehah. Di mana sejak dulu ia tahu kalau Benicia Askana selalu menjaga pandangan dan interaksi dengan lawan jenis. Maka dari itu ia mengerti kenapa Kana gugup dan enggan melihatnya saat pertama kali masuk kamar. Padahal dirinya juga merasa tegang.
Ini awal baru bagi mereka. Bagaimana pun jodoh adalah cerminan diri. Baik Kana maupun Bani sama-sama menjaga diri. Dan kini mereka telah dipersatukan dengan ikatan halal. Jodoh tak ada yang tahu. Bisa jadi orang yang terdekat atau bahkan baru pertama kali kenal.
"Akhirnya kamu mengenaliku, Kana.”