Kana tersipu malu. Bagaimana ia bisa melupakan lelaki tersebut. Tubuhnya bangkit seketika. Berdiri di depannya membuat jantung Kana berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia mengigit bibir bagian dalam. Bingung harus memulai apa. Sedangkan lelaki di depannya malah diam saja. Memperhatikan dirinya lebih tepatnya.
Jujur saja ia merasa risi. Agak gimana gitu. Bingung juga mau menjabarkan seperti apa. Yang pasti terasa antara malu, bingung, gugup dan sebagianya campur menjadi satu. Berbagai pikiran berkecambuk dalam otaknya. Apa lelaki itu marah padanya karena tak mengenali. Atau kecewa karena dirinya bukan termasuk kriteria wanita idaman lelaki tersebut. Dan masih banyak lagi. Sampai ia tak tahu kalau lelaki itu berdiri dekat sekali dengannya.
Bani tersenyum melihat istrinya masih malu-malu. Ia tak salah memilih. Kana sosok perempuan berakhlak baik. Ia sudah mengenal Kana sejak bangku sekolah menengah akhir. Sekarang saja terlihat kalau Kana sedang menjaga pandangan. Sedari tadi gadis tersebut memilih melihat ke bawah. Entah ada apa pada lantai yang terlihat lebih memikat dari dirinya.
Entah berapa kali ia mengukir senyuman. Memandang Kana seperti mungkin akan menajdi kebiasanya kelak. Terpampang jelas kalau Kana salah tingkah. Ia mulai mendekat. Dan gadis tersebut tak mengetahuinya. Seketika terbesit sebuah ide di kepalanya. Tanpa sepengetahuan Kana ia menundukkan kepalanya dan menciun kepala gadis tersebut.
Tubuh Kana menegang. Ia mendongak. Terlihat lelaki tersebut tersenyum menawan. Saat itu pula Kana suda memberikan cinta pada sang suami.
Untuk pertama kali Kana menjabat tangan lelaki selain sang ayah. Rasanya nano-nano. Awalnya ia ragu dan terkesan kaku. Namun lama-lama ia merasa tenang. Senyuman dan tatapan Bani penuh kelembutan membuat hatinya damai. Tuhan, inikah nikmatnya jatuh cinta?
"Perkenalkan, namaku Sauqi Arbani Salam. Kamu bisa memanggilku Mas Bani."
Bani terkikik geli mendengar ucapannya. Ia dapat melihat senyuman indah terbit pada bibir Kana. Perkenalan secara resmi ini memulai kehidupan awal mereka. Semoga lekas ini mereka saling terbuka dan memahami.
Kana mengangguk malu, "Saya Benicia Askana. Mas bisa panggil Kana saja."
"Oke, sekarang kamu tandatangani ini dulu ya."
Bani mengasihkan dokumen. Ia mengikuti Kana yang duduk di kursi rias. Dirinya memilih melihat Kana dari belakang. Berdoa agar cinta datang secepat mungkin. Ia akui, Kana memang wanita cantik. Siapapun pantas mendapatkannya. Ia masih berada tahap kagum. Belum sepenuhnya membuka hati pada wanita di hadapannya. Sebab ia tahu, cintanya telah dibawa pergi oleh orang lain. Hanya harapan yang tertanam dalam jiwa kalau Kana bisa membuatnya percaya akan ada cinta yang pada gadis tersebut.
Kana merasa dirinya ditatap ole Bani. Terlihat dari cermin, lelaki tersebut memilih diam. Sorot matanya menjelaskan sesuatu yang Kana tak ketahui. Semuanya terasa abu-abu. Mungkin ini masih awal. Setelah ini dirinya akan mengenal sosok sang suami. Ia hanya berharap pernikahan ini berjalan semestinya. Entah mengapa hatinya berkata lelaki tersebut menyimpan sesuatu.
Selepas Kana berkutat dengan berkas-berkas tersebut, Bani mengajaknya turun. Di bawah sana masih ada para saudara dan undangan. Banyak yang ingin mengucapkan doa untuk mereka berdua.
Tak ada pesta yang meriah. Selepas ijab qobul hanya ada syukuran. Dan setelah ini mereka akan berfoto bersama. Entah mengapa, jantung Kana berdetak lebih kencang setiap berdekatan dengan Bani. Apakah ini yang dinamakan cinta. Semudah itukah ia datang. Seharusnya Kana tahu itu. Karena sejak lama rasa ini tersimpan rapi di hatinya.
"Selamat ya, Sayang. Kamu sekarang sudah menjadi seorang istri. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawwaddah warrahmah"
Kana menoleh. Ia melihat sang ayah yang tersenyum ke arahnya.
"Ayah ..."
"Iya, Sayang. Kenapa?"
Kana menggeleng. Ia langsung memeluk sang ayah. Tak peduli ada beberapa orang di sekitarnya.
Bani yang melihat itu, mengembangkan senyuman di bibir. Pernikahan ini adalah awal mereka. Bani akan berusaha membahagiakan Kana. Karena ia juga melihat kebahagiaan pada kedua orang tuanya. Namun, bagaimana dengan hatinya. Hanya Bani yang tahu itu.
Kana merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Ia membalikkan tubuh. Melihat sosok lelaki yang sudah menyandang status suaminya sedang memandangnya. Sontak ia menundukkan wajah. Menyembunyikan semburat merah di pipi.
Bunda yang melihat itu hanya tertawa. Ia tak menyangka anak gadisnya akan tersipu malu seperti itu. Seakan ia bukan sosok Kana yang dikenalnya. Kana yang selalu cuek dengan para lelaki di luar sana.
"Kana ..."
Bani memanggil Kana dengan pelan. Gadis itu tak menyangka kalau di belakang tubuhnya ada sang suami.
Kana yang mendengar namanya disebut, langsung menengok. Alangkah terkejutnya ia melihat seseorang di belakangnya. Kana terkejut. Dan ia tersingkap gaun yang digunakannya. Untung saja Kana tak jatuh. Karena dengan sigap Bani memeganginya.
Tubuh mereka berdekatan. Posisi yang sangat menguntungkan bagi Bani. Karena dengan jarak sedekat ini, ia bisa melihat wajah Kana yang sangat menawan dan cantik.
Kana dapat merasakan embusan napas Bani. Entah mengapa tubuhnya terasa panas. Ia yakin pasti pipinya sudah merah sekali. Kana sangat malu sekali. Dengan cepat ia menutup mata sejenak. Lalu membukanya perlahan dan berusaha untuk melepaskan dekapan Bani. Karena di sini masih ada keluarganya dan keluarga besar Bani.
Terdengar suara riuh dari para undangan. Sontak Bani melepasan dekapannya. Ia menggaruk tenguk yang tak terasa gatal. Entah mengapa tubuhnya reflek begitu saja. Berada dalam radar Kana terasa tenang dan sedikit bahagia. Apakah ini pertanda kalau hatinya membuka ruang untuk Kana singgahi. Ia berharap seperti itu. Sebab ia tak ingin menjadi alas an untuk Kana bersedih. Cukup smeua dirinya yang tahu. Apa yang dirasakannya dan bagaimana ia menipu smeuanya dengan senyuman dan keteduan tatapan mata. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa isi pikiran dan perasaannya.
Tanpa mereka sadari, di balik itu ada seseorang yang merasakan kesakitan melihat kedekatan mereka. Ingin rasanya ia menarik sang gadis tersebut. Namun akal sehatnya menolak. Tak seharusnya ia masih mengharapkannya. Apalagi memendam sebuah rasa. Karena untuk selamanya ia dan gadis itu tak akan bisa bersatu.
“Ikhlaskan dia. Dan berhenti menatapnya seperti itu,” tegur seeorang yang tak tahu sejak kapan berdiri di sebelahnya, “atau mau Bunda carikan perempuan lain?”
Sontak saja lelaki itu menggeleng, “Jangan aneh-aneh deh, Bun.” ujarnya berlalu begitu saja.
“Eh, mau ke mana?”
Lelaki tersebut menoleh, “Pergi dulu, Bun. Tolong bilangin Kana maaf ada kerjaan mendadak. Kapan-kapan saja aku berkenalan dengan suaminya.”
Ia tak menghiraukan panggilan sang Bunda. Memilih pergi untuk menata hatinya. Sangat menyedihkan bukan. Ia harus terlibat cinta rumit dengan adiknya sendiri. Yah, setidaknya melihat Kana bahagia tak ada alas an lagi untuknya tetap berada di sini. Menghirup udara luar akan mengembalikan hatinya yang rapuh. Selamat menempu hidup baru, Kana.