Kana memandangi wajah suaminya masih terlelap damai. Ia tak menyangka akan menemukan kebahagiaan tak terkira. Benar kata Ayahnya, dalam rumah tangga ini akan menghadirkan rasa baru dalam hati Kana. Dan semua menjadi kenyataan. Entah sejak kapan, Kana sudah jatuh pada pesona lelaki tersebut.
Siapa akan menolak kharisma Bani. Lelaki yang memiliki wajah rupawan dan senyuman memikat. Ia terlihat cuek dan dingin. Namun pada kenyataan, Bani sangat penyayang. Apalagi sama orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Apa pun yang beliau minta, Bani pasti akan berusaha menuruti. Termasuk menikah dengan pilihan sang ibu.
Itulah penyebab kenapa Kana sedikit ragu dengan hatinya. Ia tak tahu bagaimana perasaan Bani. Semua terlihat abu-abu. Lagian, perempuan tersebut tak berani menerka perasaan lelaki yang sudah sah menjadi suami. Biarkan saja waktu yang menjawab.
Akan tetapi, terdapat suatu hal yang mengganjal di hati Kana. Ia tak mau berpikiran buruk. Tapi apakah ia harus menyalahkan telinganya yang salah mendengar perkataan Bani kala itu. Waktu di mana mereka menghabiskan sisa malam berdua. Berbagi selimut dan juga bantal.
Saat itu, selepas mereka sholat tahajud bersama Bani mengajak sholat dua rakaat. Kana tahu maksud suaminya tersebut. Sebagai seorang istri, ia harus menuruti kemauan suaminya apalagi dalam beribadah yang akan memperdalam rasa mereka. Bani memperlakukan Kana dengan lembut. Kana sangat terbuai akan sentuhan indah lelaki beraroma kopi tersebut. Hingga sebuah nama terdengar oleh gendang telinganya.
"Aku mencintaimu, Sana."
Kana tak mungkin salah dengar. Bani menyebutkan nama seseorang saat penyatuan pertama mereka. Namun, Kana masih bimbang. Sebab suara itu pelan dan penuh gairah. Tak mungkin suaminya seperti itu.
Namanya Askana, mungkin lelaki itu salah menyebutnya. Berbagai pikiran baik Kana tanamkan dalam hatinya. Buktinya, Bani sangat menyayanginya. Memanjakan Kana dengan berbagai macam hal. Mulai membantu memasak bahkan Bani rela turun tangan membersihkan dapur selepas mereka makan. Tak tangung-tangung lelaki itu juga membebaskan Kana melakukan apa pun yang disukai. Namun masih dalam batas wajar. Selama ini pun Bani selalu mengutamakan dirinya.
Ah, mungkin itu hanya bisikkan setan yang ingin merusak ruma tanggaku saja, gumam Kana dalam hati.
Akan tetapi otaknya masih terus memikirkan hal tersebut. Entah mengapa mendengar nama itu perasannya menjadi kacau. Padahal ia tak tahu juga siapa orangnya. Ya, Tuhan … apa yang sebenarnya terjadi?
Kana mengusap wajah perlahan. Membuang semua fikiran buruk tentang suaminya. Mereka baru merasakan malam pengantin baru setelah beberapa minggu terlewati hanya untuk bercerita. Karena mereka sepakat untuk saling mengenal dahulu. Jadi, baru semalam Kana menyerakan dirinya seutuhnya menjadi istri Arbani.
"Jam berapa ini?"
Pertanyaan Bani menarik kesadaran Kana. Ia tersenyum ke arah suaminya yang terlihat terusik tidurnya.
"Jam tujuh. Kana mau bangun dulu."
Belum sempat Kana bangkit, tubuhnya ditarik oleh Bani. Ia terkejut mendapat perilaku seperti itu. Terasa lengan Bani mengurung tubuhnya.
"Mau ke mana?"
Bani bertanya sembari membalikkan badannya. Kini ia berada di atas Kana. Dengan leluasa, Bani membelai wajah ayu istrinya. Paras yang tak bosan Bani lihat. Apalagi saat tersipu malu. Semburat merah di pipi membuatnya semakin gemas. Ia tak tahu sejak kapan memandang wajah Askana menjadi candu. Apalagi membelai setiap inci permukan kulit terasa halus di indra perabanya. Ia tak akan pernah bosan. Bahkan sekarang ia merasakan hawa tubuhnya memanas.
"Mau ..."
Kana bingung mau mencari alasan apa. Karena jujur saja ditatap dan diperlakukan seperti ini tubunya melemas. Rasanya tak mau berjauhan dari aroma badan suaminya.
"Memikirkan apa, hem?"
Kana mengerjap pelan, “Itu …”
"Apa?"
Kana semakin gelisah. Posisi tubuh mereka sanggatlah intim. Ia dapat merasakan hangatnya tubuh Bani. Apalagi embusan napas yang mengelitik area leher. Membuat tubuhnya mendamba akan sesuatu.
"Kamu tidak berkhayal yang tidak-tidak, 'kan?"
Sontak Kana menggeleng. "Enggak!"
Bani terkekeh. Ia tau kalau Kana berbohong. Sebab wanita itu memutar kedua bola mata yang tandanya mencari sebuh alasan tak jelas. Bibirnya boleh mengatakan tidak. Tapi Arbani sangat tahu bahwa tubuh Kana menginginkan lebih.
Kana berpikir sejenak. Hingga sebuah jawaban terlontar dari bibir manisnya. "Aku mau masak. Iya itu dia!"
Bani tertawa mendengar alibi istrinya. Tapi buat apa. Setahunya, Kana bukan sosok seperti itu. Atau memang ada pikiran yang bersarang dalam otak istri cantiknya tersebut.
"Iihh ... kok malah ketawa. Aku serius!"
Kana merajuk. Ia tak tahu, kenapa bisa bersikap seperti ini pada Bani. Belum lagi melihat kerlingan mata Bani yang menimbulkan semburat merah di pipinya.
"Jangan dilihat gitu, dong. Aku malu!"
Bani terkikik geli mendengar suara manja Kana. Ia sangat menikmati ekspresi perempuan penyuka teh tersebut. Entah mengapa, saat melihat Kana Dunianya terpusat pada senyuman indah yang selalu menghiasi bibir istrinya. Seolah-olah ia tak ingin merenggut seringai itu.
"Mas ..."
"Iya, Sayang?"
Kana terdiam sejenak. Haruskan ia bertanya. Tapi, hatinya tak kuasa mendengar kenyataan yang ada. Mau bagaimana pun mereka dua orang yang dipersatukan. Berusaha saling mengenal satu sama lain. Kana tidak tahu masa lalu Bani. Begitu pun sebaliknya. Lalu, pantaskah ia bertanya. Toh, Bani tak pernah mempersalahkan cerita masa lalunya.
Lelaki tersebut memperlakukannya dengan baik. Bahkan, hal sekecil mungkin Bani perhatikan. Ia merasa tak etis bila bertanya hal tersebut. Namun, hatinya sangat penasaran. Dan rasa itu sangat sulit untuk ditekan.
"Kok malah bengong?"
Bani bertanya sembari mencubit hidung Kana. Terdengar teriakan Kana yang sedang memanyunkan bibirnya. Melihat itu, sungguh iman Bani tergoda untuk menggigitnya.
"Sakit!"
"Mana yang sakit?"
Bani mengusap pelan hidung Kana. Perempuan tersebut malah terpaku. Ia bisa melihat ketulusan di mata suaminya. Semakin dilema di dalam hati perempuan penyuka doraemon tersebut.
"Kamu kenapa, hem?"
Bani bertanya lagi. Dan untuk ke sekian kalinya, Kana menggeleng. Ia tak kuasa menceritakan apa yang ada di pikirannya. Karena sejak dulu, Kana tak suka menceritakan. Ia lebih memilih memendamnya.
“Okelah kalau begitu,” ujar Bani pada akhirnya memilih berbaring di samping wanitanya.
“Janji jangan marah?”
Bani menganguk. Masih setia mengelus rambut Kana. Tangan satunya dijadikan bantal oleh sang istri. Tentu saja ia tak keberatan. Apalagi berdekatan seperti menjadi kesukaan Bani.
“Siapa … Sana?”