“Siapa … Sana?”
Elusan tangan Bani terhenti seketika. Tubuhnya menengang. Aliran dalam darah terasa terhenti saat nama itu diucapkan sang istri. Tanpa Kana sadari, wajah sang suami pucat pasi.
“Maksudnya?” tanya Bani setelah bisa menetralisir keterkejutannya.
Kana terdiam sebentar. Ia tahu ada yang berbeda dari sikap imamnya setelah menyebut nama itu. Hatinya mulai tak tenang. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti jiwa. Entah perasaan apa ini, yang Kana tahu dadanya terasa sesak. Bulir hangat menyentuh pipinya. Dengan cepat ia menyeka. Berharap Arbani tak tahu kalau air matanya sempat turun.
“Itu …”
“Iya?”
Kana membuang napas dalam, “Semalam Mas memanggil nama itu.”
Bani tersentak. Tak mungkin ia mengigau nama itu. Sebuah asma yang telah dipendam jauh didasar hati. Tapi kalau sampai Kana berkata seperti itu. Berarti benar semalam ia tanpa sadar mengucapkan nama tersebut. Lalu, sekarang bagaimana. Apa yang harus ia katakan pada istrinya. Tak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Itu sama saja ia menghancurkan hati wanita yang belum genap sebulan menjadi makmumnya. Tapi berbohong pun bukan pilihan terbaik.
“Mas …”
“Iya, Sayang?” Bani mengelus kembali kepala Kana. Memberikan rasa nyaman dan hangat. Dalam hati ia berdoa agar sang istri tidak bertanya lebih. Karena ia tak sanggup untuk mengungkapkan kebenarannya.
“Siapa?” rengekan Kana terdengar merdu di telinga Bani. Ia senang sekali menangkap suara itu pada gendang telinganya. Kana yang selalu manja kepadanya. Tak bisa jaug darinya. Itulah yang ia sukai.
“Kamu salah dengar, Sayang,” alasan itu yang akhirnya Bani utarakan, “Sana sama Kana hampir mirip, ‘kan?”
“Tapi …”
“Sudah,” sela Bani sembari menempelkan bibirnya pada permukan labium Kana, “semalam yang aku panggil itu namanu, Bidadariku. Tak ada yang lain, oke!”
Kana bergeming. Ia mencoba percaya pada sang suami. Mengikuti arus yang telah dibuat Arbani. Sebuah hubungan bisa berjalan dengan lancar karena saling yakin satu sama lain. Lagipula tak mungkin sosok Sauqi Arbani Salam berbohong. Karena lelaki itu pasti tahu dosa dari mengatakan suatu hal yang tak jujur.
Dalam hati Bani meminta maaf pada wanita itu. Ia terpaksa tak jujur. Bagaimanapun dirinya harus pintar menjaga perasaan Askana. Ia tak ingin istrinya terluka. Biarkan Kana mendapat perlakuan istimewa darinya. Karena saat ini Kana yang menajbat sebagai isterinya. Akan tetapi untuk cinta … Bani tak yakin. Sebab sampai detik ini hanya nama perempuan itu yang terpatri. Bukan Benicia Askana.
“Mas mau sarapan apa?”
Pertanyaan Kana menarik lamunannya. Ia menoleh mendapati sang istri terlihat segar dengan rambut basah. Kana memang cantik. Ia akui itu. Wajah yang tak ada kata puas untuk dipandang. Serta tutur kata halus dan sopan yang selalu ia dengar. Namun bagaimana lagi. Hati tak bisa dipaksa, bukan.
“Kamu mau masak apa?”
Kana membuang napas dalam. Ia benci ketika melontarkan pertanyaan malah mendapatkan kalimat tanya balik, “Mas…”
Bani tersenyum. Ia suka cara Kana menyebut namanya. Hatinya berdesir ketika mendengar suara tersebut. “Terserah kamu, Sayang.”
Ia tidak memilih makanan. Apa yang dimasak oleh Kana akan dihabiskan. Karena lidanya sangat cocok dengan citra rasa yang terbuat dari tangan istrinya. Semua terasa pas dan nikmat di indra perasanya. Bahkan sampai bisa menambah beberapa piring. Jujur saja, Kana paket lengkap. Wanita itu bisa memanjakan lidah dan tubuhnya. Namun balik lagi. Ia tak mengerti atas perasaannya sendiri. Kini, fokusnya hanya memberi yang terbaik untuk Askana. Karena itu menjadi tanggung jawabnya.
Kana yang mendengar jawaban itu memutar bola mata. Ia sangat benci kata-kata itu. Memangnya ada makanan namanya terserah. Kan dirinya jadi dilema mau memasak apa. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Ia rasa sarapan kali ini lebih tepatnya akan menjadi makan siang mereka.
“Mas suka makanan apa?” tanya Kana sembari mengeringkan rambutnya.
Bani mendongak, “Semua yang kamu masak,”
Terlihat semburat merah di pipnya. Suaminya memang bisa membuat hati berbunga-bunga. Apalagi perlakuan lembutnya yang membuat Benicia seakan terbang ke awan. Bani tak perna berkata kasar atau membentak dirinya. Ia merasa terlindungi. Dan itu membuat hatinya jatuh semakin dalam pada pesona Arbani.
“Mas …”
Bani mengangkat sebela alisnya, “Kenapa?”
“Bingung mau masak apa,”
Lelaki yang masih bersandar pada tempat tidur tersebut terkikik geli. Melihat wajah bingung sang istri sunggu menggemaskan. Ingin sekali ia merengkuh tubuh wanita itu dan membaringkannya di tempat tidur lagi. Namun cacing diperutnya sudah minta diisi.
“Enaknya apa ya?”
Oke, pembicaraan ini tak akan ada habisnya. Kana memilih keluar dari kamar menuju dapur. Biarkan saja tangannya memilih bahan yang ada dalam lemari es. Itu lebih bermanfaat dari pada mununggu jawaban sang suami. Bisa-bisa ia mati kelaparan karena tak masak-masak.
Bani tak suka makan diluar. Selama mereka menikah selalu makan di rumah. Awalnya, ia ingin sekali jalan-jalan menghabiskan waktu bersama kekasih halalnya. Namun ia sangat tahu kesibukan lelaki itu. Seminggu setelah menikah saja sudah mulai kerja lagi. Setidaknya mereka bisa makan bersama itus uda cukup. Dan diwaktu libur seperti ini Bani akan menemani seharian di rumah. Mulanya terasa bosan. Ia juga punya impian bisa merasakan nikmatnya pacaran setela menikah. Akan tetapi jawaban Bani kala itu membuatnya terdiam.
“Buat apa pergi tak jelas ke luar rumah. Mending di dalam saja. Toh bisa saling bercerita dan menonton televisi bersama.”
Sejak saat itu Askana tak menuntut suaminya untuk mengajak keluar. Kalau ia ingin pergi bisa sendiri. Bani membebaskannya ke mana pun pergi. Asal ia memberitahu sebelumnya. Bahkan lelaki itu membelikannya mobil. Jadi ia bebas bisa ke mana saja. Tapi tetap saja, ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Karena pergi tak ada tujuan bukanlah kesukaannya.
Kana mulai berkutat dengan peralatan dapur. Sedangkan Bani masih terbaring di atas kasur. Netranya memandang keluar jendela yang telah dibuka Kana. Terlihat taman belakang yang sengaja ia buat untuk istrinya. Pikirannay berkecambung. Rasanya begitu menyakitkan tatkala lidahnya berdusa. Tapi, mau bagaiamana lagi. Ia tak punya pilihan. Tak seharusnya Kana mengetahui masa lalunya. Karena itu miliknya. Sedangkan masa depannya bersama Benicia Askana. Semoga saja.