Quila menatap gedung tinggi yang sudah kelihatan walaupun masih cukup jauh jaraknya. Gedung itu merupakan tempat interviewnya hari ini.
Kemarin Quila hanya coba-coba mengirimkan lamarannya ke perusahaan yang ternyata sesuai dengan bidangnya, Desain Interior.
Quila hanya lulusan SMK Swasta di sini. Tetapi hampir semua orang di sekolah tau jika karya desain Interior milik Quila pernah menjuarai beberapa lomba
Jadi tidak masalah bukan jika Quila dengan percaya dirinya mencoba mendaftar di perusahaan itu. Jantung Quila berdetak dengan cepat ketika mobil yang dikendarai pria di sampingnya mendekati gedung menjulang itu.
"Ehm... Kak, kau bisa menurunkanku di depan sana" ucap Quila sambil menunjuk sebuah Mikrolet yang berhenti cukup dekat dengan perusahaan itu. Setidaknya tidak di depan pas.
Namun pria di sampingnya tiba-tiba berubah menjadi tuli dan tak menghiraukan ucapan Quila. Hingga mata Quila melotot ketika pria itu malah masuk ke dalam tempat parkir
Hal yang membuat Quila semakin terkejut ketika pria itu memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus petinggi perusahaan.
"Kau tidak ingin turun ?" ucap pria itu ketika mobilnya sudah terparkir dengan sempurna.
"Kau juga bekerja di sini ?" tanya Quila dengan pandangan horor.
Bagaimana mungkin Quila tak menyadari jika pria itu menggunakan pin di kanan d**a-nya. Pin berlambangkan logo perusahaan ini.
Pantas saja Kak Akhza menyuruhnya untuk diantarkan pria itu. Ternyata pria itu juga bekerja di sini
Quila yang masih bengong tak sadar jika pria itu sudah keluar dari mobil dan berdiri dengan wajah dinginnya di depan mobil.
Ketika membuka pintu ternyata pintu mobil sudah di kunci oleh pria itu. Pria yang sedang berdiri dengan smirk menyebalkan yang sudah dibenci oleh Quila sejak semalam.
"Bukakan sialan!" Ucap Quila dengan wajah sebalnya.
Bagaimana bisa ada pria menyebalkan seperti itu. Jika berlama-lama dengan pria itu bisa-bisa Quila menjadi gila.
Pria itu membuka kunci pintu dan membuat Quila keluar dari mobil dengan bersungut-sungut. Sialan memang pria itu. Sialan tiada tandingan
Quila berjalan menuju pintu lift yang tepat berada di depan mobil. Namun disana tidak ada tombol lantai sama sekali.
"Tidak hanya bodoh kau juga gadis yang polos. Ini parkir untuk petinggi perusahaan tentu saja perlu kartu akses" ucap pria itu sambil menempelkan sebuah kartu di alat itu.
Quila yang masih sebal hanya diam saja dan tak mengatakan apapun. Lima belas menit lagi interview akan di mulai jadi lebih baik Quila menyimpan energinya untuk interview
Pintu lift terbuka dan Quila menunggu hingga pria itu masuk terlebih dahulu. Barulah Quila melangkah masuk ke dalam.
Pintu lift tertutup setelah Quila menekan tombol lantai 15 dan Quila langsung terkejut ketika tubuhnya di dorong menuju dinding. Benda kenyal dan panas menempel di bibirnya dengan cepat.
Tiga kali kecupan mendarat dengan cepat di bibir Quila yang tak berdosa itu. Kesadaran Quila belum kembali dan pria itu mencium pipi Quila pelan sebelum berbisik tepat ditelinga Quila
"Aku tau kau memakiku tadi. Di sini tidak ada CCTV jadi aku bebas melakukan apapun" ucap Pria itu yang membuat Quila langsung mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga.
Quila melayangkan tamparan yang sangat keras di pipi Kanan pria itu. Bukan wajah terkejut atau kesakitan yang dilihat Quila melainkan wajah dingin dan mematikan.
Tatapan dingin pria itu menghunus mata Quila yang menampilkan wajah marahnya. Ingin sekali Quila tak hanya menampar pria itu tetapi juga menjambak pria itu.
"Kau melecehkanku dua kali! Kau pikir aku tetap akan diam" ucap Quila sambil mengusap bibirnya dengan kasar.
Pria itu tersenyum kecil dan menyandarkan tubuhnya di dinding Lift sambil membekap tangannya di d**a.
Sialan kenapa pria itu terlihat menggiurkan ketika berpose seperti itu. Jika tidak dalam posisi di lecehkan mungkin saja Quila akan menerjang dan menerkam pria itu di sini, langsung.
"Lalu kau akan melakukan apa padaku hm ?" ucap Pria itu yang membuat Quila menggeram pelan dan melirik ke arah layar yang menujukkan lantai 13.
"Seperti ini"
Quila maju ke depan dan menendangkan lututnya keantara sela kaki pria itu dengan cukup bertenaga. Wajah dingin pria itu seketika menghilang digantikan dengan wajah memerah.
Pintu lift terbuka dan Quila langsung berlari keluar tak menghiraukan tatapan semua orang yang menatap terkejut kepada Quila karena keluar dari lift petinggi.
Apalagi di dalam lift pria itu terduduk di lantai lift dengan wajah memerah. Entah orang lain lihat atau tidak. Tetapi yang dipikirkan Quila saat ini adalah lari dan pergi menghilang saja
*_*_*
Quila memegang dadanya dan menghela nafas pelan. Hasil interview akan dikirimkan melalui surel. Jadi lebih baik Quila memilih pergi dan menelfon Eldo, sahabat dekatnya.
Sudah lima menit Quila menunggu di depan perusahaan. Hingga motor sport mendekati Quila dan berhenti tepat di depannya.
"Sudah lama ?" ucap Eldo sambil memberikan helm kepala Quila.
"Nggak sih, ke mall yuk"
"Seperti perintah, Nona" ucap Eldo sambil menjalankan motornya meninggalkan gedung menjulang tinggi itu.
Tanpa mereka sadari seorang pria berdiri mengawasi mereka dari CCTV yang memang di pasang tepat di depan perusahaan itu.
Sebuah senyuman muncul di sudut bibir yang mengapit sebatang rokok. Dengan seorang pria berpakaian formal yang berdiri di depan meja besar itu.
"Apakah saya mengikuti perempuan itu, Tuan ?" tanya Hugh yang merupakan tangan kanan dari keluarga Alfarell
"Tidak, biarkan saja. Oh ya panggil dia Nona karena dia akan menjadi milikku" ucap Ares sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Hugh terlihat kaget ketika melihat sebuah ekspresi di wajah atasannya. Ekspresi yang tak pernah terlihat lagi selama ini.
"Dia milikku bukan ? Sejak lama"
*_*_*
Quila memakan es krimnya dengan wajah gembira. Sudah lama sekali Quila tidak memakan es krim ini karena sibuk mengurus kelulusan dan mencari kerja.
Eldo duduk di depan Quila dengan wajah gelinya melihat Quila yang sangat bersemangat dengan makanan yang ada di tangannya.
"Udah berapa lama nggak makan, bu ?" ucap Eldo yang membuat Quila cemberut.
"Sibuk banget cari kerja tau nggak sih"
"Kau sendiri yang aneh bukannya kuliah eh malah ribut cari kerja. Kak Akhza kan mau bayarin kuliah"
Quila memutar mata dengan kesal. Eldo memilih untuk kuliah terlebih dahulu. Yah Kak Akhza memang awalnya memaksa Quila untuk melanjutkan sekolahnya terlebih dahulu.
Kak Akhza mengatakan jika masih mampu membiayai Quila bahkan sampai menikah nanti. Tetapi tentu saja Quila tidak berpikiran dangkal.
Hanya Kak Akhza yang membiayai hidupnya sampai saat ini. Kematian kedua orang tuanya beberapa tahun lalu membuat Quila harus bergantung dengan Kak Akhza.
"Kuliah mahal, Kakak gue bukan sultan. Jadi lebih baik kerja aja deh" ucap Quila yang membuat Eldo mengacak rambut Quila dengan gemas.
"Kau memang adik yang baik" ucap Eldo yang membuat Quila hanya tersenyum mengejek.
"Oh ya mau tanya nih" ucap Quila
Eldo yang tak sedang memainkan ponsel langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Quila dengan tatapan bertanya-tanya.
"Apaan ?"
"Ehm... Kalau 'itu' lo ditendang, sakit nggak ?" tanya Quila dengan wajah memerahnya.
Wajah Eldo langsung mengernyit ngilu ketika langsung paham dengan apa yang dimaksud Quila. Sedangkan Quila meneguk ludah dengan susah payah ketika melihat ekspresi Eldo.
"Lu nendang punya siapa ?" Tanya Eldo sambil bergerak seakan menjauhi Quila.
"Pertanyaannya bukan itu. Sakit nggak sih ?" tanya Quila
Entah kenapa setelah melakukan itu Quila merasa sedikit bersalah. Apalagi ketika mengingat-ingat ekspresi Teman Kakaknya yang terlihat sangat tersakiti.
Quila hanya meniru cara yang ada di dalam film ketika dilecehkan oleh pria b******k. Jadi tidak salah bukan jika Quila melakukan hal itu kepada Teman Kakaknya yang b******k itu.
"Lu beneran pengen tau rasanya gimana ?" ucap Eldo yang tiba-tiba memajukan badannya dengan wajah seriusnya.
Quila mengangguk dengan ragu menjawab pertanyaan Eldo. Wajah sahabatnya itu terlihat sangat serius dan membuat jantung Quila berdetak cepat menunggu jawaban.
"Rasanya ngilu setengah mati. Kaya tubuh lu dipotong-potong" ucap Eldo yang membuat Quila meneguk ludahnya dengan susah payah
Matilah!
*_*_*