Quila menatap Televisi di depannya dengan serius. Hingga sebuah deringan ponsel membuat Quila mau tidak mau mengalihkan pandangannya.
Ternyata Kak Akhza menelfonnya. Sudah tiga hari Kakaknya itu tidak pulang karena ada kerja di luar kota. Alhasil Quila hanya sendirian di rumah ini.
"Halo, apa ?" ucap Quila sambil meneguk minuman yang sejak tadi ada di meja.
"Kakak pulang dua hari lagi. Kau dirumah tidak membuat ulahkan ?"
Quila memutar matanya mendengar ucapan Kakaknya itu. Ditaruhnya gelas itu dan mengambil remote untuk mengganti channel.
"Aku bukan anak kecil" ucap Quila yang terdengar tawa kakaknya.
"Baik-baik dirumah dan jangan lupa berlaku sopan. Ok, kakak mau ada pertemuan, Bye"
Quila menatap layar ponselnya yang sudah mati. Daripada memikirkan kakaknya yang memang terkadang sangat aneh lebih baik Quila memasak mie saja.
Dengan membawa remote Quila berjalan menuju dapur. Hal yang paling disukai Quila di lantai bawah adalah Dapur dan ruang televisi terhubung jadi bisa mengganti channel walaupun dari dapur.
Ditaruhnya remote di meja dapur dan mulai mengambil bahan untuk memasak mie. Inilah keuntungan jika Kak Akhza tidak ada dirumah. Quila bisa dengan leluasa memasak mie tanpa mendengar omelan
Kak Akhza selalu mengomel jika dirinya memasak mie. Kemudian kakaknya itu akan makan mie masakannya tanpa memiliki rasa bersalah.
Kakaknya itu akan mengganti mie itu dengan telur goreng dan nasi. Menyebalkan tetapi itulah kakaknya itu.
Ketika menunggu air mendidih tiba-tiba bel berbunyi dan membuat Quila mengernyitkan keningnya bingung.
Jam di dapur sudah menunjukkan pukul delapan malam. Siapa yang akan datang di malam hari seperti ini ?
Setahu Quila perumahan tempatnya tinggal terkenal aman. Tidak mungkin itu malingkan ? Deringan ponsel lagi membuat Quila memegang dadanya karena kaget
Eldo menelfon dan membuat Quila menghela nafas lega. Setidaknya jika ada yang aneh Quila masih bisa menyampaikan pesan terakhirnya kepada sahabatnya itu.
"Oi gue di depan. Buruan bukain kek" ucap Eldo pertama kali yang langsung masuk ke dalam telinga Quila.
Quila berjalan menuju dapur kembali dengan diikuti oleh Eldo. Sahabatnya itu datang dengan sebungkus martabak.
"Masak mie pasti" ucap Eldo sambil mengambil piring dari rak.
"Gue males masak lagian mumpung nggak ada Kak Akhza"
Eldo menggelengkan kepalanya dan mematikan kompor yang baru saja akan membuat air itu mendidih. Quila melototkan matanya.
Namun Eldo sudah lebih dahulu menarik tangan Quila untuk duduk di ruang makan. Eldo memberikan piring berisikan nasi dan memberikan martabak daging yang dibawanya.
"Lebih baik lo makan ini daripada mie lagi. Gue nggak mau harus nemenin lo di UGD subuh-subuh" ucap Eldo sambil mencomot martabak dan menaruhnya di piring Quila
Quila langsung cengengesan melihat sahabatnya itu yang sangat perhatian. Eldo sangat hapal jika Quila memiliki fisik yang sangat lemah
Dengan tenang Quila menghabiskan makanannya. Eldo menceritakan masalahnya dengan Kristal, pacarnya sambil memakan Martabaknya.
Sadboy, itu adalah panggilan yang selalu diberikan Quila pada Eldo. Ada saja masalah dalam hubungan Eldo dan kekasihnya itu.
Quila tidak seberapa mengenal Kristal karena perempuan itu dari kalangan High Class seperti Eldo. Sedangkan Quila bisa dikatakan dari kalangan biasa saja.
Tetapi beruntung bisa menjadi sahabat dari Eldo Prasaja. Eldo selalu datang kemari dengan sogokan makanan supaya Quila mau mendengarkan keluh kesahnya.
"Lu juga sih pelit amat jadi orang" ucap Quila menanggapi ucapan Eldo.
"Bukannya pelit tapikan gue nggak mau ngasih harapan tinggi sama Kristal. Lagian itu duit bokap gue jadi nggak salah dong kalau ngajak Kristal hanya dengan uang jajan gue" ucap Eldo yang membuat Quila tertawa.
"Kalau gitu jangan pacaran sama cewek High Class. Cewek kaya gitu mana mau diajak makan nasi bebek"
Quila meminum segelas air dari gelas Eldo yang membuat sahabatnya itu menepuk kepalanya kesal.
"Terus gue gimana ? Pacaran sama lu ?" Quila melambaikan tangannya yang membuat nasi yang masih di tangan terlempar ke wajah Eldo.
"Jangan mimpi. Gue ogah sama lu" Quila tertawa dan membuat Eldo menghela nafas pelan.
"Gue nginep di rumah lu ya. Males pulang" ucap Eldo yang membuat Quila menaik turunkan alisnya.
"Terserah"
"Nggak boleh" sahut seseorang yang membuat Quila dan Eldo menolehkan kepalanya.
Kak Ares berdiri di samping meja makan dengan wajah dinginnya. Bagaimana bisa pria itu masuk ke dalam rumah ini.
Tatapan Kak Ares begitu tajam menatap Eldo yang membuat suasana seketika berubah menjadi mencekam. Quila masih diam dan tak tau berkata apa.
"Akhza lagi nggak ada di rumah. Jadi lebih baik kau sebagai perempuan tidak membawa masuk pria secara sembarangan" ucap Kak Ares yang membuat Quila menghela nafas.
Kak Akhza bercerita kepada Quila jika Pria yang bernama Ares ini akan tinggal di rumah mereka karena baru saja pulang dari Meksiko.
Karena Kak Akhza sedang tidak ada di rumah jadi Kak Ares yang akan menggantikan untuk menjaga Quila. Intinya titah Kak Ares selama Kak Akhza nggak dirumah adalah mutlak
"Lu pulang aja deh atau nggak ke hotel mana gitu. Besok gue temuin lo" ucap Quila yang membuat Eldo menoleh dan mengangguk
"Oke, gue pulang" ucap Eldo sambil meninggalkan meja makan dengan cepat.
Sekarang tatapan Kak Ares teralihkan dan menatap Quila yang mengangkat piringnya ke wastafel. Quila mencucinya bersamaan dengan gelas yang digunakannya tadi.
"Tak hanya bisa disogok novel ternyata bisa disogok martabak juga ya" ucap Kak Ares yang membuat Quila yang baru saja menaruh piring langsung membalikkan badannya.
"Apa maksud, Kakak ?"
Ares tersenyum menatap Quila yang sedang menatapnya dengan tatapan permusuhan. Dengan perlahan Ares berjalan mendekati Quila dan berdiri menjulang di depan gadis kecil itu.
"Gadis kecil yang mau memberikan tempat tinggal kepada cowok asing hanya karena dibawahkan martabak, menarik"
Quila ingin memberikan tamparan lagi tetapi tangan itu langsung menahannya dan menghempaskannya.
Tubuh Quila tiba-tiba melayang dan didudukkan di atas meja dapur. Pria itu berdiri di antara kedua kaki Quila yang terbuka.
"Aku hanya memberikan satu kali kesempatan kau menampar dan itu tidak akan terjadi lagi, gadis kecil" ucap Ares sambil mengusap pipi Quila.
Quila berusaha sekuat tenaga tidak menangis atau terlihat takut dengan apa yang dilakukan pria itu.
Pria m***m seperti dia akan semakin puas ketika melihat Quila meringkuk ketakutan. Jadi Quila berusaha untuk menatap mata itu dengan tajam.
"Aku juga tidak akan membiarkan kau melecehkan aku lagi. Tidak akan" tantang Quila yang membuat wajah pria itu semakin dekat.
"Ya, tapi hanya sekali lagi. Sekali saja" ucap pria itu dan langsung memajukan tubuhnya.
Bibir itu melumat bibir Quila dengan perlahan dan begitu lembut. Quila yang awalnya kaget dan ingin memberontak seketika langsung tertarik, terbuai.
Pria itu sangat alih sekali membuat tubuh Quila lemas dan pikirannya menjadi kacau. Pikiran Quila menjadi kosong dan tak bisa bekerja sama sekali.
Bahkan Quila hanya pasrah ketika pria itu mendorong tubuhnya untuk terlentang di meja makan dan pria itu menjalankan aksinya.
Namun tiba-tiba volume televisi menjadi sangat besar dan membuat gendang telinga siapapun akan pecah sepertinya.
Pria itu menghentikan aksinya dan mengambil remote yang ternyata tertekan oleh tubuh Quila yang masih terlentang.
Ares mengusap rambutnya kasar ketika melihat Quila yang memejamkan matanya dan masih terlentang di meja dapur
Tanpa mengatakan apapun Ares pergi meninggalkan area dapur. Quila yang mendengar langkah kaki menjauh membuka matanya dan menghela nafas.
Sialan! Bagaimana bisa Quila terbuai dalam cumbuan pria tua itu.
Quila merasa marah kepada dirinya sendiri kenapa bisa dengan mudahnya terbuai dengan rayuan pria b******k itu.
Quila membenarkan letak bajunya ke posisi yang benar dengan kesal. Sekali saja! Quila harap jika pria itu tidak akan pernah menyentuhnya lagi atau Quila akan benar-benar melaporkan kepada Kak Akhza.
Sialan kenapa bibir pria itu masih terasa di bibirnya. Quila menepuk kepalanya kesal. Otaknya memang harus dicuci bersih.
Ketika Quila ingin membersihkan bungkus martabak. Quila baru sadar melihat dua kotak makanan yang masih terbungkus kresek di atas meja makan.
Pria itu membelikannya makanan ?