Quila menaruh segelas kopi di hadapan Ares. Sedangkan Ares sejak tadi menatap Quila yang membuatkan kopi untuk Ares.
Sedangkan Akhza masih sibuk dengan laptop yang dibawanya ke meja makan. Quila duduk di tempatnya dan membuka ponselnya berharap ada surel jawaban dari beberapa perusahaan yang sudah menginterviewnya
"Gimana sudah ada panggilan ?" Tanya Akhza yang membuat Quila mendongakkan kepalanya.
"Hanya menunggu penerimaan. Semua perusahaan yang Quila kirimi lamaran sudah menginterview" Ucap Quila
Akhza melepaskan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya dan menatap Quila dengan pandangan lelah.
"Kakak udah bilang bukan jika lebih baik kau kuliah dulu"
Quila mengangkat tangannya dan menggeleng. Selalu saja Kak Akhza memaksa untuk melanjutkan kuliah. Sedangkan otak Quila hanya cukup sekolah sampai SMA saja, sudah cukup
"Kuliah mahal kak. Otak Quila juga udah nggak muat menampung pelajaran. Kasihinilah otak Quila ini" Quila memegang kepalanya dan cemberut menghadap Akhza
"Kerja nggak semudah itu, Quila. Ada tanggung jawab yang besar"
"Ya, ya, ya. Kak Akhza udah ngomong bolak-balik ke Quila. Tapi kuliah tinggi-tinggi percuma kalau ujungnya nikah, hamil, urus rumah"
Ucapan Quila diakhiri dengan Ares yang tiba-tiba tersedak.Quila bahkan sampai kaget dengan wajah Ares yang memerah hanya karena tersedak.
Padahal pria itu tidak memakan apa-apa kecuali minum kopi. Akhza menatap teman lamanya itu dengan pandangan aneh.
"Kau pasti tersedak karena mendengar celotohan aneh dari adikku-kan ? Abaikan dia. Oh ya, gimana perkembangan Al Company ?"
Bahasan yang diambil oleh Akhza membuat Quila tertarik dan menatap Ares dengan pandangan penasaran.
Al Company adalah perusahaan tempat Ares bekerja dan tempat dimana Quila melamar pekerjaan. Namun hingga saat ini perusahaan itu tidak memberikan kabar jika Quila diterima bekerja.
Ares berdeham sebentar dan membenarkan letak dasinya. Quila tertegun ketika tatapan Ares tertuju kepadanya walaupun hanya sebentar. Sejak kejadian itu Ares seakan menghindarinya di rumah ini. Setidaknya itu menguntungkan Quila.
"Baik. Setidaknya bekerja di sini tidak buruk juga" ucap Ares yang membuat Akhza mengangguk dan menatap laptopnya lagi.
"Kudengar Al Company mengajukan kerja sama dengan kantorku"
"Ah ya, ada beberapa perusahaan juga yang sedang digaet oleh Al Company. Jadwal menjadi padat sekali. Hari ini aku akan kembali ke Penthouse yang sudah disediakan. Terima kasih atas tumpangannya"
Akhza menepuk pundak Ares dengan senyumannya. Kedua pria itu terlihat sangat akrab dan dekat tetapi hingga saat ini Quila tidak tau hubungan mereka.
"Tidak perlu sungkan. Pintu ini terbuka untukmu"
Tatapan Ares berpindah kearah Quila ketika pria itu menyeruput kopi yang dibuatkan oleh Quila. Pria itu terlihat begitu anggun walaupun sedang minum kopi
"Aku akan merindukan kopi buatanmu, Quila" suara berat Ares masuk ke dalam telinga Quila.
*_*_*
Quila mondar-mandir di dapur sambil menunggu Mac and cheese yang dipanaskannya selesai. Tangan Quila saling menggenggam erat.
"Ucapan pria itu memiliki arti. Tentu saja, dia pria m***m yang menyeramkan"
Sejak Pagi Quila memikirkan ucapan terakhir Ares sebelum berangkat dengan Akhza menuju kantor mereka masing-masing.
"Merindukan kopi buatanku ? Cih menyebalkan"
Quila mengusap rambutnya kasar dan menghela nafas perlahan. Entah bagaimana suara dan tingkah pria itu seakan tertanam di dalam otaknya.
Pria itu berhasil mengacaukan segalanya. Mengacaukan otak dan pikirannya. Bahkan ketika pria itu pamit pergi dari sinipun otak Quila masih berpikir tentang pria itu.
"Apa yang kau pikirkan ?" Suara pria itu membuat Quila membalikkan badannya dan terkejut ketika Ares berdiri di pintu dapur.
"Kau! Bukannya kau sudah pindah ?" Tanya Quila sambil menunjuk Ares.
Ares melangkah mendekat dan mengangguk. Tatapan matanya tak teralihkan dari Quila yang membuat tubuh Quila seakan ditelanjangi
"Akhza mengatakan jika rumah ini terbuka untukku. Jadi tidak salah bukan jika aku di sini"
Quila memundurkan tubuhnya hingga terhimpit dengan kontener dapur di belakangnya. Ketika ingin pergi Ares malah semakin menghimpit Quila.
"Apa yang kau lakukan ? Jangan bilang kau..." ucapan Quila terhenti ketika pria itu melangkah pergi.
"Aku hanya mengambil makanan lezat ini"
Dengan kurang ajarnya Ares mengambil Mac and cheese yang dipanaskannya dan membawanya ke meja makan.
Pria itu memakan makanan itu dengan santai sambil menatap Quila yang masih berdiri mematung.
"Sampai kapan kau disana ? Kau ingin mencoba ini ?"
Quila berjalan mendekat meja makan dengan wajah cemberutnya. Sedangkan Ares masih asik dengan makanan itu.
"Itu makananku!" Quila ingin merebut itu tetapi dengan cepat Ares menghindar dan menjauhkan dari Quila.
"Mau berbagi atau tidak makan sama sekali ? Ehm atau kau ingin kusuapi menggunakan mulutku ?"
Ares memegang bibirnya yang membuat Quila bergidik ngeri dan memilih duduk di tempat sendiri. Ares masih mengunyah makanan itu tanpa menghiraukan Quila yang cemberut.
Quila menatap pria itu yang masih menyuapkan makanannya dengan lahap. Namun tiba-tiba pria itu menghentikan acara makannya dan menatap Quila.
"Apa ?" ucap Quila yang semakin horor ketika Ares masih menatapnya.
"Jadilah Wanitaku"
*_*_*
Akhza masuk ke dalam rumah dan melihat Quila yang duduk di depan Televisi tetapi terlihat melamun. Jam sudah menunjukkan pukul 10 dan biasanya Quila sudah tidur atau menghilang di kamarnya.
"Dek" panggil Akhza sambil menaruh sepatunya tetapi Quila sama sekali tidak menoleh atau terpanggil
"Oi!" Akhza memegang pundak Quila yang membuat adik perempuannya itu terlihat kaget dan mengangkat kepalanya.
"Loh udah pulang ?" Akhza menatap aneh kearah Quila yang terlihat seperti orang linglung
"Ada Apa Sih ?"
Akhza duduk di samping Quila dan mulai mengganti Channel. Sedangkan Quila sejak tadi menatap Akhza yang masih fokus dengan Televisi.
"Apa kau pernah jatuh cinta, Kak ?"
Akhza langsung menoleh dan menatap Quila dengan tatapan horor. Wajah Akhza berubah menjadi serius dan dingin.
Quila merasa jika pertanyaannya kurang tepat ketika melihat perubahan ekspresi Akhza. Kakaknya itu langsung menghadapkan badannya kearah Quila.
"Siapa laki-laki itu ?" tanya Akhza dengan suara serius sedangkan Quila menggaruk lehernya bingung.
Bahkan Quila tidak tau apa yang dirasakannya selama ini. Tapi sejak awal bertemu jantung Quila selalu berdetak cepat ketika berhadapan dengan pria itu.
Pria yang sudah melecehkan Quila dan perbedaan itu sangat terasa ketika Ares sudah tidak tinggal di sini. Apalagi semenjak ucapan Ares yang membuat Quila menjadi orang linglung.
Quila yang masih kaget dengan ucapan Ares hanya diam dan tak mengatakan apapun. Kemudian Ares berdiri dan mengecup kening Quila sambil mengatakan.
"Jika bukan saat ini, setidaknya sebentar lagi"
Ares pergi dan meninggalkan Quila yang terdiam. Jantung Quila seakan baru saja dipukul oleh genderang pertanda perang akan dimulai
"Quila cuman ngasal, Kak. Tapi ya mungkin cinta monyet aja"
Quila mengibaskan tangannya seakan memberitahu Akhza jika dirinya hanya becanda. Sedangkan Akhza terlihat curiga dengan sikap Quila.
"Jika pria itu memang serius dia harus datang ke sini, hadapi Kakak"
Akhza berdiri meninggalkan Quila yang masih duduk di sofa sambil menatap kepergian Akhza. Hingga punggung Kakaknya sudah tak terlihat lagi.