Quila berdehem dan mengetik di ponselnya sebelum melirik pria yang memang sejak tadi menatapnya. Rasa malu itu masih terasa di tubuh Quila
Tapi mengapa pria itu seakan tidak ada rasa malu atau sungkan menatap Quila. Setelah acara cumbuan tadi Quila yang tersadar langsung mendorong tubuh Ares dengan sekuat tenaga.
Dengan terhuyung-huyung Quila berusaha membenarkan langkahnya. Kemudian Quila mengambil beberapa barangnya dan memilih meninggalkan pria itu untuk makan siang.
Setelah kejadian itu dan Quila kembali makan siang Ares terus saja menatap Quila dari balik meja kokoh tersebut. Ingin sekali Quila berteriak dengan lantang
"Hey sialan! Kenapa kau terus menatapku! Kau tidak tau aku malu hah ?"
Namun semua itu hanya ada di khayalan Quila. Tidak mungkinlah Quila meneriaki bosnya sendiri. Di dalam ruangan milik bosnya.
Suara dering alarm membuat Quila terperanjat dan menjatuhkan bulpoinnya. Diambilnya bulpoin yang jatuh tepat di bawah kursi Quila.
Ketika menemukannya dan mendongakkan kepalanya Quila melihat seorang pria berdiri menjulang di depan meja kerja Quila.
Ternyata orang itu adalah pria yang ingin dimaki Quila tadi. Yup Ares berdiri dengan wajah menyebalkannya. Senyum pria itu seakan tidak bisa luntur dari wajah tampan Ares.
"Kau siap pulang sekarang ?" ucap Ares dengan senyuman manisnya
"Ehm... Maaf, Eldo menjemputku sore ini" ucap Quila yang membuat perubahan wajah Ares yang seketika terlihat dingin.
"Katakan padanya jangan menjemputmu" ucap Ares sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Quila menggelengkan kepalanya sambil menata beberapa barang yang akan di bawanya pulang. Eldo ingin mengenalkan kekasih barunya pada Quila malam ini.
"Aku tidak bisa mengingkari janji" ucap Quila sambil mendongak menatap Ares yang tidak bergerak sedikitpun.
Ares diam dan mengambil ponselnya di saku celana. Pria itu mendial nomer dan menghubunginya.
"Hugh, kirimkan nomer teman Quila yang bernama Eldo kemarin" Ares langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
Quila berdiri dan ingin mendebat prilaku aneh Ares yang meminta nomer Eldo. Untuk apa Ares meminta nomer Eldo ?
"Untuk ap... ?" ucapan Quila yang terpotong ketika Ares menelfon seseorang lagi.
"Halo, apakah benar ini Eldo teman Quila ?" ucap Ares to the point
"...."
"Saya atasan Quila malam ini ada acara perusahaan. Quila ingin membatalkan janjinya tetapi dia tidak enak hati membatalkan janji denganmu"
"...."
"Ya tentu. Terima kasih dan maaf merepotkan" ucap Ares.
Seratus persen Quila melongo mendengar ucapan Ares. Astaga apa yang baru saja dilakukan pria itu. Menelfon Eldo hanya untuk membatalkan acaranya dengan Eldo.
"Dia mengatakan jika malam ini Kekasihnya juga tidak bisa. Jadi kau tak mengingkari janjimu hari ini" ucap Ares.
Belum sempat Quila mengatakan apapun Ares sudah lebih dahulu mengambil tasnya dan berjalan menjauh.
"Cepat bergerak sebelum kantor menjadi gelap gulita"
Quila mengambil ponselnya di meja dan berjalan mengikuti Ares yang sudah keluar ruangan dengan cepat. Ketika sampai di luar ruangan ternyata kedua asisten Ares masih di depan.
"Urus jadwal besok sesuai yang kukatakan tadi, Oliv. Hari ini aku pulang dengan mobilku sendiri, Hugh. Kau antarkan saja Oliv pulang"
Quila melambaikan tangannya kepada kedua orang itu ketika Ares berjalan menjauh. Dilihat dari belakang Quila ingin sekali tertawa melihat Ares dengan Tuxedo Navy yang sedang membawa tas perempuan berwarna merah.
Ares dan Quila masuk ke dalam lift meninggalkan Hugh dan Oliv yang masih menatap kepergian kedua orang itu.
"Sungguh bukan Mr. Alfarell yang mau membawakan tas perempuan" Gumam Oliv sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya, memang bukan Mr. Alfarell" ucap Hugh dengan senyuman gelinya
*_*_*
Sudah sampai di depan rumah Quila. Mobilpun sudah berhenti dengan mulusnya. Namun pintu mobil belum dibuka sama sekali seakan Ares menahan Quila untuk pergi.
"Sampai kapan kita di sini ?" Tanya Quila yang mulai merasa bosan.
Entah kenapa Quila melihat tangan Ares sedikit bergetar yang saat ini masih memegang kemudi Mobil. Hingga tiba-tiba Ares menghadapkan tubuhnya kearah Quila.
"Ayo kita mencoba jadi pasangan" ucap Ares yang sukses membuat Quila kaget bukan kepalang.
"Kau gila ? Mencoba ? Kau pikir mainan ?" respon Quila langsung.
Terlihat dari sorot mata Ares jika pria itu sedang bingung dan sedikit tertekan. Namun di dalam tatapan mata itu terpancar sorot mata serius.
"Baiklah jadilah kekasihku. Aku akan memberikan segalanya di bawa kakimu, termasuk duniaku" ucap Ares.
Quila tertawa garing dan berusaha membuka kunci pintu walaupun sia-sia saja semuanya. Bagaimana mungkin Ares mengajukan hal yang sangat berat bagi Quila.
Ya memang Quila suka dengan Ares. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Keinginan Quila adalah menemukan pasangan dan menjalin hubungan sekali seumur hidup dengan pria yang sama.
Bukan malah diajak untuk mencoba hubungan seperti ini. Cih mencoba menjadi kekasih. Quila tidak ingin posisi seperti itu. Jika diposisi menjadi perempuan yang dicintai Quila akan dengan senang hati menerima.
Tidak dengan posisi seperti ini.
"Cepat bukan pintunya sialan! Persetan kau atasanku" amuk Quila yang membuat Ares menggelengkan kepalanya.
"Aku serius, Quila. Sudah cukup bagiku melihatmu hanya berdiri di depanku tanpa aku bisa memilikimu"
"Ares, kau sungguh gila. Bagiku hubungan kekasih bukan hal main-main dan aku tidak mau mempermainkan hal seperti itu"
"Ya ya aku tau tapi kumohon berikan kesempatan untuk kita mencobanya" bujuk Ares sambil menggenggam tangan Quila.
Getaran aneh langsung terasa ketika Ares memegang tangan Quila. Apalagi dengan tatapan yang begitu tulus dan dalam.
Sialan! Quila ingin sekali menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Ares. Namun akal sehat Quila masih berusaha memilah mana yang baik dan tidak.
Berdiri di samping pria setangguh dan sesukses Ares bukanlah impian Quila. Apalagi Quila sangat yakin jika Ares adalah idaman semua perempuan termasuk dirinya.
Namun sekali lagii berdiri berdampingan dengan Ares adalah hal yang mustahil bagi Quila. Apalagi ada Kak Akhza yang akan menjadi penghalangnya.
Kakaknya itu pernah membuat Quila berjanji untuk tidak jatuh dalam pesona semua teman Kakaknya. Itu adalah janji yang dibuat Quila ketika umurnya 11 Tahun. Janji yang dipaksa oleh Kak Akhza.
"Aku tidak bisa. Umur kita terlalu jauh bahkan kau lebih tua dari Kakakku. Ares, aku tau kau hanya obsesi sementara denganku karena aku lebih muda dan mungkin menggoda hasrat dewasamu" ucap Quila dengan suara pelannya.
"Dari awal sudah akan terlihat jika aku menjalin hubungan dengamu. Hanya aku yang akan tersakiti dan aku tidak akan mencoba rasa sakit itu" ucap Quila berusaha memberikan pengertian
Tangan Ares terlepas dari tangan Quila dengan wajah yang berubah menjadi mengerikan. Suara pintu terbuka membuat Quila menoleh dan menatap wajah Ares lagi.
"Maafkan Aku, Ares"
Quila keluar dari mobil. Ketika pintu mobil baru saja di tutup oleh Quila mobil Ares langsung melaju meninggalkan halaman rumah Quila.
Saat ini hatiku belum siap menerima rasa sakit itu