Quila menekan tombol lift dan menunggu dengan beberapa karyawan di belakangnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Jam kantor akan dimulai sebentar lagi.
Tadi pagi yang mengantarkannya adalah Kak Akhza dan karena kakaknya itu ingin makan bubur ayam dulu jadi Quila datang sedikit terlambat daripada biasanya.
"Perempuan yang paling depan itu yang digosipin itu ? Asisten tambahan Mr. Alfarell ?" bisik seseorang yang sangat bisa di dengar oleh Quila.
Asisten tambahan ? Gelar macam apa itu ? Bukannya kegeeran atau bagaimana namun ucapan itu seakan memang tertuju pada Quila karena memang hanya Hugh dan Oliv yang menjadi asisten Ares selama ini.
Tapi kenapa Quila disebut sebagai Asisten Tambahan ? Sebutan itu sedikit tidak enak ditelinga Quila ketika mendengarnya.
"Katanya sih. Padahal udah 4 tahun ini asistennya hanya Nona Oliv dan Tuan Hugh. Tiba-tiba perempuan itu menjadi asisten Mr. Alfarell tanpa ada berita apapun"
Lift berdenting dan pintu lift terbuka. Quila memilih mengabaikan hal itu dan masuk ke dalam lift yang tentu saja bersama dua perempuan tadi.
Namun sampai kedua perempuan itu turun sudah tidak ada lagi pembicaraan yang di dengar oleh Quila. Setidaknya hal itu tidak menambah daftar pikiran Quila.
Quila keluar di lantai teratas seorang diri karena hanya empat orang saja yang bekerja di lantai paling atas gedung ini.
Ketika berjalan mendekati meja Oliv dan Hugh. Quila melihat sebuah meja lagi yang bersebrangan dengan meja kedua orang itu.
Meja yang sangat dikenali oleh Quila, meja kerjanya. Quila menatap pintu kokoh di depannya dengan tatapan nanar.
Ah... jadi ini yang diperolehnya jika menolak atasannya itu. Hati Quila seakan tercubit memikirkan hal itu.
Namun mau bagaimana lagi ini adalah keputusan Quila sendiri. Tidak ada yang harus di sesali, lagian Quila tidak perlu lagi satu ruangan lagi dengan pria itu.
Yup ini lebih baik.
Quila menaruh tasnya dan mulai menyiapkan semua peralatannya untuk bekerja hari ini. Semua barangnya berada di sini semua dan tidak ada yang berubah.
Beberapa kali Quila menatap pintu itu. Entahlah ada perasaan aneh yang masuk ke hati Quila saat ini. Perasaan terbuang ? Entahlah
"Loh Quila kau di sini ?" suara Oliv membuat Quila menoleh dan menemukan Oliv datang dengan wajah kagetnya.
Quila memaksakan senyum dan mengangguk. Oliv mendekati meja Quila sambil menatap Quila dengan pandangan tak percaya.
"Ada apa ini ?" tanyanya bingung.
"Entahlah. Aku datang sudah di sini, mungkin Mr. Alfarell ingin lebih privasi lagi" ucap Quila berusaha mencari alasan.
"Kau ada masalah dengan Mr. Alfarell ?"
Quilaa menggeleng ragu dan masih tersenyum kaku. Tangan Oliv menggenggam tangan Quila dan tersenyum lembut.
"Aku senang kau di sini. Aku ada teman mengobrol" ucap Oliv yang berusaha menghibur Quila.
Oliv adalah perempuan baik dan ramah. Selama bekerja di sini Quila sangat senang mengobrol dengan Oliv ketika makan siang bersama. Begitupun juga Hugh.
Benar saja tiba-tiba Hugh datang dan menatap Quila dengan tatapan terkejutnya juga. Pria itu ingin membuka mulut dan bertanya.
Namun langkah kaki terdengar memenuhi lorong yang membuat kami semua berbalik. Ares berjalan dengan langkah tegapnya.
Quila langsung berdiri mengikuti gerakan Oliv serta Hugh ketika menyambut kedatangan Ares. Pria itu berjalan dengan angkuh tanpa menoleh sedikitpun kepada Quila.
Ares masuk ke dalam ruangannya dan meninggalkan kecanggungan di luar. Hugh yang mengerti suasana sedang tidak baik menatap Quila dan tersenyum.
"Senang kau berada di sini, Quila" ucap Hugh yang membuat Quila ikut tersenyum.
Setidaknya Quila senang kedua rekan kerjanya sangat baik dan pengertian. Jadi Quila tak perlu mengarang cerita untuk dijelaskan kepada mereka.
*_*_*
Quila duduk di depan Eldo dengan wajah lemasnya. Mereka saat ini sedang makan siang bersama di restoran seberang perusahaan.
Eldo menyempatkan datang kesini untuk mengobrol banyak hal. Inilah yang selalu dilakukan oleh Quila dan Eldo semenjak lulus sekolah, menyempatkan waktu untuk mengobrol.
"Lemes banget tuh muka. Kenapa ?" ucap Eldo sambil menyuapkan makannya.
"Kerjaan banyak banget. Bos lagi sensi sama gue" ucap Quila sambil mengaduk minumannya.
"Bos yang kemarin nelfon gue ?" Quila menganggukkan kepalanya lemas.
"Sensi gimana nih maksud lo ?"
"Beberapa pekerjaan gue kerjain seperti biasa. Tapi beberapa hari ini dia suruh revisi dan kasihin tugas banyak banget. Seakan dia berencana buat gue nggak betah kerja lagi" ucap Quila dengan lemas.
"Hari ini gue lagi PMS dan berdoa supaya hari ini nggak ketemu bos gue dulu. Sungguh gue nggak sanggup"
Eldo mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah sok menyimak. Eldo memajukan tubuhnya dan menatap Quila serius.
"Gampang lo keluar aja terus cari suami tajir. Hidup lo kaya" ucap Eldo yang membuat Quila langsung menonyor kepala Eldo dengan sekuat tenaga.
"Sableng lo"
Dering pesan masuk di ponsel Quila membuat Quila mengambil ponselnya dan membaca pesan yang ternyata dari Oliv
"Mr. Alfarell memintamu untuk segera mengumpulkan rancangan Rich Company, sekarang"
"Dia berulah" Gumam Quila menatap ponselnya.
Eldo menatap Quila dengan pandangan bertanya yang membuat Quila panik mengambil beberapa uang lembar.
"Hari ini gue yang bayar ini uangnya tolong bayarin. Gue harus balik sebelum Bos gue makin berulah"
Quila mengecup pipi Eldo dan segera keluar dari cafe. Lima belas menit itulah waktu yang diberikan pria sialan itu untuk Quila.
Dengan nafas tersengal Quila berhasil sampai di mejanya dalam sepuluh menit. Diambilnya map kuning di atas meja dengan cepat.
Quila membenarkan letak bajunya dan mengatur nafasnya terlebih dahulu. Sebelum mengetuk pintu ruangan yang pernah ditempati Quila dulu.
Suara Ares mengijinkan untuk masuk membuat Quila mendorong pintu. Pria itu sedang menatap jurnal kerjanya.
"Mana pekerjaan yang kuminta" ucap Ares dengan suara dinginnya.
Quila menyerahkan map itu. Ares menerimanya dan segera membukanya. Kerutan di kening Ares sukses membuat nafas Quila semakin menipis.
Itu adalah tanda yang pasti jika pekerjaannya memiliki kesalahan. Suara bantingan file sukses membuat Quila memejamkan mata.
"Rancangan ini sudah kutugaskan dari dua minggu yang lalu. Dua kali revisi dan hasilnya masih saja minus. Kau niat bekerja atau tidak!" bentak Ares yang terdengar sangat murka.
Quila berusaha menangguhkan hatinya untuk menjawab ucapan Ares. Walaupun dengan suara yang nyaris menangis
"Maaf, Mr. Alfarell. Saya sudah menyelesaikan semampu yang saya bisa. Saya akan merevisi lagi"
"Revisi! Revisi! Revisi! Rich Company sudah menjadi partner kita dari lama. Jangan membuat hancur semuanya, Quila"
Air mata Quila jatuh tanpa bisa dicegah. Namun Quila berusaha menghapus air mata itu dan masih menundukkan kepalanya.
"Seharusnya kau diterima bekerja di sini kau harus lebih banyak belajar. Bukannya tidak ada perkembangan sama sekali. Kau bisanya apa sih! Jangan karena kau adik temanku kau akan diperlakukan beda, Quila"
Quila mendongakkan kepalanya menatap Ares yang baru saja mengucapkan kata-kata yang sangat tak disukai Quila.
"Saya tidak berharap untuk diperlakukan spesial walaupun saya adalah adik teman Anda. Saya sudah bekerja semampu saya jika memang tidak ada lagi harapan. Saya siap dikeluarkan"
"Cih lari dari masalah itulah kemampuanmu. Bukan begitu, Quila ?"
"Saya bukannya lari tapi jika saya memang tidak kompeten buat apa saya dipertahankan di perusahaan ini. Saya akan segera menyelesaikannya" ucap Quila sambil melangkah pergi
Tanpa embel-embel pamit atau bagaimana Quila keluar dari ruangan itu. Quila menutup pintu dan melihat Oliv dan Hugh sudah kembali dari makan siang.
Quila yang tidak bisa menahan tangisannya pun langsung menangis tanpa menghiraukan Oliv dan Hugh yang bingung sendiri.
Saat ini yang dirasakan Quila hanya perasaan sesak yang memenuhi dadanya. Melihat sikap dingin Ares dan ketus pria itu semakin membuat mental Quila down apalagi dengan siklus mentsruasi yang sedang didapatnya.
Oliv berlari mendekati Quila dan memeluknya dengan erat. Quila menangis tetapi masih berusaha tidak sesenggukkan keras, memalukan.
Sedangkan di dalam ruangan Ares terlihat frustasi sendiri melihat tangisan Quila di depan ruangannya. Sialan! Kenapa Quila tidak menangis di hadapannya saja.
Menangis di hadapannya dan memaki dirinya. Ares lebih menerima hal itu daripada harus melihat Quila menahan tangisan dibelakangnya.
"Kenapa kau tak menerimaku, Quila?".