Suara dengungan nyaring dari balik jendela kamar guest house terdengar seperti nyamuk mekanik raksasa yang siap menembus gendang telinga.
Binar mengerang, menyembunyikan wajahnya lebih dalam di bawah bantal. Lirikannya menangkap jarum jam weker: masih pukul tujuh pagi. Seharusnya ini adalah hari di mana ia bisa rebahan seharian, menggulung diri dalam selimut tebal, dan melanjutkan mimpi indahnya.
Tapi dengungan itu makin keras. Lalu...
BRAK!
Sebuah benda keras menabrak kaca jendelanya dengan kasar.
Binar mendengus kesal. Ia hafal betul siapa dalang keributan ini. Satu-satunya manusia di muka bumi yang pantang melihatnya menikmati hari libur dengan tenang.
Maximilian Arthur Angkasa.
Putra tunggal keluarga Angkasa yang meski usianya sudah menginjak dua puluh tiga tahun, tapi kelakuannya masih sering menyaingi balita tantrum.
Dengan sisa tenaga dan amarah yang mulai mendidih, Binar menyingkap selimut, berjalan mengentak ke arah jendela, dan menyibak tirainya kasar.
Di luar kaca, sebuah drone hitam mengilap melayang stabil di udara. Di bagian bawahnya, terpasang sebuah speaker mini yang langsung menyala begitu Binar membuka daun jendela.
"Woi, Ratu Mager! Banguuun!"
Suara Max yang menyebalkan mengalun keras dari speaker kecil itu. Binar melongok ke luar, mencari sosok cowok itu. Nihil. Max pasti sedang mengendalikannya dari balkon kamar lantai tiga bangunan utama.
"Ngapain sih, Max?! Ini masih pagi buta!" sembur Binar kesal, merapatkan kardigan tebal yang membalut kaus tidurnya.
"Ke taman belakang sekarang! Temenin aku sarapan!" balas Max santai dari speaker.
"Ya ampun, Max! Ini kan hari Minggu? Aku libur. Aku mau healing seharian. Jangan ganggu!" tolak Binar mentah-mentah.
"Oke. Kalau nggak mau, drone ini bakal ngacak-ngacak kamarmu!"
Namun belum sempat nyamuk raksasa itu bermanuver masuk, angin tiba-tiba berembus kencang, membuat drone kehilangan keseimbangan. Benda mahal itu menukik tajam melewati atap, meluncur bebas ke taman belakang, dan berakhir dengan suara gemerisik di kejauhan.
Binar mengembuskan napas dramatis. Habis sudah harapannya untuk 'me time' dengan tenang. Sebelum cowok menjengkelkan itu membuat kekacauan yang lebih besar, Binar memilih segera keluar menuju tempat benda itu jatuh.
Sesampainya di taman yang dipenuhi semak mawar, Max sudah berdiri di sana dengan wajah bersungut-sungut. Dengan masih berbalut piyama, ia memegang remote control sambil menunjuk semak berduri. "Ambilin! Kamu kan yang bikin jatuh."
Binar melongo. Matanya membulat tak percaya. Kenapa jadi dia yang disalahkan?!
Namun Binar sadar, mendebat Maximilian Angkasa di pagi hari sama saja dengan berdebat dengan tembok marmer. Pria itu pantang mengakui kesalahan.
"Pelan-pelan. Jangan sampai baling-balingnya patah. Susah belinya, limited edition," cerocos Max dengan gaya bossy, melihat Binar dengan susah payah menyibak batang-batang mawar berduri.
"Cerewet! Kenapa bukan kamu aja yang ngambil?!" omel Binar dengan wajah memerah menahan kesal.
"Loh, pagi-pagi udah asyik nyari mainan rupanya."
Sebuah teguran lembut membuat pergerakan Binar terhenti. Mamanya berdiri tak jauh dari mereka, berpenampilan kasual namun rapi dengan buku agenda tebal di pelukan.
Binar tak menjawab. Ia hanya memutar bola mata ke arah Max yang kini tersenyum tanpa dosa.
Mama tersenyum maklum, lalu menepuk pelan bahu Binar. Mama sangat paham kelakuan putra mahkota Angkasa itu, yang seolah tak bisa hidup tanpa merusuhi putrinya. Namun, Mama selalu memaklumi. Ia merasa berutang budi teramat besar pada keluarga Angkasa. Bukan hanya karena rumah ini tempatnya mencari nafkah selama belasan tahun, tapi juga karena mereka telah menanggung penuh biayai kuliah Binar di Jakarta.
Bagi Mama, menuruti kemauan konyol pangeran rumah ini adalah bentuk balas budi yang tak seberapa.
"Max, mau sarapan di sini saja?" tawar Mama ramah, mengabaikan wajah Binar yang ditekuk. "Nanti Tante minta pelayan siapkan meja di taman."
"Boleh, Tante. Aku sarapan di taman aja nemenin si Ratu Mager-"
Belum selesai bicara, hidung Max berkedut.
"Hatchi!"
Max bersin kencang. Tangannya buru-buru mengusap hidungnya yang seketika memerah.
"Tuh, kan," gerutu Binar seraya menyerahkan drone yang berhasil ditariknya dari semak-semak pada Max.
Tangannya lalu dengan cepat beralih ke saku kardigannya, mengeluarkan sebuah nasal spray anti-alergi yang selalu ia selipkan setiap kali berada di dekat cowok itu. "Udah tahu alergi serbuk sari, malah nyari perkara main di sini!" omelnya. Tangannya terulur, menyodorkan benda kecil itu.
Max mendengus, merebut semprotan hidung itu dan menggunakannya dengan wajah tertekuk. "Bilang aja kamu mager," gerutunya tertahan.
Binar menarik napas lelah. Ia akhirnya mengalah, mengikuti langkah Max menuju meja makan di tengah taman di mana seorang pelayan mulai menata sarapan untuk mereka.
Semenjak Binar menetap di mansion ini, kelakuan semena-mena Max memang makin menjadi-jadi. Meski sebenarnya tugas Binar hanya membantu Mama, namun karena terlalu seringnya ia diminta Mami Liz menemani cowok arogan itu, Max jadi menganggap Binar sebagai asisten pribadi yang harus selalu siap kapan saja. Dia bebas mengatur Binar sesukanya, hingga Binar nyaris tak punya ruang privasi.
Satu-satunya tempat Binar merasa bebas dan waras hanyalah di kampus. Apalagi sejak ia berpacaran dengan Carlo, cowok sekampusnya yang manis, logis, dan yang paling penting: tak pernah banyak menuntut. Ah, tak sabar rasanya menunggu Carlo menjemput sore nanti untuk kencan. Binar diam-diam mengulum senyum.
"Kenapa senyum-senyum? Suka ya sarapan bareng aku?"
Suara berat itu mengentak lamunan Binar. Pangeran arogan itu sudah duduk manis di seberang meja, menatapnya dengan sebelah alis terangkat sombong.
"Kegeeran banget!" dengus Binar. Wajahnya kembali bete, namun tangannya bergerak otomatis menuangkan teh hangat ke dalam cangkir cowok itu.
Max mengangkat cangkirnya. Lalu diam-diam, dari balik cangkir itu, ia memandangi wajah Binar sambil menahan senyum tipis di sudut bibirnya.