"Selamat Rob, kau sudah berumur delapan belas tahun. Apa ada yang ingin kau lakukan di umur ini?" tanya Marlin yang sudah duduk di kursi taman bersama Rubi dan Nash lalu mengigit roti yang sudah sedari tadi di tangannya.
"Kurasa ... sudah saatnya kau mencoba mencari seorang pria, Rob," saran Nash tiba-tiba.
Marlin dan Rubi langsung melihat gadis itu. Pipi Nash langsung memerah, "Maksudku ... Rob sudah cukup dewasa, bukankah sudah saatnya dia mencari calon suami."
"Kenapa kau tidak minta Marlin untuk mencarinya terlebih dahulu," Rubi menyipitkan matanya ke arah Nash lalu ke Marlin. "Dia lebih tua dariku."
"Hanya beberapa bulan," kata Marlin membela dirinya.
Nash mengamati Marlin lalu kembali menatap Rubi. "Aku yakin Marlin akan mendapatkan pria itu sebentar lagi. Lagi pula banyak pria yang juga tertarik pada Marlin. Hanya saja ...," Nash berhenti berkata.
"Hanya saja?" tanya Marlin penasaran.
"Belum ada pria yang cocok denganmu saat ini," kata Nash pada Marlin.
"Kenapa?" tanya Marlin dan Rubi bersamaan.
"Yang kutahu, para pria yang ingin mendekati Marlin, langsung mengundurkan diri setelah tahu apa yang akan mereka hadapi selanjutnya," kata Nash lagi.
"Dan apa itu?" tanya Marlin mengernyit.
"Kedua kakak lelakimu." Nash tersenyum manis saat mengatakan hal itu.
"Kurasa di kota London ini, belum ada pria berani dan kuat yang akan langsung menghadapi kedua kakak lelakimu itu, mereka sangat besar dan kuat," kata Nash. Gadis itu mengingat beberapa pria yang mencoba mendekati Marlin, Nash langsung menggeleng pelan. "Mereka terlalu lemah untuk Marlin. Aku tidak setuju."
Marlin hanya dapat tersenyum kecil mendengar pendapat Nash.
"Lalu menurutmu, pria seperti apa yang cocok untukku?" tanya Rubi yang juga penasaran dengan pendapat Nash tentangnya.
"Hmm ...." Nash menatap wajah Rubi sedikit lama. "Kurasa, pria yang dapat membuatmu menjadi lebih feminin."
Rubi langsung melempar remah-remah roti ke arah Nash yang tertawa. Marlin juga hanya tersenyum kecil mendengar itu. Mereka mendapatkan saran tentang pria dari seorang Nash, sahabat mereka yang takut dengan para pria--Nash hanya tidak takut kepada ayahnya dan kedua kakak laki-laki Marlin.
***
Marlin menatap kembali keranjang roti yang dibawa Nash. Keranjang itu cukup dipenuhi bermacam-macam roti. Marlin merasa Nash sepertinya ingin memberikan Rubi makanan selama tiga hari penuh. Nash sepertinya benar-benar tak suka membayangkan Rubianna Rutter kelaparan. Marlin tersenyum saat pertama kali dia melihat keranjang penuh roti tersebut.
Marlin menatap langit biru lalu kata-kata Nash tadi menggelitiknya, dia kemudian menatap Rubi yang sedang mengigit roti. "Apa tidak ada yang membuatmu berbunga-bunga belakangan hari ini?" tanya Marlin tiba-tiba.
"Berbunga-bunga?" tanya Rubi tidak mengerti.
"Bagaimana dengan anak penambang dan pemilik toko roti itu? Kudengar mereka sedang berusaha mendekatimu," lanjut Marlin.
Nash langsung menyela, "Kau tidak boleh dengan pemilik toko roti itu. Aku tidak mengizinkannya. Dia adalah pria yang paling menyebalkan di dunia ini."
Rubi dan Marlin saling tersenyum dan mengangguk pelan, mereka tahu Nash kurang suka Brandon Braker karena saingan toko roti ayahnya. Sebenarnya Rubi cukup menyukai Brandon, karena pria itu tampan, dia juga baik, memiliki tubuh yang tegap dan gagah, selain itu tak ketinggalan pula Brandon juga sangat ahli membuat roti bertekstur lembut dengan tangannya yang cukup kuat tersebut.
Tapi sayangnya, sekuat apapun Rubi berusaha untuk menyukai Brandon sebagai lawan jenis, rasa itu tak pernah muncul di hati Rubi. Rubi hanya merasa nyaman bersama Brandon sebagai teman.
Rubi tahu, Brandon adalah calon suami yang sempurna untuk dirinya, untuk dirinya yang tak memiliki apa pun. Brandon mempunyai toko rotinya sendiri, satu hal itu saja sudah merupakan nilai tambah sendiri untuk Brandon di mata Rubi, setidaknya setiap hari dia tidak akan kelaparan, ada yang bisa memberinya makanan.
Sedangkan John Smith, Rubi tidak terlalu menyukai pria itu. Pria itu selalu berusaha memamerkan apa yang dimilikinya kepada Rubi. John sangat jauh berbeda dengan Brandon, Brand tak pernah memamerkan kekayaannya pada Rubi, pria itu juga rendah hati.
Rubi sebenarnya benar-benar tidak menyukai John Smith ketika pria itu mendekati bibinya, memamerkan pakaian-pakaian mahal, cerutu, dan hal lain-lainnya. Untuk Rubi, penampilan John seperti penampilan 'meniru bangsawan yang gagal'. John Smith tak memiliki kharisma tersebut, aura penampilan para lord yang gagah.
"Tidak. Aku tidak merasakan apa pun dengan mereka," jawab Rubi akhirnya.
Marlin mengangguk pelan. Rubi sama saja dengannya.
Nash yang merasa penasaran, menatap wajah Rubi dan Marlin bergantian, "Apa tidak ada satu pria pun di London yang membuat kalian tertarik? Yang membuat kalian penasaran?"
Marlin langsung menggeleng. "Apa kau ada?" tanyanya balik ke Nash. Nash dengan pipinya yang memerah langsung menggeleng cepat.
"Ada."
Jawaban itu membuat Nash dan Marlin beralih kepada Rubi.
"Siapa?" tanya mereka bersamaan.
"Duke of Northumberland."
***
"Duke?" tanya Nash tak percaya.
"Seorang lord?" tanya Marlin yang juga tak percaya.
Rubi pun mengangguk.
"Kenapa?" tanya kedua sahabat itu kembali bersamaan.
"Apa kalian tak penasaran pada lord tersebut?" tanya Rubi kembali kepada mereka.
Nash dan Marlin sering mendengar kabar-kabar burung tentang lord tersebut di London. Kabar-kabar burung yang diceritakan oleh Rubi sendiri kepada mereka, entah dari mana Rubi mendapatkan berita-berita itu, tapi Nash dan Marlin pun menikmati cerita Rubi.
"Sedari dulu, aku sangat penasaran dengan pria bangsawan itu. Lord tersebut benar-benar membuatku ingin tahu lebih dalam tentang dirinya." lanjut Rubi, "Julukkannya saja sudah membuatku ingin melihat wajahnya."
Di antara mereka bertiga, rasa penasaran Rubi-lah yang paling besar. Marlin dan Nash sebenarnya juga penasaran dengan lord tersebut, karena mereka tak pernah melihatnya. Tapi mereka sadar, mereka tidak memiliki derajat yang sama dengan para bangsawan. Nash dan Marlin tahu, para bangsawan selalu memandang sebelah mata kepada orang-orang seperti mereka yang merupakan rakyat pekerja. Dan Nash dan Marlin menyetujui satu hal tanpa perlu mengatakannya kepada satu sama lain; lebih baik tak bersinggungan dengan para bangsawan. Biarlah mereka semua di London, saling hidup dengan cara mereka masing-masing.
Rubi menatap kedua sahabatnya dengan mata yang bersemangat, "Kurasa, aku tahu apa yang ingin kulakukan di tahun ini."
Nash dan Marlin merasa sudah tahu apa itu, tapi mereka berdua tetap bertanya, "Apa itu?"
"Aku akan mencari tahu tentangnya, Duke of Northumberland," kata Rubianna yakin. "The Lord of the Darkness."
Marlin hanya dapat tersenyum pelan. Dia tahu, apabila Rubianna Rutter sudah memutuskan hal tersebut, gadis itu akan benar-benar melakukannya. Marlin yakin, Rubi sudah tidak bisa membendung rasa penasaran yang sudah lama ditekan gadis itu.
"Rasanya kehidupan lord tersebut tidak akan tenang lagi setelah hari ini," kata Nash tersenyum. "Kami tahu, kau sangat penasaran kepada pria bangsawan itu. Aku tahu, suatu saat nanti kau akan mencari tahu tentang pria tersebut."
Rubi terkekeh mendengar itu. Nash sangat mengerti dirinya.
Nash kembali melanjutkan, "Aku hanya ingin memberimu sebuah saran, Rob. Rasa penasaran bisa membawamu ke lembah paling dalam di dalam kegelapan. Jangan melewati batas yang tak seharusnya kau lewati, Rob. Aku tak tahu apa yang akan terjadi, tapi kuharap kau berhati-hati dengan rasa penasaranmu."
Marlin pun tersenyum dan mengangguk. Dia setuju dengan saran Nash. Walau mungkin yang dilakukan Rubi hanya bertanya kepada orang-orang tentang pria itu, tetap saja mereka khawatir dengan Rubi. Dan di dalam hati mereka berdua, berharap Rubi tidak akan pernah berhadapan langsung dengan lord tersebut.
***