Bintang melompat turun dari lemari pakaian Raya. Ia bersedekap seraya berdecak kecil melihat Raya yang sedari tadi hanya menghabiskan waktunya membaca novel. Jujur saja, ia jengah melihat itu semua. Apakah gadis itu tidak ada kegiatan lain selain bermalas-malasan seperti itu?
“Raya, hari libur seperti ini seharusnya kau belajar. Bukannya malah bermalas-malasan dengan membaca novel seperti itu? Bukankah besok kau ada ujian kuis Bunpou?” tanya Bintang akhirnya.
Raya mendesah pelan. Ia bangkit lalu duduk di atas ranjang dan menatap Bintang yang berdiri di sampingnya. “Untuk apa aku belajar? Lagipula membaca novel itu sama dengan belajar. Mengerti?”
Bintang tersenyum meremehkan. “Apa kau benar-benar tidak peduli dengan kuliah mu?” tanyanya tidak percaya. Sedangkan Raya hanya tersenyum kecil.
“Aku peduli. Oleh sebab itu, aku membiarkanmu menggunakan tubuhku supaya kau bisa mengerjakan semua ujian-ujianku. Mengerti?”
Bintang melotot. Sungguh, ia tidak pernah mengira jika Raya akan mengatakan hal itu dengan mudah. Astaga, gadis itu licik sekali! Namun, mau bagaimana lagi? Mungkin, memang sudah seperti ini garis takdir yang harus dijalani. Menjadi sesosok arwah yang harus selalu siap untuk dimanfaatkan oleh seorang gadis bodoh dan angkuh seperti Raya.
“Terserah kau sajalah!” sahut Bintang. Lalu, melangkahkan kedua kakinya menuju ke pintu, ke arah balkon.
“Hei! Kau mau ke mana?”
“Ke rumah seseorang,” teriak Bintang. Sebab, saat ini tubuhnya sudah berhasil menembus dinding kamar Raya.
••••••••
Bintang memandang sebuah rumah bercat biru di hadapannya. Netranya memperlihatkan sebuah kesedihan yang amat sangat. Kemudian ia menundukkan kepala. Entah kenapa mendadak dadanya berdenyut pilu. Sebab, saat ini ia bukan lagi seorang manusia seperti dulu. Ia tidak lebih hanyalah sesosok arwah dan tidak jauh berbeda dengan angin yang tidak bisa dilihat oleh kedua mata manusia.
Namun, Bintang tergemap, ketika tiba-tiba seorang gadis keluar dari rumah itu sambil membanting pintunya. Bintang mengangkat kepalanya. Ia tersenyum. Gadis itu ialah gadis yang sangat dicintainya. Dan saat ini ia sangat merindukannya.
“Bunga,” panggil Bintang. Namun, ia sadar gadis cantik itu tidak akan dapat mendengarnya.
Sungguh, saat ini Bintang sangat ingin menyentuhnya ketika gadis itu lewat di depannya. Ia ingin memeluk dan menunjukkan senyum hangatnya. Ia ingin melakukan semua itu. Namun, kenapa ia sendiri merasa jika tubuhnya begitu tipis?
Langkah gadis itu terhenti. Saat ini, Bintang dapat melihat jika kekasihnya itu sedang menangis. Mendadak Bintang terkejut. Kenapa Bunga menangis? Ada apa dengan kekasihnya itu? Apakah ada yang menyakitinya? Apa dan siapa?
“Bintang!!” seru Bunga sambil sesenggukan. Wajahnya terlihat sangat frustrasi hingga membuat Bintang langsung merasakan nyeri pada hatinya.
Bintang mengangkat tangannya. Ia mencoba memegang pundak Bunga. Namun, seperti yang ia duga, bahkan tangannya hanya dapat melewati pundak itu. Ia merasa sangat tersiksa ketika melihat orang yang dicintainya harus menangis seorang diri. Mirisnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
“Kenapa kau meninggalkanku Bintang? Kenapa kau pergi tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara? Apa kau marah padaku? Kau membenciku?” ucap Bunga dalam tangisnya. Gadis itu bahkan tidak menghiraukan orang-orang yang lewat di depannya, memandangnya aneh.
“Aku tidak membencimu. Aku tidak marah padamu. Aku hanya sedang tidak beruntung.” Bintang menjawab pertanyaan itu meski Bunga tidak menghiraukannya. Ia sadar jika dirinya yang salah dan harus menanggung semua ini.
“Bintang,” panggil Bunga. Suaranya terdengar parau. “Aku merindukanmu,” lanjutnya dan tidak lama kemudian ia menjatuhkan diri ke tanah.
Bunga menangis sekeras-kerasnya, dan menumpahkan semua kesedihan di depan arwah kekasihnya sendiri. Bunga memang tidak tahu, tapi kekasihnya telah mendengar dan menyaksikan semua penderitaannya.
Bintang ikut berjongkok di sisi Bunga. Ia menatap kekasihnya dengan lembut. “Maafkan aku,” tuturnya pelan, seolah berbisik.
Bintang melingkarkan tangannya di sekitar pundak Bunga, seolah memeluknya. Bintang tahu tubuhnya tidak akan bisa menyentuh gadis itu. Setidaknya, ia ingin kekasihnya merasakan kehangatan.
Sementara, Bunga termangu. Ia masih sesenggukan dengan air matanya yang sudah mulai mengering. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya seperti terlindung dari terik sinar matahari. Ia mengerutkan kening. Pasalnya, di sekitarnya tidak ada pepohonan. Namun, kenapa bisa tubuhnya terasa sejuk seperti ini?
••••••••
Raya memandang langit bertaburan bintang dari balkon di depan kamarnya. Malam ini sangat cerah dan sedikit dingin. Namun, ke mana Bintang? Kenapa sejak siang tadi dirinya sudah tidak melihat laki-laki itu menampakkan dirinya? Apa ia sudah bosan di sini dan kembali ke dunianya? Entahlah.
Mendadak angin dingin menghempas tubuh Raya saat dirinya sibuk dengan pikiran-pikirannya itu. Raya sampai bergedik dan memeluk tubuhnya sendiri. Lalu ia pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. Namun, saat ia membalikkan tubuh ….
“AAAHHHH!” seru Raya kaget. Di depannya sekarang berdiri sesosok arwah yang baru saja dipikirkannya.
“Hei! Kenapa kau mengejutkanku, huh?” tanyanya kesal sambil mengelus d**a.
Bintang terdiam, tidak menjawab apa-apa. Raya pun memperhatikan wajah Bintang lekat. “Kenapa wajahmu murung begitu?”
Bintang mendesah pelan sebelum mulai menceritakan semuanya tentang kondisi Bunga kepada Raya. Ya, ia memang selalu menceritakan kesehariannya saat sedang atau tidak berada di dalam tubuh gadis itu. Namun, satu hal yang tidak pernah diceritakan olehnya, yaitu tentang kasus kematiannya.
“Lalu, bagaimana keadaan Bunga saat ini? Apakah dia sudah membaik?” tanya Raya. Ia bisa merasakan bagaimana sakitnya Bintang melihat kekasihnya merindukan laki-laki itu.
Bintang menatap Raya. “Sudah sedikit lebih membaik,” jawabnya seraya melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam kamar. Lalu, membaringkan tubuhnya ke lantai kamar Raya yang berbalut karpet berbulu tebal berwarna putih. Sedangkan Raya mengekori arwah itu.
“Sepertinya aku akan menambah daftar keinginanku selama berada di dunia ini. Aku ingin melihat Bunga kembali tersenyum,” beritahu Bintang kepada Raya yang sudah duduk di sampingnya.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak melakukannya?”
Bintang menatap Raya. Setelah ia pikir sejenak, ternyata ada benarnya juga. “Kau benar,” katanya sambil merubah posisinya menjadi duduk di depan Raya. “Tapi … kau masih mau meminjamkan tubuhmu, kan?”
Raya tersenyum lebar. “Tentu! Anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena kau mau mengerjakan soal-soal ujianku,” jawabnya pasti. “Tapi apa aku boleh bertanya satu hal padamu?”
“Apa itu?”
“Selama ini aku lihat kau adalah laki-laki yang keren dan dingin. Lalu bagaimana rasanya masuk ke tubuh seorang gadis?”
Bintang terbelalak. Tentu saja ia bingung harus menjawab apa. “Kau tahu, ada satu hal yang membuatku begitu tersiksa ketika masuk ke dalam tubuhmu itu.”
“Oh, ya? Apa?”
“Kau sangat bodoh, Raya!”
“HEI!” sentak Raya sambil melempar bantal ke arah Bintang. Namun, ia kaget ketika bantal itu menembus tubuh Bintang. Raya mendengkus kesal saat melihat hal itu. Benar, Bintang memang tidak ada bedanya dengan sesosok hantu!
Bintang menjulurkan lidahnya. Mengejek Raya sebab tidak berhasil memukul dirinya. Namun, detik setelahnya tiba-tiba saja benaknya teringat akan kasus kecelakaannya yang ditutup oleh Polisi. Bintang bergeming. Mencoba memikirkan cara supaya ia bisa melanjutkan penyelidikannya. Dan tidak beberapa lama, ia tersenyum lebar. Pandangannya beralih ke arah Raya yang masih menggerutu kesal di hadapannya.
“Raya,” panggil Bintang akhirnya.
“APA?”
“Cepat ganti pakaianmu dengan pakaian berwarna gelap!” titah Bintang antusias.
Raya mengerutkan kening. “Untuk apa aku melakukan itu?”
“Aish … bukankah kau tadi mengatakan jika kau akan meminjamkan tubuhmu kepadaku?”
“Lalu?”
Bintang memutar kedua bola matanya. Ah, sepertinya ia lupa jika dirinya sedang berbicara dengan gadis bodoh seperti Raya. “Aku ingin meminjam tubuhmu malam ini. Aku ingin membuat kejutan kepada Bunga dengan berpura-pura menjadi seorang kurir dan memberikannya sebuket bunga. Apa kau sudah mengerti?” beritahu Bintang panjang lebar. Walau pada kenyataannya saat ini ia tengah berbohong.
Raya berdecak kesal. Kemudian, ia mendesah pelan. “Baiklah. Tapi, kau harus ingat jangan kau gunakan tubuhku hingga larut malam. Aku tidak ingin kelelahan. Mengerti?”
Bintang tersenyum senang. Lalu, melenggut mantap. “Mengerti!” sahutnya kemudian.