Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan kepada Raya. Setiap kali arwahku menyatu dengan tubuh gadis itu, aku selalu merasakan sesak sesaat, seperti air yang dituangkan ke dalam wadah yang bukan miliknya. Namun, setelah itu semuanya berubah menjadi hangat. Aku bisa merasakan angin. Aku bisa mencium bau lantai koridor yang baru saja dipel. Bahkan, aku bisa mendengar degup jantung yang berdetak di dalam dadaku sendiri.
Ah, betapa aku merindukan hal-hal sederhana seperti ini.
Aku melangkahkan kedua kaki menuju ke kelas F dengan kamus Kanji yang berat di dalam tas. Beberapa mahasiswa yang berpapasan denganku menyapa Raya. Aku hanya membalas dengan anggukan kecil, karena aku tidak tahu nama mereka satu pun. Sungguh, menjadi Raya itu melelahkan. Gadis itu memiliki terlalu banyak kenalan, tetapi tidak satu pun yang benar-benar dekat dengannya.
“Kertas sudah ada di depan kalian. Sembilan puluh menit. Tidak ada kamus, tidak ada teman, tidak ada alasan,” ujar Hiroshi sensei dengan suara datar yang membuat seisi kelas bungkam.
Aku menatap lembar soal di hadapanku. Lalu, tanpa sadar aku menyunggingkan senyum. Kanji. Deretan huruf yang selalu dikeluhkan Raya sebagai ribuan baris yang membingungkan, justru terlihat seperti wajah-wajah lama yang kukenal. Aku menggerakkan bolpen. Satu nomor. Dua nomor. Sepuluh nomor. Tanganku bergerak jauh lebih cepat daripada otakku sendiri.
Empat puluh menit kemudian aku meletakkan bolpen dan berdiri.
Seisi kelas menoleh. Hiroshi sensei mengangkat wajahnya dari meja, menatapku dari balik kacamatanya dengan kening berkerut. Aku menyerahkan lembar jawaban itu kepadanya. Sesaat, laki-laki itu membaca beberapa baris tulisanku, lalu mengangkat wajahnya lagi.
“Raya Putri?” tanyanya, seolah sedang memastikan bahwa ia tidak salah membaca nama di sudut kertas.
“Ya, sensei.”
Hiroshi sensei tidak berkata apa-apa lagi. Namun, tatapan yang diberikannya kepadaku terasa seperti sebuah pertanyaan yang tidak sempat diucapkan. Aku bergegas keluar dari kelas sebelum laki-laki itu sempat bertanya lebih jauh. Astaga, hampir saja. Aku lupa jika aku sedang memakai nama seorang gadis yang tidak pernah menyentuh bukunya sendiri.
Di ujung koridor, aku berpapasan lagi dengan Andra.
Laki-laki itu tampak sedang menenteng beberapa buku sambil berbicara dengan seorang temannya. Ketika netranya menemukanku, ia mengangkat tangan dan tersenyum lebar. Senyum yang sama. Senyum yang selalu kulihat sejak kami masih duduk berdua di kamarnya, mengerjakan tugas hingga larut malam sambil berebut sebungkus keripik.
“Raya! Kudengar kau mengumpulkan kuis paling pertama. Benarkah?”
Berita di Kampus ini memang berjalan lebih cepat daripada apa pun.
“Hanya kebetulan,” jawabku sekenanya.
“Kebetulan?” Andra terkekeh. “Kau tahu, Bintang juga selalu begitu. Dia selalu mengumpulkan paling awal, lalu bilang itu kebetulan. Padahal semalaman dia belajar sampai ketiduran di meja.”
Aku membeku di tempatku.
Sungguh, andai saja Andra tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya sekarang. Andai saja aku bisa mengatakan bahwa aku tidak pernah ketiduran di meja, melainkan pura-pura tidur supaya ia berhenti menyuruhku mengajarinya. Andai saja aku bisa memukul bahunya seperti dulu, lalu mengajaknya makan mi ayam di seberang Kampus.
Namun, yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk kaku, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Karena aku takut, jika aku menoleh, air mata Raya akan jatuh tanpa bisa kutahan.
••••••••
Aku tidak pulang ke rumah Raya.
Sesuai dengan yang telah kuputuskan semalam, aku menaiki angkot yang membawaku menjauh dari kawasan Kampus. Aku duduk di sudut, menempelkan kening pada kaca jendela, membiarkan pemandangan Ibu Kota berlarian di depan mataku. Beberapa penumpang mengobrol tentang harga cabai. Seorang anak kecil merengek meminta es krim kepada ibunya. Semua terdengar begitu biasa. Namun bagiku, semua suara ini adalah dunia yang telah kutinggalkan.
Maafkan aku, Raya. Aku memang berbohong kepadamu. Aku tidak sedang menemui kekasihku hari ini.
Empat puluh menit setelahnya, aku turun di sebuah tikungan jalan raya yang cukup lebar. Jantung di dalam dada Raya mendadak berdetak lebih cepat. Bukan karena gadis itu, melainkan karena aku. Ya, aku mengenali tempat ini. Inilah tempat terakhir yang kuingat sebelum semuanya menjadi gelap.
Aku berjalan menyusuri bahu jalan dengan perlahan. Debu beterbangan setiap kali sebuah truk melintas. Aku mencari sesuatu, entah apa. Serpihan kaca, mungkin. Atau bekas rem yang menghitam di atas aspal. Bukankah begitu cara orang-orang di dalam berita menemukan bukti? Sayangnya, jalanan ini sudah terlalu banyak dilewati kendaraan. Hujan pun sudah beberapa kali turun sejak hari itu. Tidak ada apa pun yang tersisa di sini selain aspal yang panas dan bau asap kendaraan.
Aku berjongkok di tepi jalan. Menyentuh permukaan aspal dengan telapak tangan Raya yang kecil.
“Di sinikah aku mati?” gumamku pelan.
Anehnya, saat aku berusaha mengingat kejadian itu, yang muncul di kepalaku justru bukan suara klakson atau derit ban. Melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap dan pengap. Rasa sakit yang menekan punggung layaknya sedang dipukuli oleh banyak orang menggunakan besi. Lalu, sebuah benda lembut yang menekan wajahku kuat-kuat hingga aku tidak bisa bernapas.
Aku terperanjat. Bangkit dengan tergesa hingga hampir kehilangan keseimbangan.
Apa itu tadi? Kenapa ingatanku memperlihatkan hal seperti itu? Bukankah aku meninggal karena kecelakaan? Andra sendiri yang mengatakannya kemarin pagi. Semua orang mengatakannya. Lalu, kenapa ingatanku justru memperlihatkan sesuatu yang sama sekali berbeda?
Kepalaku terasa berdenyut. Aku memutuskan untuk menyeberang, menuju ke sebuah warung kopi kecil yang berdiri di seberang jalan. Warung itu menghadap langsung ke tikungan. Jika memang ada yang melihat kejadian itu, orang di sinilah yang paling mungkin.
“Permisi, Pak,” sapaku kepada seorang bapak tua yang sedang menuang kopi ke dalam gelas.
“Mau pesan apa, Neng?”
“Es teh saja.” Aku duduk di bangku panjang yang catnya sudah mengelupas. Lalu, aku menyusun kalimatku sehati-hati mungkin. “Pak, saya mau tanya. Beberapa waktu lalu katanya ada kecelakaan di tikungan itu. Bapak melihatnya?”
Bapak itu berhenti menuang. Ia menoleh ke arah tikungan, lalu mengembuskan napas panjang.
“Yang mana, ya? Di situ mah sering, Neng. Tikungannya tajam, motor sering ngebut.” Ia meletakkan gelas di hadapanku. “Tapi kalau yang bikin heboh, memang ada. Anak muda. Naik motor. Malam-malam.”
Dadaku berdenyut. “Lalu bagaimana, Pak?”
“Ya, dibawa ambulans. Ramai sekali waktu itu. Polisi juga datang.” Bapak itu mengangkat bahu. “Tapi anehnya, besoknya sudah sepi lagi. Tidak ada yang tanya-tanya. Biasanya kalau ada yang meninggal, keluarganya suka datang, pasang bunga, begitu.”
Aku bergeming.
Tidak ada yang datang. Tidak ada bunga. Tidak ada siapa pun.
“Bapak yakin anak muda itu meninggal?”
Bapak itu tertawa kecil, seolah aku baru saja menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal. “Lah, saya mana tahu, Neng. Saya cuma lihat dia diangkat ke ambulans. Setelah itu, ya, sudah. Kenapa memangnya? Kenal?”
Aku menggeleng cepat. “Tidak. Cuma penasaran.”
Aku meninggalkan uang di atas meja dan bangkit tanpa menghabiskan es tehku. Kedua kakiku terasa lemas. Kepalaku dipenuhi oleh terlalu banyak pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk hingga membuatku sesak.
Kalau aku memang meninggal di jalan ini, kenapa ingatanku justru memperlihatkan sebuah ruangan yang pengap? Kenapa aku mengingat bantal, bukan aspal? Dan kenapa tidak ada seorang pun yang datang ke tempat ini untuk mengenangku?
Ada sesuatu yang salah. Aku merasakannya. Sayangnya, aku belum tahu apa.
••••••••
Matahari sudah condong ke barat ketika aku sampai kembali di depan rumah Raya. Aku membuka pagar, melangkah masuk, lalu duduk di teras selama beberapa menit hanya untuk menenangkan diri.
Kemudian, aku melepaskan tubuh gadis itu.
“Akhirnya!” pekik Raya begitu ia kembali menguasai tubuhnya sendiri. Ia meregangkan kedua tangan tinggi-tinggi, lalu melirik ke arahku dengan tatapan menyelidik. “Kau ini apa-apaan? Kenapa badanku pegal sekali? Kau membawanya ke mana saja?”
“Bukan urusanmu.”
“Bukan urusanku?” Raya membeliak. Ia menunduk, menatap sepatunya yang berdebu tebal, lalu mengangkat wajah lagi. “Bintang, sepatuku kotor sekali. Kau menyeret tubuhku ke tempat seperti apa, huh?”
Aku membuang muka. “Tempat yang jauh.”
“Kekasihmu tinggal di tempat berdebu seperti itu?”
Aku terdiam. Sungguh, aku memang tidak pandai berbohong dua kali dalam satu hari.
Raya mengembuskan napas panjang. Anehnya, gadis itu tidak marah. Ia justru duduk di sampingku, di anak tangga teras, sambil melepas sepatunya yang kotor. Untuk beberapa saat, kami berdua hanya diam menatap langit yang perlahan berubah menjadi jingga.
“Kau tahu, Bintang,” ucap Raya akhirnya, “wajahmu sedang jelek sekali sekarang.”
“Apa?”
“Wajah orang yang sedang menyembunyikan sesuatu itu memang selalu jelek.” Raya menyunggingkan senyum kecil, lalu bangkit sambil menenteng sepatunya. “Terserah kau saja. Aku tidak akan bertanya. Tapi kalau suatu hari nanti kau butuh tubuhku lagi untuk urusan yang berdebu itu, katakan saja yang sebenarnya. Aku tidak sebodoh yang kau kira. Mengerti?”
Aku mendongak, menatap punggung gadis itu yang melangkah masuk ke dalam rumah.
“Raya.”
Gadis itu berhenti.
“Kuisnya sudah kukerjakan. Empat puluh menit. Aku yang pertama mengumpulkan.”
Raya berbalik dengan mata yang membulat sempurna. “APA? Kau gila? Seorang Raya Putri mengumpulkan kuis Kanji paling pertama? Astaga, Bintang! Sekarang Hiroshi sensei pasti mengira aku menyontek!”
“Bukankah kau memang ingin nilai bagus?”
“Nilai bagus, bukan kecurigaan!” Gadis itu menghentakkan kaki, lalu masuk ke dalam sambil menggerutu panjang lebar tentang betapa menyebalkannya sesosok arwah yang menumpang di tubuhnya.
Aku tertawa kecil. Entah sudah berapa lama aku tidak tertawa seperti ini.
Namun, ketika langit benar-benar berubah gelap dan rumah itu menjadi sunyi, tawaku menghilang begitu saja. Aku duduk sendirian di atas pagar teras, menatap jalanan kompleks yang lengang. Bayangan tadi siang kembali datang. Ruangan yang pengap. Punggung yang remuk. Bantal yang menekan wajahku.
Dan sebuah suara yang tertawa.
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Sungguh, aku ingin percaya jika aku hanya berhalusinasi. Namun, semakin aku berusaha melupakannya, semakin jelas suara itu terdengar di dalam kepalaku.
Besok hari libur. Raya pasti akan menghabiskan seharian penuh dengan bermalas-malasan di kamarnya. Dan aku? Aku masih memiliki terlalu banyak waktu, dan terlalu sedikit jawaban.
Mungkin sudah saatnya aku berhenti mencari di jalanan.
Mungkin sudah saatnya aku pulang ke rumahku sendiri.