"Terima kasih. Ambil saja kembaliannya untukmu, Bu,” tutur Arsen lembut kepada seorang wanita paruh baya di hadapannya yang berjualan surat kabar di tepi jalan.
Kedua netra Ibu itu pun langsung berbinar senang. “Waaah … terima kasih, ya, Nak.”
Arsen tersenyum seraya melenggut. Kemudian, ia pamit dan melangkahkan kedua kakinya untuk pulang ke rumahnya. Netranya menatap koran yang baru saja dibeli di genggamannya. Ia terkekeh, sebab koran tersebut berisikan berita pagi di mana dirinya telah membacanya di Rumah Sakit. Ia sendiri pun bingung, kenapa dirinya membeli koran tersebut? Entahlah. Arsen bergedik. Anggap saja ia telah membantu si Ibu menghabiskan barang dagangannya dengan membeli koran tersebut.
Pandangan Arsen menjelajah ke sekitar jalan. Masih banyak orang berlalu-lalang di depannya. Ah, Ibu Kota memang tidak pernah sepi walau telah larut seperti ini. Namun, tidak lama kemudian, netranya terpegun saat menemukan sesosok arwah tengah terduduk di halte bus dengan wajah yang tampak menyedihkan. Sepertinya, ia mengenal arwah tersebut. Akhirnya, ia memutuskan untuk menghampirinya.
Arsen duduk di samping arwah Bintang. Membenarkan letak kaca mata, kemudian membuka lebar-lebar koran yang dibawa dan berpura-pura membacanya. Sedangkan, Bintang hanya mengamati laki-laki di sampingnya itu. Ia seperti tidak asing dan pernah melihatnya. Sayangnya, ia lupa di mana. Detik kemudian, ia memilih kembali menatap ke arah jalan raya yang sudah mulai sepi. Berharap ada sebuah ide yang akan datang menghampiri terkait apa yang harus dilakukannya untuk memulai penyidikkan atas kasus kematiannya.
“Bantu laki-laki yang menabrakmu tadi.”
Arsen melenggut mantap, saat ucapan sang nenek terngiang di benaknya. Ia sangat yakin jika yang dimaksud oleh neneknya saat itu, ialah Bintang yang saat ini ada di sampingnya. Ia akan memanfaatkan kemampuan ESP-nya untuk membantu laki-laki itu. Namun, ia tidak akan memberitahu Bintang perihal dirinya yang mampu melihat arwah itu. Kini, ia pun yakin jika arwah itu tengah merasa bingung. Ia tersenyum kecil. Sesuatu yang menarik baru saja melintas di benaknya. Kemudian, ia berdehem kecil.
“Wow, hebat sekali anak ini,” seru Arsen tiba-tiba, dengan pandangan tetap tertuju ke arah koran yang sedang dibacanya. Membuat Bintang terkejut dan menoleh ke arah laki-laki berkulit putih di samping kirinya.
“Liam mendatangi lokasi kejadian untuk menemukan bukti dari sang pelaku yang membunuh kakaknya.”
Arsen sengaja membaca keras-keras berita yang ada di koran. Walau pada kenyataannya bukan berita seperti itu yang sedang dibacanya. Melainkan, sebuah gambar Ibu Kota yang sedang terendam banjir di sana. Ia hanya sedang memberitahu Bintang akan apa yang harus dilakukan laki-laki itu.
Arsen bergeming. Ia menoleh sekilas ke samping dan terkekeh kecil saat melihat raut wajah Bintang yang berbinar senang. Sepertinya, rencana untuk memberikan sebuah ide kepada arwah itu telah berhasil dengan sempurna. Sedangkan, Bintang tertegun. Kenapa ia tidak memikirkan hal itu sejak awal? Ya, hal pertama yang harus dilakukannya, ialah pergi ke lokasi kecelakaan untuk mencari tahu penyebabnya.
Bintang melenggut mantap. Ia sudah putuskan jika esok akan menyelidiki kasus kematiannya seorang diri.
“Maafkan aku, Raya. Aku terpaksa harus berbohong kepadamu.”
••••••••
Aku melangkahkan kedua kaki di sepanjang koridor Kampus pagi ini. Semalam aku memaksa Raya agar mengatur jam weker menjadi pukul setengah tujuh pagi. Supaya hari ini aku tidak terlambat masuk ke kelas lagi.
Aku sedikit terkejut, ketika melewati sebuah cermin yang tertempel di sebuah dinding. Namun, detik setelahnya aku mengembuskan napas lega saat menyadari sesuatu. Sebab, wajah yang kulihat sekarang adalah wajah Raya. Ya, tentu saja. Tidak mungkin bisa ada wajah seorang Bintang berkeliaran lagi di dunia ini. Ah, sepertinya aku harus mulai membiasakan diri.
“Raya,” kata sebuah suara yang sangat kukenal.
Aku mengangkat kepala, saat yang sama bayangan wajah Andra terpantul di cermin. Aku membalikkan tubuh Raya. Jika aku masih menggunakan tubuh Bintang, maka aku sudah memeluknya dan tertawa renyah dengannya. Sayangnya, aku harus berakting menjadi seorang gadis yang angkuh sekarang. Apalagi mengingat bagaimana sikap Raya terhadap Andra kemarin. Tidak lucu, kan, jika tiba-tiba seorang Raya tersenyum lebar pada Andra dan memeluknya?
“Kelas kita searah, kan?”
Aku dan Andra sama-sama terdiam selama perjalanan menuju ke kelas. Aku merasa begitu canggung jika harus berakting seperti ini. Padahal sebenarnya aku ingin bercerita banyak hal pada Andra. Namun, karena sikap angkuh Raya, membuatku harus seperti ini.
“Raya,” ucap Andra memecah keheningan di antara aku dan laki-laki itu.
Aku hanya menoleh ke arahnya. Aku berharap dia bisa memulai obrolan yang menyenangkan.
“Apa kau pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang bernama Bintang Pradipa?”
Aku? Kenapa Andra tiba-tiba malah membicarakanku? Tunggu, aku baru ingat tentang satu hal. Apakah Andra tahu kalau aku sudah meninggal?
“Dia sahabatku, sahabat terbaikku. Tapi ketika aku tiba di Jakarta, aku malah menerima kabar buruk kalau dia telah meninggal dalam sebuah kecelakaan,” ceritanya dengan wajah pilu.
Aku merasakan bulu romaku berdiri. Bagaimana mungkin aku bisa mendengar sahabatku sendiri menceritakan tentang diriku yang sudah meninggal? Sungguh, mungkin aku tidak bisa memercayainya. Namun, ini semua adalah kenyataan terpahit yang harus kuterima.
“Aku sangat kehilangannya. Dia adalah orang yang baik dan penyayang. Yah, walaupun dari luar dia terlihat dingin dan tidak banyak bicara, tapi dia adalah orang yang hangat. Ia bisa menjadi sahabat yang baik, ketika aku senang maupun sedih. Kau tahu? Betapa senangnya aku memiliki sahabat sepertinya.”
Terima kasih Andra. Aku juga senang memiliki seorang sahabat sepertimu. Itulah kalimat yang sangat ingin kukatakan saat ini. Aku ingin berkata jika Andra juga sangat baik padaku. Andra adalah orang yang sangat ramah dan hangat. Ia selalu bisa membuatku tertawa dengan tingkahnya yang aneh.
“Raya, aku sudah sampai di kelasku,” ujar Andra menghentikan langkah kami berdua. Aku menatap Andra yang sedang tersenyum.
“Terima kasih karena mau mendengar ceritaku,” ucapnya ramah.
Aku memberikan sebuah senyum tipis padanya. Maaf Raya, aku tidak bisa bersikap angkuh pada sahabatku sendiri. Kemudian aku kembali melanjutkan langkahku. Namun, tidak lama kemudian, aku berbalik kepada Andra lagi. “Andra,” panggilku dan untungnya Andra masih mendengarnya.
“Ya?”
“Kau. Kau juga orang yang baik.”
•••••••
“Kau juga orang yang baik?” Raya menirukan gaya Bintang berbicara dengan kesal. Ia menggigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa Bintang yang tadi merasukinya telah mengatakan serentetan kalimat yang menurutnya tidak akan pernah keluar dari mulutnya sendiri?
“Maaf. Aku tidak tega padanya. Ia terus menceritakan diriku,” sesal Bintang sambil menunduk.
Raya berdecak kesal. Ia benar-benar merasa dikerjai jika seperti ini caranya.
“Kau marah padaku?” tanya Bintang was-was. Sebab, jika Raya benar-benar marah kepadanya, sudah pasti ia tidak akan bisa meminjam tubuh gadis itu untuk melakukan rencananya semalam.
Raya menghela napas pendek. “Maaf. Aku memang sedikit kesal padamu. Tapi tidak ada gunanya juga, kan, kalau harus marah-marah sementara semuanya sudah terlanjur terjadi. Kali ini aku memaklumimu Bintang, tapi mungkin lain kali tidak.”
Bintang tertegun. Lalu, terdiam. Ia memang lega karena Raya tidak jadi marah padanya. Namun, ia hanya merasa aneh.
“Kau terkejut?” tanya Raya sambil mengangkat satu alisnya. “Well, kau harus masuk ke dalam tubuhku lagi.”
“APA?”
“Hari ini aku ada kuis Kanji. Kau tahu, kan, semalam bahkan aku tidak menyentuh buku sama sekali.”
“Tunggu,” sela Bintang. Sedangkan Raya menatapnya heran. “Bolehkah aku meminjam tubuhmu untuk menemui kekasihku?” dustanya kemudian. Ia tidak ingin Raya mengetahui rencananya. Sebab, ia takut jika Raya tidak akan mau meminjamkan tubuh gadis itu untuknya.
Raya terperangah. “Aku baru tahu kalau kau punya kekasih?” Namun, sesaat kemudian ia berpikir. “Terserah kau saja karena pulang kuliah aku juga tidak ada kegiatan. Cepat, sebelum ada yang melihat!”
“Baiklah!” sahut Bintang sambil tersenyum lebar. Ia pun melangkah mendekati tubuh Raya, lalu meletakan tangan ke kening gadis itu. Dan saat yang sama arwahnya berhasil menyatu dengan tubuh Raya.