Raya terperangah hingga kedua netranya terbelalak. “APA? Aku? Kau gila, ya? Bagaimana mungkin dia bisa menyukaiku? Aku bahkan tidak tahu wajahnya seperti apa.” Sesaat Raya menjeda ucapannya. Netranya menatap tajam Bintang. “apa tadi kau menggodanya?” selidik Raya yakin.
“Tidak. Tidak!” Bintang langsung menepisnya. “Mana mungkin aku menyukai laki-laki? Dia sahabatku,” aku Bintang.
“Sahabat? Jadi kau bersekongkol dengannya untuk memata-mataiku?”
“Untuk apa memata-mataimu? Dia hanya menyukaimu sejak lama. Aku juga tidak tahu alasannya, yang jelas dia menyukaimu sejak menemukan fotomu saat OSPEK di antara koleksi foto-fotoku di ponsel. Kau tanyakan sendiri padanya,” jelas Bintang panjang lebar. Sementara Raya berdecak kecil.
“Bisakah kau belajar menyukainya juga?”
“APA?!” seru Raya sambil membesarkan kedua matanya kembali. “Hei, apa sekarang kau sudah merasa berhak mengatur hidupku? Menentukan siapa laki-laki yang bisa kusukai dan tidak? Siapa kau? Kau bukan orang tuaku, bukan--”
“Aku mohon …,” pinta Bintang dengan wajah memelas.
Raya termenung. Tidak biasanya Bintang seperti ini. Apa laki-laki yang bernama Andra itu begitu penting untuknya? Atau apakah Bintang sedang melakukan balas budi?
“Aku hanya ingin membahagiakannya, karena dia sahabatku dari kecil,” timpal Bintang dengan wajah sedih.
Raya menghela napas beratnya. “Kau tidak memberiku kesempatan untuk melihatnya dulu?”
Wajah Bintang langsung berbinar-binar senang. “Benarkah? Jadi kau mau mengenalnya?” tanyanya bertubi-tubi.
“Aku hanya melihat dulu, mengerti?” Raya menegaskan kalimatnya.
“Tapi kau pasti akan menyukainya. Aku yakin.”
Raya tertawa kecil. Ia menjadi penasaran dengan laki-laki itu. Siapa dia sebenarnya? Kenapa bisa menyukainya diam-diam, sedangkan ia sendiri tidak pernah tahu wajahnya seperti apa. Ya, Tuhan … bagaimana mungkin bisa ada laki-laki sepertinya? Aneh!
••••••••
“Aku akan menunjukkannya padamu,” ujar Bintang yang mengikuti Raya di sisinya.
Raya hanya melihatnya sekilas, tanpa jawaban. Ia tidak mau disangka gila oleh teman-temannya karena berbicara sendiri.
Raya melihat gerombolan para gadis di depan kelas C, di Fakultas Sastra. Ada apa di sana? Apa sedang ada bocoran soal ujian kuis? Entahlah. Ia tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti itu.
“Raya, kenapa kau melewatinya. Di sana ada Andra,” beritahu Bintang menghentikan langkah Raya. Gadis itu pun berbalik dan menatap Bintang dengan tatapan apa-aku-harus-melihatnya. Sedangkan Bintang hanya melenggut.
Raya melengos. Akhirnya ia melangkahkan kakinya ke gerombolan itu. Ia hanya melakukan hal-hal yang sewajarnya. Tidak sampai berteriak seperti yang lainnya. Ia sampai ingin menyumbat telinganya sendiri. Apa konser Hey, Say Jump! telah dipindahkan ke Kampusnya?
“Kau terlihat cuek sekali,” kata Bintang. Sedangkan, Raya hanya mengangkat bahunya.
Mendadak tubuh Raya terdorong oleh gadis-gadis di depannya. Ia hampir jatuh jika tidak bisa menjaga keseimbangannya.
“Raya, Andra sedang mendekat. Kau siap-siap. Mengerti?” aba-aba Bintang dan lagi-lagi Raya memperlihatkan wajah acuh tak acuhnya.
Tanpa menunggu lama, seorang laki-laki menghentikan langkahnya di depan Raya. Laki-laki itu tampak terkejut ketika melihatnya. Raya masih terdiam tenang. Jadi, dia yang bernama Andra? Well, tidak terlalu buruk memang. Tampan. Namun, ia tidak mudah tertarik dengan seorang laki-laki yang baru saja dikenal.
“Raya Putri,” panggil Andra seraya menatapnya lembut.
“Eh? Kau tahu namaku?” balas Raya tidak percaya. Apakah laki-laki ini semacam stalker? Mengerikan sekali ….
“Begitulah,” jawab Andra seraya tersenyum kecil.
Raya bisa melihat laki-laki di depannya ini sedikit gugup. “Siapa namamu?” tanya Raya. Ia juga harus bersikap normal dengan pura-pura tidak tahu. Tidak lucu, kan, seandainya tiba-tiba ia mengatakan bahwa sudah tahu namanya dan tahu jika laki-laki ini menyukainya.
“Keyandra. Apa kau mau makan denganku di kantin?” tawar Andra sambil mengulurkan tangannya pada Raya. Sementara semua gadis di sekitar mereka langsung berteriak histeris.
Raya melihat uluran tangan itu sambil tertawa kecil. Ia melirik Bintang sebentar, memastikan jika laki-laki itu melihat tingkah sahabatnya ini. Dan reaksi Bintang malah menyuruhnya untuk menyanggupi tawaran Andra.
Raya mengalihkan pandangannya kepada Andra. Ia menatap kedua netranya dengan berani. “Maaf Andra. Tapi, aku bukan tipe gadis seperti itu,” jawab Raya angkuh. Kemudian, berjalan pergi meninggalkan Andra yang masih mengulurkan tangannya.
Raya tidak memedulikan semua gadis yang mencibirnya. Ia hanya melakukan apa yang dikatakan hatinya. Raya telah menanamkan satu hal pada dirinya. Bahwa siapapun Andra, ia tak akan peduli. Karena laki-laki itu memang tidak menarik perhatiannya sedikit pun.
••••••••
Bintang berlarian kecil mengejar Raya. Gadis itu berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Bintang sampai dibuat heran dengan tingkahnya. Apa Raya marah?
“Hei, Raya!” seru Bintang. Namun, Raya malah pura-pura tidak mendengar.
Akhirnya Bintang memilih untuk membungkam mulutnya dan tetap berjalan mengikuti. Memaksa Raya untuk berbicara kali ini mungkin akan sia-sia saja.
Tanpa Bintang duga, ternyata langkah kaki Raya berbelok ke Perpustakaan. Bintang mengerutkan keningnya samar. Mau apa dia ke sana? Bintang pun mempercepat langkahnya. Ia mengikuti Raya sampai gadis itu menghentikan langkah di antara rak-rak buku yang cukup sepi.
Tiba-tiba, gadis itu membalikkan tubuhnya. Membuat Bintang sedikit tersentak kaget.
“Kau tahu kenapa aku kesal?” tanya Raya berbisik. Walaupun di sekitar mereka tidak ada seorang pun yang melintas, akan tetapi Raya tetap berjaga-jaga.
Bintang menggeleng. “Aku tidak tahu, memangnya apa yang membuatmu kesal?”
“Aku tidak suka temanmu itu. Mengerti?”
Bintang terkejut dengan pengakuan Raya barusan. “Kenapa? Bukankah dia tampan? Menurutku dia juga cukup ramah. Lalu, hal apa yang tidak kau sukai darinya?”
“Astaga, apa kau tidak lihat tadi? Tiba-tiba saja dia menyebut namaku. Dan sok kenal denganku lagi. Ish ... menjijikan!” jelas Raya sambil menggerakkan bahunya, bergidik ngeri. “Dengar, ya! Aku tidak mau berurusan dengannya. Jadi jangan harap kau bisa memintaku untuk menyukainya juga. Mengerti?” tegas Raya, lalu pergi meninggalkan Bintang sendiri.
Bintang menatap kepergian gadis itu sambil mendesah kecil. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukannya? Karena salah satu tujuannya masih ada di dunia ini, ialah supaya Andra dan Raya bisa bersama sebagai pasangan kekasih. Ia memang tidak pernah berjanji, tapi sangat ingin melakukannya. Sebab, Andra adalah sahabat terbaiknya. Namun, kenapa berbuat baik saja rasanya sangat sulit?
••••••••
Sore merangkak malam. Bulan dan bintang telah memancarkan sinar indahnya dari atas langit sana. Di bawahnya, Bintang berjalan gontai di tepi jalan tanpa tujuan. Pandangannya terus menatap kosong ke depan. Hingga, tidak sadar jika tubuhnya berkali-kali berhasil lolos saat orang-orang menabraknya.
Bintang mendesah pelan. Kemudian, mendaratkan bokongnya di sebuah halte bus yang ramai akan orang-orang menunggu bus. Kini, pandangannya menerawang ke arah jalan di mana banyak kendaraan mobil dan motor berlalu-lalang. Kini, benaknya telah berhasil menembus batas waktu saat satu minggu yang lalu. Di mana ada seseorang berjaket hitam yang telah mencoba menyekapnya menggunakan bantal. Hingga kehabisan napas.
Bintang merasakan sakit luar biasa, saat mencoba menggerakkan tubuhnya untuk melawan orang itu. Sakit sekali. Sialnya, tenaganya terlalu lemah, sehingga orang berjaket hitam itu bisa lebih leluasa untuk menindih tubuhnya dan semakin kuat menekan bantal. Oh, ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan? Ia sulit untuk bernapas, tenggorokannya terasa tercekat, dan dadanya begitu sesak.
Seberapa kuat, Bintang berusaha melawan, hanya rasa sakit pada sekujur tubuh yang dirasakannya. Sungguh, ia tidak mau mati sekarang. Akan tetapi, kenapa dadanya terasa begitu sakit?
“Kau harus mati! Mati! Mati! Hahaha.”
Bintang merasa semakin sulit untuk bernapas. Detak jantungnya terasa tidak keruan. Berdebar-debar kencang, akan tetapi denyut nadinya melemah, bersamaan dengan napas yang tersengal-sengal. Pun, keringat dingin mulai merebak. Namun, ia harus mempertahankan kesadarannya sekarang. Ia tidak boleh mati. Akan tetapi, kepalanya terasa begitu berat.
“Bagaimana? Sudah tidak terasa sakit, bukan?”
Mendadak tenggorokan Bintang tercekat. Napasnya megap-megap, seiring dengan tubuhnya yang terlonjak. Dan lama-kelamaan, ia tidak bisa bernapas. Kedua matanya membeliak, bersamaan dengan air mata yang mulai merebak pelan. Tubuhnya mulai terkulai lemas. Pun, denyut jantungnya perlahan mulai berhenti berdetak. Tuhan … ia belum siap jika harus meninggalkan dunia secepat ini. Namun … kenapa semuanya mendadak menjadi gelap? Apakah tak ada lagi kesempatan untuk dirinya hidup di dunia ini?
Mendadak d**a Bintang bergemuruh hebat. Netranya kini seakan mengobarkan api kemarahan ketika memori kelam itu terlintas di dalam benaknya. Tanpa sadar, kedua tangannya telah terkepal erat. Ia tidak boleh berdiam diri saja seperti ini. Tujuan utama dirinya masih berada di dunia ini karena ia ingin menemukan siapa orang yang berjaket hitam itu. Dan tentu saja ia akan membalas dendam.
Entah apa alasan orang itu membunuhnya. Pasalnya, yang Bintang tahu jika dirinya merupakan orang baik yang tidak memiliki musuh sama sekali.
Bintang mengembuskan napas beratnya, saat yang sama kobaran amarah yang mendekap diri seketika mereda. Seharusnya, ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang telah Raya berikan kepadanya. Dengan tubuh gadis itu ia bisa melakukan apapun untuk memulai penyidikkan. Kendati begitu, ia bingung sekarang. Apa yang harus dilakukannya untuk memulai penyelidikan atas kasus pembunuhannya? Oh, astaga! Kenapa di saat seperti ini otaknya tidak mampu untuk berpikir?