KRIIIIIIINGGGG ….
Suara jam weker telah berhasil membangunkan Raya. Ia menggeliat sambil menggerutu tidak jelas, suatu kebiasaan aneh yang sudah dilakukan selama 16 tahun terakhir.
Raya membuka kelopak matanya yang berat. Sinar matahari yang teduh menyusup malu-malu melalui tirai jendelanya. Lalu, ia terduduk sambil mengusap matanya. Sekarang yang ia lakukan ialah mengembalikan semua memorinya. Ya, setiap bangun tidur Raya selalu kehilangan memori-memori yang baru saja terjadi kemarin. Hingga ia harus mengingat semua itu lagi untuk melanjutkan hidupnya.
Tiba-tiba matanya langsung terbuka lebar begitu mengingat sesuatu. Ia meraba-raba tubuh dan kepalanya. Lalu, ia memperhatikan keadaan sekitarnya. Belum juga menemukan jawaban pasti, ia meloncat dan melihat bayangan dirinya di depan cermin.
“Aku belum masuk ke dalam tubuhmu, Raya,” ujar Bintang yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang tubuh Raya.
Raya langsung membalikkan tubuhnya. Kibasan rambutnya nyaris mengenai wajah Bintang hingga laki-laki itu menghindar sedikit. Padahal, tanpa menghindar pun rambut panjang itu tidak bisa mengenai wajah laki-laki itu.
“Aissh, kau mengejutkan saja!” gerutu Bintang kesal.
“Sudah, mandi sana! Aku tidak sabar ingin masuk ke dalam tubuhmu,” suruh Bintang kemudian.
Raya mencibir. “Mengerti. Hei, tapi kau jangan mengintip! Dengan keadaanmu yang seperti ini kau bisa saja, kan, menembus kamar mandiku dan melihatku mandi? Oh, ya Tuhan! Aku tidak bisa memercayai laki-laki sepertimu!”
“Cih,” Bintang terkekeh kecil. “Sudah kubilang, aku tidak tertarik dengan tubuh kurus seperti itu. Sudah cepat! Aku tidak mau masuk ke dalam tubuhmu kalau kau terlambat ke Kampus!”
Lima belas menit setelahnya, Raya sudah berada di depan cermin sekarang. Ia menyisir rambut panjang dan menyemprotkan parfum ke area lehernya. Setelah itu, merapikan pakaiannya. Ia memang bukan termasuk mahasiswi yang pintar, tapi soal penampilan sudah pasti tidak ingin terlihat acak-acakan seperti anak brandalan.
Sementara Bintang yang berada di atas lemari Raya hanya memperhatikan gadis itu dalam diam. Ia berpikir, boleh juga style ala Raya. Setidaknya, ia nanti tidak akan menanggung malu karena akan masuk ke dalam tubuh seorang mahasiswi yang bodoh.
Raya membalikkan badannya. Ia kesal melihat Bintang yang seenaknya saja sudah duduk di atas lemari pakaiannya. “Bintang, aku sudah siap,” ujarnya mantap.
Bintang pun melompat ke bawah. “Kau tidak akan mengatakan sesuatu?”
“Mm … ah, aku lupa. Begini, namaku adalah Raya Putri. Aku adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jepang kelas F. Jangan sampai salah masuk kelas, mengerti? Aku memiliki Ayah dan Ibu. Tapi tenang saja, mereka sedang ke luar negeri sekarang. Hal yang biasa kulakukan di dalam kelas adalah tidur. Oh ya, sebaiknya kau hindari Hiroshi sensei karena ia sangat tidak suka padaku. Dan jangan coba-coba menantangnya karena hukumannya sangat mengerikan. Mengerti?”
Bintang hanya manggut-manggut malas. “Aku sudah tahu tanpa kau beritahu, Raya.”
“Astaga! Kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Kau terus bicara, sih,” bela Bintang santai. Kemudian, ia menatap tubuh Raya. “Raya, bisakah kau pejamkan matamu?”
“U-untuk apa? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Raya tidak yakin.
“Untuk memasukkan arwah ku ke dalam tubuhmu. Cepat!” suruh Bintang. Sementara, Raya melakukannya. Ia sudah memasrahkan semuanya.
Bintang memejamkan mata sejenak. Setelah membulatkan niat, ia pun berjalan cepat ke arah Raya. Lain dari biasanya, kali ini tangannya bisa memegang pundak Raya. Bintang tersenyum, gadis itu masih terdiam sambil memejamkan matanya. Tanpa pikir panjang lagi, Bintang menempelkan tangannya ke kepala Raya dan saat itu juga arwahnya berhasil menyatu dengan tubuh Raya.
••••••••
Aku membuka kedua kelopak mata ini. Setelah itu, aku pun melihat keadaan kamar yang tidak begitu berantakan, akan tetapi tidak serapi kamarku. Ruangan yang serba putih. Lalu, aku melihat kedua telapak tanganku. Dan pakaian yang kupakai … rok pendek? Rambut panjang tergerai, kulit putih dan kaki yang langsing. Oh, astaga! Sepertinya kau harus menguatkan dirimu Bintang!
Beberapa saat kemudian, aku memutuskan untuk berbalik. Di mana ada sebuah cermin di belakangku. Kini yang kulihat adalah wajah seorang gadis, bukan lagi wajah laki-laki tampan yang aku banggakan. Mata itu sudah berubah lebih kecil, tidak sebesar punyaku dulu. Dan bibir ini … bibir yang tipis, tidak setebal punyaku. Aku memegang wajah ini. Wajah Raya. Aku sedikit terkejut menghadapi semua kenyataan ini. Aku, Bintang yang tampan, kini sudah berubah menjadi seorang gadis?
“Raya Putri?” Aku menangkupkan mulutku. Ya, Tuhan. Bahkan, suaraku pun berubah menjadi suara seorang gadis. Dan rasanya … kenapa begitu menyesakkan?
Aku mencoba untuk tersenyum dan mendesah kecil. Bahkan aku tidak bisa melakukan senyuman cool yang dulu sangat mudah kulakukan. Aku meminjam tubuh Raya, semua bagian dari tubuhnya. Dan parahnya, aku tidak bisa menemukan satupun kesamaan dengan tubuhku dulu.
Menyebalkan!
••••••••
Dasar Raya yang bodoh! Bagaimana bisa ia menyetting jam wekernya pukul tujuh? Bukankah itu sama saja dengan terlambat datang ke Kampus? Alhasil, aku harus berlarian dari halte bus dengan badan sekurus ini. Oh, astaga! Andai saja jika tubuh Raya sedikit lebih berisi, mungkin aku bisa mempercepat lariku.
Akhirnya, aku berhasil sampai di Kampus lima menit setelah mata kuliah dimulai. “Maaf, aku terlambat,” ujarku seraya menetralisir napas yang megap-megap.
Selama aku menjadi seorang mahasiswa, aku tidak pernah sekalipun terlambat. Dan karena Raya, sekarang aku merasakannya.
Netraku menjelajah ke sekitar kelas dan melihat semua orang menatapku dengan aneh. Aku mengerutkan kening. Kenapa reaksi mereka seperti itu? Bukankah wajahku normal-normal saja? Sebagai Raya?
“Kau siapa?” tanya sang dosen sambil menatapku datar.
“Hah?” tanyaku tidak mengerti.
Sesaat kemudian mataku tertuju pada sebuah kursi kosong di depanku. Bukankah ini kursiku? Tunggu, jika ini kursiku berarti Raya tidak akan berada di kelas ini, kan? Dan itu artinya ….
“Maaf, aku salah kelas. Maaf, Maaf,” kataku berkali-kali. Kemudian langsung berlari meninggalkan kelas itu.
••••••••
Aku memperhatikan semua orang di kelas Raya. Aneh sekali, walaupun aku tadi datang terlambat, tetapi dosen tidak menanyaiku. Dan tidak ada satupun orang yang mengajak Raya berbicara. Apa Raya memang terasingkan di kelasnya? Kasihan sekali hidupnya.
Aku pun kembali memfokuskan pada apa-apa saja yang diterangkan dosen di depan kelas. Bagiku semua mata kuliah di kelas Raya sangat mudah untuk kumengerti. Bukannya sombong, tapi aku memang merasa seperti itu.
Kini, aku mengeluarkan buku-buku dari dalam tas Raya. Mendadak netraku terbelalak. Gadis ini tidak membawa buku cetak satupun? Ia hanya membawa empat buku tulis, sebuah bolpoint, ponsel dan dompet? Oh, astaga ....
Akhirnya, aku mengeluarkan buku tulis berwarna hijau di sampulnya. Baiklah, kita lihat apa saja pelajarannya selama ini.
Tadaaa! Apa? Apa-apaan ini? Kenapa tidak ada satu tulisan pun di buku Raya? Jadi, selama ini apa yang dikerjakan di kelasnya? Pantas saja ia selalu mendapat IPK yang terendah di Kampus. Astaga, menyusahkan sekali!
“Raya!” tegur dosen yang tidak kukenal itu.
“Ya?” jawabku kaget.
“Apa kau akan mulai tidur lagi di pelajaranku?”
“Ah, tidak. Tidak,” ujarku sambil tersenyum.
“Sekarang kau kerjakan soal kanji di depan!” perintahnya sambil menunjuk papan tulis dengan tongkat kecil di tangannya.
“Baiklah,” sanggupku lalu berdiri dan berjalan ke depan. Ah, aku sudah hafal bagaimana cara menulis kanji pada hiragana di papan.
“Shinkansen,” batinku.
Aku tersenyum kecil, kemudian langsung menuliskan kanjinya sesuai dengan urutan tata cara penulisannya. Apa sekarang semua orang sedang menatapku takjub? Aku, Bintang yang kini hidup di dalam tubuh Raya, si gadis paling bodoh di Kampus.
“Apa? Ra-Raya?” ucap dosen takjub begitu aku menyelesaikan soal itu.
Aku tersenyum dan membungkukkan badan. Kemudian, kembali ke tempat dudukku. Benar dugaanku, semua orang menatapku dengan tatapan kagum dan tidak percaya. Mungkin yang ada di pikiran mereka sekarang ialah apakah Raya sedang kerasukan hantu jenius? Ya, mereka benar. Walaupun aku masih tidak rela jika diriku di sebut dengan hantu.
••••••••
Mata kuliah selanjutnya masih akan dimulai sekitar satu jam lagi. Sedangkan aku masih bingung harus melangkahkan kaki ke mana. Aku tidak ingin membuat orang-orang bingung dan curiga walau kemungkinannya sangat kecil. Jadi aku tidak akan pergi ke Perpustakaan, tempat yang biasa kutempati pada jam istirahat. Lalu, aku harus pergi ke mana?
Pada akhirnya, aku memilih melangkahkan kedua kakiku menuju ke kantin. Entah kenapa aku merasakan perut ini terus bernyanyi merdu meminta jatah makan siangnya. Baiklah, akan aku turuti keinginanmu!
“Aarrgghhh!!! Kenapa laki-laki itu tampan sekali?”
Aku menoleh ke arah sumber suara yang begitu riuh. Aku membalikkan tubuh. Kini, netraku menemukan segerombolan gadis yang sedang mengerumuni meja seorang laki-laki. Aku mengerutkan kening. Sepertinya aku mengenal laki-laki itu dari postur tubuh karena wajahnya tertutupi para gadis kecentilan itu.
Lalu, kulangkahkan kakiku mendekat padanya. Namun, baru beberapa langkah aku sudah bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Seorang laki-laki dengan rambut hitam kecoklatan, bertubuh kurus dan berkulit putih. Ia memiliki bekas tindik anting di telinga kirinya. Aku menyunggingkan senyum kecil. Pantas saja aku merasa mengenalnya.
Tiba-tiba laki-laki itu sudah berada di depanku. Ia menatapku setengah terkejut, tetapi seperti ada sebuah perasaan dalam ditatapannya itu.
“An ...,” panggilku, akan tetapi buru-buru kutahan. Oh, astaga! Aku hampir lupa jika sekarang aku ada di dalam tubuh Raya. Dalam keadaan seperti ini, tentu aku tidak boleh mengenalnya karena laki-laki itu akan curiga.
“Ha-hai,” sapa laki-laki yang kukenal bernama Andra itu dengan gugup. Terlihat jelas dari suaranya yang sedikit bergetar.
Jika aku ada di dalam tubuhku sendiri, mungkin aku sudah tertawa terbahak-bahak karena sikapnya. Andra, seorang laki-laki tampan yang selalu dielu-elukan para gadis ke mana pun ia melangkah. Dengan pesona ketampanannya itu, tentu ia tidak mempunyai masalah soal berbicara denga gadis mana pun. Namu, kali ini, aku melihat Andra mati kutu di depan Raya. Haha … sungguh menggelikan sekali!
Andra masih menatapku sambil tersenyum. Sekarang ia malah menggaruk tengkuknya. Ah, aku ingin mengerjainya. Aku pun berjalan meninggalkannya begitu saja. Sebab, aku ingin membuat kesan misterius pada diri Raya sehingga Andra akan semakin berusaha mengejarnya. Kita lihat apa saja yang akan dilakukannya untuk memikat Raya?
••••••••
Aku melarikan diri ke toilet. Ah, aku harus memasuki toilet perempuan juga. Aku terkekeh geli, bagaimana jika gadis-gadis itu tahu jika arwah di dalam tubuh Raya adalah seorang laki-laki? Mungkin aku sudah dipukuli lalu disidang ke ruang rektorat.
Aku berpura-pura merapikan rambutku di depan kaca wastafel. Sial, kenapa gadis-gadis itu tidak segera keluar, si? Aku membuat hentakan-hentakan kecil dengan kakiku. Aku ingin keluar dari tubuh Raya saat ini juga. Sebab, aku harus memberi tahu sesuatu padanya.
“Ayo,” ucap seorang gadis dan kedua temannya pun mengikutinya keluar dari toilet.
Aku mengembuskan napas lega. Setelah memastikan tidak ada orang lagi, aku langsung mengunci pintu dalam toilet dan berdiri di depan wastafel lagi. Setelah itu, aku mendorong tubuh Raya dan arwahku berhasil keluar dengan mudahnya.
•••••••
Raya merasakan ada yang mendorong tubuhnya begitu kuat hingga berhasil membuatnya sempoyongan dan nyaris jatuh. Perlahan ia membuka matanya dan terkejut. Kini yang dilihatnya adalah bayangan wajahnya sendiri di depan cermin. Raya mengernyit sambil memegang wajahnya. Lalu, ia mencari-cari Bintang.
“Maaf, aku keluar dari tubuhmu tiba-tiba,” kata Bintang yang sekarang sedang berdiri di depan bilik kamar mandi nomor satu di dekat pintu.
Raya menatapnya kesal. “Kenapa kau keluar di saat yang tidak tepat, sih? Masih di Kampus pula. Kau tidak takut kalau ada yang memergoki kita?”
“Percayalah padaku. Tidak akan terjadi apa-apa,” kata Bintang dengan entengnya, “oh ya, aku harus memberi tahu suatu hal padamu.”
“APA?”
“Ada mahasiswa baru di Jurusan Sastra.”
“Lalu?”
“Jangan menyela omonganku,” suruh Bintang sedikit galak dan melanjutkan kata-katanya lagi, “namanya Andra. Dia tampan dan banyak gadis yang menyukainya. Tapi, ia hanya menyukai satu orang gadis di Kampus ini.”
“Apa hubungannya denganku?”
“Aissh … kau?!” Bintang kesal hingga hampir saja memukul Raya. Namun, ia langsung menyadari jika tangannya bahkan tidak bisa menyentuh sejengkal pun tubuh Raya di saat seperti ini.
“Kenapa kau tidak bertanya ‘siapa gadis itu?’ kau benar-benar menyebalkan!” cerocos Bintang, lalu memalingkan wajahnya.
Raya menjadi bingung sendiri. Siapa yang berkata siapa juga yang kesal sendiri? Kenapa juga ia harus menanyakan hal itu?
Bintang kembali menatap Raya dengan ekspresi jengkelnya. Gadis di depannya ini benar-benar membuat kepalanya panas. “Oke, aku akan menjawab sendiri. Gadis yang disukai Andra adalah kau, Raya.”
Raya melotot. “APA?”