Arsen tiba di ruangannya. Ia langsung mendaratkan bokongnya di atas kursi. Lalu, menopang kepala dengan tangan kanan yang diletakkan di atas meja. Ia terkekeh kecil saat mengingat ekspresi wajah Raya yang tampak kebingungan tadi. Kejadian tersebut juga mengingatkannya akan peristiwa yang sama saat kali pertama bertemu dengan Bintang. Kini, benaknya telah berhasil menembus batas waktu satu minggu yang lalu, di mana dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan laki-laki itu di Perpustakaan.
Arsen menilik ke arah arloji di pergelangan tangannya. Pukul setengah enam sore yang tertera di sana. Setelah itu, pandangannya beralih ke arah kaca jendela dan mendapati hujan deras disertai kilat dari luar sana.
“Arsen, maaf aku telat. Aku terjebak macet karena hujannya deras sekali di luar,” tutur Bowo yang merupakan pengganti Arsen malam ini, yang saat ini sudah ada di samping laki-laki berkaca mata itu.
Arsen tersenyum. Ia pun merangkul temannya itu yang saat ini telah berdiri di depan layar komputer. “Tidak masalah. Asalkan, jangan sampai kau salah menuliskan tanggal pengembalian buku. Mengerti?”
Bowo melenggut. “Mengerti, Pak Dokter!” jawabnya seraya memasang hormat bendera.
Arsen terkekeh. Ia pun meninggalkan Bowo di meja receptionist seorang diri dan beralih ke rak barang untuk mengambil tas ranselnya. Lalu, buru-buru melangkahkan kedua kakinya keluar Perpustakaan. Namun, saat yang sama seorang lelaki tiba-tiba saja muncul dari balik pintu Perpustakaan. Dan ….
Bruuuukkk !
Nahas. Keduanya saling bertabrakan hingga terjatuh di atas lantai. Arsen meringis merasakan bokongnya terasa sakit. Sedangkan Bintang membeliak melihat seseorang telah jatuh tersungkur di hadapannya, akibat perbuatannya.
Bintang bangkit. Kemudian, segera mengulurkan tangannya untuk membantu laki-laki berkaca mata itu berdiri. “Ma-maaf, aku tidak lihat jika kau akan keluar,” terangnya.
Arsen menerima uluran tangan Bintang. Lalu, menepuk-nepuk b****g, membersihkan debu, yang menempel di sana. “Iya, tidak apa-apa. Aku juga salah karena tidak melihatmu tadi. Padahal, mataku sudah empat seperti ini,” candanya kemudian. Membuat Bintang terkekeh.
Arsen tersenyum. Namun, detik setelahnya terlonjak kaget saat netranya menemukan dokter Siska—dokter seniornya—telah berdiri di muka pintu ruangan seraya mengamatinya.
Siska berdecak kecil. Lalu, menurunkan kedua tangannya yang dilipat di depan d**a. Setelah itu, melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam ruangan dan mendaratkan b****g di depan Arsen. Ia pun meletakkan berkas di atas meja.
“Apa kau sedang memikirkan gadis itu?” tanyanya penasaran.
Arsen mengurut d**a. Lega. Astaga, kenapa dokter spesialis bedah itu suka sekali muncul tiba-tiba, sih? Tidak ada bedanya seperti arwah yang sering dilihatnya.
“Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?” omel Arsen kepada gadis yang usianya terpaut 10 tahun di atasnya itu.
“Ya ampun, kenapa kau malah balik bertanya kepadaku?” tanya Siska tidak mau kalah.
Arsen mendesah pelan. Siska memang cantik, tapi entah kenapa suka sekali marah. Apa semua gadis yang sudah berumur memiliki sifat seperti itu? Entahlah. Lebih baik, ia memilih untuk mengalah saja.
“Hmm … aku sedang memikirkannya. Aku baru saja bertemu dengan gadis itu di lorong.”
Siska melenggut. Bersedekap, lalu menyandarkan punggung di sandaran kursi. “Aku heran. Kenapa gadis itu bisa cepat sekali pulih?”
Arsen tersenyum menatap raut wajah Siska yang tampak begitu penasaran. Siska merupakan senior di Kampusnya sehingga mereka berdua bisa begitu akrab. Bahkan, Siska mengetahui jika Arsen memiliki kemampuan untuk melihat makhluk astral.
“Sebab gadis itu sebentar lagi akan menghadapi takdirnya,” jawab Arsen akhirnya.
Siska mencebik. “Oh, ya. Ini laporan pindah tangan yang telah kubuat. Malam ini kau harus menggantikanku menjaga mereka. Mengerti?” Siska mendesah pelan, “pasienmu sudah sedikit lebih membaik. Aku pikir sebentar lagi dia akan melewati masa kritisnya.”
Arsen tersenyum seraya membenarkan letak kaca matanya yang sedikit melorot ke pangkal hidung. Kemudian, menerima berkas laporan dari rekannya itu. “Kau tahu? Aku sangat berhutang budi kepadamu, Sis,” ucapnya tulus dengan menatap Siska di hadapannya.
Siska bersedekap, lalu mengulas senyumnya. “Suatu saat kau harus membayar hutangmu itu kepadaku,” sahutnya dengan diiringi oleh kekehan kecilnya.
••••••••
Raya terus melangkahkan kedua kakinya menyusuri lorong Rumah Sakit yang sepi. Tiba-tiba di tengah perjalanannya, ia merasakan ada derap langkah yang mengikutinya. Raya pun langsung menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Raya menggelengkan kepalanya. Kenapa ia menjadi penakut begini?
Akhirnya, Raya memilih untuk mempercepat langkahnya. Entah kenapa perasaannya begitu tidak tenang bila mengingat jika lorong ini memang sepi. Ditambah lagi jika saat itu adalah malam hari.
Menyebalkan!
“Raya.”
“Raya Putri.”
Raya pun berhenti. Entah kenapa, kakinya langsung terasa dihentikan oleh sesuatu. Raya tidak tahu apa itu, yang jelas suasana mencekam begitu terasa di sekitarnya. Ada orang yang memanggilnya. Astaga, apa ia harus mengalami peristiwa ini? Ia tidak siap jika harus melihat sesuatu yang menyeramkan.
“Kenapa setiap bertemu denganku kau selalu ketakutan?”
Raya mengerutkan keningnya. Suara itu … ah, tidak mungkin! Pasti ia hanya berhalusinasi. Mana mungkin orang yang sudah meninggal-bahkan mungkin sudah dimakamkan-bisa hidup kembali?
Namun, kenyataannya saat ini Raya tidak berani menoleh. Ia hanya menunduk, memerhatikan lantai berkeramik putih yang diinjaknya.
“Raya, ketakutanmu tidak beralasan. Mengerti?”
Raya mengepalkan tangannya erat-erat. Tubuhnya gemetaran dan lututnya terasa lemas. Di tambah keringat dingin yang seolah mengguyur deras tubuh, membuat badannya terasa tercebur ke dalam sungai yang sangat dingin.
“Raya, kau tidak mau melihatku? Aku Bintang.”
“Aarrggh … siapa pun kau, Bintang atau apalah. Jangan ganggu aku! Aku mohon … aku minta maaf jika aku membuat kesalahan. Tapi tolong jangan ganggu aku,” ucap Raya dengan suara bergetar. Kenapa lorong ini begitu sepi? Tidakkah ada orang yang melintas? Ia sangat ingin berteriak, tapi suaranya pun terasa lemas.
“Hahaha … apa? Siapa yang akan mengganggumu? Tolong lihat aku, Raya. Aku ingin meminta bantuanmu.”
Raya memejamkan matanya. Entah apapun yang terjadi, ia merasa harus menghadapi semuanya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan pelan. Sesaat kemudian, ia mulai menggerakkan kepalanya ke arah kanan. Dan matanya langsung melihat sepasang kaki bercelana putih dan bersepatu nike putih pula. Ya Tuhan, nyalinya semakin ciut saja. Ia pun kembali menguatkan diri hingga matanya mulai bergerak ke atas dan ….
“Bi-Bi-Bintang?”
Sesosok berpakaian serba putih itu tersenyum padanya. Wajahnya memang tidak mengerikan. Bahkan, sangat tampan. Namun, tetap saja Raya menahan ketakutannya.
“Apa kabar Raya?”
“Ka-kau, kan, sudah meninggal?” Raya memberanikan diri untuk menanyakan hal itu. Ya, karena kenyataannya memang seperti itu, kan?
“Ya. Aku memang sudah meninggal,” jawab Bintang dengan santainya.
“Ja-jadi kau hantu Bintang?”
“Hantu? Hei! Aku bukan hantu,” seru Bintang tidak terima.
“Lalu apa kalau bukan hantu?”
“Aku adalah arwahnya. Sudahlah, aku malas membahas itu,” ucap Bintang mengalihkan topik pembicaraan. Sedangkan, Raya masih menatapnya penuh ketakutan.
“Aku ingin meminjam tubuhmu.”
Raya membelalakkan matanya lebar-lebar. “APA? Apa maksudmu?”
Bintang berdecak kesal, kemudian melipat tangannya di depan d**a. “Apa kau tuli? Aku bilang, aku ingin meminjam tubuhmu."
Raya mengerjapkan matanya beberapa kali. Sekarang rasa takutnya telah digantikan dengan perasaan bingung dan aneh. “Ke-kenapa?”
“Kau belum mengerti juga?” tanya Bintang dan Raya menggelengkan kepalanya lagi. Ah, benar, gadis di depannya ini memang sangat bodoh. “Kau lupa, bukankah aku yang telah menyelamatkanmu? Jadi, sekarang kau harus mau menolongku.”
Raya kembali sibuk mencerna apa-apa yang dikatakan oleh Bintang. Ya, memang benar jika Bintang yang telah menyelamatkannya. Namun, meminjam tubuhnya? Oh, semua ini benar-benar tidak bisa dimengerti.
“Bagaimana jika aku tidak mau?”
Bintang terkejut. Ia tidak menyangka akan reaksi Raya kali ini. Bukankah seharusnya gadis itu berterima kasih padanya sehingga mau meminjamkan tubuhnya?
“Aku juga punya kehidupan, Bintang. Aku masih membutuhkan tubuh ini. Maaf, aku tidak bisa,” jawab Raya singkat, lalu mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Bintang secepat mungkin.
“Hanya 40 hari. Setelah itu kau bisa hidup normal, Raya!” seru Bintang dan berhasil menghentikan langkah Raya. “Aku hanya ingin melihat keluarga dan kekasihku untuk terakhir kalinya. Setelah itu, aku bisa pergi dengan tenang.”
Raya berbalik dan menatap Bintang dengan tatapan nanar. “Karena 40 hari, aku juga membutuhkan waktu itu. Semua hariku berharga walaupun tidak ada yang tahu. Mengerti?” tegasnya. Kemudian, membalikkan badan dan dengan mantap meninggalkan arwah Bintang di belakangnya. Ia tidak bisa melakukannya. Ya, karena ia juga membutuhkan tubuhnya.
••••••••
Raya berjalan gontai di trotoar yang terang karena lampu-lampu kecil di sekitarnya. Orang-orang berlalu lalang di dekatnya. Udara yang semakin dingin bahkan sudah tidak bisa dirasakannya lagi. Ia terlalu larut dalam pikirannya mengenai hal-hal yang sampai detik ini belum bisa dimengerti.
Apakah seharusnya Raya sudah mati? Namun, karena seseorang yang menolong maka ia bisa selamat dan cepat pulih? Apakah semua itu bisa dimengerti? Sejak kapan ada pengertian seperti itu?
“Apa kau sudah memikirkannya, Raya?”
Raya pun menoleh ke arah sumber suara. Matanya melotot begitu melihat sesosok laki-laki yang berdiri sambil bersandar pada dinding sebuah toko. “Kau? Kenapa kau mengikutiku, huh?” tanyanya kesal.
Bintang tersenyum. “Jangan berbicara keras-keras. Kau bisa disangka orang gila. Mengerti?” beritahunya.
Raya melihat beberapa orang di sekelilingnya tengah menatapnya dengan aneh. Raya pun berdehem kecil. “Aku tetap tidak mau melakukannya, Bintang. Maaf,” ujarnya lagi. Lalu, melanjutkan perjalanannya.
Mendadak, Bintang sudah berdiri menghadangnya. “Kenapa? Kenapa kau tidak mau? Rasanya tidak sakit, kok. Aku hanya meminjam, tidak merampas. Dan hanya 40 hari, apakah itu terlalu lama?”
“Aku bisa melakukan apa saja dalam waktu 40 hari, Bintang! Minggirlah, aku ingin pulang.”
Raya berusaha menghindar, akan tetapi tetap tidak bisa. Akhirnya, ia kesal dan berusaha menabrak Bintang. Namun, ia terbelalak sebab tubuhnya bisa menembus tubuh laki-laki itu. Raya tidak memercayainya. Tubuh Bintang benar-benar terasa seperti angin.
“Aku mohon ….”
Raya menatap wajah Bintang sebentar, lalu menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak boleh melakukannya. Akhirnya, Raya memilih berlarian kecil meninggalkan Bintang.
••••••••
Raya menggenggam cup berisi kopi hangat dengan sedikit lebih erat. Ia masih berusaha keras untuk menggunakan pikiran warasnya agar bisa menyelesaikan semua ini. Menyelesaikan semua yang menurutnya begitu sulit dan membingungkan.
“Jadi?” tanya Bintang sambil melipat tangannya di depan d**a. Sejak ia mengajak Raya ke taman yang sudah sepi, Bintang terus menunggu jawaban positif dari gadis itu.
Raya pun menatap Bintang dengan ragu. Apa yang harus dikatakannya? Apakah ia harus menyanggupinya? Menyerahkan tubuhnya untuk laki-laki ini?
“Aku tidak akan macam-macam.”
“Apa selama 40 hari, setiap hari 24 jam, kau akan menggunakan tubuhku? Lalu ke mana nyawaku?” tanya Raya akhirnya.
“Nyawamu tidak akan ke mana-mana. Aku hanya akan memegang kendali utamanya. Ya, dengan kata lain kau seperti kerasukan, ” jawab Bintang pasti.
Raya terdiam sejenak. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. “Tunggu! Jadi … kau .…"
Raya melihat ke arah tubuhnya sendiri. Ia tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Bintang yang sebenarnya. Tapi bagaimana jika ….
“Astaga! Tidak!” seru Bintang cepat, begitu tahu apa yang dipikirkan Raya. “Aku akan keluar dari tubuhmu ketika kau mandi atau ketika kau melakukan hal-hal lain yang mengharuskanmu tidak berpakaian. Aku bukan laki-laki seperti itu Mengerti? Lagipula, siapa yang mau melihat tubuh kurus seperti itu?”
Raya hampir menyiramkan kopinya ke wajah Bintang, tapi diurungkannya. “Jadi kau bisa keluar dari tubuhku dan aku masih bisa sesekali mengatur hidupku?”
“Tentu. Kau setuju?” tanya Bintang. Mereka mulai menemukan titik terang.
Raya tidak langsung menjawabnya. Tiba-tiba ia menyunggingkan sebuah senyum licik. “Bintang, kau adalah mahasiswa yang pintar, kan?”
“Kenapa?”
“Bisakah kau ada di tubuhku ketika aku menghadapi ulangan dan ujian akhir nanti?” tanya Raya dengan mata berbinar-binar. Kenapa ia tidak kepikiran hal semacam ini sebelumnya?
Bintang tertawa kecil. Dasar licik! Kenapa gadis ini malah terkesan memanfaatkannya? Ah, tapi mau bagaimana lagi jika gadis itu memaksa? Toh ia tidak bisa menggunakan tubuh Raya jika gadis itu tidak mengizinkannya. “Itu mudah saja.”
“Yeeey! Jadi aku tidak perlu belajar. Hehe ….” Raya tertawa riang. Lalu ia menatap Bintang. “Mulai kapan kau akan masuk ke dalam tubuhku?”