Deg! Apa? Tunangan? Calon suami? Apakah aku sedang bermimpi? Laki-laki yang sekarang menatapku sambil tersenyum ini, yang duduk sambil merangkul pundak Bunga, adalah calon suaminya? Ya Tuhan … apa yang harus kulakukan? Apa aku harus marah? Tidak, aku tidak bisa marah karena mereka akan curiga. Lalu apa? Tidak adakah yang bisa kulakukan selain diam?
“Halo. Aku Raja,” ucap laki-laki itu sambil menjulurkan tangan kanan.
Dengan sisa kesadaran yang kumiliki, aku pun membalas uluran tangan tersebut. “Ra-Raya Putri,” balasku tanpa menatapnya.
Perasaanku begitu terluka dan aku sangat kecewa. “Ka-kapan kalian melakukan pertunangan?” tanyaku memberanikan diri. Apa Bunga telah bertunangan selama masih menjadi kekasihku? Jadi dia telah berselingkuh di belakangku?
“Satu bulan yang lalu,” jawab Raja dengan percaya diri. Ia pun menatap Bunga dengan tatapan penuh arti. Sungguh, aku sangat ingin membunuhnya saat ini juga.
“Ah… Selamat,” kataku terpaksa.
Aku menatap Bunga. Wajahnya tampak begitu merasa bersalah ketika menatapku. Ya, memang seharusnya ia begitu. “Lalu, kapan kalian akan menikah?”
“Ka --”
“Bulan depan,” jawab Raja menyela kata-kata Bunga.
Bagus, hatiku semakin dibuat hancur saat itu juga. Lakukanlah! Lakukan saja jika kalian menginginkannya. Katakan semuanya. Jika perlu di mana kalian menikah? Bagaimana dekorasi tempatnya? Seperti apa cincin pasangan kalian? Di mana kalian akan berbulan madu? Katakan, katakan semuanya!
“Ah, Raya apa kau mau kue? Aku baru membuatnya tadi,” tawar Bunga seolah berusaha mencairkan suasana.
Aku tersenyum kecut. “Tidak usah kakak, aku mau pulang. Ibuku sudah menunggu di rumah,” jawabku dengan berpura-pura tersenyum seceria mungkin.
Namun di dalam hati, aku sangat membencimu. Aku kecewa padamu, ternyata selama ini kau berselingkuh di belakangku. Kau sangat menyebalkan Bunga! Aku tidak akan pernah mencarimu lagi!
••••••
“Kau kenapa lagi, huh?” tanya Raya heran melihat perubahan sikap Bintang yang telah jauh berbeda dari sore tadi.
Bintang duduk di kursi berbentuk bola basket yang ada di kamar Raya. Ia menghela napas beratnya sambil menunduk. “Bunga, dia sudah memiliki calon suami,” akunya kesal.
“Apa? Calon suami? Katamu dia kekasihmu, kenapa dia bisa punya calon suami selain kau?” kata Raya heran.
“Aku juga merasa begitu. Entahlah … mungkin ia telah berselingkuh di belakangku.”
Raya mengigit es krimnya dahulu sebelum menjawab lagi. “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Mungkin ia memang orang yang seperti itu tanpa kau tahu. Lagipula, kau lega, kan? Itu berarti kau bisa meninggalkannya dengan tenang.”
“Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Apa nanti aku harus pergi ke surga dengan membawa kebencianku?” bentak Bintang tiba-tiba.
Raya terpegun. Tidak biasanya Bintang seperti ini. Apa gadis yang bernama Bunga itu sangat berarti baginya? “Maaf, sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu?” saran Raya.
Raya pun berjalan keluar kamar, meninggalkan Bintang seorang diri. Ya, terkadang ia memang merasa heran dengan Bintang. Laki-laki itu sudah meninggal, tapi sifatnya masih sama seperti ketika dirinya masih hidup. Entahlah.
“Oh?” gumam Raya ketika melihat es krimnya sudah habis. Raya menggembungkan pipinya, ia masih ingin makan es krim. Akhirnya ia berjalan keluar dan memutuskan untuk membeli es krim lebih banyak lagi.
•••••••
Raya melangkahkan kedua kaki langsingnya dengan santai di sepanjang jalan pertokoan. Suasana hari ini begitu panas sehingga ia ingin makan es krim sepuasnya. Ia tersenyum sendiri, membayangkan saja sudah membuatnya ingin cepat-cepat sampai di minimarket dan membeli banyak es krim.
Bunyi lonceng kecil langsung terdengar ketika Raya membuka pintu kaca sebuah minimarket. Ia melihat ke sekelilingnya. Kemudian matanya langsung tertuju pada sebuah box es besar di sudut ruangan. Raya tersenyum lebar. Bak anak anjing yang sedang kelaparan, ia pun langsung berlari menuju box itu.
“Wah…,” gumamnya sambil menggeser penutupnya. Ia menempelkan telunjuknya ke dagu, memilih rasa-rasa es krim yang ada di dalam sana.
“Raya?”
Raya pun menoleh dan matanya langsung membeliak saat menemukan seorang laki-laki yang sedang tersenyum ramah padanya. Sial, kenapa ia harus bertemu dengan Andra di sini? Apa yang harus dilakukannya?
“Hai,” sapa Andra sambil tersenyum lebar, memamerkan barisan giginya yang putih dan rapi. Kecuali Raya, setiap gadis yang melihat senyuman itu pasti sudah jatuh meleleh.
Raya terdiam sejenak sebelum akhirnya memaksakan sebuah senyum tipis. Damn! Ia sungguh merutuk nasibnya kali ini. Sebenarnya kalau bukan karena Bintang yang menjadi sok ramah pada Andra, mungkin ia akan lebih mudah menghadapi laki-laki itu. Namun sayangnya, ia tak bisa melakukan itu karena tidak mau membuat Andra curiga.
“Kau membeli es krim?” tanya Andra sambil melongok ke box es krim itu.
“Kau suka es krim juga?”
Raya menjadi salah tingkah. Kenapa ia menjadi aneh seperti ini? Entahlah, ia pun mengambil beberapa bungkus es krim dan membawanya ke kasir. Pergi meninggalkan minimarket secepat mungkin adalah jalan terbaik!
“Semuanya 30.000 rupiah,” kata seorang wanita penjaga kasir setelah menghitung semuanya dengan alat khusus.
Raya mengangguk singkat lalu segera mencari uang dari saku celana jeans-nya. Mendadak, Raya membelalakkan matanya. Kenapa sakunya kosong? Setahunya tadi masih ada uang kembalian ketika ia membeli es krim yang pertama? Kenapa tidak ada?
“Apa kau baik-baik saja, Mbak?” tanya wanita penjaga kasir itu mencurigai sikap aneh Raya.
“Ah … aku sedang mencari uangku. Sebentar ya,” jawab Raya terbata-bata. Sial, nasibnya kali ini begitu jelek. Sudah bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu, memalukan diri di minimarket pula!
“Mm, tapi bisakah aku menghitung belanjaan Mas ini dulu?”
“Hah?” Raya pun menoleh ke belakang dan… Gosh! Andra tepat di belakang yang sedang membawa belanjaannya. “Oh, Baiklah,” jawabnya kemudian dengan muka merah padam. Ia sungguh merutuk semua ini.
“Biar aku yang membayar semua belanjaan gadis ini,” ujar Andra pada wanita penjaga kasir.
Raya langsung menatap laki-laki di belakangnya itu. Ia tidak pernah suka membiarkan orang lain mengeluarkan uang padanya tanpa alasan. “Tidak usah. Aku bisa mengambil uang di rumahku. Rumahku tidak jauh dari sini.”
“Sudahlah, aku hanya ingin membantumu,” balas Andra dengan senyum lembutnya yang sangat memuakkan bagi Raya itu.
“Ini,” Andra memberikan kantong plastik yang berisi es krim-es krim kepada Raya.
Raya masih menatap Andra dengan garang. Ia merasa sangat dilecehkan secara ekonomi. Ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. “Untukmu saja. Bukankah kau yang membayarnya?” jawab Raya, lalu segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa berkata-kata lagi.
Andra terkejut dengan sikap Raya. Kenapa gadis itu berbeda sekali dengan kemarin? Kenapa sekarang Raya berubah angkuh lagi seperti saat pertama kali mereka bertemu. Raya, gadis itu begitu sulit untuk dimengerti.
•••••••
“Aissh!” Raya menendang sebuah kaleng minuman di depannya dengan kesal. Ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi padanya. Sungguh ia sangat membenci laki-laki itu. Dan ia bertekad, tidak akan mau berbicara dengannya sepatah katapun!
“HEI! Kenapa kau menendang-nendang kaleng seperti itu, huh?”
“Apa urusannya denganmu!” balas Raya membentak. Ia tahu yang berbicara dengannya saat ini adalah Bintang.
“Bukan itu, masalahnya seorang anak di sana menangis karena kaleng yang kau tendang tadi mengenai kepalanya,” beritahu Bintang dengan wajah cemas.
Raya membelalakkan matanya. Lalu ia melihat ke depan. “Ya, ampun …,” keluhnya melengos. “bagaimana ini?” tanya Raya pada Bintang. Sedangkan yang ditanya hanya mengangkat bahunya.
“Aisssh!!” desis Raya kesal. Lalu, ia pun segera berlari menjauhi jalan itu.
Bintang mengejarnya. “Kenapa kau berlari?” tanyanya sambil mensejajarkan langkahnya dengan Raya. Sayangnya, Raya tidak menjawabnya. “Kenapa kau malah melarikan diri? Kau tidak mau minta maaf?”
“Untuk apa minta maaf? Dia, kan, anak kecil,” jawab Raya acuh tak acuh.
“Lalu kau hanya minta maaf pada orang yang lebih tua darimu saja?”
Seketika Raya menghentikan langkahnya. Kenapa Bintang membuatnya kesal juga? Apa dia tidak punya kerjaan lain selain mengganggunya?
“Kenapa kau selalu mengikutiku? Ada apa denganmu? Apa kau tidak bahagia di surga? Seharusnya kau sudah tenang dan jangan mengganggu kehidupan manusia lagi!” bentak Raya bertubi-tubi.
Bintang terkejut. Ia benar-benar tidak tahu apa yang menyebabkan Raya marah-marah tidak jelas seperti ini. “Kau kenapa?”
“Seharusnya, aku tidak bertemu denganmu Bintang. Seharusnya aku tidak pergi menggunakan bus itu. Semua ini salah, semua ini bukan takdirku, kan? Benarkan?”
“Raya .…”
Raya menundukkan kepalanya. Sekali lagi ia merasa salah mengeluarkan kata-kata. Entahlah, tapi ia selalu kesulitan mengontrol emosinya. Seharusnya ia tidak melimpahkan kekesalannya pada Bintang. Laki-laki itu sama sekali tidak tahu apa-apa. Namun, kenapa ia malah memarahinya. “Bintang .…”
“Hmm?”
“Kenapa kau tiba-tiba memilihku untuk membantumu selama 40 hari ini?”
Bintang tertegun. Ia menatap Raya dengan tatapannya yang lembut. Kenapa Raya bertanya seperti itu? Apa yang telah mengganggunya?
“Jujur saja aku juga masih belum tahu. Beberapa kali aku mencoba untuk masuk ke dalam tubuh orang lain, tapi sayangnya aku tidak bisa.” Bintang tersenyum kecil menatap Raya yang juga tengah melakukan hal yang sama. Lalu, kembali berbicara, “mungkin, aku bisa merubah kau menjadi gadis yang lebih baik."
Raya tercengung. Ada sesuatu yang hangat mengalir di rongga dadanya. Menjadi gadis yang lebih baik? Detik setelahnya, Raya mengembangkan senyum termanisnya. Harapannya saat ini, ialah semoga dirinya bisa berubah menjadi lebih baik lagi.