Raya membaca sebuah poster yang terpajang di papan pengumuman di Kampus. Seketika netranya berbinar senang. Study tour ke Tokyo? Ya, Tuhan, ini merupakan hal yang sangat dinantikannya. Namun, haruskah ia pergi seorang diri? Mengingat dirinya tidak memiliki teman.
“Kau akan ikut, kan?” tanya Bintang dengan senang hati. Namun, Raya malah tidak merespon dan meninggalkan papan pengumuman itu.
Bintang mengikuti ke mana Raya pergi. Ternyata gadis itu berjalan ke arah sebuah bangku di bawah pohon yang teduh. “Membosankan,” gumam Raya pada dirinya sendiri.
Bintang pun duduk di sisi Raya. “Kenapa? Bukankah tujuanmu mengambil jurusan Sastra Jepang untuk melakukan perjalan itu?”
Raya tidak menatap Bintang. Tidak mungkin ia berbicara dengan Bintang ketika banyak orang berlalu lalang di depannya. “Sepertinya perjalanannya tidak akan menyenangkan. Aku bisa mengajak orang tuaku saat mereka pulang nanti.”
“Bukankah dengan ini kau bisa mencoba mencari teman? Memang kau tidak kesepian, tidak memiliki seorang teman satu pun? Untung aku mau menemanimu,” sugesti Bintang. Ia berharap Raya akan mendengarnya walau rasanya masih mustahil untuk orang seperti Raya.
“Teman? Cih, apa itu teman? Apa aku bisa percaya padanya?” cibir Raya yang terlihat seolah sedang bergumam sendiri.
“Kenapa kau berkata seperti itu? Hei, teman adalah seseorang yang bisa menghiburmu ketika kau sedih dan yang akan tertawa denganmu ketika kau senang,” beritahu Bintang meyakinkan.
Raya mendengkus pelan. “Apa seperti itu? Aku rasa tidak.”
“Kau hanya belum pernah mencobanya, Raya.”
“Pernah dan rasanya sangat menyakitkan,” potong Raya.
Bintang tertegun. Apa Raya pernah mengalami kenangan buruk yang berhubungan dengan temannya? Kenangan yang sangat buruk sehingga ia trauma akan pertemanan. Mungkinkah hal itu bisa terjadi dengan gadis seangkuh dia?
“Kau mau menceritakannya padaku?” Raya terdiam. Mungkin, ia sedang berpikir apakah harus menceritakannya atau tidak. Bintang tahu, Raya menyimpan banyak rahasia tentang kisah hidupnya.
“Aku—”
“Ini”, ucap seseorang yang tiba-tiba menyodorkan sebuah es krim di depan wajah Raya.
Raya terkejut, ia pun mengikuti lekuk tangan orang itu dan … sial! Wajahnya langsung berubah kesal ketika melihat seorang laki-laki yang sangat dibencinya. Kenapa Andra selalu mendekatinya? Apa laki-laki ini begitu kurang kerjaan? Padahal ia sudah menegaskan sikapnya, jika dirinya sangat membenci Andra. Tidak ada pengecualian apapun.
Bintang juga terkejut melihat kedatangan Andra. Apa yang sahabatnya itu lakukan? Apakah ia sedang berusaha mendekati Raya?
“Kenapa diam? Kau ingin makan es krim, kan? Kali ini aku memberimu, tidak membayari belanjaanmu,” kata Andra sambil tersenyum lebar.
Raya tetap diam seribu bahasa. Kemarahannya yang tertahan semakin memuncak ketika laki-laki itu ada di dekatnya. Dan apa yang Andra inginkan darinya? Senyumnya? Cintanya? Oh, mungkin Andra harus pergi ke neraka dulu sebelum mendapatkannya.
“Su—"
“Apa kau terlalu bodoh?” akhirnya Raya tidak tahan untuk diam. “Apa sikapku tidak cukup untuk menyadarkanmu? Aku sangat membencimu, Andra. Aku terlalu membencimu. Mengerti?” ujar Raya dengan memberi penekanan lebih pada kata ‘membenci’. Setelah menatap tajam kedua mata Andra, ia pun pergi meninggalkannya.
Andra menunduk sambil meremas es krim di tangannya. Tatapannya begitu nanar ketika melihat punggung Raya yang semakin menjauh darinya. Apa salahnya? Kenapa Raya sangat membencinya seperti itu?
Bintang menatap Andra dengan sedih. “Sabarlah Andra. Raya hanya perlu waktu. Percayalah,” hiburnya sambil tersenyum. Ia tahu, meskipun Andra tidak bisa mendengarnya, tapi dirinya masih berusaha menjadi sahabat terbaik untuknya.
•••••••
Bintang berjalan mengikuti Raya sepulang kuliah. Gadis itu selalu melewati jalan yang sama, sehingga perlahan Bintang merasa bosan. Namun, karena ia masih membutuhkan tubuh Raya, maka dirinya akan melakukan apa saja asal masih diberi izin.
Raya berhenti mendadak membuat Bintang yang sedang melamun menjadi tersentak. Ia tidak memedulikan Bintang. Ia mengambil uang kertas dari dalam tasnya dan memberikannya kepada penjaga warung untuk mendapatkan minumannya.
“Hei, kau mengejutkanku!” seru Bintang kesal, akan tetapi Raya berakting seolah tidak mendengarnya.
Bintang berdecak sebal. Ia melihat Raya mengambil sekaleng minuman dari dalam mesin pendingin dan teringat sesuatu. Ya, kenangan tentang Bunga kembali berputar di kepalanya.
Dua tahun yang lalu, ia bertemu dengan seorang gadis yang terlihat sangat frustrasi dan sedih. Gadis itu tidak lain adalah Bunga. Ketika Bintang pulang sekolah dengan menaiki sepeda motor, ia melihat Bunga sedang membeli minuman di pinggir jalan. Namun, seorang gadis datang dan merebut minumannya. Membuat Bunga tampak kesal. Tanpa Bintang sangka, tiba-tiba Bunga menangis. Bintang yang melihatnya pun merasa tidak tega. Akhirnya ia pergi ke minimarket di sekitar sana dan membelikan sekaleng minuman dingin pada Bunga.
Bintang tersenyum sendiri bila membayangkan kenangan manis itu. Sebenarnya Bintang tidak jatuh cinta pada Bunga saat itu juga. Namun, suatu ketika ibunya menghadirkan Bunga di rumahnya untuk menjadi guru privatnya. Awalnya Bintang terkejut karena ia pernah bertemu sekali dengan gadis itu. Namun perlahan, akhirnya mereka berdua pun akrab dan mulai saling mencintai.
“Bunga,” gumam Bintang pelan.
Sedetik kemudian, Bintang tersadar dari lamunannya. Tidak, ia tidak boleh menyukai Bunga lagi! Kemudian, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, sampai menemukan Raya yang sudah berjalan ke pinggir trotoar untuk menyebrang.
Bintang berlari mendekati gadis itu. “Aissh… kau!” desisnya kesal saat ia sudah berdiri di samping Raya.
Raya tetap tidak memedulikannya. Gadis itu hanya meneguk minumannya dengan tatapan lurus ke depan.
Akhirnya Bintang melihat ke depan juga. Begitu banyak orang di jalanan sore ini. Maklum, karena jam menunjukkan waktu pulang kerja dan sekolah. Namun, di antara banyak orang yang terlihat di matanya, ada satu yang membuatnya terkejut. Bunga ….
Walau Bintang sedikit terguncang, tapi ia tetap berusaha untuk tenang. Ia hanya berdiri terdiam menatap Bunga. Tiba-tiba semua orang di sekitarnya berjalan. Bintang melihat ke traffic light dan warna merah menyala. Bintang pun berjalan ke depan. Ketika ia berpapasan dengan Bunga, entah ada sesuatu hal yang membuat langkahnya terhenti. Anehnya Bunga juga melakukan hal yang sama.
Bintang pun menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan. Sebab, tidak ingin terlalu larut dalam perasaannya. Sementara Bunga belum menggerakkan kakinya lagi.
Bintang terus meyakinkan dirinya jika Bunga bukan miliknya lagi. Ya, Bunga akan menikah dengan laki-laki lain. Dan Bunga ….
Bintang tidak bisa membohongi perasannya sendiri, ia pun membalikkan tubuhnya. Pikirannya tidak mampu mengalahkan kata hatinya yang terus memaksa. Bintang mengerutkan kening karena Bunga masih terdiam di tempatnya. Tiba-tiba sorot lampu lalu lintas menyala hijau untuk kendaraan. Bintang tergagap kaget. Ia segera mencari-cari Raya dan mengejar gadis itu.
Kening Raya mengerut. Ia yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap aneh ke arah Bintang yang berdiri menghalangi jalannya. Ia pun memilih untuk mencari jalan lain. Namun, saat yang sama tiba-tiba Bintang sudah memegang keningnya terlebih dahulu sehingga arwah laki-laki itu sudah mengambil alih tubuhnya.
Bintang membalikkan tubuh Raya dan melihat ke jalanan. Terdengar suara klakson mobil yang bersautan karena ada seorang gadis yang berdiri di tengah jalan. Tanpa pikir panjang, Bintang berlari dengan tubuh Raya, mendekat ke arah Bunga.
“Bunga!” teriaknya lalu langsung mendorong tubuh Bunga hingga sampai di tepi trotoar.
Bunga begitu terkejut saat melihat Raya yang tiba-tiba datang menolongnya. Namun, belum sempat ia bertanya, sebuah mobil sudah menyentuh tubuh Raya terlebih dahulu.