Bintang melangkahkan kakinya mengikuti jejak sepasang sepatu hak tinggi yang masih berjalan di sisinya sejak 45 menit yang lalu. Memang bukan hal baru bagi Bintang jika Bunga suka berjalan kaki dalam waktu yang lama. Namun, sampai sekarang Bintang masih mengagumi sosok Bunga yang suka bekerja keras meski mungkin uangnya sudah segudang itu.
“Bunga, apa kau tidak lelah?” tanya Bintang mengisi kebosanannya sendiri. Walaupun Bunga tidak akan menjawab, akan tetapi ia merasa lebih senang daripada tidak berbuat apa-apa.
Bunga masih berjalan dengan pandangan lurus ke depan, seolah ada sebuah tujuan di sana. Pikirannya berkelebat abstrak. Memikirkan hal ini dan itu, yang bisa membunuhnya pelan-pelan. Gurat kelelahan jelas terlihat dari wajahnya yang pucat. Kantung matanya semakin terlihat karena akhir-akhir ini ia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak.
“Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri Bunga? Ada apa denganmu?” kata Bintang kesal. Ia merasa kasihan pada Bunga. Rasanya ia ingin membunuh Raja karena ia yakin laki-laki itulah yang membuat Bunga menjadi seperti ini.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Bintang langsung melihat Bunga dengan khawatir. Benar saja, gadis itu langsung berlari ke depan zebra cross sambil melindungi tubuhnya dengan kedua telapak tangan di atasnya.
Bintang menggelengkan kepalanya. Bunga terlihat begitu rapuh, gadis itu mungkin bisa mati dengan sekali pukulan.
••••••
“Kau tidak boleh menolak. Kau harus mau membantu seseorang yang akan kau temui nanti.”
Raya mencibir. “Siapa dia? Apa maksudnya berbicara seperti itu terhadapku?” tanyanya heran. Namun, detik setelahnya ia melenggut mantap. “Ah, aku tahu siapa dia sekarang. Dia pasti dokter jiwa yang sedang mengidap gangguan jiwa.”
“Kenapa kau tidak mencoba membantu Bintang untuk menemui pelaku pembunuhannya?”
Raya masih terpaku pada tempat duduknya. Otaknya mendadak terasa lumpuh ketika diajak untuk mengingat hal itu. Ya, ia ingat sekarang tentang Arsen. Kenapa semua ini bisa terjadi? Apa Arsen adalah orang yang telah membunuh Bintang? Tidak, ia yakin semua ini tidak mungkin sesimple ini. Arsen mengatakan seolah ia tahu semuanya. Namun, bagaimana mungkin? Arsen itu manusia, sama sepertinya. Kecuali jika Arsen bukan manusia, mungkin laki-laki itu bisa mengetahuinya dengan mudah.
“Raya?” panggil Andra mengejutkannya. Andra duduk di sisi Raya dengan pandangan aneh. “Kau kenapa?”
“Oh, eh. Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau sedang bertanding?”
“Break time, Raya. Kau tidak menonton pertandinganku?”
“Ah, tidak, aku melihat kok. Aku ... aku hanya sedikit lelah,” sangkal Raya menutupi kegelisahannya. Otaknya masih dipenuhi dengan bayang-bayang Arsen saat ini sehingga ia tidak terlalu memedulikan kecurigaan Andra.
“Kau yakin kau baik-baik saja? Atau mau kuantar pulang?” tawar Andra.
“Tidak, kau lanjutkan saja pertandinganmu. Tapi Maaf, mungkin aku tidak bisa menontonmu lagi. Aku akan beristirahat sejenak di ruang kesehatan,” tolak Raya.
“Kau yakin?” tanya Andra memastikan.
Raya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia mulai berdiri dan berjalan sambil memegangi kepalanya. Ia juga merasakan jika lututnya sangat lemas sekarang. Arsen benar-benar menyita perhatiannya. Siapa Arsen sebenarnya? Apakah laki-laki itu bukan manusia? Atau … Arsen adalah malaikat? Entahlah … Raya merasa semua ini terlalu sulit dimengerti dengan logikanya sendiri.
••••••
“Sayang, apa kau tidak lelah?” kata Bintang ketika sedang berjalan di sepanjang jalan pertokoan bersama Bunga. Hujan telah reda digantikan dengan sinar matahari yang menyorot tipis.
“Ah … meski aku merasa lelah, tapi aku senang karena bisa berjalan-jalan seperti ini,” gumam Bunga yang menjawab pertanyaan Bintang tanpa disadarinya.
Bintang tersenyum mendengar jawaban Bunga. Lalu, ia terdiam sambil mengikuti ke mana saja Bunga melangkah. Sampai akhirnya Bunga menghentikan langkahnya di depan sebuah butik dengan gaun pernikahan yang dipajang di depan kaca etalase.
Bintang melihat raut wajah Bunga yang sama sekali tidak bisa dimengerti. Setelah berpikir sejenak, Bunga pun memantapkan hatinya untuk masuk ke butik itu. Sedangkan Bintang mengikutinya dari belakang.
“Hai, Nona,” sapa pelayan butik dengan ramah.
Bunga membalas sapaan itu dengan ramah juga. “Apa aku boleh melihat-lihat koleksi terbaru butik ini?”
“Tentu saja. Mari ikut dengan saya.”
Bintang melihat Bunga berjalan mengikuti pelayan itu. Ia mengangkat bahunya. Ia tidak ingin mengikuti lagi karena semua itu pasti akan membuatnya tersiksa.
Bintang mendekati kaca yang ada di depan butik itu. Ia dapat melihat dengan jelas suasana jalan kota Jakarta yang masih terlihat ramai. Bintang mendesah, ia merindukan dunia manusia. Ya, ia menginginkan dunianya bisa kembali seperti dulu lagi. Ia ingin hidup dengan normal, bisa berjalan di jalanan yang ramai, berbicara dengan orang lain. Ah, kenapa semua itu sekarang terdengar begitu menyenangkan?
Tiba-tiba kedua matanya menangkap sesosok orang yang sangat dibencinya. Raja. Bintang mengerutkan kening samar. Pikirannya sibuk merangkai pertanyaan mengenai laki-laki itu.
Bintang menoleh ke belakang, setelah menimbang-nimbang akhirnya ia memilih untuk mengikuti Raja.
••••••••
Raja berjalan santai di tepi jalan. Ia membenarkan letak topi base ballnya sesaat, kemudian memasukkan kembali kedua tangannya di dalam saku celana jeans-nya. Namun, detik setelahnya ia merasakan ponselnya bergetar. Ia mengeluarkan tangan kanannya beserta ponsel yang disimpan di dalamnya. Kemudian, mengerutkan kening setelah melihat nama seseorang yang dikenalnya pada layar.
Cukup lama Raja menimbang-nimbang untuk mengangkat panggilannya, hingga pada akhirnya ia mengangkat telepon tersebut. “Ha-halo.”
“Kenapa lama sekali mengangkat panggilan ini? Kau pikir kau berhak menyuruhku untuk menunggumu?”
Raja merasa sangat tertohok. Tangan kirinya yang bebas terkepal erat di dalam saku celananya. Ia bisa saja memukul orang itu jika ada di hadapannya. “Maaf. Maaf. Lalu, ada angin apa yang membuatmu meneleponku?”
“Peristiwa satu bulan yang lalu. Bagaimana menurutmu?”
Raja sedikit melebarkan matanya. Namun, wajahnya memperlihatkan jika dirinya sangat terkejut dengan pertanyaan yang diutarakan oleh orang yang berada di ujung saluran teleponnya. “Apa maksudmu?” tanyanya berusaha setenang mungkin.
“Ya. Apa kau pikir kita telah membuat dramanya dengan begitu rapi?” ujar orang itu penuh dengan makna. Ia terdengar tersenyum meremehkan. Seolah ia akan membunuh Raja dalam permainannya.
“Apa yang kau bicarakan?” balas Raja geram. Wajahnya memancarkan aura kemarahan dan kedua matanya berkilat-kilat penuh kemarahan. “Apa kau akan menghancurkan hidupku?”
“Hahaha…”
Raja memang sudah tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Namun, ia belum mengerti akan apa yang dimaksud orang itu.
“Kau pikir, kau tidak meninggalkan bau apapun sampai mengundang para serigala itu beraksi?”
Sekarang Raja tidak bisa berkutik lagi. Ia terdiam dengan wajah memucat. Raja merasakan keringat dingin langsung membanjiri tubuhnya. Tubuhnya terpaku, termangu saat mendengar orang itu yang tertawa senang di ujung sana.
Bintang masih terdiam di tempatnya berdiri sekarang. Di samping Raja yang masih menggenggam teleponnya. Bintang mengerutkan keningnya samar. Ia terus berusaha menebak-nebak ke mana arah pembicaraan Raja yang terdengar olehnya. Karena ia juga sama sekali tidak tahu apa-apa.
“Kenapa mereka bisa mengetahuinya?” tanya Raja setelah berhasil menenangkan dirinya.
“Mereka menyelidiki tempat itu.”
“Untuk apa?”
“Entahlah.”
Bintang semakin bingung saja. Tempat apa yang mereka bicarakan? Apakah sebuah tempat yang penting? Lalu kenapa ada kata ‘penyelidikan’? Apa ada sesuatu yang terjadi di tempat itu?
“Tapi tenang saja. Kita berdua masih dilindungi oleh seekor kuda bodoh itu,” kata orang itu. Sementara Raja menyeringai lebar.
Bintang mengernyit heran. Ia tahu pasti ada rahasia besar di antara mereka berdua. Entah apa itu, tapi ia merasa semua rahasia itu berhubungan dengan dirinya. Rahasia yang dijalankan Raja dan orang yang diteleponnya satu bulan yang lalu.
•••••••
Andra memutuskan untuk mengakhiri pertandingan basketnya meskipun belum selesai. Dirinya terlalu mengkhawatirkan Raya dan ingin ada di dekat gadis itu tanpa diminta. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk gadis yang dicintainya.
“Kau mau kemana?” tanya Yudi, teman satu kelasnya.
“Aku ada urusan. Pilih Farid untuk menggantikanku,” jawabnya cepat lalu langsung berlari ke luar lapangan setelah meneguk sebotol air mineral.
Andra berjalan ke ruang kesehatan. Karena tadi Raya berkata gadis itu akan ke sana. Namun ternyata, ruang kesehatan bahkan sedang kosong. Andra mengernyit heran. Astaga, seharusnya ia tidak memercayai Raya begitu saja.
Andra pun kembali berjalan mengitari kampusnya yang luas itu. Ia mencari ke kelas, tidak ada. Kantin, apalagi. Sampai hanya tersisa satu tempat yang belum di jamahnya. Taman belakang kampus. Mungkin saja Raya ada di sana.
Pepohonan rindang seolah menyambut kedatangannya di taman belakang kampus. Tempat yang paling jarang didatangi para mahasiswa karena memang terpencil dan sedikit mengerikan. Namun, justru di tempat ini ia menemukan Raya. Andra berusaha mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Ia melihat gadis itu sedang duduk menunduk di bangku panjang. Lalu Andra menghampirinya.
“Sedang apa?” tanya Andra pelan begitu ia duduk di sebelah Raya.
Raya yang sedikit terkejut pun menatap Andra yang tiba-tiba duduk di sisinya. Sementara Andra tersenyum hangat padanya.
“Kau di sini?” tanya Raya.
Andra menganggukkan kepalanya. “Mm.”
“Bagaimana pertandingannya? Sudah selesai?”
“Mm,” dusta Andra. Ia tahu, jia berkata jujur pasti Raya akan menyuruhnya kembali. Raya memang bukan gadis biasa.
Mereka berdua sama-sama terdiam. Beberapa daun-daun jatuh ke tanah hingga menimbulkan kesan romantis.
“Lagu apa itu? Apa aku boleh mendengarkan juga?” tanya Andra begitu menyadari Raya sedang memakai earphone putih di telinganya.
Raya menatap Andra heran. “Kau mau?” Andra mengangguk.
Raya pun melepas sebelah earphonenya dan memberikannya pada Andra. Sekarang mereka berdua duduk dengan ditemani sebuah musik yang mengalir lembut. Andra menyunggingkan senyum di wajahnya.
“Yiruma, Kiss The Rain?” tebak Andra.
Raya tertawa kecil. “Ya,” balasnya singkat. Ia kembali menatap ke depan. Entah apa yang dilihatnya sekarang. Namun Andra yakin gadis itu sedang memikirkan sesuatu.
“Kau boleh tidur di pundakku kalau kau mau.”
Raya melihat wajah Andra dengan tatapan menanyakan. Ia tidak benar-benar yakin Andra mengucapkan kalimat semacam itu. Dan ia juga tidak benar-benar yakin akan melakukannya.
Andra tersenyum ramah. Lalu ia memegang kepala Raya dan perlahan memiringkannya hingga tersandar di pundaknya. Anehnya, Raya tak menolak perlakuan itu. Gadis itu hanya diam dan menuruti gerak tangan Andra. Seperti terhipnotis oleh lagu yang didengarnya sendiri.
“Bagaimana? Nyaman, kan?”
Raya tidak langsung menjawab. Ia merasa hangat dan nyaman, bahkan ia bisa saja tertidur. Namun, kenapa ia merasa bisa melepaskan semua masalahnya? Semuanya terasa begitu ringan dan tidak ada yang membebaninya lagi. Begitu hangat dan tenang.
“Hmm,” jawab Raya akhirnya.
Andra tersenyum sambil memandang Raya. Walau sudah berulang kali ia menjalin cinta dan berperilaku romantis pada setiap gadis, akan tetapi Raya sangat berbeda di matanya. Apakah ia benar-benar jatuh cinta pada Raya?