Matahari pada pagi hari ini tersenyum hangat memancarkan sinarnya. Sama halnya dengan Andra yang tidak berhenti tersenyum saat berhasil mengajak Raya ke sebuah mall. Kini, mereka berjalan beriringan melewati berbagai toko yang ada di sini. Sejujurnya, ia ingin membelikan Raya sebuah barang yang membuat gadis itu selalu mengingatnya. Sayangnya, sedari tadi Raya malah tidak berniat untuk memilih apapun.
“Apa yang kau inginkan Raya? Bicaralah,” bujuk Andra entah untuk yang kesekian kalinya. Ternyata Raya termasuk orang yang berselera tinggi. Maka dari itu, ia juga tidak mudah menyukai sesuatu.
“Kenapa kau harus memaksaku? Aku tidak ingin apa-apa, Andra,” jawab Raya acuh tak acuh. Ia hanya melihat-lihat barang di dalam etalase. Namun, tidak lama kemudian, ia pergi meninggalkannya tanpa kesan apapun.
Andra mendengkus sebal. “Biasanya, setiap gadis akan menunjuk barang ini dan itu. Tapi, kau tidak Raya,” gerutu Andra.
Sayangnya, Raya tetap mengabaikannya. “Ah, kalau kau tidak mau apa-apa, biar aku yang memilihkannya untukmu. Bagaimana?”
Raya mengernyit heran. “Apa?”
“Ayo ikut aku!”
Raya terlihat heran saat Andra mengajaknya masuk ke dalam sebuah toko peralatan musik. Apa yang akan Andra lakukan? Kalau pikirannya benar, ia sama sekali tidak percaya jika Andra adalah seorang pemain salah satu alat musik.
Andra melihat alat musik ini dan itu, berkali-kali ia berpikir sejenak, lalu meninggalkannya jika dianggapnya tidak menarik. Sampai akhirnya ia berhenti pada sebuah biola yang dipajang apik di suatu sudut. Andra menoleh ke arah Raya sambil tersenyum lebar. “Raya!”
Raya malah terlihat bingung. “Kenapa? Kau mau beli itu?”
“Tidak.”
“Lalu? apa kau bisa memainkannya?”
“Tidak.” Raya semakin dibuat tidak mengerti. Ia mengerutkan keningnya.
“Aku akan membelikannya untukmu,” terang Andra membuat kedua mata Raya langsung terbelalak lebar.
“Untuk apa?”
“Aku pikir kau adalah orang yang suka mendengarkan lagu sedih. Makanya, aku membelikanmu ini. Selera musikmu bagus juga,” jelas Andra panjang lebar. Sementara Raya belum menangkap maksudnya.
“Belajarlah biola untukku.”
“Hah?” Raya masih tidak mengerti. “untuk apa aku harus melakukannya?”
“Aku ingin kau memiliki tujuan hidup, Raya. Aku tidak mau kau menyia-nyiakan setiap waktumu seperti ini. Setidaknya, kau punya harapan.”
Raya mendesah kesal. Sejak kapan Andra mulai bisa mengatur hidupnya? Apa setiap orang yang memiliki hubungan khusus selalu seperti ini? Kenapa menyebalkan sekali?
“Bukan urusanmu, Andra,” ucapnya ketus lalu berbalik dan meninggalkan laki-laki itu.
“Raya!” panggil Andra sambil berusaha mengejar. Akhirnya ia mendapatkan tangan Raya dan menahan gadis itu. “Kenapa kau membenci hidupmu seperti ini? Hidupmu sangat berarti kalau kau tahu, Raya.”
“Sejak kapan kau mulai memperhatikan hidupku?”
Andra tidak langsung menjawab. Di satu sisi, ia sangat ingin membuat Raya bahagia. Namun di sisi lain, ia merasa tidak enak pada gadis ini. Dan ketika ia akan menjawabnya ....
“Hei, Andra!”
Andra dan Raya sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Dan mereka berdua langsung menemukan sesosok laki-laki tampan dengan lengan berotot. Raya melihat Andra tersenyum lebar.
“Kak Raja!”
Raja? Raya berpikir sejenak. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu? Sampai akhirnya ia ingat akan nama kekasih Bunga. Bukannya nama kekasih Bunga adalah Raja juga? Raya mencurigai satu hal, jangan-jangan laki-laki di depannya ini adalah yang bernama Raja yang diceritakan oleh Bintang?
“Kau, adik Bintang, kan?” tanya Raja tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Raya.
Raya langsung kaget setengah mati. Ia panik. Apa yang harus ia katakan? Sementara sekarang di sebelahnya ada Andra yang menatapnya penuh tanda tanya.
“Adik Bintang?” ulang Andra tidak mengerti. “Jadi selama ini kau adik Bintang dan tidak memberi tahuku?”
Otak Raya benar-benar buntu. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya sekarang. Saat ini, hanya ada satu orang yang sangat diharapkannya. Bintang!
•••••••
Andra masih berkutat keras dengan pikirannya sendiri dan kenyataan aneh yang tidak bisa dimengerti olehnya. Sebenarnya apa yang disembunyikan Raya? Dan siapa dia sebenarnya? Andra baru sadar, bahwa selama ini ia hanya menyukai Raya tanpa berusaha mencari tahu latar belakang gadis itu. Lantas apa yang harus dikatakannya sekarang saat temannya sendiri, Raja, mengenali Raya sebagai adik dari Bintang?
Sesekali Andra melirik ke arah Raya yang duduk di sampingnya. Gadis itu terlihat jelas sedang gelisah. Raya terus mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat memasukkan satu suapan pun ke mulutnya.
“Mm, sepertinya aku harus ke toilet,” kata Raja sambil meletakkan sendok di piringnya. “kalian tunggu sebentar. Mengerti?” tambahnya pura-pura mengancam sambil tersenyum. Setelah itu ia segera berlalu dari hadapan Andra dan Raya.
Andra menghela napas panjang. Seolah ia menahan napas yang begitu berat saat Raja masih ada di depannya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia langsung menatap Raya.
“Bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku?” Andra melihat Raya meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Gadis itu juga melakukan hal yang sama.
“Ceritanya begitu rumit. Nanti aku jelaskan,” terang Raya kemudian.
“Kenapa harus nanti? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?” paksa Andra. Baru kali ini ia memandang Raya dengan tajam.
“Maaf, Andra. Aku tidak bisa.”
“Raya!” potong Andra jengkel. “kenapa dari awal kau sembunyikan identitasmu? Sebenarnya apa hubunganmu dengan Bintang? Siapa kau sebenarnya?” bentak Andra tidak sanggup menahan emosinya.
Raya terdiam tanpa berkata apa-apa. Namun, kedua matanya masih setia membalas tatapan Andra, walau sesakit apapun itu.
“Percayalah padaku, kalau kau memang mencintaiku. Mengerti?” ujarnya terakhir kali lalu memakan makanannya tanpa memedulikan Andra.
Andra mendesah berat. Rasanya sangat kesal dan menyebalkan. Kenapa Raya tidak mau mengatakan yang sebenarnya? Seolah gadis itu tidak mau Raja datang dan mengetahui semuanya. Semua yang gadis itu rahasiakan.
“Kalian baru bicara apa? Aku lihat serius sekali?” tanya Raja sambil terkekeh kecil sekembalinya dari toilet.
“Tidak bukan apa apa,” jawab Andra singkat.
•••••••
Raya menendang keras-keras sebuah batu kerikil di hadapannya. Ia mendengkus sebal. Di luar dugaannya, ternyata Andra malah meragukan cerita bohong yang dibuatnya. Ya … walaupun sikap Andra bisa dikatakan normal karena Raya membuat cerita yang terlalu berbelit-belit. Pakai mengatakan kalau ia dan Bintang adalah saudara tiri pula. Raya merasa dirinya sangat bodoh sekarang.
“Hei!”
Raya mengerutkan keningnya. Lalu, menoleh ke belakang dan melihat siluet seseorang sedang berdiri di sana. Raya menyipitkan matanya. Ia sama sekali tidak takut jika orang itu berniat jahat padanya.
“Siapa?” seru Raya.
Akhirnya orang itu melangkah maju ke depan. Dan kini wajahnya terlihat jelas di bawah sinar lampu jalan. “Kau masih suka jalan sendirian malam-malam begini?”
Raut wajah Raya langsung berubah 180 derajat. Antara takut, kesal dan marah. Ia benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaannya ketika melihat Arsen. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ditanyakannya pada laki-laki itu. Namun, di sisi lain, ia juga tidak mau jika Arsen semakin mengetahui rahasianya bersama Bintang selama ini.
“Hei! Kepalaku sakit karena terkena batu yang kau tendang?” protes Arsen sambil memegang puncak kepalanya.
Raya menelan salivanya. Keringat dingin langsung menghujaninya dengan deras. Apa ia harus bertanya? “A-Arsen ….”
“Apa? sejak kapan kau menjadi gagu begitu?”
“Boleh aku berbicara denganmu?” kata Raya akhirnya. Ia berusaha mengatur detak jantungnya yang semakin cepat. Kali ini ia hanya bisa pasrah, biarlah Arsen mengetahui semua rahasianya.
•••••••
“Kau mau tahu bagaimana aku mengetahuinya?” tanya Arsen sekali lagi. Bahkan setidaknya ia sudah bertanya sebanyak sepuluh kali dalam 20 menit terakhir.
“Cepat!” seru Raya mengalahkan suara hujan yang turun tidak begitu deras. Namun, hal itu memaksanya untuk mengikuti Arsen sampai ke warung makan di pinggir jalan.
Arsen tersenyum meledek. Lucu sekali mendengar Raya memohon-mohon seperti ini. “Tapi, kau jangan kaget ya,” kata Arsen sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
“Oke!”
Arsen menelan apa yang ada di mulutnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia menjawab, “Karena aku memiliki kemampuan ESP yang bisa melihat arwah gentayangan.”
Raya membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia bahkan sudah tidak memercayai telinganya sendiri ketika Arsen berkata seperti itu.
“Kau tidak membohongiku, kan?”
“Untuk apa?” balas Arsen tanpa menatap Raya sekalipun. Ia terus sibuk dengan nasi gorengnya yang ada di hadapannya. “lagipula sikapmu sangat aneh. Kadang-kadang kau sedikit ramah, tapi sedetik kemudian kau berubah arogan lagi.”
“Bintang tidak akan memakai badanku dalam waktu satu detik,” ralat Raya.
“Oh, jadi namanya Bintang?” ucap Arsen sambil menggut-manggut.
Raya mengerutkan keningnya. “Apa? Bukannya kau sudah tahu?”
“Haha. Ya, aku tahu. Aku hanya sedang bercanda.”
Raya menggerutu tidak jelas. “Ceritakan semua yang kau tahu, aku ingin tahu!”
“Untuk apa?”
“Arsen,” bujuk Raya membuat Arsen semakin senang menertawainya.
“Oke,” ucap Arsen sambil meletakkan sendoknya dan menatap Raya untuk pertama kali sejak mereka duduk disana. “Nenekku adalah seorang cleaning service di kampus. Dia memiliki kemampuan ESP yang bisa melihat masa depan. Ia menyuruhku untuk membantu kau dan arwah Bintang untuk mencapai tujuan kalian. Saat itu, nenekku tidak sengaja menyentuhmu dan melihat jelas kejadian-kejadian yang akan terjadi terhadapmu,” cerita Arsen.
Raya menjadi teringat akan pertemuannya dengan nenek tersebut saat tidak sengaja bertabrakan di lorong kampus dulu.
“Bagaimana akhir dari ceritaku?”
“Nenekku bilang kau harus bisa membantu Bintang untuk menyelesaikan urusannya.”
“Tunggu, menyelesaikan urusannya? Jadi, Bintang harus benar-benar menyelesaikan urusannya? Apa yang terjadi kalau dia tidak bisa menyelesaikannya?”
Arsen tidak langsung menjawab. Ia terlihat sedang berpikir keras. “Kalau itu terjadi, maka .…”
“Maka? Maka apa?”
“Kau juga akan mati, Raya. Karena, takdir kalian berdua saling terikat.”
Raya langsung membekap mulut dengan kedua tangannya. “Kau … kau bohong, Arsen!” tuduhnya.
“Aku tidak berkata bohong mengenai hal-hal semacam ini. Ini kenyataan, Raya. Kau telah meminjamkan tubuhmu untuk laki-laki itu. Dan itu membuat kalian adalah satu nyawa, hingga kalian terikat. Jadi kau juga harus membantu Bintang untuk menyelesaikan urusannya,” jawab Arsen panjang lebar membuat Raya serasa ingin pingsan saja.
Raya menatap Arsen tanpa berkata apa-apa. Ia begitu syok, ketika mengetahui jika hidupnya dalam bahaya. “Maksudmu sekarang aku tidak beda dengan sebuah tubuh tanpa nyawa yang jelas?”
Arsen menganggukkan kepalanya. “Tapi kau bisa memperjuangkan hidupmu, Raya. Percayalah.”
Semua tubuh Raya terasa lemas. Kenapa hidupnya menjadi seperti ini? kenapa ia harus mengalami hidup semacam ini? Apa semua ini adalah karma yang harus ia terima?
Perlahan air matanya jatuh menetes. “Arsen apa ada hidup seperti ini?” keluhnya sambil sesenggukkan.
Arsen pun mendekapnya dalam pelukannya yang hangat.
•••••••
“Raya, kau kenapa?” tanya Bintang saat masuk ke kamar Raya dan mendapati gadis itu sedang menangis tersedu-sedu sampai matanya membengkak.
“Bintang, kenapa kau tidak pernah mengatakan hal ini padaku?” seru Raya tanpa menghentikan tangisnya.
Bintang mengerutkan kening, ia belum mengerti apa yang dibicarakan Raya. “Apa maksudmu?”
“Kau tidak pernah mengatakan kalau aku bisa mati, kan?”
“Kau memang bisa mati, Raya. Semua manusia begitu.”
“Tapi aku mati dalam waktu dekat!”
“Ap-apa?”
“Ada yang memberitahuku, kalau urusanmu di dunia tidak terselesaikan dengan baik, maka aku akan ikut mati bersamamu?” jelas Raya frustrasi. Ia semakin menangis sekencang-kencangnya.
“Tunggu! Siapa yang memberitahumu hal seperti itu?”
“Tidak penting! Aku tidak mau mati, Bintang!!” teriak Raya meronta-ronta. Sementara Bintang hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak memberitahumu juga karena menakutkan hal semacam ini terjadi? Sudahlah, tenang saja. Aku pasti bisa menyelesaikan urusanku kok,” kata Bintang meyakinkan.
“Bintang?” tanya Raya yang mulai berhenti menangis. Lalu ia menyeka air matanya sambil sesenggukan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Bintang, kenapa kau tidak bilang kalau saat kau menggunakan tubuhku untuk menemui Bunga, kau mengaku sebagai adikmu?”
Bintang tampak terkejut. “Memangnya kenapa?”
“Aku bertemu dengan Raja, tunangan Bunga tadi siang. Apalagi, saat itu aku sedang bersama Andra. Aku jadi tidak enak, mengerti?”
“Andra?!” potong Bintang. “A-apa yang dilakukan Andra dan Raja? Apa mereka saling kenal?”
Raya menganggukan kepalanya mantap. “Bahkan mereka terlihat akrab. Memang kenapa?”
Bintang tidak menjawabnya. Ia malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Kenapa ia merasa ada yang janggal? Tanpa sepengetahuannya, ternyata Andra adalah teman Raja. Lalu apakah hal itu juga ada hubungannya dengan pembicaraan Raja saat itu? Sial, ternyata kenyataannya tidak semudah yang ia pikirkan!