Ruangan itu kembali sunyi setelah pintu ditutup.
Bintang berdiri sendirian di tengah ruang kerja yang luas itu. Meja besar yang beberapa menit lalu melayang di atas kepala Pramono kini telah kembali ke tempatnya, rapi, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Berkas-berkas tersusun. Kursi menghadap ke jendela. Bahkan aroma pengharum ruangan masih tercium sama seperti sebelumnya.
Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri.
Beberapa menit yang lalu, dengan tangan ini, ia hampir saja meremukkan kepala seorang manusia.
Dan sekarang, tangan yang sama itu bergetar.
Bintang menjatuhkan tubuhnya ke kursi Pramono. Ia bersandar, menengadah, menatap langit-langit ruangan yang putih dan bersih.
Kenapa rasanya kosong?
Selama berbulan-bulan ini, hanya satu hal itu yang ia inginkan. Menemukan orang itu. Menatap wajahnya. Membuatnya merasakan apa yang pernah ia rasakan. Ia pikir, setelah semua itu selesai, dadanya akan terasa lapang. Ia pikir, ia akan bisa tertawa.
Namun, yang tersisa justru kekosongan yang jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
“Nyawa dibayar dengan nyawa,” gumamnya lirih kepada ruangan yang tidak akan menjawab. “Lalu setelah itu apa?”
Tidak ada jawaban.
Bintang mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dan menembus dinding kaca gedung itu, keluar menuju ke udara Jakarta yang panas.
••••••••
Kabar itu menyebar cepat.
Di kantor polisi, seorang laki-laki bertubuh tinggi keluar dari ruang tahanan dengan pakaian yang sudah tiga hari tidak diganti. Andra melangkah pelan, seolah kedua kakinya belum yakin bahwa ia benar-benar diperbolehkan berjalan keluar.
“Semua tuduhan pembunuhan itu gugur,” terang Jaka sambil merapikan berkas di tangannya. “Kesaksian Raja sudah cukup. Tersangkanya sudah ditangkap sore tadi.”
Andra tidak menjawab.
“Andra?”
“Lalu kasus kecelakaan itu?”
Jaka menghela napas. “Itu perkara yang lain. Kau tetap harus menghadapinya. Tapi setidaknya kau tidak lagi disebut pembunuh.”
Andra menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak terlihat seperti senyum.
“Tidak ada bedanya, Ka,” ucapnya pelan. “Bintang tetap tidak ada.”
Di sudut ruangan, bersandar pada dinding yang tidak bisa menopangnya, Bintang berdiri menyaksikan semuanya. Ia menatap punggung sahabatnya yang berjalan keluar. Ia melihat bahu laki-laki itu yang turun, kepala yang menunduk, langkah yang berat.
Dan untuk kesekian kalinya, Bintang tidak bisa membencinya.
“Andra,” panggilnya, walau ia tahu betul jika tidak akan ada yang mendengar. “Kau bodoh sekali. Kenapa kau tidak menyalahkanku saja? Aku yang naik bus itu. Aku yang memilih pulang malam-malam.”
Andra terus berjalan. Melewatinya. Menembusnya.
Bintang tetap berdiri di sana lama sekali, bahkan setelah pintu kantor itu tertutup.
••••••••
Andra tidak pulang ke rumahnya malam itu.
Laki-laki itu justru meminta Jaka mengantarkannya ke sebuah rumah sakit, lalu berjalan menyusuri lorong lantai tiga dengan pakaian yang masih sama dan wajah yang belum sempat dicuci.
Ia berhenti di depan sebuah pintu, menarik napas dalam-dalam, lalu masuk.
Di dalam sana, tubuh Raya masih terbaring diam. Ibunya tertidur di kursi sambil memeluk tas, kelelahan setelah berhari-hari tidak beranjak.
Andra menarik kursi kecil ke sisi ranjang. Ia duduk, lalu menggenggam tangan gadis itu dengan hati-hati sekali, seolah takut mematahkannya.
“Hai,” bisiknya. “Maaf, aku baru bisa datang.”
Tidak jauh dari sana, Raya berdiri.
Sesosok arwah yang bersandar pada dinding, dengan kedua tangan yang terkepal di sisi tubuhnya, menatap laki-laki itu tanpa berkedip.
“Kau tahu, semua orang di luar sana sedang sibuk membicarakan siapa yang bersalah,” lanjut Andra pelan. “Tapi sejak tadi aku hanya memikirkan satu hal. Bagaimana kalau kau tidak bangun?”
Bahu laki-laki itu mulai berguncang.
“Raya, dengarkan aku baik-baik. Kau tidak akan mati sekarang. Kau tidak boleh mati sekarang.” Suaranya pecah. “Hidupmu masih panjang. Kau akan meninggal saat kau tua nanti. Kau akan meninggal di tempat yang hangat dan dikelilingi cucu dan anakmu. Kau akan meninggal dengan damai dan diiringi doa. Kau akan tidur panjang di sisi suamimu, orang yang kau cintai.
“Bukan di jalan raya. Bukan di dalam taksi. Bukan hari ini.”
Andra menunduk, menempelkan kening pada punggung tangan gadis itu, dan menangis tanpa suara.
Raya tidak bergerak dari tempatnya.
Ia ingin sekali melangkah maju. Ia ingin sekali memeluk laki-laki itu, mengatakan bahwa ia ada di sini, bahwa ia mendengar semuanya. Namun, kedua kakinya seolah terpaku ke lantai, dan air mata itu jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan.
Malam itu Andra berbicara sangat lama. Tentang hari-hari yang belum sempat mereka lewati. Tentang tempat-tempat yang belum sempat mereka datangi. Tentang hal-hal sederhana yang biasanya tidak pernah dikatakan oleh laki-laki seperti dia.
Dan Raya mendengarkan semuanya, sampai kalimat yang terakhir.
••••••••
Sore keesokan harinya, sebuah alarm berbunyi di ruangan itu.
Bukan alarm yang buruk. Melainkan alarm yang membuat para perawat berlari sambil tersenyum, dan membuat seorang wanita paruh baya menjerit sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Jari-jemari itu bergerak. Hanya sedikit. Namun, cukup.
“Raya? Raya, Sayang, Ibu di sini!”
Kelopak mata itu bergetar. Perlahan-lahan, dengan susah payah, terbuka.
Cahaya. Terlalu banyak cahaya. Raya mengerjap berkali-kali, berusaha menyusun kembali dunia yang berkunang-kunang di hadapannya. Tenggorokannya terasa kering dan perih. Kepalanya berat. Dan ada sesuatu yang menempel di wajahnya.
“Jangan bergerak dulu,” ujar seorang dokter. “Kau baru saja kembali.”
Kau baru saja kembali.
Raya ingin tertawa mendengarnya. Sebab, tidak ada satu pun orang di ruangan ini yang tahu betapa harfiahnya kalimat itu.
Ia menggerakkan kedua bola matanya, menyapu seisi ruangan, mencari sesuatu. Ibunya di sebelah kanan. Perawat di sebelah kiri. Selang. Layar. Langit-langit.
Lalu, di sudut ruangan, di dekat jendela, berdiri seorang laki-laki tinggi yang bersedekap sambil menatapnya.
Laki-laki itu tersenyum.
Raya berusaha membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya sanggup menggerakkan bibirnya, membentuk satu kata.
Bintang.
Arwah itu mengangkat satu alisnya, lalu berkata tanpa suara, “Lambat sekali.”
Dan di tengah ruangan yang penuh oleh isak tangis ibunya, Raya Putri tertawa. Tertawa dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya, sampai perawat di sampingnya kebingungan dan buru-buru memanggil dokter lagi.
••••••••
Malam harinya, Bintang tidak berada di rumah sakit.
Ia berdiri di depan sebuah rumah yang sudah terlalu sering ia datangi. Lampu terasnya menyala. Pagarnya terbuka sedikit. Dan yang paling penting, mobil hitam yang biasa terparkir di halaman itu sudah tidak ada lagi di sana.
Raja sudah tidak ada di rumah ini.
Dada Bintang berdenyut oleh sesuatu yang hangat. Akhirnya. Akhirnya gadis itu aman. Tidak akan ada lagi tendangan. Tidak akan ada lagi darah di sudut bibir. Tidak akan ada lagi malam-malam ketika ia harus berteriak sekuat tenaga kepada orang yang tidak bisa mendengarnya.
Ia melangkah masuk, menembus pagar, lalu naik ke balkon kamar Bunga seperti biasa.
Namun, langkahnya terhenti di ambang jendela.
Di dalam sana, di ruang tengah lantai bawah, terdengar suara orang-orang berbicara. Bintang menuruni tangga perlahan-lahan, dan berhenti di anak tangga terakhir.
Ada beberapa orang dewasa duduk mengelilingi meja. Ayah Bunga. Ibu Bunga. Dan dua orang lain yang tidak dikenalnya.
“Jadi bagaimana, Pak? Setelah semua kejadian ini, apakah rencana kita tetap dilanjutkan?”
“Tentu saja dilanjutkan. Justru sekarang Bunga membutuhkan kepastian. Perjodohan ini sudah disepakati sejak lama.”
“Tapi anak itu sepertinya masih terpukul.”
“Nanti juga terbiasa. Namanya juga perempuan.”
Bintang berdiri kaku di anak tangga itu.
Perjodohan.
Sudah disepakati sejak lama.
Ia merasa ada yang runtuh di dalam dadanya, perlahan-lahan, seperti dinding yang lapuk dimakan waktu. Kepalanya dipenuhi oleh terlalu banyak potongan yang tiba-tiba saja menemukan tempatnya masing-masing. Kenapa Bunga selalu menghindar setiap kali ia bertanya. Kenapa gadis itu selalu berkata nanti saja. Kenapa Raja bisa masuk ke rumah ini sesuka hatinya.
Semua ini sudah ada sejak dulu. Sejak sebelum ia mati. Dan gadis itu tidak pernah mengatakannya sedikit pun kepadanya.
“Bintang?”
Bintang terperanjat.
Bunga berdiri di ujung lorong, mengenakan piyama, dengan kedua netra yang membeliak menatap tepat ke arahnya. Bukan ke arah dinding. Bukan ke arah tangga. Melainkan tepat ke arah kedua matanya.
Gadis itu melihatnya.
Selama ini, gadis itu selalu bisa melihatnya.
“Bintang, tunggu—”
Bintang mundur selangkah.
“Bintang! Dengarkan aku dulu. Aku bisa menjelaskannya. Semua ini tidak seperti yang kau—”
Ia berbalik.
“BINTANG!”
Ia melangkah menembus dinding, menembus pagar, menembus jalanan kompleks yang lengang. Ia terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun, walau ia bisa mendengar suara gadis itu memanggil namanya berkali-kali dari kejauhan. Semakin lama semakin jauh. Semakin lama semakin serak.
Sampai akhirnya, suara itu tidak terdengar lagi.
Bintang berhenti di tengah jembatan penyeberangan yang kosong. Ia mencengkeram pagar besinya erat-erat, menunduk, dan membiarkan air matanya jatuh menembus lantai di bawah kakinya.
Sungguh, ia tahu ini keliru.
Ia tahu seharusnya ia berbalik. Ia tahu seharusnya ia berdiri di sana dan mendengarkan, sebab gadis itu jelas-jelas ingin berbicara. Ia tahu betul, karena ia sendiri yang selama ini selalu mengeluh tentang betapa menyiksanya berbicara kepada orang yang tidak mau mendengar.
Namun, malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi arwah, Bintang memilih untuk menjadi orang yang tidak mau mendengar.
“Maafkan aku, Bunga,” bisiknya kepada angin.
Lalu, ia melangkah pergi.
Dan tidak kembali.