Ku pikir aku sudah bisa merasakannya sekarang. Awalnya aku bahkan tidak pernah melihat seberapa dalam perasaan yang kau berikan padaku. Maafkan aku. Aku tidak pernah menjadi seorang gadis yang mencintaimu setulus itu.
Bunga menutup layar laptopnya setelah mengakhiri rangkaian cerita dalam novel yang telah ditulis tiga bulan terakhir. Ya, ini adalah novel pertama yang ditulisnya. Sekaligus menjadi novel yang sangat berharga untuknya. Karena ia menulis berdasarkan dengan apa yang pernah dialami sendiri.
Bintang. Laki-laki itu telah memperlihatkan padanya tentang banyak hal yang dulunya tidak pernah dipercayai. Tentang cinta, ketulusan, kematian bahkan … arwah. Jujur, sampai sekarang ia masih tidak mengerti bagaimana mungkin sesosok arwah masih menyimpan perasaan cintanya pada seorang manusia. Dan hal itulah yang terjadi padanya. Semua ini seperti cerita novel fiksi yang sering dibaca.
"Bintang, maaf jika aku tidak pernah berkata jujur padamu. Aku telah menyembunyikan banyak hal. Perjodohanku, pertunanganku, perasaanku, dan kenyataan bahwa sebenarnya selama ini aku bisa melihatmu dalam bentuk lain,
"ya, aku bisa melihat rohmu Bintang. Aku bisa melihat dengan jelas ketika kau datang ke kamarku, mendengarkan semua yang kau ucapkan dan menatap wajahmu saat kau menangis karenaku. Aku melihat dan mendengar semua itu. Aku tidak berbohong."
“Kenapa kau meninggalkanku Bintang? Kenapa kau pergi tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara? Apa kau marah padaku? Kau membenciku?” ucap Bunga sambil sesenggukan. Ia tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya.
“Aku tidak membencimu. Aku tidak marah padamu. Aku hanya terlalu bodoh. Aku salah mengambil keputusan, Bunga.”
Bunga mengerutkan kening. Suara siapa itu? Suara Bintang. Tapi, bagaimana mungkin? Kalau memang itu suara Bintang, maka di mana laki-laki itu? Ia ingin melihatnya, ia ingin ….
“Bintang” panggil Bunga meski merasa tidak yakin. Entah, tapi ia yakin Bintang pasti mendengarnya. “Aku merindukanmu,” sambungnya dan kemudian Bunga menjatuhkan diri ke tanah. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia bahkan tidak memedulikan orang-orang yang memperhatikannya.
Tiba-tiba Bunga merasakan hangat di sekitar tubuhnya. Sebenarnya ia sedikit merinding, terlebih ketika sama-samar melihat wajah Bintang. Laki-laki iti memakai pakaian seperti seorang manusia. Ia merasakan hangat pada tubuhnya ketika Bintang memeluknya.
Bunga terdiam membisu. Tidak, ia memang tidak bisa melakukan apa-apa saat itu. Ia hanya diam dan membiarkan Bintang memeluknyanya. Meski sulit baginya untuk memahami semuanya, tapi ... sudah cukup bahagia untuk Bunga jika Bintang masih mencintainya seperti dulu.
Bunga tersenyum kala mengingat semua itu. Pelukan Bintang adalah salah satu yang paling dirindukan. Seolah itu adalah sebuah ketulusan yang Bintang perlihatkan. Bintang memang tak banyak mengatakan kata ‘cinta’, tetapi laki-laki itu lebih menunjukkan dengan perbuatannya.
“BUNGA! Apakah kau sedang berusaha untuk tidak mendengarkan hatimu? HEI! Kau telah menemukan cintamu. Kau sudah menemukannya hanya saja. Hanya saja … kau perlu menunggu satu kali lagi. Apa kau pernah menjalani hidup sepertiku?
"kau lebih beruntung karena cinta menghampirimu dengan cepat. Kau tidak perlu menunggu selama itu. Lalu kenapa sekarang kau mau mengikuti cinta yang tidak benar-benar menghampirimu? Dia tidak tulus, bisakah kau membuka matamu?!”
“BUNGA! KAU MEMANG GADIS YANG BODOH!”
Raya. Ya, bahkan Bunga masih ingat dengan jelas bagaimana usaha gadis itu menggagalkan pernikahannya dengan Raja. Raya memang gadis yang hebat. Meski sikapnya sedikit arogan, tetapi gadis itu memiliki hati yang sangat tulus dan lembut. Ya, mungkin ia harus berterima kasih padanya. Kalau saat itu Raya tidak datang, maka bagaimana nasibnya sekarang?
“Pendeta, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Jika aku, Bunga selama ini tidak mencintai calon suamiku, Raja,” kata Bunga membuat seisi gereja terkejut bukan main. Termasuk kedua orang tuanya dan Raja.
Namun, Bunga sama sekali tidak memedulikannya. Ia bahkan tidak mendengar lagi apa yang diucapkan Raja maupun para undangan.
Sesekali Ia menolehkan kepalanya ke arah Raya. Gadis itu tampak begitu cemas dan menanyakannya pada Bintang. Bunga tersenyum geli. Lalu, ia pun memutuskan untuk berlari keluar gereja.
Dan tiba-tiba sesuatu menghentikan langkahnya. Raya, wajah gadis itu mendadak muncul di pikirannya. Tanpa pikir dua kali, ia menoleh ke belakang dan tersenyum padanya. Jelas, Raya terlihat heran sekaligus terkejut. Mungkin gadis itu masih bertanya-tanya kenapa dirinya bisa melakukan hal seperti itu. Tapi, biarlah Raya yang menerka-nerka sendiri.
"Terima kasih Raya. Aku tidak akan melupakan kejadian itu. Raya, sampai sekarang pun aku masih merasa berhutang budi padamu. Kau yang telah membuka mataku dan menumbuhkan keberanian dalam ketakutanku. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan gadis sebaik diri mu,
"Raya, kini aku mengerti kenapa Bintang begitu bahagia memiliki seorang sahabat sepertimu. Kau tak hanya cantik dan baik, tetapi lebih dari itu. Kau seorang malaikat,
"malaikat tanpa sayap yang tertutup oleh tubuh manusia. Kelak, jika suatu saat nanti aku dipertemukan lagi denganmu, maka aku akan memelukmu dan mengucapkan kata terima kasih setulus yang kubisa,
"aku berjanji Raya, meskipun kau sudah melupakanku sekalipun."
••••••••
“Sayang, kemarilah! Raya sudah membuka matanya!” seru Ibu Raya pada suaminya yang duduk di sofa.
“Yang benar?” kata Ayah Raya sambil berlarian kecil mendekati ranjang Raya. Wajahnya pun langsung memancarkan kebahagiaan ketika melihat putrinya benar-benar membuka kedua matanya.
“Sayang, kau sudah bangun?”
Raya terdiam. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan bingung. Kepalanya masih terasa pening dan ia harus memulihkan kesadarannya. Namun, saat dirinya melihat wajah kedua orang tuanya, ia tersenyum tipis.
“Raya, kau ingat Ibu dan Ayah, kan?” tanya Ibu Raya.
“Ibu. Ayah,” panggil Raya kelu. Meski ia belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi, akan tetapi ia merasa hatinya begitu bahagia sekarang. Sangat bahagia.
•••••••
“Sayang, kau memang anak Ibu yang paling hebat!” puji Ibu Raya sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu.
Raya hanya tersenyum senang. Namun, diam-diam kedua matanya menelisik setiap sudut ruangan itu. Ya, orang yang pertama kali ada dalam pikirannya ketika ia terbangun adalah Bintang. Masih segar diingatannya akan perpisahannya dengan laki-laki itu beberapa menit yang lalu. Dan meski Bintang sudah berkata jika mereka tidak akan bertemu lagi, ia masih sangat mengharapkan kehadiran sahabatnya itu. Benar, setidaknya ia bisa melihat laki-laki itu dengan suasana yang lebih indah.
“Raya, kau kenapa? Apa kau mencari seseorang?” tanya Ibu Raya memegang pipi anaknya.
“Oh, tidak,” jawab Raya berbohong. Ia menghela napas pendek. Ya, Bintang benar-benar pergi dari kehidupannya. Dan keinginannya untuk melihat Bintang pun, tidak akan terwujud meski ia terus mencari dan mencari. Raya memegang dadanya sendiri, kenapa ia merasa ada sebuah bagian kecil yang hilang?
••••••••
Dua minggu kemudian
“Ibu, aku ingin pergi ke suatu tempat di sini. Ibu tunggu di mobil saja, ya?” pinta Raya saat akan pergi meninggalkan rumah sakit karena hari ini sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Ibu dan Ayah Raya pun saling menatap, sebelum akhirnya Ayah Raya mengizinkannya. “Oke, tapi jangan lama-lama, ya. Kau masih harus banyak beristirahat.”
Raya mengangguk mantap. “Ya Ayah,” sanggupnya kemudian berbalik dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Raya melangkahkan kakinya ke tempat yang diinginkan. Ya, salah satu lorong di rumah sakit ini yang mempertemukannya dengan arwah Bintang untuk yang pertama kali. Raya sangat mengingat lorong itu, dan peristiwa itu seolah kembali terputar di dalam ingatannya.
“Raya."
Raya mengangkat kepalanya. Suara Bintang terngiang-ngiang di telinganya. Ia pun membalikkan badannya. Tidak ada siapa-siapa kecuali para suster yang berlalu lalang. Raya menundukkan kepalanya dan kembali berjalan dengan lemas.
“Raya, kau tidak mau melihatku? Aku Bintang.”
Perlahan air mata Raya menetes. Hatinya begitu merindukan laki-laki itu. Ia sangat ingin melihat wajahnya, mendengar omelannya dan bertengkar dengannya. Ia ingin pergi bersamanya dan merasakan ketika arwahnya masuk ke dalam tubuhnya.
“Hantu? HEI! Aku bukan hantu? Aku adalah arwahnya. Sudahlah, aku malas membahas itu.”
Raya tersenyum setiap mengingat hal itu. Bintang tidak pernah mau jika dirinya disebut hantu atau semacamnya. Dan ketika ia berkata seperti itu, maka Bintang akan memarahinya panjang lebar. Sekarang, ia tidak bisa lagi menyebut Bintang dengan sebutan hantu. Karena mungkin ia sudah menjadi malaikat sekarang.
Raya tersenyum meski air mata masih mengalir pelan dari kedua pelupuk matanya. Ia membalikkan badan ke belakang, seolah-olah Bintang ada di sana dan menunggunya.
“Terima kasih, teman.”
••••••••
Raya mendengar alunan piano ‘Kiss The Rain’ melalui earphone di telinganya. Kedua matanya menerawang jauh, jauh hingga kenangannya bersama Andra di bawah pepohonan terulang di otaknya. Bagaimana keadaan laki-laki itu? Baik-baikkah ia? Bagaimana ia Menjalani hidup di balik jeruji besi? Apakah ia bisa tidur dan makan dengan baik?
Ah, sejauh manapun Raya tak mampu membayangkannya. Kebenciannya pada laki-laki itu memang sudah dilupakannya. Namun kenapa ia masih bingung bagaimana caranya bersikap. Apa ia harus menyapanya? Menanyakan keadaannya seolah tidak terjadi apa-apa?
Raya memeluk kedua kakinya. Ia sangat bingung, apakah ia harus mendengarkan hatinya? Tapi ….
“Kau sedang memikirkan laki-laki itu, ya?” tanya Ibu Raya yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu kamar.
“Ibu? Kenapa tidak mengetuk pintu?”
Ibu Raya hanya tersenyum sambil berjalan hingga akhirnya duduk di depan putrinya. “Kau melamun terus, sampai tidak dengar ada yang mengetuk pintumu.”
“Ah … maaf?” ucap Raya sambil melepas earphone-nya.
“Apa dia kekasihmu?”
“Siapa?” tanya Raya belum mengerti akan arah pembicaraan Ibunya.
“Saat kau koma, ada seorang laki-laki yang menjengukmu. Dilihat dari caranya bersikap dan memperlakukanmu, sepertinya dia orang yang baik.”
"Andra", jawab Raya dalam hati. Benar, ia harus pura-pura tidak tahu dan membiarkan Ibunya bercerita.
“Dia, menangis di hadapanmu. Seolah telah melakukan dosa terbesar hingga menyakitimu. Ibu memang tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Dia bahkan meminta maaf padamu berulang kali. Dan, sebenarnya dia menyuruh Ibu untuk tidak menceritakan kedatangannya padamu. Tapi, bagaimana mungkin Ibu tidak memberi tahumu kalau ada orang sebaik itu yang sangat mencintaimu?”
“Men … cintaiku?”
Ibu Raya menjawabnya dengan senyum hangat. “Ibu tidak pernah melihat siapa orang itu, darimana dia berasal, bahkan dosa terbesarnya sekalipun. Satu-satunya hal yang Ibu lihat hanyalah hatinya. Karena hatilah yang memperlihatkan ketulusan,
"sayang, sebelum dia datang Ibu tidak pernah melihat orang setulus itu. Dan tatapannya saat dia melihatmu adalah tatapan yang tidak pernah Ibu temukan dimana pun. Jangan pernah menyia-nyiakan orang seperti itu. Kalau kau mencintainya, maka hampirilah dia. Peluk dia dan katakan apa isi hatimu. Percayalah,” yakin Ibu Raya penuh harap.
Raya menatap kedua mata Ibunya. Mungkin Ibu benar, kalau ia memang mencintai Andra. Dan tanpa melihat kesalahan Andra, ia pun yakin kalau Andra adalah orang yang baik.
“Terima kasih Ibu. Aku bisa melihatnya sekarang. Dia adalah laki-laki yang membuatku berhenti menunggu. Aku sudah lama menantinya, dan aku tidak akan membiarkannya pergi,” jawab Raya dengan penuh keyakinan.
Ya, Andra adalah cinta tulusnya. Andra telah memberikan ketulusan yang bisa menemani dan menghangatkannya. Dan Andra adalah ketulusan yang telah lama ditunggunya.
••••••••
“Jadi kau akan mengunjungi Andra?” tanya seorang petugas Kepolisian di hadapan Raya.
“Hmm,” jawab Raya pasti.
“Ada hubungan apa kau dengan Andra?”
“Aku temannya.”
“Oh, baiklah. Tapi, apa kau tidak tahu kalau dia sudah dinyatakan bebas?”
Raya langsung membelalakkan kedua matanya. “APA? Bebas?” tanyanya tidak percaya. Namun wajahnya sudah memancarkan kebahagiaan sejak pertama kali mendengarnya.
“Ya. Dia telah dinyatakan tidak bersalah dalam kecelakaan itu. Dia hanya dijadikan kambing hitam,” jelas petugas itu sambil memeriksa arsip yang ada di meja.
“Apa maksudnya?”
“Pihak Kepolisian baru saja menangkap tersangka utamanya. Yaitu, Pramono dan Raja. Raja sendiri adalah teman Andra. Pramono dan Raja telah merencanakan kecelakaan itu dan menjadikan Andra, sebagai umpannya,” terangnya panjang lebar.
“Benarkah?” ucap Raya lirih. Jari-jarinya yang terletak di atas meja bergetar. Dan entah kenapa jantungnya berdegup keras sekarang.
“Raya?”
Raya langsung menoleh ke arah sumber suara yang sangat dikenalnya itu. Ia pun tersenyum lebar ketika melihat seseorang yang sangat dirindukannya selama ini. Dan tanpa menunggu lagi, Raya langsung berlari memeluk kekasihnya itu.
“Raya? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Andra bingung.
“Karena aku merindukanmu,” jawab Raya tanpa melepas pelukannya. Ia masih tetap tersenyum hingga Andra membalas pelukannya.
“Raya, aku juga merindukanmu,” balas Andra sambil mencium kening Raya. Ia merasa sangat bahagia. Seolah semua masalahnya selama ini menguap begitu saja. Ia tidak menyangka kalau semua ini terjadi begitu cepat.
“Aku mencintaimu.”
••••••••
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Andra. Ia menghentikan mobilnya di dekat pantai dan menikmati detik-detik sunset di sana.
“Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukankah kau melihat keadaanku sangat baik sekarang?” jawab Raya tanpa menatap Andra.
Andra tertawa kecil. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Raya. “Aku tahu kau pasti bisa melewatinya. Kau memang gadis yang kuat.”
“Tidak,” tepis Raya dan ditatapnya laki-laki di sampingnya itu. “Ini semua karenamu,” lanjutnya membuat Andra mengernyit tidak mengerti.
“Maksudmu?”
“Kau pikir aku tidak tahu? Kau menjengukku saat aku koma, kan?” aku Raya kemudian tersenyum lebar dan menatap ke depan. “Andra, kenapa kau pandai menyusun kata-kata seperti itu? Apa kau memang pandai membuat puisi?” ujar Raya lalu dilihatnya Andra lagi. Tapi ia heran ketika mendapati Andra malah menundukkan kepalanya. “Kenapa?”
“Apa Ibumu menceritakannya?”
Raya tersenyum. “Lalu kenapa kau ingin menyembunyikan hari itu dariku?”
“Aku hanya tidak ingin kau memikirkanku lagi. Kau sudah cukup menderita selama ini. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri agar pergi menghilang dari hidupmu.”
“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Raya tetapi Andra tidak berniat menjawabnya. “Kau tahu, aku mendengarmu saat itu. Aku juga melihatmu menangis sambil menggenggam tanganku. Kau mengatakan hal-hal yang membuatku menangis, dan beranjak ingin memelukmu. Tapi saat itu aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya terdiam, membiarkanmu berbicara dan membuatku semakin sakit.”
“APA?”
Raya menatap kedua mata Andra dengan lembut. “Hidupku masih panjang, aku akan meninggal saat aku tua nanti. Aku akan meninggal di tempat yang hangat dan dikelilingi cucu dan anakku. Aku akan meninggal dengan damai dan diiringi doa. Aku akan tidur panjang di sisi suamiku, orang yang ku cintai,” ungkap Raya membuat Andra menatapnya terkejut.
“Benar, aku akan berusaha demi kau. Dan kau harus berjanji, kau akan menjadi orang yang ada disampingku ketika aku meninggal nanti.”
“Raya”
Raya menggenggam tangan Andra dengan senyuman di wajahnya. Ia tidak lagi berbicara apa-apa dan menikmati matahari yang perlahan tenggelam. Bersama Andra seperti ini adalah sebuah hari yang telah lama ditunggunya.
“Kau telah kutemukan. Aku telah lama mencarimu hingga aku lelah. Dan kini, kau telah bersamaku, menggenggam tanganku dan akan menghabiskan hari-hari denganku. Maaf, telah membuatmu menunggu terlalu lama,” ucap Andra tulus.