BUNGA merosot jatuh ke atas lantai ketika melihat bayangan kekasihnya menghilang dari hadapannya. Kedua kakinya terasa begitu lemah hingga tidak sanggup menopang tubuhnya. Ia merasakan kedua netranya memanas hingga tak lama kristal bening itu merebak di kedua pipi. Kedua bahunya bergetar seiring dengan isak tangis memilukan terdengar. Ia menjerit, menumpahkan semua rasa penyesalan yang saat ini menyelimuti d**a. Sangat menyesakkan.
"Bintang. Kenapa kau pergi meninggalkanku lagi? A-aku …." Bahkan ia tak sanggup hanya sekadar untuk melanjutkan ucapan karena tenggorokkannya tercekat. Ia menepuk dadanya yang terasa sesak dengan pelan. Ya Tuhan, ia sudah tidak sanggup jika harus kehilangan Bintang lagi seperti ini.
"A-aku merindukanmu, Bintang," lanjutnya bergetar. Tubuhnya tertunduk. Emosinya berkecamuk seiring dengan derasnya air mata yang tumpah. Sesekali, ia sesenggukkan.
Namun, detik setelahnya Bintang merasakan bayangan tubuhnya kembali muncul secara perlahan. Mulai dari ujung kepala, lalu merambat ke tubuh, kedua tangan dan yang terakhir kedua kakinya. Keningnya mengerut heran dengan tatapan tak lepas dari kedua tangannya. Ya, ia telah kembali. Mirisnya, ia tak tahu menahu apa yang sedang terjadi oleh dirinya. Bukankah tadi ia merasakan sakit di sekujur tubuh yang kemudian bayangannya menghilang? Lalu, sekarang? Kenapa ia bisa kembali berada di tempat ini?
Mendadak Bunga menghentikan isak tangisnya ketika melihat bayangan itu muncul di hadapannya. Ia termangu melihat pemandangan di hadapannya di mana sosok itu tampak kebingungan. Ia menyapu buliran bening di matanya dengan tangan kanan. Ia mengerjap, berharap apa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi.
"Bi-Bintang," panggilnya dengan suara parau.
Bintang menoleh. Seketika ia terpegun ketika mendapati Bunga yang telah berdiri di hadapannya. Kedua netra mereka saling bertemu. Cukup lama hingga pada akhirnya Bintang memanggil gadis itu dengan lembut. "Bunga."
Bunga tersenyum seiring dengan air mata kebahagiaannya merebak. Ia melangkah maju ke depan, menghampiri orang yang sangat dirindukannya. Ia berlari kecil sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Bintang.
Bintang tercengang. Ia menggelengkan kepalanya ke arah Bunga yang sudah semakin dekat dengannya. Dan ….
Buuggghhh !
Sayangnya, tubuh mungil Bunga dalam sekejap terjerembab jatuh ke atas lantai. Sebab ia berhasil menembus bayangan Bintang. Bunga merintih merasa sakit pada bagian hidung mancungnya yang telah mencium lantai. Sementara Bintang terbelalak melihat apa yang telah menimpa kekasihnya itu.
"BUNGA," teriaknya.
•••••••••
Siska mendesah pelan. Ia menggeleng saat mendengar jawaban dari Arsen. Mengikuti permainannya? Oh, astaga! Apa ia tidak berpikir jika kejadian saat ini dan dua tahun yang lalu itu sangat berbeda? Entah kenapa ia yakin jika Pramono akan belajar dari kesalahannya saat dua tahun silam. Jika seperti itu, sudah jelas jika nyawa Bintang akan kembali terancam.
Hei! Bintang bukanlah seekor kucing yang memiliki sembilan nyawa. Ia hanya seorang manusia yang mungkin saat ini sedang diberikan kesempatan yang kedua oleh Tuhan untuk hidup. Oh, tidak. Ketiga kalinya. Jika mereka kembali lengah lagi, ia tak akan bisa menjamin apakah Tuhan akan memberikan Bintang kesempatan satu kali lagi?
"Arsen, nyawa Bintang dalam bahaya! Kau tidak bisa mengikuti permainanmu dua tahun yang lalu untuk menyembunyikan tubuh Bintang di sini," ungkap Siska penuh rasa khawatir.
Arsen menggeleng. "Bukankah kita sudah menukar tubuh Bintang dengan jenazah Bintang Ardiansyah? Jenazah itu tak memiliki keluarga, sudah seharusnya kita menguburkannya dengan layak. Kau tahu? Saat di pemakaman aku melihat paman Bintang bersembunyi di balik pohon. Aku rasa rencanaku sudah cukup meyakinkannya jika di dalam liang lahat itu adalah jenazah Bintang Pradipa," terang Arsen panjang lebar penuh dengan keyakinan.
Siska berdecak kecil. "Kenapa kau begitu yakin? Apa kau tidak berpikir jika Pramono akan belajar dari kesalahannya dua tahun silam?" Siska menjeda ucapannya sesaat. Ia bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Arsen yang masih terus berada di depan komputer. "Entah kenapa aku memiliki firasat buruk jika terus menyembunyikan Bintang di Rumah Sakit ini," lanjutnya kemudian sambil mendaratkan bokongnya di sudut meja, di samping Arsen.
Arsen mendesah pelan. Ia tertunduk. Jujur saja ia bingung saat ini. Apa sebenarnya yang ada di kepala gadis itu? Bukankah sejauh ini rencana yang dibuatnya sudah cukup lancar?
Arsen mendongakkan kepala, lalu menatap Siska. Baiklah, anggap saja kali ini dirinya sedang mengalah dan tak ingin berdebat. "Lalu apa rencanamu saat ini?" tanyanya to the point.
Siska bersedekap dengan tatapan tak lepas ke arah laki-laki berkaca mata itu. "Bawa Bintang ke rumahku. Aku yakin dia akan aman di sana."
Kedua netra Arsen hampir saja akan melompat, karena terkejut akan penuturan gadis itu. "Kau sudah gila? Jika apa yang kau ucapkan benar, bukan tidak mungkin jika Pramono akan mendatangimu," sahutnya.
Siska menggeleng. "Tidak, Arsen. Itu tidak mungkin jika saat ini juga kakakmu itu dibawa ke rumahku."
Arsen bangkit. Ia memegang bahu gadis yang saat ini sudah ada di hadapannya. "Apa kau butuh piknik?" Arsen melepaskannya, lalu tersenyum. "Ah, ya. Aku yakin jika kau terlalu lelah akan pekerjaanmu sehingga saat ini kau membutuhkan piknik."
"Arsen!" panggil Siska sedikit menaikkan volume nada bicaranya saat melihat Arsen menganggap dirinya tengah bermain-main. "Aku tidak sedang bermain-main. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi Bintang. Walau sangat berbahaya, tetapi rumahku cukup aman untuk menyembunyikan tubuh kakakmu. Aku bisa meminta bantuan ayah untuk membawa peralatan yang kita butuhkan ke rumah."
"Tunggu! Ayahmu?" tanya Arsen memastikan.
Siska mengangguk. "Ayah sudah tahu semuanya," terangnya. Membuat Arsen ternganga.
"Apa? Kau memberitahu ayahmu? Hahaha. Siska, apa kau tahu? Apa yang kau lakuakan itu salah?" Arsen menatap netra Siska tajam.
Sementara Siska berdiri dan menjauhi Arsen. Ia duduk kembali di kursinya. "Ayah mau membantu kita, Arsen. Tidakkah kau berpikir jika ayahku sudah menerimamu?"
Arsen tercengung. Sunggug, pikirannya saat ini seakan benang kusut yang terus bekerja keras untuk menemui ujung permasalahan ini. Ia pikir perkara ini akan selesai jika mengikuti semua permainannya dua tahun silam tanpa memberitahu siapa pun. Nyatanya, perkara ini lebih sulit di banding yang lalu.
Arsen tak habis pikir akan pemikiran Siska yang akan membawa tubuh Bintang ke rumah gadis itu. Ya, walau ia tahu jika gadis itu sedang mengkhawatirkan kondisi Bintang. Namun … Ah, ia sendiri tak tahu harus menentukan sikap seperti apa.
"Arsen. Tidak ada banyak waktu untuk terus berpikir seperti itu. Mengerti?"
Arsen menatap Siska. Ia menggeleng lemah. Tidak. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Terlalu berisiko jika harus menyetujui ide gilanya itu. Walau bagaimana pun Siska merupakan gadis yang dicintainya.
"Kita pikirkan cara lain," putus Arsen kemudian.
••••••
Bintang bergegas menundukkan tubuhnya untuk membantu Bunga terduduk. Sialnya, tangannya sedikit pun tak mampu menyentuh tubuh Bunga. "Bunga, kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Detik setelahnya, Bintang meringis, memegangi hidungnya yang seolah-olah bisa merasakan rasa sakit dengan apa yang dirasakan oleh Bunga ketika gadis itu berhasil terduduk dengan hidung yang mengeluarkan darah.
Bunga merasakan kedua pipinya memanas. Sial, ia lupa jika Bintang sudah menjadi sesosok arwah. Bunga menggeleng. Lalu, bergegas bangkit dan berlari menuju ke kamar mandi untuk membersihkan darah di hidungnya.
"Bunga. Tunggu!" Bintang memilih untuk mengikuti gadis itu.
Bunga membasuh wajahnya di wastafel. Ia sedikit menekan hidungnya supaya cairan merah itu keluar dan bisa dengan mudah dibersihkannya. Sementara Bintang hanya memperhatikan gadis itu di sampingnya. Gadis yang begitu dicintainya.
"Apa kau habis menangis?" tanya Bintang ketika melihat kedua mata gadisnya yang sembab. Namun, tanpa disangka, gadis itu malah menangis sambil menatapnya. Membuat Bintang merasakan sesuatu berdesir ngilu di ulu hati. Sebab, tak mampu menenangkan gadisnya itu.
"Kau jahat Bintang! Jahat! Kenapa kau tiba-tiba menghilang seperti itu? Kau tahu? Aku takut! Aku takut jika harus kehilanganmu lagi. Oleh sebab itu, aku memilih untuk berpura-pura tidak melihat atau mendengarmu. Karena aku takut jika kau akan pergi lagi dariku," cerca Bunga dengan diiringi oleh isakannya.
Bintang termangu. Sungguh, ia sangat ingin memeluk gadis itu sekarang juga. Lalu, menenagkannya dan mengatakan jika dirinya tak akan pernah pergi lagi dari sisinya. "Sayang, jangan menangis. Aku sangat merindukanmu," tuturnya hangat.
Bunga menutup wajahnya dan menangis sepuasnya. Terlalu sesak jika harus mengingat kekasihnya itu telah tiada.
"Sayang …."
Bunga menghentikan tangisnya. Ia membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya. Dengan mata sembab, ia menatap lamat wajah kekasihnya itu. "Apa kau akan berjanji kepadaku untuk tidak meninggalkanku lagi?" pintanya penuh harap.
Bintang bergeming. Mungkinkah ia bisa menepati janjinya itu? Bukankah tubuhnya kian hari semakin melemah? "Ya, aku janji, sayang," ucapnya akhirnya.
Bunga menyapu air matanya dengan kedua tangan. Ia tersenyum dan menatap Bintang dengan penuh cinta. Sementara Bintang juga melakukan hal yang sama. Harapannya supaya tubuhnya cepat pulih supaya ia bisa dengan mudah mengatakan kepada Bunga jika dirinya masih hidup.
Dua jam sudah, Bintang menghabiskan waktu bersama Bunga dengan bercerita dan menonton TV. Namun, ada sesuatu yang membuat benaknya terus memikirkan sesuatu. Tentang tubuhnya yang tiba-tiba menghilang. Jujur saja, Bintang penasaran akan apa yang telah terjadi. Mau tak mau ia harus pergi untuk menemui Arsen. Ia yakin jika ada sesuatu yang telah menimpanya saat meninggalkan tubuhnya itu.
"Bunga, ada sesuatu yang ingin aku selesaikan. Aku harus pergi sekarang," ungkap Bintang. "Kau tidak perlu khawatir aku akan segera kembali," lanjutnya ketika gadis itu akan membuka suara.
"Urusan apa? Apa aku tidak bisa ikut bersamamu?"
Bintang termangu. Benaknya memikirkan berbagai alasan untuk diberikan oleh gadis itu. "Sesuatu yang hanya aku sendiri yang bisa menyelesaikannya. Aku janji setelah selesai akan sehera kembali."
Bunga tertunduk. Sungguh, hatinya terus melarang Bintang untuk pergi meninggalkannya. Namun, di lain sisi ia tak bisa jika harus menahan laki-laki itu di rumah ini. Ia tahu jika Bintang pasti memiliki urusannya sendiri yang harus diselesaikan. Haruskah ia mengizinkan laki-laki itu? Bagaimana jika ia tak kembali lagi ke sini?
"Aku janji. Aku akan segera kembali. Percayalah," kata Bintang meyakinkan gadisnya.
Bunga mengangkat wajahnya. Lalu, menatap netra Bintang hingga pada akhirnya ia melenggut, menyetujui laki-laki itu untuk pergi.