Ravin menghentikan mobil JEEP hitam miliknya di sebuah jalan yang gelap. Guyuran hujan deras dan semilir angin sepoi-sepoi menyambut Ravin malam itu. Ia sengaja menghentikan mobilnya di area yang sepi. Di mana sekelilingnya dipenuhi oleh pemandangan hutan yang cukup lebat. Pohon-pohon setinggi lebih dari delapan meter di tempat ini membuat suasana terlihat mencekam di malam hari.
Sebenarnya dulu pada hari-hari besar atau weekend, tempat ini adalah salah satu tujuan wisata favorit di daerah Jakarta selatan. Para wisatawan bisanya suka berjalan santai, atau hanya sekadar menyaksikan orang yang memancing di sekitar area Danau cincin/Danau sunter yang tidak jauh dari hutan ini. Namun, karena terlihat sangat kumuh dan tidak terawat perlahan area di sekitar ini mulai ditinggalkan dan menjadi sepi dengan sendirinya.
Ravin membuka bagasi mobil miliknya dan menemukan sebuah karung besar memenuhi area sana. Kemudian ia menyeret karung itu keluar dari bagasi dan menutupnya kembali. Tercium aroma anyir di udara. Tetes demi tetes cairan kental berwarna merah terus mengalir keluar dari karung itu. Beruntung, hujan deras yang mengguyur malam ini membuat cairan merah itu terlihat samar mengalir bersama air hujan yang turun hingga berhasil menutup jejaknya.
“Aisss Kau Berat juga rupanya, ckckck." Ravin melirik sekilas ke arah arwah wanita di sampingnya. Wanita itu hanya terdiam dan menangis melihat tubuhnya terus diseret di dalam karung.
Jujur saja, mulanya wanita itu sangat marah pada Ravin. Bagaimana tidak? Ia dilecehkan, disiksa dan bahkan harus rela kehilangan nyawanya karena dihabisi oleh pria bengis itu. Ia pun mencoba untuk memaki dan memukul Ravin. Namun, tentu saja tubuhnya bahkan tidak mampu untuk menyentuh tubuh Ravin. Kini ia harus menerima kenyataan jika dirinya hanya seonggok Arwah yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Arwah wanita itu mencoba untuk menghadang Ravin di depannya. Ia membentangkan kedua tangan, lalu perlahan tertunduk dan menekuk lututnya ke tanah. Ia menangkupkan kedua tangannya, bersujud dan memohon pada Ravin untuk mengabulkan satu saja permintaannya.
“Ravin, aku mohon. Setidaknya, sekali saja. Tolong tempatkan jasadku di tempat terbuka agar keluargaku bisa menemukanku. Atau kau harus memberitahu mereka jika aku sudah mati. Aku tidak ingin mereka terus-menerus mengkhawatirkanku dan mencariku," lirihnya diiringi oleh isak tangis yang terdengar menyayat hati.
“Ckckck.“ Ravin hanya berdecak melihat wanita itu merengek di depannya. Ia terus melangkahkan kakinya seakan tidak peduli dan berjalan menembus tubuh arwah wanita itu.
“SETIDAKNYA, KUBURKAN JASADKU DI TEMPAT YANG LAYAK!!! DASAR b******k!!" teriak wanita itu, “KAU PENGECUT!!” sambungnya.
Ravin menghentikan aksinya sejenak, kemudian memalingkan wajah pada arwah wanita itu. Dengkus napasnya mendadak bergemuruh karena tidak suka dengan ucapan gadis itu. Udara yang semakin dingin bahkan sudah tidak bisa dirasakan lagi, hanya hawa panas yang membekapnya saat ini. Namun, tiba-tiba ….
BRUKKKK....
Ravin katuh tersungkur akibat seseorang menabraknya. Ia meringis merasakan sakit seraya memegangi bokongnya. Sekilas, ia menoleh ke arah seorang pria yang saat ini tengah mengerang kesakitan di hadapannya.
“Awww … sakit,“ erangnya.
Pria itu tidak lain ialah Pramono. Ia tidak sengaja menabrak Ravin karena panik, kelelahan dan kehilangan fokus yang membekapnya secara bersamaan. Ditambah suata sirine mobil yang terdengar membuatnya kian kalut.
“Seperinya kau dalam masalah,“ celetuk Ravin dengan wajah santainya.
“Itu bukan urusanmu." Pramono mencoba untuk bangkit.
Ravin tersenyum kecil melihat tubuh ringkihnya Pramono. Ia mengulurkan tangannya kepada Pramono saat telah berhasil berdiri lebih dulu. Sayangnya, pria itu menangkisnya. Membuat Ravin hanya menggedikkan bahu.
“Aku bukan pria tua. Aku bisa bangun sendiri," ucap Pramono yang sudah berdiri di hadapan laki-laki berjaket hitam di hadapannya, sambil menggenggam kerahnya. Ia menatap wajah itu dengan nyalang. Namun, detik setelahnya keningnya mengerut saat teringat sesuatu tentang laki-laki itu. “KAU? Bukankan kau yang di klub waktu itu? Kau yang menabrakku, kan?” sahut Pramono akhirnya.
Ravin berusaha memutar otaknya untuk mengingat kejadian di klub. Namun, ingatanya tidak terlalu jelas. Sebab, saat itu ia mabuk berat. Cukup lama ia termenung hingga akhirnya teringat jika dirinya pernah menumpahkan sebotol minuman ke baju Pramono.
“Ah, ya aku ingat. Aku pernah menumpahkan minum ke bajumu. Aku terlalu mabuk saat itu. Jadi, tolong maafkan aku," ucap Ravin bermain-main. Ia berpura-pura membungkuk dengan sopan pada Pramono. Kemudian ia pun merogoh sakunya dan mengambil beberapa lembar uang dalam dompet dan memberikannya pada Pramono.
“Pak , tolong terima ini, meskipun jumlahnya sedikit sepertinya kau akan membutuhkannya," tutur Ravin dengan senyum menyindir seakan ia tahu keadaan Pramono yang tengah terdesak.
Suara sirine kembali meraung semakin jelas. “Ambilah dan cepat pergi dari sini!!” seru Ravin.
"s**t!" umpat Pramono kesal. Ia pun mengambil uang itu dari tangan Ravin dan berlalu pergi. Ternyata bocah itu lebih menjengkelkan dari pada saat ia bertemu terakhir kali. Ia lebih menjengkelkan saat sadar, ketimbang saat mabuk. Sejujurnya, Pramono ingin sekali menghajar bocah itu, tetapi entah kenapa ia merasakan ada aura yang aneh pada Ravin. Tatapan bocah itu sangat tajam dan terlihat menakutkan.
•••••••••
Pramono memilih bersembunyi dari kejaran para Polisi di balik pohon yang cukup besar. Ia celingukan untuk memperhatikan situasi di sekitarnya. Namun, netranya tidak sengaja menangkap Ravin yang menyeret karung besar di tangannya ke tepi danau.
“Bocah tengik itu. Apa yang dia lakukan malam-malam begini?” Sungguh, pramono bisa merasakan ada sesuatu yang aneh pada bocah itu. Tingkahnya sangat mencurigakan. Dengan sigap, ia pun mengeluarkan ponsel dari sakunya dan merekam gerak gerik Ravin.
Ravin telah menepi di sisi danau. Ia menyeret karung berisi mayat itu hingga ke sana. Kemudian ia mengikat sebuah batu besar dengan tali dan diikatkan pada ujung karung Lalu bergegas menenggelamkan karung dan batu besar itu ke danau. Beratnya batu membuat karung itu ikut terseret tenggelam. Ya, ia memang sengaja menenggelamkan batu agar mayat itu tetap berada di bawah air dan tidak muncul ke permukaan.
••••••••••
Panik. Kalang kabut ketika Bintang tak menemukan tubuhnya di ruangannya. Ia pun bergegas keluar untuk menemui Arsen di ruangan kerjanya. Sungguh, ia sangat ingin mengetahui apa saja yang telah terjadi selama ia pergi?
Tubuh Bintang berhasil menembus dinding dan netranya langsung menemukan Arsen termenung seorang diri di depan mejanya. Langkah kakinya perlahan mendekat ke arah laki-laki itu. Ekspresi wajahnya membuat Bintang yakin jika sesuatu telah terjadi kepada dirinya.
"Arsen," panggil Bintang.
Arsen menoleh. Mendadak dadanya terasa panas ketika melihat wajah arwah itu di hadapannya. "Ke mana saja kau selama ini?" tanyanya dengan meninggikan nada suaranya.
"Ke mana tubuhku?" Bukannya menjawab, Bintang malah mengutarakan pertanyaannya yang lain.
Pertanyaan Bintang sontak saja membuat Arsen semakin naik pitam. Ia bangkit dan memukul mejanya. "Ke mana saja kau selama ini? Kenapa kau selalu pergi sesuka hatimu, huh?"
Bintang terpaku di tempatnya saat melihat perubahan ekspresi wajah Arsen. Sebenarnya ada apa dengan laki-laki itu?
"A-aku bertemu dengan Bunga," akunya jujur.
Arsen mendesah pelan. Ia kembali mendaratkan bokongnya di kursi, lalu memijit pelipisnya yang terasa begitu sakit. Terlalu banyak yang dipikirkan sehingga kepalanya terasa berdenyut menyakitkan.
"Tubuhmu dipindahkan ke ruang ICU lagi," beritahu Arsen dengan nada suara yang telah kembali normal.
Kening Bintang mengerut. "Kenapa?" tanyanya panik.
"Apa saja yang kau lakukan selama ini? Sampai kau tidak tahu jika Pramono melarikan diri dari sel?" Arsen menatap tajam Bintang. Sungguh, ia tak habis pikir dengan arwah di hadapannya ini. Menyebalkan sekali.
Bintang terbelalak. "Apa? Lalu apa Pramono berusaha membunuhku lagi?"
Arsen melenggut lemah. "Kau hampir mati, Bintang."
Kedua tangan Bintang bergetar hebat. Ia berpegangan pada ujung meja supaya tak jatuh. Ia sungguh belum bisa memercayai semua ini. Bagaimana bisa Pramono kabur dari sel tahanan?
Tatapan Bintang beralih kembali menatap Arsen. Ia yakin jika laki-laki itu memiliki cara untuk membatunya. "Apa yang sudah kau lakukan?"
"Aku sudah memanipulasi kematianmu dari Pramono. Tapi, Siska meyakinkanku untuk tidak menyembunyikan tubuhmu di sini."
Bintang tercengung. "Jadi?" tanyanya berhati-hati.
"Kau harus segera dipindahkan dari rumah sakit ini. Tidak menutup kemungkinan jika Pramono akan datang ke sini lagi," terang Arsen.
"Kau akan memindahkan tubuhku ke mana?"
Arsen menatap netra Bintang seiring dengan sebuah gelengan kepala dan gedikkan pada bahunya.