“Kau menggedikkan bahu?” Bintang membeliak. “Arsen, itu tubuhku! Kau mau memindahkannya ke mana? Ke pasar?”
“Kalau aku tahu, aku tidak akan menggedikkan bahu.” Arsen melepas kacamatanya, lalu memijat pangkal hidungnya. “Rumah sakit lain akan bertanya. Setiap pemindahan pasien ada berkasnya, ada namanya, ada riwayatnya. Dan nama itu tidak boleh muncul di mana pun, karena secara resmi kau sudah dimakamkan.”
Bintang membisu.
“Aku sudah mencoba semuanya,” lanjut Arsen. “Aku memalsukan namamu di papan. Aku membatasi kunjungan. Aku bahkan tidur di koridor selama sebelas hari. Dan orang itu tetap masuk, Bintang. Dia memakai seragam tenaga medis dan berjalan santai melewati semua orang.”
“Lalu kenapa aku tidak diberitahu?”
Arsen mengangkat wajahnya perlahan-lahan.
“Diberitahu bagaimana?” tanyanya dengan nada yang membuat Bintang mengatupkan mulut. “Aku harus menuliskannya di langit? Kau menghilang berminggu-minggu. Aku naik ke roof top setiap malam. Aku berdiri di sana seperti orang bodoh, memanggil-manggil nama seseorang yang tidak akan pernah dilihat oleh siapa pun di sekitarku.”
Bintang menunduk.
“Aku …,” ucapnya, lalu berhenti.
“Kau di mana, Bintang?”
Hening.
“Aku bersamanya,” aku Bintang akhirnya.
Arsen tertawa. Bukan tawa yang menyenangkan.
“Tentu saja.” Ia memakai kacamatanya lagi. “Tentu saja kau bersamanya. Sementara ayahmu tidur dengan pintu dikunci tiga lapis, dan tubuhmu sendiri hampir berhenti bernapas di ruangan ini.”
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan mana pun.
Bintang berdiri di sana, di tengah ruangan kecil yang penuh oleh berkas, tanpa satu pun bantahan yang bisa ia ucapkan.
“Maaf,” bisiknya.
Arsen mengembuskan napas panjang. Amarahnya perlahan mengendur, berganti menjadi kelelahan yang sudah menumpuk terlalu lama.
“Sudahlah,” ujarnya. “Malam ini biar aku bicara dulu dengan Siska. Mungkin dia punya kenalan. Jangan berharap terlalu banyak.”
“Arsen.”
“Apa lagi?”
“Terima kasih.”
Laki-laki berkacamata itu menggerutu sesuatu yang tidak jelas sambil membuka berkasnya lagi, dan pura-pura sibuk.
••••••••
Bintang naik ke lantai atas seorang diri.
Ia berhenti di depan sebuah pintu berkaca, di ruangan yang selalu dingin dan selalu berbunyi. Beberapa perawat berlalu-lalang di dalam sana. Mesin-mesin berkedip dengan angka yang naik turun.
Dan di ranjang paling ujung, dekat jendela, berbaring seorang laki-laki muda.
Bintang menembus pintu itu, lalu melangkah mendekat.
Ia berhenti di sisi ranjang.
Laki-laki di atas ranjang itu kurus sekali. Rambutnya dipotong pendek, jauh lebih pendek daripada yang ia ingat. Ada selang di mulutnya, ada plester di dadanya, dan ada memar kebiruan di lehernya yang belum sepenuhnya hilang.
Bintang menatap wajah itu lama sekali.
Sungguh, aneh sekali rasanya. Ada ribuan hal yang ingin ia katakan kepada dirinya sendiri, dan tidak satu pun yang sanggup keluar.
“Hei,” panggilnya akhirnya.
Tentu saja tidak ada jawaban.
“Kau kurus sekali. Menyedihkan.” Bintang tertawa kecil, lalu suaranya berubah serak. “Tapi kau masih di sini, ya? Setelah semua ini, kau masih di sini.”
Ia mengulurkan tangan, mendekatkan jari-jemarinya ke atas dahi tubuhnya sendiri.
Menembus.
Tentu saja menembus.
“Bertahanlah sedikit lagi,” bisik Bintang. “Aku tidak tahu untuk apa. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih bisa kembali ke dalam sana. Tapi tolong, bertahanlah sedikit lagi.”
Layar di samping ranjang itu terus berkedip dengan irama yang sama. Tidak berubah sedikit pun.
••••••••
Malam harinya, di ruang jaga yang sempit, Siska meletakkan dua gelas kopi di atas meja lalu menarik kursi.
“Jadi,” ucapnya, “kau mau memindahkan seorang pasien yang secara hukum sudah meninggal, tanpa berkas, tanpa rujukan, dan tanpa satu pun rumah sakit yang mau menerimanya.”
“Kurang lebih begitu.”
“Arsen, kau sadar apa yang kau minta?”
“Sangat sadar.”
Siska menyandarkan punggungnya, lalu menatap juniornya itu lama sekali.
“Kau tahu risikonya untukmu? Kau baru saja mulai. Kalau ini ketahuan, habis sudah. Bukan cuma dipecat. Kau bisa kehilangan izinmu selamanya.”
“Aku tahu.”
“Dan kau tetap mau melakukannya?”
Arsen menyeruput kopinya, lalu meletakkan gelas itu kembali dengan pelan.
“Sis, kalau aku diam saja, orang itu akan datang lagi. Dan kali kedua, dia tidak akan gagal.”
Siska membuang pandangan ke arah jendela. Cukup lama.
“Beri aku waktu,” ucapnya akhirnya. “Aku punya kenalan. Bukan rumah sakit. Tempat perawatan kecil di luar kota, biasanya untuk pasien jangka panjang yang tidak mampu. Tapi aku belum tahu apakah mereka mau menerima pasien seperti ini. Dan aku belum tahu bagaimana memindahkannya tanpa ada yang bertanya.”
“Berapa lama?”
“Entah. Seminggu. Sebulan. Aku tidak bisa berjanji apa pun, Arsen.”
Arsen melenggut pelan. Setidaknya, itu jauh lebih baik daripada gedikan bahu.
Sementara itu, di sudut ruangan yang tidak bisa dilihat oleh Siska, sesosok arwah berdiri sambil bersedekap, mendengarkan semuanya, dan untuk kesekian kalinya merasa menjadi beban bagi orang-orang yang masih hidup.
••••••••
Di sebuah rumah yang lain, pagi datang dengan cara yang tidak menyenangkan.
Raya terbangun dengan perut yang terasa diaduk-aduk. Ia bangkit terlalu cepat, lalu buru-buru berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya.
Beberapa menit kemudian, ia duduk di lantai kamar mandi sambil bersandar ke dinding, dengan wajah pucat dan napas yang belum teratur.
“Sayang?” Suara Andra terdengar dari balik pintu. “Kau kenapa?”
“Tidak apa-apa!”
“Kau muntah lagi?”
“Tidak!”
“Raya.”
“Ya ampun, cerewet sekali kau ini.” Raya membuka pintu dengan wajah yang masih pucat, lalu menyunggingkan senyum yang terlalu lebar untuk terlihat meyakinkan. “Aku baik-baik saja. Mungkin masakanku semalam yang kurang matang.”
Andra menyipitkan matanya. “Ini sudah yang keempat kali minggu ini.”
“Kau menghitungnya?”
“Tentu saja aku menghitungnya.”
Raya melewati suaminya begitu saja sambil mengibaskan tangan. “Sudah, sana kerja. Nanti kau terlambat.”
Andra masih berdiri di sana, memperhatikan punggung istrinya yang berjalan menuruni tangga dengan langkah yang sedikit terlalu hati-hati.
Ada sesuatu yang melintas di benaknya. Sesuatu yang membuat sudut bibirnya nyaris terangkat.
Namun, ia memutuskan untuk menyimpannya dulu.
••••••••
Sore itu hujan turun rintik-rintik ketika Bintang berhenti di depan sebuah kafe yang berdinding kaca.
Ia sudah mengikuti gadis itu sejak dari rumahnya. Sudah menjadi kebiasaan yang bodoh, ia tahu. Namun, apa lagi yang bisa dilakukan oleh sesosok arwah yang tidak bisa tidur?
Bunga duduk di meja dekat jendela, sendirian, dengan laptop yang terbuka dan secangkir kopi yang mengepul di sampingnya. Rambutnya dijepit asal-asalan. Ia mengetik beberapa kalimat, berhenti, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Bintang masuk menembus dinding kaca, lalu duduk di kursi kosong di hadapan gadis itu.
“Kau menulis lagi,” gumamnya. “Bagus. Jangan berhenti.”
Bunga meraih cangkirnya.
“Kopinya jangan terlalu banyak. Nanti kau tidak tidur, lalu besok pagi kepalamu sakit, lalu kau menyalahkan cuaca seperti biasa.”
Gadis itu meletakkan cangkirnya kembali.
Bintang bersandar, menopang dagu dengan telapak tangan, dan memandangi wajah di hadapannya.
“Dua tahun, Bunga,” ucapnya pelan. “Kau tahu, aku sudah menghitungnya berkali-kali. Dua tahun tiga bulan dan sembilan belas hari sejak terakhir kali kau memanggil namaku.”
Hujan di luar semakin deras. Beberapa pengunjung berlarian masuk sambil menutupi kepala dengan tas. Seorang pelayan berkeliling menyalakan lampu-lampu kecil di setiap meja, satu per satu, hingga ruangan itu berubah menjadi kekuningan dan hangat.
Bintang memperhatikan bagaimana cahaya itu jatuh di wajah gadis di hadapannya. Persis seperti dulu, ketika mereka masih sering belajar berdua di kamar itu, dengan lampu meja yang selalu redup dan buku-buku yang berserakan.
“Aku sudah berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Aku tahu. Tapi ternyata aku pembohong yang payah.” Bintang tertawa kecil. “Setiap hari aku berkata cukup hari ini saja. Lalu besoknya aku ada di sini lagi.”
Bunga menutup laptopnya.
Gadis itu memasukkan benda tersebut ke dalam tas, meraih mantelnya, lalu berdiri.
Bintang ikut berdiri, seperti biasa, bersiap untuk mengekorinya lagi sampai ke mobil.
Namun, Bunga tidak langsung melangkah pergi.
Gadis itu berdiri di samping meja, menghadap ke jendela, dengan tangan yang masih memegang tali tasnya. Ia tidak menoleh ke arah Bintang. Ia bahkan tidak menoleh ke arah kursi kosong di hadapannya.
Lalu, dengan suara yang begitu pelan hingga nyaris tertelan oleh suara hujan, gadis itu berkata,
“Kopinya memang terlalu banyak.”
Bintang membeku.
Bunga menarik napas panjang, mengencangkan tali tasnya, lalu berjalan keluar dari kafe itu tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Pintu kaca tertutup. Lonceng kecil di atasnya berdenting.
Dan Bintang masih berdiri di sana, di antara meja-meja yang mulai kosong, dengan kedua tangan yang bergetar dan mulut yang terbuka tanpa mampu mengeluarkan satu kata pun.
Ia mendengarnya.
Gadis itu mendengarnya.
Selama dua tahun ini, setiap ocehan bodohnya tentang kopi, tentang mi instan, tentang sepatu hak tinggi yang terlalu tinggi, gadis itu mendengar semuanya.
“Bunga,” panggilnya serak. Lalu, ia berlari ke arah pintu. “BUNGA!”
Ketika ia menembus dinding kaca itu, mobil di seberang jalan sudah bergerak menjauh, meninggalkan cipratan air di aspal yang basah.
Bintang berdiri di tengah hujan yang tidak membasahinya.
Kemudian, tanpa ia sadari, ia tertawa.
Tertawa keras sekali, di tengah trotoar yang penuh oleh orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh, tanpa satu pun dari mereka yang tahu bahwa ada seseorang yang baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang ia kira sudah hilang selamanya.
“Arsen,” gumamnya sambil menghapus wajahnya dengan punggung tangan. “Aku harus memberitahu Arsen.”
Lalu, ia melangkah cepat menembus keramaian, menuju ke arah rumah sakit.