Gemilau cahaya sorot lampu menyinari panggung catwallk. Beberapa stylist telihat sangat sibuk mondar-mandir dari hulu ke hilir. Beberapa staff lain juga kini tengah sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang bertugas menata panggung, menata pencahayaan dan beberapa yang lain sibuk menata pakaian yang akan dikenakan para model di panggung nanti.
Gemuruh suara tepuk tangan mulai santar terdengar sebagai tanda acara telah dimulai. Satu persatu model mulai memasuki panggung. Mereka berlenggok memperagakan pakaian yang mereka kenakan. Beberapa dari mereka juga turut mengatur ekspresi wajah agar selaras dengan tema baju yang mereka pertontonkan.
Kini seorang model laki-laki masuk ke panggung yang disambut tepuk tangan oleh hadirin yang datang. Laki-laki itu berjalan berlenggok dengan membentuk ekspresi wajah yang dingin dan angkuh. Kemudian, model pria itu berhenti di tengah panggung, membuka kaki jenjangnya dan berkacak pinggang. Ia memasukan tangan kedalam kantong celana yang dikenakan dan memainkan eksprresi wajahnya. Laki–laki itu terlihat berbeda dari para model lainnya saat di lihat dari caranya masuk dan berjalan. Model pria itu tampak sangat profesional dengan menampilkan satu persatu detail pada celana yang dikenakan. Tubuhnya yang tinggi dan wajah yang tampan membuat semua pakaian yang dikenakannya terlihat menawan dan mahal.
Kembali, bunyi shutter memenuhi ruangan. Sang fotografer kembali menyerukan instruksi untuk mempertahankan pose pria itu. Ia terlihat sangat puas dengan hasil jepretannya. Tidak henti–hentinya ia memuji seluruh gestur wajah dan tubuh yang diperagakan sang model pria itu.
“Oke cukup,“ sahut sang fotografer. Sementara, sang model membalikkan tubuhnya dan kembali ke backstage.
“Kerja bagus, Ravin," ucap Melly sang designer si perancang baju yang dikenakan Ravin
“Ah, iya,“ jawabnya singkat. Kemudian, ia mengambil botol minum yang disodorkan oleh seorang asisten padanya.
“Terima kasih,“ ucapnya dengan menyunggingkan senyum tipis dari bibirnya. Setelah meminum beberapa tengguk, ia melepaskan pakaian yang dikenakannya. Kemudian berganti dangan pakaian lainnya yang lebih santai.
“Ravin, kau tahu. Acara ini sukses besar karenamu," beritahu Melly dengan senyum yang merekah. Ia tampak terlihat sangat senang dengan respon positif yang telah didapatnya.
“Ah, tidak juga. Model lain juga sudah bekerja dengan sangat baik hari ini. Jadi, itu bukan hanya faktor aku,“ sangkal Ravin. Ia memang suka sekali merendah dengan keterampilan yang dimilikinya. Ia juga dikenal memiliki citra yang sangat baik di mata teman-teman seprofesinya. Ia terkenal sangat sopan dan hummble pada siapapun bahkan dengan staff sekalipun. Karena itulah banyak orang yang mengaguminya.
Sepertinya semua orang masih belum sadar. Di balik sisinya yang ramah, supel dan humbel terselip jiwa seorang pembunuh yang berhati dingin dan bengis.
Tiba–tiba tersiar berita terkini yang tampil pada layar TV di ruang tunggu backstage. Ravin yang tengah meregangkan ototnya sejenak di Sofa perlahan mulai merasa tertarik dan menatap pada layar itu.
Breaking News
"Seorang artis serta model ternama Karina dilaporkan menghilang sejak tiga hari yang lalu oleh ibunya. Polisi sudah menghubungi manajemen, kerabat, serta rekan artis sejawatnya, akan tetapi mereka masih belum menemukan sinyal keberadaannya. Dugaan Sementara Karina diculik oleh seseorang, akan tetapi Polisi masih terus menggali informasi real sampai menemukan titik terang."
“Ibu ...,” lirih arwah wanita itu. Ia kemudian meneteskan air matanya, “KAU BENAR-BENAR BERENGSEK!“ teriak wanita itu pada lelaki disampingnya.
Lelaki itu tampak santai sambil menyandarkan punggung di sebuah sofa ruang tunggu. Kemudian ia mengambil coffe di depannya dan menyeruputnya.
“Ahh ... enak. Kau mau?“ tawar Ravin pada arwah wanita itu.
Acara telah usai sehingga ruang tunggu model yang awalnya ramai kini telah sepi. Oleh sebab itu, Ravin dengan leluasa bisa meledek arwah wanita itu.
“Sepertinya Semua orang mencarimu. Kenapa kau tidak pulang saja? Daripada menggerutu padaku setiap hari? Aku sangat pusing mendengar ocehanmu. Mengerti?“ lanjutnya. Kemudian, ia pun melanjutkan aktivitas menyeruput kopinya dengan damai.
••••••••••
Pagi ini, masih sama seperti biasanya. Raya masih disibukan dengan pekerjaan rumahnya. Ia terlihat sangat sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
“Selamat pagi tuan putri.“ Andra merangkul Raya dari belakang. Perlakuan seperti ini selalu Raya rasakan selama dua tahun ini. Karrna itulah ia sangat bersyukur mendapatkan suami yang selalu mencintainya.
“Sayang aku membuatkan nasi goreng kesukaanmu. Makanlah.“ Raya kemudian meletakan makanan yang dibuatnya di meja makan. Kemudian, ia menutun Andra untuk duduk dan makan.
“Kau tidak makan?" tanya Andra Bingung. Ya, ia bingung saat ini kenapa Raya hanya membuatkan makanan untuknya saja? Kemudian Andra meletakan tangannya di kening Raya untuk mengecek suhu tubuh istrinya.
“Sayang kau pucat sekali. Apa kau sakit?” tanya Andra khawatir.
“Aku tidak sakit. Aku hanya sedang mual. Sepertinya asam lambungku sedang naik," ucap Raya seraya mengelus perutnya. Seketika Raya merasakan sesuatu akan keluar dari mulutnya. Bergegas ia berlari ke wastafel dapur dan memuntahkan sekua isi perutnya. Sementara Andra menghampiri Raya dan menepuk punggung wanita itu.
“Sayang sepertinya kita harus ke rumah sakit," ujar Andra khawatir. Kemudian ia mengambil ponsel di sakunya dan menelepon rumah sakit. Namun tiba-tiba ia memikirkan hal lain. “Sayang kapan terakhir kau datang bulan?”
“Kira-kira dua bulan yang lalu,“ jawab Raya santai.
Senyum Andra seketika mulai terukir di wajahnya ketika mendengar jawaban dari Raya. Ia pun mendaratkan tangan di perut Raya dan mengusapnya. “Sayang, sepertinya kau hamil,“ terang Andra yang membuat mata Raya terbelalak mendengarnya.
•••••••••••
Andra menggenggam tangan istrinya dan merangkul tubuhnya. Kemudian, ia juga mengelus pipi Raya. Setelah itu, ia menundukan wajahnya dan mengecup lembut kening Raya.
“Masuklah, sayang. Aku akan menunggu di luar,” tutur Andra.
Raya melepaskan rangkulan suaminya. Dan perlahan berjalan menuju ruang pemeriksaan.
Membayangkan dirinya yang sebentar lagi menjadi ibu membuat hati Raya merasakan gejolak yang terasa tidak beraturan. Ia merasa seperti berada di roller coaster.
“Apa kau merasa mual?" tanya dokter.
Raya mengangguk pelan.
“Baiklah kalau begitu mari saya periksa dulu." Dokter meminta Raya untuk berbaring di atas ranjang. Ia kemudian meminta raya untuk menyingkap kemejanya. Kemudian suster di sampingnya mengoleskan gel ultrasonic di permukaan perutnya. Raya pun bisa merasakan sensasi dingin ketika dokter mulai menggerakan probe ultrasonografi di permukaan perut.
Dokter membersihkan bekas gel di perut Raya. Sementara Raya mulai menurunkan kemeja dan merapihkannya. Raya mulai merasakan harap-harap cemas, menunggu hasil diagnosa sang dokter.
“Sebelumnya mohon maaf, Bu. Jika dilihat dari hasil pemeriksaan, masih belum ada tanda-tanda kehamilan pada perut, Ibu,“ terang si dokter.
“Lalu dok mengapa perut saya merasa mual?“
“Itu karena asam lambung Ibu sedang naik hingga Ibu merasa mual akhir-akhir ini,“ jawab sang dokter. Ia kemudian memberikan resep obat untuk mengurangi rasa mual pada perut Raya.
Setelah pemeriksaan berakhir, Raya merasa sangat kecewa pada dirinya, sekaligus merasa takut. Ia merasa takut jika Andra akan kecewa mendengar kabar bahwa dirinya tidak hamil.
••••••••
Bintang tengah menyusuri rumah sakit guna menemui Arsen. ia tidak sabar untuk menceritakan kejadian di kafe kepada adiknya itu. Namun, mendadak langkah kakinya terhenti saat melihat Andra dan Raya di depannya. Dengan sigap, ia pun mengambil langkah seribu untuk bersembunyi, mengindari Raya. Sebenarnya, Bintang sangat merindukan kedua sahabatnya itu, akan tetapi ia tidak ingin menampakkan diri di depan Raya. Sebab, ia tidak ingin mengganggu hidup wanita itu lagi. Baginya melihat Raya dan Andra hidup bahagia dari kejauhan saja, sudah cukup membuatnya bahagia juga.
Langkah Raya dan Andra terhenti di depan dokter kandungan. Sementara Bintang yang tengah bersembunyi fokus memperhatikan kedua insan itu di depannya. Tidak lama setelahnya ia menyeringai lebar.
Ya, Bintang mengira jika Raya tengah berbadan dua. Sebagai seorang sahabat, tentu saja hal itu merupakan kabar bahagia.
“Bintang!” panggil seseorang dari belakang tubuhnya.
Bintang menoleh pada suara yang tidak asing baginya.
“Aku mencarimu sejak tadi,” lirih Arsen pelan, bagaimanapun ia juga tidak ingin dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya karena lantaran berbicara sendiri.
“Ikut aku!“ pinta Arsen.
Bintang pun memilih untuk mengikuti langkah Arsen dari belakang.
••••••
Raya merasakan De Javu yang sangat membekas pada dirinya sendiri. Sungguh, pikirannya tengah kalut saat ini. Namun, remasan tangan Andra berhasil membuatnya tersadar dari lamunan. Ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa komando, bulir-bulir kristal yang hangat mulai merebak dari sudut netranya.
Andra mengelus pipi Raya saat elihat istrinya menangis. Kemudian menundukan wajahnya dan mengecup lembut bibir Raya. Meskipun Raya tidak berbicara apapun, tapi Andra bisa memahami keadaan wanita itu saat ini.
“Tidak apa-apa. Lain kali kita akan mencobanya lagi,“ ucap Andra dengan senyum hangatnya.
“Aku akan menebus obatnya dulu. Kau tunggu di sini, ya,“ pinta Andra pada Raya yang kini masih terdiam. Sementara Raya hanya mengangguk pelan.
Raya menyapu air matanya. Kini, pandangannya menjelajah ke seluruh ruangan di koridor Rumah Sakit. Ia pun memilih bangkit. Lalu, langkah kaki Raya surut perlahan menyusuri lorong. Entah ke mana tujuannya saat ini. Ia merasa jika dirinya seperti mayat hidup yang berjalan tanpa ekspresi.
Embusan angin dari jendela membuat rambut Raya tersibak lembut. Ia menoleh ke arah jendela dan mendekati sumber angin tersebut. Kemudian, memejamkan mata, membiarkan angin berlalu melewati wajahnya. Ia pun terpegun ketika melihat sebuah ruangan yang tidak asing setelah membuka netranya kembali.
“Cahaya kehidupan. Ya, kau akan kembali! Keinginanku sudah selesai! Kau bisa mencintai Andra dengan tulus dan itu adalah keinginanku yang terakhir,” jelas Bintang bertubi-tubi.
“Raya, kau selamat. Kau akan hidup!” beritahu Bintang sambil memegang kedua bahu Raya.
Raya kemudian tersenyum tipis mengingat saat-saat itu. Saat di mana ia terakhir kalinya bertemu dengan bintang.
“Raya, itu berarti, tugasku sudah selesai. Aku juga akan kembali ke duniaku.”
Entah kenapa, air mata Raya kembali mengalir ketika mengingat moment-moment terakhir bersama sahabatnya itu.
“Aku senang bisa bertemu denganmu. Meskipun nantinya kau tidak akan mengingatku lagi, tapi aku mohon jalanilah hidupmu dengan bahagia. Kau tidak boleh menangis dan sendirian lagi. Kau akan dikelilingi teman dan orang-orang yang menyayangimu. Kau janji?”
Raya termangu. Ia merasakan hatinya berdesir lembut saat mengingat perkataan Bintang. Bukankan ia sudah berjanji untuk tidak menangis lagi? Raya pun mulai mengusap air matanya.
“Terima kasih, Bintang,” ucapnya dengan nada yang lebih bersemangat.
Raya melirik ke arah alroji miliknya yang menujukan pukul dua siang. Ia mendesah pelan. Sepertinya ia sudah cukup lama melamun, hingga sampai tidak menyadari waktu. Namun, tidak lama ponselnya berbunyi dan menampakkan nama Andra di sana.
“Gawat, Andra pasti sedang kebingungan mencariku,” gerutu Raya. Kemudian ia berlari menuju ke tempat semula, tetapi terlalu terburu-buru hingga ia tersandung dan hampir terjatuh.
Bintang yang sedari tadi memperhatikan Raya terbelalak ketika melihat tubuh wanita itu yang akan bergulir jatuh menuruni anak-anak tangga.
"RAYA!" teriaknya.
Dengan sigap, Raya pun berlari kencang, menghampiri wanita itu. Bahkan, saat ini tangannya telah terulur untuk menggapai tubuh mungil Raya. Namun ....
Netra Bintang membeliak hingga menangkupkan mulut dengan kedua tangannya.