Embusan angin malam tidak mampu membuat Pramono luluh pada kebenciannya terhadap Angga. Sebab, Angga telah mengambil semua miliknya. Orang tua, kekasih, dan saat ini harta bendanya. Ya, semua orang berbondong-bondong menyukai kepribadian pria itu, tetapi tidak dengannya. Berulang kali ia mencoba untuk menjadi seperti pria itu, tetapi sia-sia saja. Karena semua orang tetap memilih menyayanginya, termasuk Nadia yang merupakan kekasihnya.
Entah kenapa saat itu Nadia secara tiba-tiba pergi meninggalkannya. Dan beberapa minggu kemudian, ia mendengar kabar jika gadis itu akan segera menikah. Amarahnya kian meletup ketika tahu jika Nadia akan menikah dengan Angga, Kakak laki-lakinya. Mirisnya, semua orang seakan menutup mata jika Nadia adalah gadis yang dicintainya.
Semenjak saat itu, Pramono mulai membenci Angga. Ia berpura-pura bersikap ramah di depan Angga untuk bisa mengambil semua keinginannya menjadi seorang direktur, posisi Angga saat itu.
Pramono mengembuskan napasnya. Terlalu sesak jika terus mengingat hal itu. Ia pun memilih untuk membuka ponsel dan berusaha mencaritahu keadaan Angga saat ini. Sebab, ia sangat yakin jika Angga akan hancur setelah ditinggal anak semata wayangnya pergi. Namun, alih-alih senang ia justru merasa tercambuk saat melihat Angga yang tampak normal. Bahkan belum genap seminggu pasca kematian Bintang, pria itu sudah mengadakan acara Launching peluncuran alat kesehatan baru.
Light Star Grup mengeluarkan Alat bantu pernapasan terbaru yang dirancang khusus untuk membantu tenaga medis dalam melakukan pengaturan kerja ventilator dengan baik. Ventilator ini mampu mendeteksi kondisi pasien yang memburuk, dan memberikan peringatan dini bagi petugas medis agar mampu melakukan penanganan yang tepat dan cepat. Karna invovasi terbarunya, Light Star Group menerima respon yang sangat positif, baik dari tenaga medis maupu Masyarakat luas.
Pramono mendengkus kesal. Ia menatap tajam layar ponselnya yang tengah menampakkan Angga tersenyum riang. Mendadak napasnya bergemuruh ketika hawa panas di dalam rongga d**a membekapnya. Hingga membuat malam yang damai, mendadak menjadi dingin dan tegang karena amarahnya yang kian memuncak.
Pramono membuang mukanya ke samping dan menemukan sungai yang tampak keruh dan berwana hitam di depannya. Ya, sudah hampir tiga hari ia tinggal di bawah jembatan sungai ciliwung, akibat sudah kehabisan biaya. Saat ini, ia sedang enggan untuk mencuri.
Melihat kondisinya yang kini berbanding terbalik dengan Angga, ia merasa sangat kesal. Hingga akhirnya ia menyeringai kecil setelah sebuah ide untuk menghancurkan Angga sekali lagi terbesit di dalam pikirannya.
Pramono mengambil pisau kecil yang terselip di kakinya. Kemudian, memotong rambutnya yang kini tergurai lebat dan juga mencukur kumisnya. Setelah itu, ia mematut dirinya di dedan sebuah cermin kecil. Ia tersenyum, sebab ia yakin jika tidak akan ada orang yang mengenalinya sebagai buronan dengan penampilan barunya sekarang. Ia juga yakin jika dirinya bisa lebih leluasa melancarkan aksinya.
•••••••••
Bintang melangkahkan kedua kakinya untuk kembali menemui Raya dan Andra setelah bertemu dengan Arsen. Entah kenapa benaknya terus menyuruhnya untuk pergi menemui mereka. Berkali-kali ia menepis semua pikirannya itu, tetapi tanpa disadari jika saat ini dirinya telah berjalan dan berhasil menemukan Raya seorang diri.
Kedua netra Bintang menangkap Raya yang terduduk di kursi. Jujur, saat melihat Raya setelah sekian lama, ia ingin sekali memeluknya, ingin bercengkrama, bercanda dan membuat lelucon lagi dengan wanita itu. Namun, ia juga tidak ingin egois. kehidupan wanita itu sudah sangat sempurna saat ini. Ya, sudah sangat sempurna tanpa dirinya di sisi mereka. Mungkin kehadirannya hanya akan membuat wanita itu merasakan kesulitan. Oleh sebab itu, Bintang memilih untuk menjauh darinya.
Bintang termangu ketika melihat Raya yang tampak termengung menatap sesuatu dari luar jendela. Namun, ia tahu jika dari pelipis mata wanita itu mengalir air mata hingga tidak lama setelahnya wanita itu pun terisak.
Jujur saja ia tidak tahu apa yang membuat Raya menangis seperti itu. Mungkinkah itu semua karena Andra? Bintang pun celingukan, mencari sosok pria itu. Di mana Andra sekarang? Kenapa tidak berada di sini saat Raya menangis? Jangan-jangan benar dugaanya jika Andra yang telah membuat Raya menangis?
Bintang mendengkus kesal. Jika benar seperti itu, ia tidak boleh hanya tinggal diam saja. Ia harus menghajarnya. Sebab, bukankah ia telah merelakan Raya untuk bersamanya? Namun, kenapa Andra malah menyia-nyiakan wanita seperti Raya.
Raya mulai menyeka air matanya dan mulai tersenyum kembali. Namun, sebuah nada dering pada ponselnya terdengar. Ia segera merogoh tas slempang dan mengambil benda pipih itu. Mendadak netranya terbelalak ketika membaca isi sebuah pesan. Tanpa buang waktu, ia bangkit dan berlari.
Bintang mengerutkan keningnya heran ketika melihat wajah Raya yang begitu panik. Tanpa sadar ia pun mengikuti wanita itu. Bintang terkekeh ketika melihat Raya yang begitu terburu-terburu melangkah, sebab ia teringat akan sifat wanita itu yang ceroboh. Namun, tidak lama setelahnya netra Bintang terbelalak ketika mendapati Raya yang tersandung sebuah gundukan lantai hingga kehilangan keseimbangannya.
"RAYA," teriaknya kencang. Ia panik saat tubuh Raya akan terjatuh ke arah anak tangga.
Bintang menggeleng. Ia pun berlari dengan kecepatan maksimal berniat untuk menahan tubuh Raya. Jika tidak sudah pasti Raya akan terguling jatuh menuruni anak-anak tangga yang cukup tinggi itu. Tidak boleh dibiarkan.
Bintang terus berlari. Kini, tangan kanannya telah terulur untuk menggapai tubuh mungil itu. Namun ....
•••••
Aku terbelalak saat tubuh Raya telah berada dalam kendaliku saat ini. Namun, tidak ada banyak waktu untuk berpikir. Aku pun berusaha meraih pegangan tangga dengan tangan kanan dan mencengkramnya dengan erat. Kemudian, aku mendaratkan tangan kiri untuk menopang b****g Raya supaya tidak menciptakan benturan yang keras pada tulang ekornya. Bagaimanapun benturan keras pada tulang ekor akan sangat berbahaya. Karena itulah aku tidak ingin membuat Raya terluka sedikit pun.
Kini, aku mengatur alunan napas yang mulai terasa megap-megap. “Aisss
.. kenapa kau masih saja ceroboh seperti dulu Raya," gumamku kesal.
Aku memilih untuk bangkit supaya tidak jadi bahan tontonan orang yang berlalu lalang. Kemudian, duduk kembali di kursi. Kini, aku mulai menatap tubuh Raya. Entah ada sesuatu yang berdesir ngilu ketika berada di dalam tubuh ini lagi. Sebab, tubuh ini selalu mengingatkanku akan rasa sakitnya sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh pamanku sendiri. Dua tahun berlalu, aku pun mulai merasakan ada keanehan saat berada di dalam tubuh kurus ini.
Mendadak ponsel Raya berdering. Aku merogoh tas slempang dan melihat nama Andra pada layar. Tanpa buang waktu, aku pun mengangkatnya.
"Sayang kau di mana?" tanya Andra di ujung telepon sana. Aku bisa mendengar jika pria itu tampak khawatir pada Raya.
Aku pun mulai mengatur napas dan menjawabnya, "Kau ada di mana?"
"Aku ada di depan dokter kandungan sayang.”
"Baiklah aku akan ke sana." Aku pun langsung memutus telepon itu.
Kemudian, aku berjalan turun untuk mengantarkan tubuh Raya kepada Andra. Di lantai dasar, aku menemukan Andra dengan wajah kawatir dan berjalan menghampiriku. Tanpa kusangka, ia langsung memelukku dengan erat. Namun, detik setelahnya netraku membeliak ketika Andra ingin mencoba menciumku. Ah, tidak. Mencium Raya. Dengan gerakan cepat, aku memilih untuk mundur dan keluar dari tubuh Raya .
Kendati begitu, mulanya aku ingin sekali memukul Andra, karena telah membuat Raya menangis. Namun, saat kulihat tatapannya aku yakin jika bukan Andra yang melakukannya. Lalu siapa?
Aku pun berjalan menjauhi mereka dan menatap nanar punggung keduanya yang telah menjauh. Sejujurnya aku masih menginginkan kebersamaan dengan mereka. Namun di sisi lain, aku juga tidak ingin membawa mereka ke dalam masalahku yang baru.
"Selamat tinggal kawan. Aku merindukan kalian."
••••••••
Raya sempoyongan. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing. Lalu, ia menoleh ke samping dan keningnya mengerut bingung ketika Andra telah berada di sampingnya. Seingat nya bukankah dirinya hampir saja terjatuh dari tangga?
Andra menggenggam tangan Raya erat. Sekilas ia tolehkan kepala dan heran saat mendapati istrinya yang tampak kebingungan. "Kau kenapa Raya?" tanya Andra membuyarkan lamunan Raya.
"Hah? Oh, aku tidak apa-apa," jawab Raya.
Raya menggeleng untuk mengusir rasa pusingnya. Sepertinya ia masih belum sepenuhnya tersadar. Sebab, beberapa kali ia berjalan oleng. Namun, untung saja saat ini ada Andra yang dengan sigap menangkap tubuhnya.
"Kau yakin tidak apa-apa? tanya Andra emastikan. Sementara Raya hanya mengangguk pelan.
••••
Pramono tengah makan di pinggir jalan tanpa harus takut lagi. Ya, ia yakin jika penampilan barunya saat ini tidak akan mudah dikenali oleh orang-orang yang berada di warung ini. Perutnya sudah tidak mampu untuk menahan rasa laparnya, oleh sebab itu ia terpaksa mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pramono meneguk air mineralnya. Kemudian, mengeluarkan ponsel untuk melihat berita tentang Light Star Grup. Namun, netranya tercengan ketika menemukan sebuah artikel yang sedang tranding di berandanya. Dengan seksama, ia pun membacanya.
Penemuan sesosok mayat
Warga digegerkan dengan penemuan sesosok mayat perempuan dalam karung dan tanpa busana di danau cincin, Jakarta Utara.
Mayat tersebut ditemukan mengapung di aliran danau pagi ini. Mayat tersebut sudah dalam keadaan setengah membusuk saat pertama kali ditemukan. Jasad korban dalam kondisi tertelungkup dengan kondisi lengan yang tidak utuh. Diduga lengan jasad tersebut dimutilasi oleh sang tersangka.
Menurut hasil identifikasi, kondisi mayat diduga meninggal 3/4 hari lalu. Polisi meyakini bahwa korban meninggal akibat benturan keras di tubuh dan kepalanya. Mengingat kondisi korban yang tampak lebam di sekujur tubuhnya.
Pihak Kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kematian korban. Sebab mereka juga belum mendapat identitas korban lantaran minimnya ciri-ciri fisik di tubuh jenazah tersebut. Satu-satunya ciri pada tubuh korban hanya pada cat kuku berwarna merah di jari lengannya yang lain.
Pramono terus membaca artikel tersebut. Namun, seketika ia terpegun ketika melihat sebuah gambar karung yang dipublis artikel tersebut. Sebuah karung yang saat itu pernah dilihatnya di danau. Bergegas, ia membuka galeri pada ponselnya dan memutar kembali video yang malam itu berhasil direkam olehnya. Ia hanya ingin memastikan jika ingatannya itu tidak salah.
Senyum kemenangan seketika mengembang di sudut bibir pria paruh baya itu, setelah melihat video di dalam ponselnya.
"Ah ... sepertinya aku tahu siapa yang telah membunuh gadis itu," gumamnya lirih.
"Wah ... Ravin benar-benar tampan," ungkap salah satu pelayan di rumah makan tersebut.
Pramono menoleh ke arah TV yang tengah ditonton pemilik warung tersebut. Ia pun menemukan sosok lelaki yang dikenalinya dalam siaran TV Fashion. Ravin. Laki-laki itu tampak tengah berlenggok memamerkan baju yang dikenakannya. Sorot lampu juga tidak henti menyorot laki-laki itu.
Pramono melirik ke arah pemilik warung yang masih betah menatap model tampan di layar kaca. "Jadi bocah itu seorang model?" tanyanya di dalam hati.
Pramono tetap bergeming dengan pikirannya yang terus berputar akan apa yang dilakukannya saat ini dengan video di tangannya. Nakun, detik setelahnya, ia menyunggingkan senyum licik di bibirnya. Sepertinya ia sudah mendapatkan sebuah rencana baru yang bisa membuatnya tidak menjadi seorang pencuri lagi.
"Baiklah. Aku akan mendapat tumpangan gratis malam ini," oceh Pramono dengan senyum licik yang terus mengembang.