Pramono membayar makanannya dengan uang receh yang dikumpulkannya dari saku celana.
“Pak, tumpangannya sampai mana?” tanya seorang sopir truk yang sedang menyeruput kopi di meja sebelah.
“Ke arah kota saja, Mas. Sampai mana pun tidak apa-apa.”
Sopir itu melenggut sambil mengunyah. “Boleh. Saya berangkat setengah jam lagi.”
Pramono tersenyum lebar. Kemudian, ia kembali menunduk ke arah layar ponselnya, memutar video itu sekali lagi untuk yang entah keberapa kali malam ini.
Gelap. Berguncang. Namun cukup jelas.
Sebuah karung yang diseret di tepi danau. Sesosok laki-laki bertubuh tinggi yang menoleh sekilas ke arah kamera ketika lampu sebuah kendaraan melintas, hanya sepersekian detik, hanya separuh wajah.
Namun bagi Pramono, separuh itu sudah lebih dari cukup.
“Bocah tampan,” gumamnya sambil terkekeh. “Kau tidak tahu, ya, kalau di dunia ini orang paling berbahaya bukanlah polisi. Melainkan orang miskin yang punya rekaman.”
••••••••
Berita itu memenuhi seluruh saluran televisi keesokan harinya.
Jasad dalam karung yang ditemukan di tepi danau akhirnya memiliki nama. Tim identifikasi bekerja selama dua hari penuh, mencocokkan laporan orang hilang yang masuk sepekan terakhir dengan satu-satunya ciri yang tersisa pada tubuh korban.
Cat kuku berwarna merah.
Seorang manajer artis datang ke rumah sakit sambil menangis, membawa foto kliennya yang mengenakan warna kuku yang sama pada sebuah acara penghargaan sebulan sebelumnya. Keluarga korban tiba beberapa jam setelahnya. Ibu korban pingsan dua kali di lorong.
Menjelang sore, pihak kepolisian mengumumkannya secara resmi.
Karina Lim.
Nama itu meledak di mana-mana. Di televisi, di layar ponsel, di layar besar yang tergantung di persimpangan jalan. Wajah gadis itu terpampang di seluruh kota, tersenyum manis, mengenakan gaun putih pada malam pemutaran perdana filmnya.
Dan di sebuah ruangan yang gelap, seorang laki-laki duduk di kursinya sambil menonton semua itu tanpa berkedip.
••••••••
Ravin tidak mematikan televisinya sampai lewat tengah malam.
Ia duduk di sana, di ruangan pribadinya, dengan kedua kaki disilangkan dan segelas air yang tidak disentuhnya sama sekali. Layar itu terus mengulang potongan berita yang sama. Foto Karina. Suara isak tangis keluarga. Seorang pengamat yang berbicara panjang lebar tentang keselamatan artis muda.
Wajah Ravin sama sekali tidak berubah.
Tidak ada penyesalan. Tidak ada ketakutan. Bahkan tidak ada gugup sedikit pun.
Yang ada hanya perhitungan.
Ia sudah memikirkan semuanya sejak jauh-jauh hari. Semua orang tahu bahwa Karina Lim adalah kekasihnya. Mereka pernah muncul bersama di sebuah acara. Foto mereka beredar di mana-mana. Dan justru di situlah letak keamanannya.
Sebab, di negeri ini, tidak ada seorang pun yang akan menuduh laki-laki yang menangis di pemakaman kekasihnya sendiri.
Ravin bangkit, lalu berjalan ke sudut ruangan.
Di sana, berdiri sebuah patung manekin yang masih tampak baru. Putih, mulus, tanpa wajah. Ia mengelus bahu benda mati itu dengan punggung jarinya, perlahan sekali, seperti orang yang sedang menenangkan sesuatu.
“Kau berisik sekali akhir-akhir ini,” gumamnya entah kepada siapa.
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
Ravin menoleh cepat ke arah cermin besar di dinding seberang. Bayangan dirinya berdiri di sana, sendirian, tepat seperti seharusnya.
Namun, bulu tengkuknya berdiri.
Sudah beberapa malam ini selalu begitu. Suara langkah kaki di lorong ketika tidak ada siapa-siapa. Pintu lemari yang terbuka sendiri. Bau parfum yang tiba-tiba muncul, lalu hilang.
“Aku tidak takut padamu,” desisnya ke arah cermin. “Kau sudah mati. Orang mati tidak bisa berbuat apa-apa.”
Cermin itu tidak menjawab.
Namun, malam itu Ravin tidur dengan seluruh lampu menyala.
••••••••
Di kantor kepolisian, seorang penyidik menempelkan foto terakhir ke papan.
“Jadi bagaimana? Ada saksi?” tanya rekannya sambil menyodorkan segelas teh.
“Nihil.” Penyidik itu mundur selangkah, memandangi papan yang sudah penuh oleh benang dan foto. “Danau itu jauh dari permukiman. Tidak ada kamera. Tidak ada pos ronda. Bahkan lampu jalannya pun mati.”
“Lalu kita mulai dari mana?”
“Dari orang terdekat, seperti biasa.” Ia mengetuk salah satu foto dengan jari telunjuknya. Foto seorang laki-laki tinggi berwajah tampan yang sedang berjalan di atas panggung. “Besok ada pemakaman. Kita datang. Bukan untuk bertanya, hanya untuk melihat.”
“Melihat apa?”
“Siapa yang menangis terlalu benar.”
Rekannya mengerutkan kening, tidak mengerti. Namun, penyidik itu tidak menjelaskan lagi. Ia hanya menyeruput tehnya, lalu kembali menatap papan yang penuh oleh benang merah itu.
“Satu lagi,” ucapnya kemudian. “Cari tahu, siapa orang terakhir yang menghubungi korban sebelum dia menghilang. Bukan yang terakhir bertemu. Yang terakhir menghubungi.”
“Baik, Pak.”
••••••••
Pramono turun dari truk itu di sebuah persimpangan pada pukul empat pagi.
Ia berjalan kaki cukup jauh, menyusuri trotoar yang masih basah, sampai akhirnya berhenti di depan sebuah gedung tinggi berdinding kaca. Di depan gedung itu terpasang papan besar bergambar seorang laki-laki yang sedang memasukkan tangan ke dalam saku celana, dengan ekspresi wajah yang dingin dan angkuh.
Pramono berdiri di seberang jalan sambil mendongak, memandangi papan itu lama sekali.
“Jadi di sini kau bekerja, ya,” gumamnya.
Ia menghabiskan sepanjang pagi itu duduk di warung seberang, memesan teh yang paling murah, dan mendengarkan.
Sungguh, orang-orang di sekitar tempat seperti ini memang tidak pernah bisa menahan mulut mereka. Ada sopir yang mengeluh tentang jadwal yang mendadak. Ada petugas kebersihan yang bercerita tentang model-model yang sombong. Ada pula dua orang perempuan muda yang tanpa diminta menyebutkan nama sebuah kompleks perumahan sambil terkikik.
Pada tengah hari, Pramono sudah tahu tiga hal.
Nama lengkap laki-laki itu. Di mana ia tinggal. Dan bahwa besok pagi, laki-laki itu pasti akan berada di satu tempat yang sudah bisa ditebak oleh siapa pun.
Pemakaman.
Pramono menyeruput tehnya sampai habis, lalu meletakkan gelas itu dengan pelan.
“Semua orang akan datang ke sana,” gumamnya. “Wartawan, penggemar, keluarga. Ramai sekali. Tidak akan ada yang memperhatikan satu orang tua yang berdiri di belakang.”
Ia terkekeh sendirian.
“Dan setelah semuanya bubar, aku hanya perlu berjalan ke arah mobilnya.”
••••••••
Di sebuah rumah yang jauh dari semua itu, seorang wanita duduk di tepi ranjang sambil memandangi resep obat di tangannya.
Asam lambung. Hanya itu.
Raya melipat kertas itu, lalu membukanya lagi, lalu melipatnya lagi. Sudah sejak pulang dari rumah sakit tadi ia melakukan hal yang sama tanpa sadar.
“Masih dipandangi juga?”
Andra masuk sambil membawa dua gelas teh hangat. Ia meletakkan salah satunya di atas nakas, lalu duduk di samping istrinya.
“Aku sudah membuat kau berharap,” gumam Raya tanpa mengangkat wajah.
“Siapa yang berharap?”
“Kau. Kau tersenyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan tadi pagi. Aku melihatnya dari kaca spion.”
Andra terkekeh kecil. Ia mengambil kertas resep itu dari tangan istrinya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas nakas.
“Raya, dengar.” Ia menggenggam tangan wanita itu. “Aku memang berharap. Tapi bukan karena aku ingin sesuatu darimu. Aku hanya membayangkan hal yang menyenangkan, itu saja. Dan membayangkan hal yang menyenangkan itu tidak pernah rugi.”
“Tapi aku—”
“Kau makan tidak teratur, tidur larut, dan setiap hari mengurus rumah sendirian.” Andra menatapnya. “Yang harus kau pikirkan sekarang bukan soal itu. Tapi soal minum obatmu tepat waktu. Mengerti?”
Raya membuka mulut, hendak membantah, lalu mengurungkannya. Ia hanya melenggut pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
“Kau menyebalkan sekali kalau sedang benar,” gumamnya.
“Aku tahu.”
••••••••
Malam itu, di sebuah rumah sakit, seseorang berdiri di depan jendela lorong lantai tiga sambil menatap ke luar.
“Kau melamun lagi,” tegur Arsen sambil lewat membawa berkas.
“Aku sedang berpikir.”
“Berpikir itu pekerjaan yang berbahaya untukmu.”
Bintang berdecak. “Arsen, kau ini kalau bicara memang harus menyebalkan, ya?”
“Itu bakat.” Laki-laki berkacamata itu berhenti, lalu ikut berdiri di samping arwah tersebut. “Siska belum memberi kabar. Tempat itu masih penuh. Kita harus menunggu.”
“Sampai kapan?”
“Sampai ada yang keluar dari sana.” Arsen membenarkan letak kacamatanya. “Dan biasanya, orang yang keluar dari tempat seperti itu tidak keluar dengan cara yang menyenangkan.”
Bintang bergeming.
Di luar sana, kota terbentang dengan lampu-lampu yang tidak pernah padam. Ada sirene ambulans yang meraung dari kejauhan. Ada klakson yang bersahut-sahutan. Ada jutaan orang yang sedang menjalani malam mereka masing-masing, tanpa tahu apa-apa tentang satu sama lain.
“Arsen.”
“Hm?”
“Menurutmu, kalau seseorang sudah melakukan hal yang sangat buruk, apakah dia masih bisa berhenti?”
Arsen menoleh. “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Entahlah.” Bintang mengangkat bahu. “Aku hanya teringat pamanku. Dulu dia bukan orang seperti itu. Dia pernah menggendongku waktu aku kecil.”
Arsen terdiam agak lama.
“Bisa,” jawabnya akhirnya. “Tapi hampir tidak ada yang mau. Sebab, berhenti itu artinya mengakui. Dan mengakui itu jauh lebih menakutkan daripada terus melakukannya.”
Bintang menatap laki-laki di sampingnya.
“Kau ini benar-benar aneh untuk seseorang yang seumuran denganku.”
“Aku lebih tua darimu sekarang,” balas Arsen sambil berjalan pergi. “Kau berhenti bertambah umur dua tahun yang lalu. Mengerti?”
Bintang membeliak, hendak memprotes. Namun, laki-laki berkacamata itu sudah menghilang di ujung koridor sambil terkekeh puas.
Dan di luar sana, hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi kota yang esok pagi akan berkabung untuk seorang gadis yang bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.