Burung-burung mengepakkan kedua sayapnya terbang di langit sore. Kicauannya yang saling bersahutan terdengar begitu syahdu. Ditambah rintik gerimis yang tipis menambah suasana duka semakin terasa.
Sesosok jasad seorang gadis dalam karung yang sempat menghebohkan publik, pada akhirnya berhasil teridentifikasi. Jasad tersebut ialah Karina Lim. Seorang artis pendatang baru yang dikabarkan menghilang beberapa hari yang lalu. Karina merupakan artis yang tengah naik daun berkat kemampuan aktingnya di sebuah film layar lebar. Bahkan, film tersebut meraih sebuah penghargaan tahunan sebagai film terbaik di tahun ini dengan menembus satu juta penontotn hanya dalam rentan waktu dua minggu saja. Ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang artis pendatang baru. Karina juga merupakan sosok yang manis dan ramah, karena itulah banyak yang mengagumi dirinya.
Kini, gadis ramah yang berbakat itu telah pergi. Hanya tersisa kenangan dan karya yang masih bisa dinikmati oleh penggemarnya.
Suasana pemakaman tampak begitu ramai di hadiri oleh kerabat, Fans, dan para awak media. Mereka semua ikut merasakan kesedihan yang mendalam karena ditinggal oleh sosok wanita cantik itu.
Di antara kerumunan masyarakat dan awak media, terselip sesosok lelaki berbaju serba hitam dengan kacamata hitam menutupi mata sembabnya. Tubuhnya yang tinggi dan proposional membuatnya terlihat sangat mencolok di antara seluruh orang yang hadir. Laki-laki itu ialah Ravin.
Ravin masih menyempatkan diri untuk hadir di pemakaman kekasihnya di tengah kesibukannya sebagai seorang model. Itu karena seluruh lapisan masyarakat serta awak media sudah mengetahui jalinan hubungan dirinya dan juga Karina. Bahkan, keduanya sudah pernah bertemu di suatu kesempatan dan membeberkan hubungan di antara mereka. Ya, keduanya dikenal sebagai pasangan yang manis dan serasi oleh masyarakat luas. Oleh sebab itu menjadi suatu keuntungan untuk Ravin, sebab ia yakin tidak ada satu pun orang yang akan menyadari jika dirinyalah yang telah membunuh Karina.
Ravin mengusap air matanya dan merangkul bahu kedua orang tua Karina. Sementara, Ibu Karina, tidak bisa menahan benteng pertahanannya untuk memeluk Ravin dan menumpahkan semua tangis di d**a bidang laki-laki itu. Sungguh, dadanya terasa sesak saat tahu jika anak semata wayangnya tewas dengan cara yang mengenaskan. Ibu mana yang mampu melihat anak gadisnya ditemukan sudah tidak bernyawa dengan tubuh yang tidak lengkap?
Seketika tubuh Ibu Karina merosot jatuh ke samping pusara sang anak ketika jasad itu mulai diturunkan ke liang lahat. Ia pun menangis sejadi-jadinya.
“TIDAK! KARINA JANGAN TINGGALKAN IBU," pekiknya sembari mencengkeram gundukan tanah merah di depannya. Ia masih belum memercayai putrinya akan pergi meninggalkannya secepat ini. Ia terus mencengkeram gundukan tanah yang basah itu. Sesekali ia juga mencoba memeluk batu nisan anaknya. Ia tidak peduli jika bajunya saat ini telah berlumuran tanah.
Sementara, Ayah Karina hanya bisa diam membisu dengan air mata dan isakan yang terdengar. Ia merasa jika dirinya telah gagal melindungi putri semata wayangnya. Manusia mana yang tega melakukan ini pada putrinya? Memang apa salah Karina hingga orang itu tega membunuh gadis cantiknya?
“Ibu, kau harus kuat. Kita harus mengiklaskan kepergian Karina. Tuhan pasti mempunyai rencana lain yang indah untuk Karina di sana," ucap Ravin sembari berlutut dan mengelus pundak wanita paruh baya itu. Tentu saja itu hanyalah sebuah sandiwara semata. Bagaimana pun ia tidak rela jika jasad wanita itu dikebumikan. Sebab, jika jasad gadis itu dikubur dengan layak, maka dirinya tidak akan bisa lagi melihat sosok arwah Karina. Lebih tepatnya ia tidak bisa lagi mempermainkan arwah itu.
Karina menggelengkan kepalanya ringan saat melihat sandiwara yang dilakukan Ravin. Laki-laki itu benar-benar luar biasa. Laki-laki itu mampu mengelabuhi semua orang di sana. Sepertinya Ravin berhak menyandang penghargaan sebagai aktir terbaik tahun ini.
Pandangan Karina beralih menatap kedua orang tuanya yang tengah menangis saat jasad dirinya mulai ditutup dengan tanah.
"Ayah ... Ibu ... maafkan aku yang telah merepotkan kalian selama ini. Aku akan beristirahat dengan tenang di sana. Aku tidak akan kelaparan lagi karena diet. Aku yakin jika di surga tubuhku akan tetap langsing meskipun makan banyak. Jadi, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi,“ lirih Karina dengan senyum mengembang di pipinya.
Karina terenyuh ketika melihat bayangan dirinya yang mulai samar. Dengan sigap, ia menghampiri orang tuanya. Ia ingin menatap wajah kedua orang tuanya dari dekat untuk terakhir kalinya.
“Ayah ... Ibu ... selamat tinggal. Aku mencintai kalian,“ ucap Karina untuk yang terakhir.
Sekarang Arwah gadis itu benar-benar telah pergi tepat saat gundukan tanah mulai menutupi jasadnya secara keseluruhan. Dan pada akhirnya, Karina bisa hidup bahagia di alamnya.
••••••
Pramono tersenyum senang ketika mengetahui jika Ravin adalah seorang model ternama. Tanpa buang waktu, ia pun mencari tahu lokasi tempat tinggal Ravin di situs internet. Sayangnya, ia tidak menemukan informasi itu di artikel manapun. Tidak kehilangan ide, ia memutuskan untuk mencari tahu tentang agensi yang menaungi Ravin saat ini.
“Z Entertaiment. Haha. Ternyata bocah ini benar-benar luar biasa. Dia bisa diterima di perusahaan sebesar ini,“ gumam Pramono.
Buru-buru, ia pun mencari tahu alamat Z Entertaiment dan mencatatnya. Setelah itu, bergegas bangkit dan pergi meninggalkan tempat ini untuk terakhir kalinya. Sebab, ia akan menemui Ravin dengan mengendarai sepeda motor curiannya itu.
Pramono menunggu dengan setia dari balik pohon besar tepat di depan perusahaan Z entertaiment. Sedari tadi, netranya tidak henti mengawasi mobil yang tidak asing baginya. Ya, mobil jeep hitam yang pernah dilihatnya saat malam itu. Dan saat ini ia tengah bersembunyi tidak jauh dari mobil itu berada, dan mengawasinya dari kejauhan.
Pramono tidak ingin gegabah dengan masuk ke dalam gedung itu. Terlalu bahaya untuk seorang buronan sepertinya ditambah lagi dengan adanya sistem penjagaan yang cukup ketat, hingga bisa saja penyamarannya akan terbongkar. Oleh sebab itu, ia memilih untuk menunggu Ravin keluar dengan sendirinya.
Tidak lama setelahnya, netra Pramono berbinar senang ketika orang yang ditunggu menampakan batang hidungnya. Laki-laki itu tengah berjalan ke arah mobil jeep hitam miliknya. Tanpa pikir panjang, ia pun keluar dari tempat persembunyiannya.
Pramono berjalan santai ke arah Ravin. Ia harus terlihat sewajarnya jika tidak ingin semua orang yang berada di sini mencurigainya.
Pramono melihat Ravin yang telah membuka pintu mobilnya. Dengan cepat dan tanpa permisi, ia juga ikut masuk ke dalam mobil Ravin dan duduk di sebelah laki-laki itu.
Ravin terhenyak. Namun, detik kemudian keningnya mengerut heran pada pria di sampingnya. Apakah pria ini sudah gila? Bagaimana bisa ia masuk ke dalam mobil orang lain tanpa izin?
“Maaf Pak. Sepertinya anda salah mobil," tegur Ravin dengan polosnya. Namun, sesaat setelah Pramono menatapnya, ia baru menyadari sesuatu.
“Kau??”
“Hei, bocah tengik. Lama tidak bertemu,“ ucap Pramono santai.
“Apa yang kau lakukan?“ tanya Ravin yang mulai geram akan kelakuan pria itu.
Ravin menatap Pramono dengan wajah kesal. Oh sungguh, ia sangat tidak nyaman pada pria di sampingnya itu. Ditambah lagi, pria itu mengatainya 'bocah tengik'. Apa-apan itu?
“Aku yakin kau tidak mungkin sampai di sini dengan tangan kosong. Apa yang kau mau?" tanya Ravin to the point.
“Hahaha … ternyata kau adalah laki-laki yang cerdas.” Pramono pun langsung merogoh saku dan mengambil ponsel miliknya. Kemudian, ia menunjukan pada Ravin akan video yang saat itu direkamnya. Sebuah video saat Ravin tengah membuang karung berisi jasad Karina di danau.
“Sial!“ geram Ravin. Dengan cepat ia pun menghapus video itu dari ponsel Pramono. Sementara Pramono hanya tertawa lebar ketika melihat laki-laki itu panik.
“Hahaha … Percuma saja kau menghapusnya. Aku sudah mengunggahnya di Chanel Youtube, dan sudah kusetel tanggal penayangannya. Hanya aku yang mampu menghentikan jadwal tayang tersebut," terang Pramono seakan mengintimidasi.
“Bukankah wajah tampanmu itu terlihat sangat jelas di sana? Aku ingin melihat respon orang-orang saat video ini menyebar," ejeknya.
Ravin mendengkus kesal. Kalimat ejekan pria itu berhasil menghentakkan d**a dan menciptakan gelora panas yang meletup kasar. Kendati begitu, ia hanya bisa bergeming seraya menatap tajam Pramono di sampingnya. Jujur saja, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Haruskah ia membunuh pria itu sekarang juga?
Ravin mendesah pelan. Tentu saja ia tidak bisa membunuh Pramono. Sebab, itu sama saja seperti menunggu waktu sampai Video itu tersebar ke publik. “ Apa maumu sekarang?" tanyanya dengan tatapan dingin.
Pramono tersenyum riang. "It's simple. Aku hanya butuh tempat tinggal.”
“Baiklah. Aku akan sewakan apartemen untukmu. Cepat hapus video itu!“ bentak Ravin.
“Sabar, bro … Masih ada hal lain yang kuinginkan," sahut Pramono dengan santai.
Ravin mendengkus kesal untuk kesekian kalinya. Ia memukul stir mobil dengan keras seraya memekik kencang.
“APA LAGI?" Suara Ravin terdengar lantang. Ya, ia sedang menyalurkan, emosinya yang sudah benar-benar memuncak kepada pria tua di sampingnya.
Mendadak Pramono terhenyak. Jujur saja jika saat ini ia merasa takut pada bocah itu hingga degup jantungnya berpacu dengan cepat. Sebab, tatapan laki-laki itu sangat mengerikan seolah-olah bisa membunuhnya kapan pun. Namun ia berusaha untuk terlihat normal.
“Kenapa kau harus teriak seperti itu? Teriakanmu bisa terdengar sampai luar," jawabnya santai, "aku butuh bantuanmu," lanjut Pramono.
“Bantuan? Bantuan apa maksudmu?"
“Bantuan untuk membalaskan dendamku pada seseorang. Jika kau berhasil, aku akan menghapus video ini selamanya dari channel buatanku. Bagaimana kau setuju?“
Ravin menoleh ke depan dan menghela napas beratnya. Kini, benaknya tengah berusaha untuk berpikir keras apakah ia akan menyetujui permainan pria itu atau tidak. Walau bagaimana pun ia tidak ingin karirnya hacur karena skandal yang dibuatnya.
Ravin kembali menoleh untuk menatap pria itu. Detik kemudian, ia pun memilih untuk mengangguk, menyetujui kesepakatan bersama Pramono.