Mobil itu berhenti di depan sebuah gedung apartemen tiga hari kemudian.
“Lantai delapan. Nomor delapan belas.” Ravin melemparkan sebuah kartu akses ke pangkuan pria di sampingnya tanpa menoleh sedikit pun. “Sudah dibayar setahun. Jangan menghubungiku untuk urusan air, listrik, atau apa pun.”
Pramono mengambil kartu itu, lalu memandanginya sambil bersiul pelan.
“Wah. Kau ini memang orang berada, ya.” Ia mendongak, menatap gedung menjulang di hadapannya melalui kaca depan. “Seumur hidup aku tidak pernah tinggal di tempat setinggi ini.”
“Hapus videonya.”
Pramono menoleh. Lalu, ia tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.
“Astaga, bocah. Kau ini benar-benar tidak sabaran.” Ia menepuk-nepuk bahu Ravin, yang langsung ditepis dengan kasar. “Kesepakatan kita ada dua. Tempat tinggal, dan bantuan. Baru satu yang kau berikan.”
Rahang Ravin mengeras.
“Bantuan apa?” tanyanya dingin. “Katakan sekarang. Siapa orangnya?”
“Nanti.”
“NANTI KAPAN?”
Suara itu menggema di dalam mobil hingga membuat Pramono terhenyak. Sesaat, pria paruh baya itu benar-benar merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkuknya. Sebab, tatapan laki-laki di sampingnya ini bukan tatapan orang yang sedang marah biasa.
Melainkan tatapan orang yang sudah pernah melakukannya.
Namun, Pramono cepat menguasai diri. Ia menyunggingkan senyum lebar, lalu membuka pintu mobil.
“Semua ada waktunya,” ucapnya sambil turun. “Orang yang terburu-buru itu biasanya cepat mati, Nak. Percayalah pada orang tua.”
Pintu mobil ditutup.
Ravin duduk diam di balik kemudi selama beberapa menit, dengan kedua tangan yang mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih.
Kemudian, ia memukul setir itu satu kali. Keras sekali.
Lalu, ia melajukan mobilnya pergi.
••••••••
Pemakaman itu berlangsung dua hari sebelumnya, dan wajah Ravin masih terus muncul di layar televisi.
Ada foto ketika ia merangkul kedua orang tua Karina. Ada video ketika ia melepas kacamata hitamnya sebentar untuk menghapus air mata. Ada pula potongan wawancara singkat yang hanya berisi lima kata sebelum ia menunduk dan berjalan pergi.
Aku belum siap bicara. Maaf.
Publik menangis bersamanya. Tagar namanya memenuhi lini masa. Beberapa akun bahkan membuat kumpulan foto kebersamaan mereka berdua, lengkap dengan lagu sendu di latarnya.
Dan di sebuah studio pemotretan pada siang harinya, seorang laki-laki menghampiri Ravin ketika sesi istirahat.
“Mas Ravin?”
Ravin menoleh. Seorang pria bertubuh sedang, mengenakan kemeja biasa, dengan kartu identitas yang tergantung di lehernya.
“Maaf mengganggu. Saya dari kepolisian. Boleh minta waktunya sebentar? Hanya beberapa pertanyaan rutin.”
Beberapa staf yang berada di sekitar sana langsung menoleh.
Ravin meletakkan botol minumnya, lalu tersenyum tipis. Senyum yang lelah dan sopan, persis seperti senyum seseorang yang baru saja kehilangan orang yang dicintainya.
“Tentu, Pak. Silakan.”
Mereka duduk di sudut ruangan.
“Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan almarhumah?”
“Kira-kira sepuluh hari sebelum dia dikabarkan hilang. Kami makan malam bersama.” Ravin menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Setelah itu jadwal saya padat. Kami hanya berkirim pesan.”
“Apakah ada pertengkaran? Atau hal yang tidak biasa?”
“Tidak ada.” Ravin menunduk sebentar, lalu mengembuskan napas panjang. “Justru itu yang membuat saya tidak bisa tidur sampai sekarang, Pak. Kalau saja waktu itu saya membalas pesan terakhirnya lebih cepat, mungkin—”
Ia berhenti. Suaranya bergetar tepat pada tempat yang seharusnya.
Penyidik itu melenggut pelan, lalu menutup buku catatannya.
“Baik. Terima kasih banyak. Kalau nanti kami butuh keterangan tambahan, kami akan menghubungi manajemen Anda.”
“Tentu saja, Pak. Apa pun yang bisa saya bantu.”
Mereka berjabat tangan.
Ravin mengantar penyidik itu sampai ke pintu studio, tersenyum, bahkan sempat mengucapkan terima kasih sekali lagi. Setelah pintu tertutup, ia berbalik dan berjalan kembali ke arah tim rias tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun.
“Ravin, kau tidak apa-apa?” tanya Melly khawatir.
“Aku baik-baik saja.”
“Kalau kau mau istirahat, kita bisa tunda—”
“Aku baik-baik saja,” ulangnya, kali ini dengan senyum yang sempurna. “Ayo lanjutkan. Sayang kalau timnya menunggu.”
Dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menyadari bahwa beberapa detik yang lalu, di balik punggungnya, kedua tangan laki-laki itu sedang terkepal erat sekali.
••••••••
Pramono ternyata jauh lebih merepotkan daripada yang diperkirakan.
Dalam tiga hari, pria itu sudah menelepon Ravin sebanyak sebelas kali. Yang pertama tentang cara menyalakan pemanas air. Yang kedua tentang televisi yang tidak ada salurannya. Yang ketiga tentang satpam yang menatapnya dengan curiga di lobi.
Yang keempat sampai kesebelas, semuanya tentang uang.
“Aku butuh pakaian yang layak,” ucapnya di telepon. “Masa aku harus keluar masuk gedung semewah itu dengan jaket bau ini?”
“Kau tidak perlu keluar sama sekali.”
“Ah, kau ini kejam sekali. Aku baru saja keluar dari tempat yang sempit dan pengap, Nak. Aku ingin melihat dunia sedikit.”
“Yang kau butuhkan bukan dunia. Yang kau butuhkan adalah diam.”
Pramono terkekeh di seberang sana.
“Baiklah, baiklah. Aku diam.” Suaranya melunak, lalu berubah menjadi sesuatu yang lain. “Oh ya, satu lagi. Aku butuh alamat sebuah tempat. Kau punya kenalan yang bisa mencari data orang, kan? Orang seperti kau pasti punya.”
Ravin menyipitkan matanya. “Alamat siapa?”
“Nanti.”
Sambungan itu diputus sebelum Ravin sempat membalas.
Laki-laki itu menatap layar ponselnya yang meredup, lalu melemparkannya ke atas sofa.
“Orang tua brengsek,” desisnya.
Namun, di dalam kepalanya, sesuatu mulai berputar. Sebuah perhitungan yang lain. Sebuah kemungkinan yang selama ini belum sempat ia pikirkan.
Kesepakatan itu memang mengikatnya. Namun, kesepakatan hanya berlaku selama kedua belah pihak masih ada.
Dan Ravin sudah pernah membuktikan bahwa membuat seseorang tidak ada bukanlah hal yang sulit baginya.
Ia hanya perlu tahu di mana video itu disimpan.
••••••••
Di lantai delapan, di dalam ruangan yang jauh lebih luas daripada seluruh rumah yang pernah ditinggalinya seumur hidup, Pramono berbaring di atas sofa sambil mengangkat kedua kakinya ke sandaran.
Televisi menyala di hadapannya.
Ia memindah-mindahkan saluran dengan malas. Sinetron. Berita banjir. Pertandingan sepak bola. Iklan sabun. Lalu, jarinya berhenti pada sebuah saluran berita ekonomi.
Di layar itu, seorang pembawa acara sedang membahas laporan kinerja beberapa perusahaan besar. Dan di antara logo-logo yang berjajar, ada satu yang membuat pria paruh baya itu menegakkan tubuhnya.
Perusahaan ABC.
“Ah, masih berdiri rupanya,” gumamnya sambil menyeringai.
Ia bangkit, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke seluruh kota. Dari ketinggian ini, Jakarta terlihat seperti hamparan lampu yang tidak ada habisnya. Kecil-kecil. Berkedip. Seolah tidak satu pun dari jutaan orang di bawah sana yang penting.
Pramono menempelkan telapak tangannya ke kaca.
“Kakakku sayang,” gumamnya pelan, “kau pikir kau menang karena kau duduk di kursi roda dan semua orang mengasihanimu, ya?”
Ia terkekeh sendirian.
“Aku tidak akan menyentuhmu. Aku janji. Buat apa? Kau sudah setengah mati sejak dulu.” Senyumnya melebar. “Yang akan kuambil adalah satu-satunya hal yang masih membuatmu mau bangun setiap pagi.”
Napasnya mengembun di permukaan kaca.
“Dan kali ini, aku akan memastikannya dengan benar.”
••••••••
Hari-hari setelahnya berjalan seperti mesin yang tidak bisa dimatikan.
Pemotretan pagi. Kemudian pemotretan siang. Kemudian pengukuran busana untuk peragaan bulan depan. Kemudian wawancara. Kemudian pemotretan lagi.
Manajemen Ravin memanfaatkan semuanya. Simpati publik sedang berada di puncaknya, dan tidak ada seorang pun di industri ini yang cukup bodoh untuk membiarkan momentum seperti itu berlalu begitu saja. Tawaran berdatangan dari mana-mana. Sampul majalah. Iklan parfum. Kampanye busana pria.
Ravin menerima semuanya.
Bukan karena ia haus akan kerja. Melainkan karena selama ia berada di bawah sorot lampu, ia tidak perlu berada di dalam ruangan yang sunyi bersama sebuah patung manekin dan sesuatu yang selalu membuat tengkuknya dingin.
“Ravin, ini yang terakhir. Setelah ini kita bungkus,” ujar sang fotografer pada malam yang entah keberapa.
Ravin melenggut.
Ia berdiri di bawah lampu untuk kesekian kalinya, memasang ekspresi dingin dan angkuh yang selalu diminta oleh semua orang, sementara bunyi shutter memenuhi ruangan bertubi-tubi.
Klik. Klik. Klik.
Entah sudah berapa ratus kali malam ini.
Ketika akhirnya semuanya selesai, jam di dinding studio sudah menunjukkan pukul sebelas lewat.
Ravin melepas pakaiannya, berganti dengan kaus dan celana panjang yang jauh lebih nyaman, lalu menyampirkan jaket ke bahunya. Ia berpamitan seperlunya kepada tim, mengangguk kepada beberapa orang, dan berjalan keluar melalui pintu belakang.
Udara di luar terasa lembap. Langit gelap tanpa satu pun bintang.
Ia berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di sudut halaman. Punggungnya terasa kaku. Lehernya pegal. Kedua matanya terasa berat sekali, seperti ada beban yang menggantung di kelopaknya.
Ravin membuka pintu, menjatuhkan dirinya ke jok pengemudi, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi selama beberapa detik.
Sungguh, ia hanya menginginkan satu hal saja malam ini.
Ranjang.
Ia menyalakan mesin. Lampu depan menyala, menerangi aspal yang mulai berbintik-bintik oleh air.
Rupanya hujan akan turun.
Ia melirik jam di dasbor, lalu mengusap wajahnya dengan kasar sekali, berusaha mengusir kantuk yang sejak tadi menggantung di kelopak matanya. Empat puluh menit lagi. Empat puluh menit lagi ia akan sampai di rumah.
Ravin mengembuskan napas panjang, lalu memasukkan persneling dan melajukan mobilnya keluar dari halaman studio, menuju ke jalanan yang mulai basah dan gelap.