Ravin baru sampai di rumahnya ketika jam sudah lewat tengah malam.
Ia melepas jasnya, menggantungnya sembarangan, lalu berjalan menuju ke ruang pribadinya. Lampu di sana sengaja tidak dinyalakan. Hanya cahaya kota dari balik jendela besar yang masuk, membentuk garis-garis panjang di atas lantai.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana.
Layar itu menyala. Sebuah foto terbuka di sana.
Wajah seorang laki-laki muda. Rambut hitam. Wajah yang dingin. Foto yang diambil dari sebuah arsip lama, entah dari mana, hasil dari seseorang yang dibayar untuk mencari tanpa banyak bertanya.
Bintang Pradipa.
Ravin menatap foto itu sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Kau tahu, aku sudah bertanya-tanya sejak malam itu,” gumamnya. “Kenapa ada arwah yang berdiri di tengah jalan dan menatapku seolah dia mengenaliku. Padahal aku sama sekali tidak mengenalmu.”
Ia bersandar, menyilangkan kedua kaki di atas meja.
“Ternyata kau ini bukan arwah yang sembarangan. Kau punya nama. Punya makam. Punya ayah yang duduk di kursi roda.” Senyumnya melebar. “Dan punya kekasih.”
Cahaya layar itu memantul di wajahnya, membuat sorot matanya terlihat semakin gelap.
Ravin mengusap layar itu dengan ibu jarinya, lalu berpindah ke foto lain. Kali ini foto yang jauh lebih baru. Foto seorang gadis berambut hitam panjang yang sedang tersenyum di depan tumpukan buku, diambil oleh entah siapa pada sebuah acara.
“Halo, Bunga,” bisiknya.
Ia terkekeh pelan.
Sungguh, dari semua mainan yang pernah ia miliki seumur hidupnya, tidak ada satu pun yang semenarik ini. Membunuh itu mudah. Terlalu mudah. Semuanya selesai dalam hitungan menit, lalu hening, lalu tidak ada apa-apa lagi selain suara arwah yang merengek-rengek di sudut ruangan.
Namun ini berbeda.
Ini bisa berlangsung berbulan-bulan. Bisa dinikmati sedikit demi sedikit. Dan yang paling menyenangkan, korbannya akan menyaksikan semuanya dari jarak yang sangat dekat, tanpa bisa berbuat apa-apa sama sekali.
“Kau ingin kembali ke langit, kan, Bintang?” gumamnya sambil mematikan layar ponselnya. “Tenang saja. Aku akan mengantarmu.”
Ruangan itu kembali gelap.
Dan di sudut ruangan, patung manekin berwarna putih itu berdiri diam, seperti biasa.
“Kau dengar itu?” ujar Ravin kepada benda mati tersebut. “Kali ini aku tidak akan buru-buru. Kau tahu kenapa? Karena yang ini tidak akan mati.”
Ia bangkit, berjalan mendekat, lalu memiringkan kepalanya sedikit sambil menatap patung tanpa wajah itu.
“Yang ini akan hidup terus, dan menonton semuanya sampai habis.”
Kemudian ia tertawa, pelan sekali, di dalam ruangan yang tidak akan pernah menceritakan apa pun kepada siapa pun.
••••••••
Bunga terbangun kesiangan keesokan harinya.
Ia turun ke dapur dengan rambut yang masih berantakan, membuka kulkas, lalu menutupnya lagi tanpa mengambil apa pun. Kepalanya masih dipenuhi oleh kejadian semalam. Lampu studio. Kamera. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Ravin dengan begitu ringan hingga membuatnya tertawa berkali-kali.
Dan satu hal lagi.
Ia belum menceritakannya kepada siapa pun.
“Kau bangun juga akhirnya.”
Bunga terperanjat hingga hampir menjatuhkan gelasnya.
Bintang duduk di atas meja makan, dengan kedua kaki menggantung, menatapnya sambil mengangkat satu alis.
“Astaga! Sudah berapa kali kubilang jangan muncul tiba-tiba seperti itu!”
“Aku sudah di sini sejak pukul enam pagi.”
“Kenapa tidak membangunkanku?”
“Aku sudah mencoba. Aku memanggilmu delapan kali. Kau hanya bergumam lalu menarik selimut.” Bintang mengangkat bahu. “Setelah itu aku menyerah dan menghitung ubin dapurmu. Ada dua ratus empat belas, kalau kau mau tahu.”
Bunga tertawa. Namun, tawanya berhenti sedikit lebih cepat daripada biasanya.
“Semalam kau pulang jam berapa?” tanya Bintang.
Gelas di tangan Bunga berhenti di udara.
“Hmm … tidak terlalu larut.”
“Aku menunggumu sampai jam sebelas.”
“Kalau begitu, sesudah jam sebelas.” Bunga berbalik cepat, berpura-pura sibuk menuang air. “Ada acara kantor penerbit. Membosankan sekali. Isinya hanya orang-orang dewasa yang berbicara tentang angka penjualan.”
Bintang bergeming beberapa saat.
“Begitu, ya.”
“Iya.”
“Bunga.”
“Hm?”
“Kau tidak pandai berbohong.”
Bunga membeku. Air dari teko itu meluber sedikit ke atas meja.
Ia berbalik perlahan-lahan, sudah siap dengan seribu kalimat yang telah ia susun sepanjang perjalanan pulang semalam. Namun, ketika ia menatap wajah arwah itu, semua kalimat tersebut lenyap begitu saja.
Sebab, Bintang tidak sedang marah.
Laki-laki itu hanya sedang menatapnya, dengan tatapan yang sama seperti dulu, tatapan seseorang yang bersedia menunggu berapa lama pun sampai orang di hadapannya siap berbicara.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
“Bintang, aku …,” Bunga menjeda ucapannya.
“Ya?”
Bunga membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
“Tidak jadi,” gumamnya. “Bukan apa-apa.”
Bintang menatapnya beberapa saat lagi. Kemudian, ia melompat turun dari meja.
“Baiklah,” ucapnya ringan. “Habiskan sarapanmu. Kau kurus sekali akhir-akhir ini.”
Dan arwah itu berjalan keluar dari dapur tanpa bertanya lagi.
Bunga berdiri sendirian di sana dengan air yang masih meluber di atas meja.
Sungguh, ia lebih memilih dimarahi.
••••••••
“Jadi kau datang ke sini hanya untuk mengeluh?”
Raya meletakkan setrikaan di atas meja, lalu menatap arwah yang sedang duduk bersila di atas lemari kamarnya. Kebiasaan lama yang tidak pernah hilang.
“Aku tidak mengeluh. Aku sedang bercerita.”
“Bedanya apa?”
“Bedanya, kalau bercerita, pendengarnya seharusnya bersimpati. Bukan menyetrika.”
Raya berdecak. Namun, ia tetap meletakkan pakaian yang sedang dipegangnya, lalu duduk di tepi ranjang.
“Baiklah, Tuan Arwah. Katakan.”
Bintang tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah jendela beberapa saat, seolah sedang menyusun kalimat yang paling tepat.
“Ada yang berubah dari Bunga,” ucapnya akhirnya.
“Berubah bagaimana?”
“Entahlah. Itu masalahnya. Aku tidak bisa menyebutkannya.” Bintang mengangkat bahu. “Dia masih tertawa. Dia masih memasak terlalu banyak lalu tidak menghabiskannya. Dia masih memarahiku kalau aku muncul tiba-tiba. Semuanya sama.”
“Lalu?”
“Tapi kalau aku bertanya, dia menoleh ke arah lain.” Bintang menunduk. “Dulu dia tidak pernah begitu, Raya. Dulu, kalau dia berbohong, dia menatapku lurus-lurus sambil berkata bohong. Sekarang dia bahkan tidak berani berbohong ke arahku.”
Raya bergeming.
Sungguh, sebagai seorang perempuan, ia tahu betul apa artinya itu. Namun, ia juga tahu bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dikatakan sebelum orangnya sendiri yang mengatakannya.
“Bintang,” ucapnya hati-hati, “kau sudah bertanya langsung?”
“Sudah.”
“Dan?”
“Dia bilang bukan apa-apa.”
“Kalau begitu tunggu.”
Bintang mendongak. “Hanya menunggu?”
“Ya, hanya menunggu.” Raya menyilangkan kedua lengannya. “Kau tahu apa kesalahan terbesarmu dulu? Kau tidak mau mendengarkan, lalu kau pergi. Dua tahun terbuang begitu saja karena kau terburu-buru mengambil kesimpulan sendiri.”
Bintang mengatupkan mulutnya.
“Kalau kau benar-benar sudah belajar dari itu,” lanjut Raya, “maka kali ini kau harus melakukan hal yang paling sulit bagi laki-laki keras kepala sepertimu.”
“Yaitu?”
“Diam. Ada di sana. Dan jangan ke mana-mana.” Raya bangkit, lalu mengambil pakaiannya lagi. “Kalau memang ada sesuatu, dia akan mengatakannya sendiri. Perempuan itu tidak bisa menyimpan rasa bersalah terlalu lama, Bintang. Percayalah padaku.”
Bintang menatap punggung wanita itu, lalu mengembuskan napas panjang.
“Kau tahu, sejak kapan kau menjadi sepintar ini?”
“Sejak aku menikah dan harus mengurus dua orang laki-laki yang sama-sama keras kepala.”
“Dua?”
“Suamiku, dan kau.”
Bintang tertawa. Namun, di dalam dadanya, perasaan itu sama sekali tidak berkurang.
••••••••
Ponsel itu berbunyi menjelang sore.
Bunga sedang berbaring di kamarnya sambil menatap langit-langit ketika benda itu bergetar di atas nakas. Sebuah nama muncul di layar, nama yang baru dua minggu ini tersimpan di dalam sana.
Ia menatap layar itu selama tiga deringan penuh sebelum akhirnya mengangkatnya.
“Halo?”
“Kau sudah bangun rupanya,” sahut suara di seberang sana, disertai kekehan kecil. “Kupikir penulis terkenal itu tidur sampai sore.”
“Sangat lucu, Ravin.”
“Aku memang lucu.” Terdengar suara sesuatu yang diletakkan. “Bunga, aku butuh bantuanmu lagi.”
“Aku bukan model.”
“Aku tahu. Justru itu yang mereka suka.” Ravin berhenti sebentar. “Tim ingin melanjutkan konsep kemarin. Dua hari. Studio yang sama. Dan setelah itu aku janji tidak akan mengganggumu lagi.”
Bunga memejamkan mata.
Katakan tidak. Hanya dua kata. Tidak, terima kasih.
“Bunga? Kau masih di sana?”
“Ravin, kenapa harus aku?”
Hening sesaat di seberang sana.
“Karena kau satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak memperlakukanku seperti barang pajangan,” jawab Ravin akhirnya. Suaranya terdengar berbeda. Lebih pelan. Lebih lelah. “Sejak Karina pergi, semua orang hanya menatapku dengan kasihan. Kau tidak. Kau justru memarahiku karena mengambil roti terlalu banyak.”
Bunga membuka matanya lagi.
Ada sesuatu di dalam dadanya yang berdesir. Bukan yang seperti itu, ia yakin sekali. Melainkan sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak dua tahun terakhir.
Rasa dibutuhkan.
“Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Dua hari. Tidak lebih.”
“Kau memang penyelamatku.”
“Jangan berlebihan.”
Ravin tertawa. Sambungan itu terputus.
Bunga meletakkan ponselnya di atas dada, lalu menatap langit-langit kamarnya lagi.
Beberapa saat kemudian, ia menoleh ke arah pintu balkon yang tertutup, ke arah tirai putih yang bergerak pelan tertiup angin sore.
“Ini hanya pekerjaan,” gumamnya kepada dirinya sendiri. “Hanya pekerjaan. Tidak ada yang perlu disembunyikan dari siapa pun.”
Namun, entah kenapa, malam itu ia tidak berani menatap wajah Bintang terlalu lama.