Pagi itu Bunga berangkat lebih cepat daripada biasanya.
Ia menuruni tangga sambil memasang anting, dengan tas yang sudah tersampir di bahu dan sepatu yang ditenteng di tangan kirinya. Rambutnya masih setengah basah.
“Kau berangkat sepagi ini?”
Bunga nyaris terpeleset di anak tangga terakhir.
Bintang berdiri di ruang tengah, bersedekap, dengan kening yang berkerut samar.
“Astaga, Bintang! Kau mau membunuhku, ya?”
“Aku tidak bisa membunuh siapa pun. Aku bahkan tidak bisa membuka pintu.” Arwah itu memiringkan kepalanya. “Kau mau ke mana?”
“Ada pertemuan.”
“Pertemuan apa?”
“Pertemuan.” Bunga duduk di anak tangga, memakai sepatunya dengan tergesa-gesa. “Urusan pekerjaan. Membosankan sekali. Kau tidak akan mengerti.”
“Aku dulu mahasiswa yang pintar.”
“Justru itu. Orang pintar paling cepat bosan.”
Bunga bangkit, merapikan roknya, lalu mengambil kunci mobil dari atas meja. Ketika ia berbalik, arwah itu masih berdiri di tempat yang sama.
“Pulang jam berapa?”
“Sore.”
“Sore yang mana? Sore jam empat atau sore jam sebelas malam?”
“Bintang.”
“Aku hanya bertanya.”
Bunga menarik napas panjang. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan arwah itu, lalu mengangkat wajahnya.
“Sore,” ulangnya lebih pelan. “Aku janji.”
Bintang menatapnya beberapa saat, lalu melenggut.
“Baiklah. Aku menunggu di sini.”
“Kau tidak perlu menunggu.”
“Aku tahu.” Arwah itu menyunggingkan senyum kecil. “Tapi aku mau.”
Bunga membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kemudian ia berbalik cepat dan berjalan keluar tanpa menoleh, karena ia tahu betul, kalau ia menoleh sedikit saja, ia tidak akan sanggup pergi.
Pintu itu tertutup.
Dan rumah itu berubah menjadi sunyi.
••••••••
Studio itu jauh lebih ramai daripada dua hari yang lalu.
“Bunga! Ke sini, ke sini!” Melly melambai dari balik rak pakaian. “Kau harus mencoba yang ini dulu. Ini favoritku.”
Bunga tertawa canggung sambil melangkah masuk. Beberapa staf menyapanya. Seorang penata rias langsung menariknya duduk di kursi tanpa banyak bicara.
“Kau datang tepat waktu,” ujar sebuah suara dari belakang.
Bunga menoleh melalui pantulan cermin. Ravin berdiri di sana sambil menyandarkan bahu ke kusen pintu, sudah mengenakan pakaian untuk sesi pertama.
“Tentu saja. Aku bukan orang yang suka terlambat.”
“Aku tahu.” Ravin melangkah masuk, lalu menarik kursi di sampingnya. “Itu sebabnya aku suka bekerja denganmu.”
Sesi pemotretan itu dimulai setengah jam kemudian.
Ternyata jauh lebih mudah daripada yang pertama. Bunga sudah mulai terbiasa dengan sorot lampu, dengan aba-aba fotografer, bahkan dengan cara Ravin menggeser posisi bahunya sedikit setiap kali ia terlihat terlalu kaku.
“Jangan menatap kamera,” bisik Ravin. “Tatap saja aku. Anggap kameranya tidak ada.”
“Itu justru lebih sulit.”
“Kenapa?”
“Karena wajahmu terlalu percaya diri.”
Ravin tertawa. Bunyi shutter memenuhi ruangan.
“Bagus! Yang tadi bagus sekali! Pertahankan!” seru sang fotografer.
Waktu berjalan jauh lebih cepat daripada yang disadari oleh siapa pun di ruangan itu.
••••••••
Rumah itu tidak berubah sedikit pun sejak pagi.
Bintang duduk di sofa ruang tengah dengan kedua tangan di atas lutut. Ia sudah mencoba berbagai hal untuk mengisi waktu. Ia menghitung ubin. Ia menghitung buku di rak. Ia membaca judul-judul yang tersusun di sana satu per satu, dari kiri ke kanan, lalu dari kanan ke kiri.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas.
Ia berjalan ke dapur, menatap gelas yang belum dicuci di wastafel, lalu kembali ke ruang tengah.
Pukul satu.
Ia naik ke lantai atas, berdiri di ambang pintu kamar Bunga, dan tidak masuk. Ada beberapa kertas berserakan di atas meja. Naskah, mungkin. Ia tidak membacanya.
Pukul tiga.
Bintang duduk lagi di sofa yang sama.
Sungguh, ia tidak marah. Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak marah. Raya benar. Yang harus ia lakukan hanyalah ada di sana, diam, dan tidak ke mana-mana.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah dikatakan orang tentang menunggu.
Menunggu itu tidak menyakitkan pada satu jam pertama. Tidak juga pada jam kedua. Rasa sakitnya baru datang jauh setelah itu, ketika kau mulai menyadari bahwa selama berjam-jam ini, kau adalah satu-satunya orang di dunia yang sedang memikirkan hal ini.
Pukul lima.
Langit di luar mulai berwarna jingga.
Bintang menatap pintu depan.
“Sore,” gumamnya. “Katanya sore.”
••••••••
“Oke, semuanya! Terima kasih! Kita bungkus hari ini!”
Bunga mengembuskan napas lega. Ia melepas sepatu hak tingginya begitu saja di lantai, lalu duduk di kursi terdekat sambil memijat kakinya.
“Sakit?” tanya Ravin sambil menyodorkan sebotol air.
“Menurutmu?”
“Menurutku, kau hebat sekali bisa bertahan sampai sekarang.” Ravin duduk di kursi sebelahnya. “Orang lain biasanya sudah menangis pada jam ketiga.”
“Aku sudah menangis. Di dalam hati.”
Ravin tertawa terbahak-bahak.
Bunga meraih ponselnya dari dalam tas, dan seketika senyumnya menghilang.
Pukul setengah delapan malam.
“Astaga.”
“Kenapa?”
“Aku harus pulang.” Ia bangkit terlalu cepat hingga hampir tersandung. “Aku sudah berjanji pulang sore.”
“Sekarang?” Ravin ikut berdiri. “Bunga, kau belum makan sejak siang.”
“Tidak apa-apa. Aku bisa makan di rumah.”
“Empat puluh menit.” Ravin mengangkat kedua tangannya. “Ada tempat di seberang. Kau makan, aku antar sampai mobilmu, lalu kau pulang. Aku tidak mau ditelepon manajemenmu besok karena membiarkan penulis terkenal pingsan di jalan.”
Bunga berhenti.
Ia menatap ponsel di tangannya. Tidak ada panggilan tidak terjawab. Tidak ada pesan. Tentu saja tidak ada. Orang itu tidak bisa memegang ponsel.
Dan justru itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak.
“Empat puluh menit,” ulang Ravin pelan.
Bunga memejamkan mata sesaat.
“Baiklah,” ucapnya. “Empat puluh menit.”
Ternyata menjadi seratus dua puluh menit.
Tempat makan itu kecil dan hangat, dengan lampu-lampu kuning yang digantung rendah. Bunga menghabiskan mangkuknya jauh lebih cepat daripada yang ia kira, dan baru menyadari betapa laparnya dirinya setelah suapan yang pertama.
“Pelan-pelan,” ujar Ravin sambil menahan tawa. “Tidak ada yang akan merebutnya.”
“Diam.”
Mereka berbicara tentang banyak hal setelahnya. Tentang jadwal pemotretan yang gila-gilaan. Tentang penerbit yang selalu meminta naskah lebih cepat. Tentang kota ini yang tidak pernah benar-benar tidur.
Lalu, di sela-sela obrolan itu, Ravin meletakkan sendoknya.
“Bunga, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Hmm?”
“Kau tinggal sendirian, kan?”
Bunga mengangkat wajahnya.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Tidak apa-apa. Hanya penasaran.” Ravin mengangkat bahu dengan santai. “Setiap kali kau melihat jam, wajahmu berubah. Seperti orang yang takut dimarahi. Padahal katamu tidak ada siapa-siapa di rumahmu.”
Sendok di tangan Bunga berhenti di udara.
Sesaat, ia merasa udara di ruangan itu berubah menjadi terlalu tipis.
“Aku hanya tidak suka pulang larut,” jawabnya akhirnya, sambil kembali menunduk ke mangkuknya. “Sudah kebiasaan.”
Ravin menatapnya beberapa saat lebih lama daripada yang seharusnya.
Kemudian, laki-laki itu tersenyum.
“Begitu, ya,” ucapnya. “Kalau begitu, mari kupercepat makannya.”
••••••••
Pukul sembilan lewat, rumah itu masih gelap.
Bintang sudah tidak lagi menghitung apa pun.
Ia duduk di sofa dengan punggung yang membungkuk dan kedua siku bertumpu pada lutut. Kepalanya menunduk. Lampu ruang tengah tidak menyala, sebab tentu saja tidak ada yang bisa menyalakannya.
Ia sudah menyusun beberapa kalimat sepanjang sore ini.
Yang pertama terlalu marah, jadi ia buang.
Yang kedua terlalu memelas, jadi ia buang juga.
Yang ketiga hanya berisi satu kalimat sederhana. Kau sudah makan? Ia memutuskan untuk memakai yang itu.
Bintang mengangkat wajahnya, menatap pintu depan yang masih tertutup rapat.
“Aku tidak akan bertanya,” gumamnya kepada dirinya sendiri. “Aku tidak akan bertanya dia dari mana. Aku tidak akan bertanya kenapa terlambat. Aku hanya akan bertanya apakah dia sudah makan.”
Ia mengulangnya sekali lagi, seperti orang yang sedang menghafal.
Lalu, ia kembali menunduk.
••••••••
Bunga melajukan mobilnya jauh lebih cepat daripada biasanya.
Jalanan malam itu cukup lengang. Lampu-lampu jalan berlarian di kaca depannya, satu per satu, membentuk garis-garis kuning yang panjang.
Kedua tangannya mencengkeram setir erat-erat.
“Macet,” gumamnya melatih diri. “Aku akan bilang jalanannya macet.”
Ia menggeleng cepat.
“Tidak. Dia akan tahu. Dia selalu tahu.”
Bunga menghela napas panjang.
“Baiklah, aku akan bilang yang sebenarnya. Aku akan bilang aku bekerja. Itu bukan kebohongan. Itu memang pekerjaan.”
Ia menoleh sekilas ke arah kaca spion.
Wajah di dalam sana terlihat lelah, dengan riasan yang belum sempat dibersihkan sepenuhnya dan mata yang sedikit membengkak.
“Lalu kenapa aku gemetar?” bisiknya.
Mobil itu berbelok masuk ke jalanan kompleks yang sudah sepi. Beberapa rumah sudah memadamkan lampu terasnya. Seekor kucing melintas cepat di depan bemper.
Bunga memarkirkan mobilnya di halaman, lalu mematikan mesin.
Untuk beberapa saat lamanya, ia hanya duduk di sana, di dalam mobil yang gelap, sambil menatap pintu depan rumahnya sendiri.
Rumah itu gelap. Sama sekali tidak ada cahaya dari dalam.
Namun, ia tahu betul bahwa ada seseorang di dalam sana.
Bunga memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan-lahan.
“Dia pasti sudah tidur,” gumamnya, lalu tertawa getir kepada dirinya sendiri. “Bodoh. Dia tidak pernah tidur.”
Ia turun dari mobil, menenteng sepatunya di tangan supaya tidak menimbulkan suara, dan berjalan pelan-pelan menyeberangi halaman.
Jantungnya berdegup semakin kencang di setiap langkah.
Sampai akhirnya, ia berhenti tepat di depan pintu.