Akira membuka matanya dan menemukan langit-langit kamar yang berwarna hitam. Merasakan ruangan yang tidak dikenalnya. Akira mendudukkan dirinya dengan cepat.
Pusing di kepalanya langsung mendera dan Akira memegang kepalanya. Berusaha menahan rasa kepala yang ingin pecah seperti ini. Seakan dirinya baru saja terpengaruh obat-obatan.
Aroma maskulin masuk ke dalam indra penciuman dengan cepat. Aroma yang pernah dirasakan Akira. Aroma pria malam itu!
Ingatan tentang ke datangan pria itu ke rumahnya membuat Akira langsung tersadar tentang semuanya. Ini memang bukan kamarnya maupun rumahnya. Jantung berdetak dengan kencang menyadari sesuatu jika ada yang salah.
"Kau sudah sadar" Sebuah suara membuat Akira menoleh dan bertatapan dengan sepasang mata biru yang sekarang membuat Akira yakin dengan semuanya.
Semuanya tidak mimpi! Tentang malam itu. Kedatangan pria itu ataupun posisinya saat ini.
"Pergi! Kau siapa?" Jerit Akira panik ketika pria itu mendekatinya. Kepanikan langsung memenuhi d**a Akira saat ini. Begitu takut dengan gerakan yang dibuat oleh pria itu.
"Apa kau tidak mengingatku, Akira" ucap pria itu.
Mata itu, suara itu bahkan wajah itu kenapa semuanya begitu sama. Semuanya terasa semakin nyata jika kejadian mimpi itu memang terjadi. Akira dengan cepat beranjak dari ranjang ketika pria itu semakin mendekatinya.
Akira berlari menuju pintu dan berusaha membuka pintu yang ternyata dikunci. Pintu itu sama sekali tidak menandakan jika bisa terbua seakan mengejeknya jika dirinya tidak akan bisa kemana-mana mulai saat ini.
"Kau ingin kemana hm ?" Sebuah tubuh menahannya di antara pintu. Deru nafas yang terasa familier membuat Akira merasa gelenyaran yang aneh mengalir ditubuhnya. Seperti menyengatnya.
"Kau tidak akan bisa kemana-mana, Akira" Kecupan ringan mampir di cerukan lehernya. Akira segera membalikkan badannya dan menatap pria yang tadi berada di belakangnya.
Air matanya mengalir perlahan ketika menatap mata biru itu lagi. Mata yang selalu hadir dalam mimpinya. Sebuah tangan mengusap air mata itu yang membuat Akira memejamkan matanya.
Tangan itu begitu lembut mengusapnya saat ini. Membuatnya hampir lupa jika dengan tangan itu juga pria di depannya ini menyentuhnya. Menyentuhnya dengan paksa dengan segala cara.
"Kenapa kau melakukan itu" gumam Akira pelan Akira bukanlah orang bodoh yang akan melakukan hal yang bisa saja mengancam hidupnya. Pria itu berani memperkosanya di rumahnya sendiri.
Kemungkinan pria itu bisa membunuhnya dalam sekejap bisa saja terjadi detik ini juga. Di dalam ruangan ini hanya mereka berdua dan pria ini bisa saja melakukan hal yang lebih gila dari memperkosanya.
"Karena kau membuatku tertarik" ucap pria itu dengan mengecup ke dua pipi Akira lembut. Berusaha seakan membuainya dan menariknya untuk jatuh ke dalam jurang itu.
"Kumohon lepaskan aku" gumam Akira yang membuat gerakan pria itu berhenti.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Akira. Tidak akan pernah" ucap pria itu dengan tajam. Seakan sebuah janji jika pria itu memang tidak akan pernah melepaskan Akira walaupun hanya sedetik saja.
Akira memberanikan menatap mata biru pria itu. Mata yang sukses membuat tubuh Akira merasa takut.
"Aku memiliki keluarga"
Pria melepaskan tubuh Akira dan melangkah mundur. Tatapan pria itu begitu dingin menatap Akira. Atmosfer kamar ini yang sudah terasa menyeramkan semakin terasa mencekam.
"Kau mengandung anakku! Jadi aku tidak akan melepaskan dirimu, Nalwatuzura Akira" ucap pria itu yang membuat Akira kaget.
Kenapa pria itu tau nama lengkapnya. Anak ? Apa yang dikatakan pria itu. Tidak mungkin bukan jika Akira mengandung anak dari kejadian itu. Tidak! Tidak mungkin Tuhan sejahat itu yang melakukan hal ini kepadanya.
Sudah cukup pria itu mengambil hal yang berharga di hidup Akira. Kenapa dia harus mengandung anak pria yang ada dihadapannya ini. Kenapa Tuhan menghukumnya sampai sejahat ini ?
"Tidak! Aku tidak mungkin hamil" ucap Akira yang membuat pria itu tersenyum.
"Jika saja benih itu tidak berhasilpun aku tetap akan berusaha membuatmu hamil. Terima saja takdirmu" ucap pria itu dengan beranjak pergi.
Pria itu menghilang di balik pintu yang diyakininya adalah pintu penghubung dengan ruangan lain. Akira dengan cepat mendekati pintu itu dan berusaha membukanya.
Namun tetap saja pintu itu tidak terbuka dan terkunci dan sana. Akira menggeleng pelan mengingat semua yang dikatakan pria itu.
Tidak! Kenapa dunianya berbalik begitu cepat ? Berubah dalam sekejap kedipan mata. Kenapa semua terjadi.
*-*-*
Afdhan melempar berkasnya ketika mendengar Xander memberikan laporannya. Xander menghela nafas pelan dan siap mendengar amukan atasannya. Maju dengan membawa laporan seperti ini memang seperti sedang setor nyawa.
Tetapi mau bagaimana lagi ini adalah pekerjaannya dan Tuannya ini memberikan perintah untuk mengirimkan laporan tentang perkembanngan perempuan yang ada di rumah Tuannya.
"Kenapa bisa terjadi hah ?" bentak Afdhan yang membuat Xander menunduk.
"Nona memang tidak ingin makan dan hanya diam di kamar. Semua pelayan sudah membujuknya bahkan saya juga sudah turun tangan kemarin" ucap Xander yang membuat Afdhan menatapnya tajam.
"Lalu kau tidak mengatakannya padaku ? Dan baru melapor sekarang ?"
"Saya pikir itu masalah kecil yang tidak harus saya laporkan" Afdhan makin kesal dengan jawaban yang disampaikan Xander.
"Dia wanitaku dan sedang mengandung anakku!"
Xander menunduk meminta maaf di depan Afdhan. Pria itu mengusap wajahnya kasar dan menarik dasinya kasar.
"Kita pulang sore ini" ucap Afdhan yang diangguki Xander.
Afdhan mengambil ponselnya dan menelfon rumah dengan cepat. Tidak sampai sepuluh detik panggilannya sudah terangkat.
"Apa dia belum mau menyentuh makanannya ?" tanya Afdhan langsung.
"Belum, Tuan. Nona hanya meminum s**u coklat yang kami buatkan"
Afdhan memijat kepalanya pelan. Urusan kantor begitu menumpuk tapi masalah terus bermunculan. Apalagi masalah tentang perempuan yang ada di rumahnya di Paris.
Jika bukan karena tugas Afdhan tidak akan kembali ke Amerika turun tangan sendiri. Hari ini juga dia harus pulang dan membereskan semuanya.
"Katakan pada dia jika sampai nanti aku pulang dia tidak makan dia akan menerima hukuman yang berat" ucap Afdhan yang segera menutup panggilannya.
*-*-*
Mobil yang ditumpangi Afdhan sampai dengan selamat di rumahnya. Xander segera keluar dan membukakan pintu untuk Afdhan.
Afdhan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Agar cepat sampai Afdhan memilih menggunakan pesawat pribadinya.
Seorang perempuan paruh baya menyambutnya dan membukakan pintu untuknya. Afdhan menatap perempuan yang ditelfonnya.
"Dimana dia ?" tanya Afdhan yang membuat membuat perempuan itu tersenyum.
"Nona berada di ruang baca dan sudah makan bahkan meminum s**u untuk orang hamil yang disediakan" ucap perempuan itu yang membuat Afdhan mengangguk.
"Jadi kau sudah menyampaikan pesanku ?" Perempuan itu mengangguk kembali.
Afdhan berjalan kembali meninggalkan perempuan itu dan Xander. Perempuan itu akhirnya mendengar ucapannya.
Ketika akan naik ke lantai atas. Afdhan berpapasan dengan seorang pelayan yang membawa segelas s**u coklat yang hendak naik.
"Untuk siapa ?" tanya Afdhan yang entah kenapa bertanya ke pelayan itu.
Pelayan itu yang memang tadi berhenti ingin memberikan jalan Afdhan untuk naik terlebih dahulu membungkukkan badannya hormat.
"Untuk Nona, Tuan" ucap pelayan itu yang membuat Afdhan mengangguk.
"Biar saya saja" ucap Afdhan dengan mengambil gelas itu dari nampan.
Ketika masuk ke ruang baca Afdhan menemukan Akira tengah membaca sebuah buku tebal di tangannya. Afdhan mendekatinya dengan perlahan.
Ditaruhnya segelas s**u itu dan mengambil alih buku yang tengah dibaca Akira. Perempuan itu terlihat kaget dengan kehadiran Afdhan yang baginya tidak menimbulkan suara.
"Minum itu" ucap Afdhan yang membuat Akira menggeleng.
"Aku masih kenyang dan itu untuk nanti jika akan tidur" ucap Akira yang membuat Afdhan mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau kau meminumnya nanti pasti dingin. Aku akan menyuruh buatkan lagi ketika kau akan tidur" ucap Afdhan yang membuat perempuan itu menggeleng.
"Jangan! Aku memang suka jika seperti itu"
Afdhan mengangguk mengerti dan diam. Begitupun Akira yang tidak tau akan mengatakan apa kepada pria yang diketahuinya bersumbu pendek.
"Apakah aku boleh pulang ke keluargaku?" tanya Akira setelah lama berdiam diri.
*-*-*