"Apa kau tidak pernah mengerti arti ucapanku ?" Bentak Afdhan yang membuat Akira memejamkan matanya. Sepertinya bentakan seperti ini tidak hanya akan di terima satu dua hari tetapi akan mengiring selama hari-hari kedepannya.
"Akira... Kau mengerti bahasa manusia bukan ? JAWAB!" Bentak Afdhan yang membuat Akira terlonjak kaget.
"Ya" jawab Akira pelan. Afdhan menghela nafas pelan dan mengusap wajah Akira perlahan. Diusapnya dengan penuh kasih sayang dan tidak ingin menyakitinya.
Berbanding terbalik dengan segala bentakan yang selalu dilayangkannya pada Akira sejak tadi. Perilaku Afdhan saat ini seperti mencerminkan jika pria itu adalah pria yang sangat penyayang.
"Aku hanya menginginkan kau disini okay ? Denganku" ucap Afdhan lembut. Akira mengangguk pelan tanda dia mengerti apa yang diucapkan pria itu. Afdhan tersenyum kecil dan mengecup kening Akira sayang.
"Good girl" ucapnya dan merangkul Akira dalam pelukannya.
Akira hanya diam di dalam rangkulan pria itu. Detak jantung pria itu entah kenapa membuatnya tenang. Begitu damai ketika merasakannya.
Tapi tidak bisa dipungkiri jika Akira merasa takut dan tertekan di samping pria itu. Namun perasaan itu terus menganggunya jika terus seperti ini. Terkadang Akira dilingkupi dengan perasaan ingin pria di hadapannya ini pergi dan tak pernah kembali lagi.
Hampir setengah jam mereka duduk di sini. Dan Afdhan hanya menemaninya membaca buku. Walaupun Akira sama sekali tak menyimak buku itu.
"Sudah malam, kau harus tidur" ucap Afdhan dengan lembut.
Akira mengangguk dan mengikuti Afdhan yang membawanya menuju kamar. Pria itu menggandeng tangannya dengan lembut tapi erat. Seakan-akan dia bersungguh-sungguh menjaga Akira dan tidak akan melepaskannya.
Menjaga layaknya sebuah mahkota langka yang menjadi incaran seluruh bandit di kota ini. Menjadikan miliknya pribadi dan merawatnya dengan segenap hidupnya.
Akira terus menatap punggung tegap yang ada di depannya. Hingga mereka sampai di depan pintu berwarna putih gading. Afdhan membuka pintu kamar itu dan menarik Akira masuk.
Afdhan menutup pintu itu dan mengusap rambut Akira dengan sayang. Sedangkan Akira hanya memejamkan matanya.
"Kau ingin mandi, sayang ?"
Akira menggeleng dan membuka matanya. Ditatap mata biru yang menyimpan beribu rahasia dan ketenangan.
Namun mata itu juga yang selalu membuatnya merasa sakit, mata itu adalah salah satu alasan kesakitannya.
"Tidak, aku hanya akan mencuci muka" Afdhan mengangguk dan tersenyum kecil.
"Aku akan menyuruh pelayan membawa s**u coklatmu" ucap Afdhan dengan beranjak pergi.
Akira segera pergi menuju kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk tidur. Sedangkan Afdhan yang baru saja menghubungi pelayan tengah melepas dasinya.
Sebuah ketukan membuat Afdhan membuka pintunya dengan tiga kancing kemeja yang sudah terlepas. Xander berdiri di depan pintu dengan gelas yang diperintahkan Afdhan
"Tuan... Saya mendapat sebuah laporan" ucap Xander yang membuat Afdhan mengangkat sebelah alisnya.
"Katakan" ucap Afdhan dengan mencoba minuman Akira sebelum mengernyit tak suka. Entah minuman seperti apa yang disukai oleh Akira. Terasa begitu manis bagi Afdhan. Tidak cocok di lidah.
"Orang tua Nona Akira mengalami kecelakaan" ucap Xander yang membuat Afdhan merasa kaget.
"NO!!! KAU BOHONG"
Sebuah jeritan membuat Afdhan segera menoleh dan menatap Akira yang baru saja keluar kamar mandi. Akira hendak menghampiri Xander dan segera ditahan Afdhan.
Wajah Akira terlihat pucat dan sama sekali tidak terima jika berita yang didengarnya adalah kenyataanya. Orang tuanya baik-baik saja dan selamanya akan begitu.
"Tenanglah, sayang. Tenang" ucap Afdhan yang tetap menahan tubuh Akira yang memberontak.
"Dia berbohong! Kedua orang tuaku baik-baik saja!" jerit Akira yang makim membabi buta.
Afdhan yang merasa sudah tidak tahan dan merasa kasihan melihat kemarahan Akira karena kejadian menimpanya langsung memberi kode Xander.
Sekertarisnya itu yang mengerti segera maju dan memberikan apa yang diminta Afdhan. Dengan sekuat tenaga Afdhan menahan tubuh Akira. Dengan perlahan pria itu menyuntikkan cairan ke dalam lengan Akira yang sudah ditahannya.
Secara perlahan perempuan itu mulai lemas. Menatap Afdhan terakhir kali dengan tatapan beribu makna sebelum kedua mata itu menutup dan tubuhnya luruh.
"I am sorry, Dear" gumam Afdhan ketika Akira kehilangan kesadaran. Dengan cepat Afdhan mengangkat badan Akira dan menaruhnya di ranjang. Perempuan itu terlihat tenang.
"Maafkan saya, Tuan" ucap Xander yang membuat Afdhan mengangguk.
"Selidiki dan pastikan semuanya baik-baik saja" ucap Afdhan yang membuat Xander mengangguk patuh.
*-*-*
Afdhan mengusap kepala Akira dengan perlahan. Hingga saat ini perempuan itu belum bangun.
Padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Sedangkan Afdhan tetap menunggunya sejak tadi.
Hingga kedua kelopak mata Akira terbuka dengan perlahan. Afdhan tersenyum dan mengecup sayang kening Akira.
"Morning, Dear" ucap Afdhan yang membuat Akira mengernyit heran. Setelah kesadaran Akira kembali perempuan itu segera terlonjak dan menatap Afdhan khawatir.
"Mama... Papa" ucap Akira yang membuat Afdhan menggeleng pelan. Seakan tak suka jika Akira kembali merasa cemas dan tertekan.
"Tenanglah okay ?" ucap Afdhan yang membuat Akira menggeleng cepat.
"Tidak! Mereka orang tuaku bagaimana aku tenang! Dimana mereka ? Aku harus kesana" jerit Akira dan ingin beranjak.
Tapi Afdhan menahannya dan menggenggam tangan Akira erat. Agar perempuan itu tidak kemana-mana.
"Kau tidak akan kemana-mana oke ? Orangku sudah mengurusnya jadi kau tetap disini" ucap Afdhan yang membuat Akira menggeleng lemah.
"Tidak bisa, aku harus melihatnya" ucap Akira yang membuat Afdhan menatapnya tajam.
"Kau tau bukan kau adalah milikku dan milikku akan tetap ditempatku" Akira menangis pelan ketika mendengarkan itu semua. Perempuan itu tidak memberontak lagi kecuali hanya menangis.
Bagaimana bisa ada orang seperti Afdhan seperti ini. Tega melakukan semua ini dan menghalanginya hanya untuk bertemu dengan keluarganya sendiri.
"Please, kau boleh mendapatkan apapun. Tapi kumohon aku ingin melihat orang tuaku" ucap Akira memohon.
Afdhan mengusap wajahnya kasar. Dirinya merasa kacau dan untuk pertama kalinya Afdhan merasa lemah tak berdaya hanya karena setetes air mata. Ditariknya kepala Akira dan dikecupnya kening perempuan itu dengan sayang.
"Kau menang!" gumam Afdhan dan mengusap kepala Akira.
"XANDER, SIAPKAN PESAWAT!" Teriak Afdhan yang memenuhi kamar mereka berdua.
*-*-*
Akira menatap kedua orangnya melalui kaca yang sudah di siapkan. Kedua orang tuanya di tempatkan diruangan yang sama.
Dokter mengatakan luka yang mereka dapat tidak terlalu parah. Hanya saja memerlukan waktu untuk kembali sadar dan pulih.
Akira menangis melihat keadaan kedua orang tuanya saat ini. Dirinya begitu menyayangi mereka walaupun terkadang Akira berpikir jika Arka lebih di sayang.
Baginya itu wajar dalam persaudaraan. Akira cukup mengerti akan hal itu dan selalu bersikap baik walaupun rasa iri itu ada.
"Kau tenang ?" sebuah suara membuat Akira menghela nafas pelan.
"Ya, jauh dari kata tenang" ucap Akira.
Sebuah pelukan dari belakang melingkupi tubuhnya. Tubuh Afdhan seakan bisa menenggelamkan tubuh Akira yang mungil.
Deru nafas pria itu berada di lehernya. Deru nafas yang beraromakan mint. Serta aroma tubuh khas Afdhan yang mulai dihafal Akira.
"Kau tau..." gumam Afdhan pelan.
"Kau melihatnya, Akira. Mereka begitu rapuh bukan ?" gumam Afdhan lagi.
"Mungkin dalam sekejap mereka bisa lenyap dalam tanganku" lanjutnya yang sukses membuat tubuh Akira kaku dan sangat paham apa arti kata-kata yang dilemparkan Afdhan padanya.
Kalimat berjuta makna
*_*_*