"Apa yang kau maksud ?" tanya Akira yang membuat Afdhan tersenyum dicekukan leher Akira. Jelas terlihat jika pria itu sedang berpikiran buruk.
"Kau tau apa maksudku, sayang. Kau bukanlah orang bodoh" ucap Afdhan yang membuat tubuh Akira makin menegang.
Pikiran Akira seakan berputar dengan segala hal yang ada diingatannya. Masih segar dan dapat diingatnya jika Afdhan bisa melakukan apapun. Bahkan dia seakan tanpa ragu memperkosanya di dalam kamarnya di rumah orang tuanya.
Akira sangat yakin membunuh orang yang tengah lemah bukanlah hal yang sulit untuk Afdhan. Apalagi dengan bawahannya yang begitu banyak. Pesan Afdhan memang sangat jelas untuk di mengertinya.
Namun Akira sangat takut untuk mengatakan hal yang dapat dimengertinya itu. Ancaman Afdhan seperti hal mutlak yang akan dilakukan pria itu bagaimanapun.
Akira tidak mampu menahan isak tangisnya yang membuat Afdhan menggeram di belakang. Pria itu mempererat pelukannya. Afdhan sangat benci mendengar perempuan menangis.
Tetapi tidak bisa dipungkiri jika melihat Akira takut dan patuh padanya adalah hal yang diinginkannya.
"Aku tidak menyuruhmu menangis, Dear" bisik Afdhan yang membuat Akira menggeleng.
"Apa yang kau mau ?" gumam Akira pelan yang membuat Afdhan tersenyum.
"Aku tau kau cukup pintar" ucap Afdhan yang mengusap perut Akira sayang. Begitu lembut seakan tidak akan menyakiti sesiatu yang ada di dalam sana.
Perutnya ? Apa benar yang dikatakan Afdhan jika dirinya hamil ? Apa itu yang diinginkan pria itu. Mungkin saat ini dirinya memang tak menginginkan anak ini. Tapi tak bisa dipungkirinya jika anak ini adalah darah dagingnya dan bagian dari dirinya.
Apakah dia bisa memberikan dengan mudah untuk Afdhan ? Akira semakin merasa bingung dengan perasaan yang ada dalam dirinya sekarang. Namun takdir seakan ingin Akira menentukan pilihannya saat ini.
"Baiklah... Kau bisa membawa anak ini setelah aku melahirkan" ucap Akira
Belum sempat Akira mengambil nafas tubuhnya di balikkan dengan kasar. Afdhan mencengkram lengan Akira kasar.
Rintihan pelan keluar dari bibir Akira. Afdhan menatap Akira dengan pandangan dingin dan dalam.
Akira selalu menanamkan di pikirannya jika Afdhan bukanlah orang biasa. Dirinya harus berhati-hati dengan apa yang dilakukannya. Pria itu memiliki aura yang sangat menyeramkan dan mengancam keselamatan.
"Aku menginginkanmu dan anak ini" ucap Afdhan penuh penekanan.
"Kau bisa memilih hidup orang tuamu atau hidup bersamaku dan aku tidak akan menyakiti keluargamu" ucap Afdhan yang membuat Akira semakin terisak.
"Berhenti menangis oke ? Aku tidak membutuhkan tangisanmu!" Afdhan mengusap pipi Akira dengan lembut. Akira memejamkan matanya baginya usapan itu terasa begitu menyakitkan kini.
"Kau tau aku menginginkanmu" gumam Afdhan yang membuat Akira mengangguk.
"Ya, aku akan pergi. Tapi..." ucap Akira menggantung.
Afdhan menggeram pelan karena selama ini tidak ada yang berani menolaknya. Bahkan sampai mengajukan syarat.
Perempuan itu menatap Afdhan dengan pandangan memohonnya. Dan lagi-lagi perasaan itu menyelinap direlung hati Afdhan.
"Tidak pernah ada yang menolakku bahkan mengajukan hal seperti ini, Akira" desis Afdhan.
"Please, kumohon. Ini penting bagiku" ucap Akira yang membuat Afdhan menghela nafas.
Afdhan melepas tubuh Akira dan memundurkan tubuhnya. Akira meremas tangannya ragu untuk mengungkapkannya.
"Aku akan pergi ketika orang tuaku sudah membaik dan..."
"Katakan" ucap Afdhan yang melihat keraguan Akira.
"Aku tidak yakin jika kedua orang tuaku akan tetap mendapat pekerjaannya setelah ini. Bolehkah kau menanggung semua biaya keluargaku ?" ucap Akira yang membuat Afdhan mengangkat sebelah alisnya.
Seolah berpikir apakah tawaran Akira cukup menguntungkan untuknya atau tidak. Tidak ada yang pernah berani mengajukan banding padanya dan dengan gilanya Afdhan masih mendengarkan tawaran Akira untuknya.
"Aku akan mengganti uangnya kau tenang saja. Aku berjanji akan ikut kemanapun kau mau" ucap Akira berusaha membujuk Afdhan. Afdhan mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Sebelum menatap Akira lagi yang masih menunggu keputusan.
"Aku akan mengabulkan yang kedua tapi tidak dengan yang pertama. Kita pergi sekarang!" ucap Afdhan dengan menggandeng Akira pelan.
"No... No..." ucap Akira berusaha menahannya. Afdhan mengumpat dan langsung mengangkat tubuh Akira dan memikulnya di pundak. Akira mengerang pelan.
"Perutku!" gumam Akira yang teringat jika kalau dirinya hamil.
Afdhan segera menariknya untuk digendong di kedua tangannya. Bukan menurunkannya tapi menariknya. Akira merasa pusing dengan hal yang dilakukan Afdhan itu. Pria itu seakan tidak memiliki hati dan perasan melakukan itu padanya.
*-*-*
Afdhan hanya melirik Akira yang sejak tadi hanya diam. Dengan paksa Afdhan membawa Akira untuk kembali ke Amerika.
Ini adalah hal yang paling tepat untuk di ambilnya. Afdhan menghela nafas lalu mengusap kepala Akira sayang. Perempuan itu menoleh kearahnya.
"Kau hanya harus patuh padaku, Akira. Aku akan memberikan semuanya untukmu dan kebahagian, hanya itu" gumam Afdhan yang membuat Akira terkejut.
Sebelumnya selama Akira bersama pria itu. Akira tak pernah mendengar dan melihat intonasi yang berbeda dari Afdhan.
Hal ini cukup membuat Akira terkejut dengan kelakuan Afdhan. Pria itu bersikap lembut ketika mengusapnya dan terasa begitu ringan.
"Apa kau yang melakukan ini semua ?" gumam Akira yang membuat Afdhan menoleh.
"Apa yang kau maksud ?" tanya Afdhan yang membuat Akira menggeleng pelan.
Akira memejamkan matanya lelah. Entah apa yang harus dia lakukan lagi. Kabur ? Apakah itu bisa ?
Saat ini semua pikirannya hanya tertuju ke orang tuanya. Apa iya Afdhan akan menjaga dan membiayai kedua orang tuanya.
Sekarang kami sudah di Amerika. Bagaimana tau keadaan di sana jika Akira sudah jauh dari orang tuanya. Arka di Indonesia dan Akira tak tau memberikan kabar bagaimana.
"Apa yang kau maksud kecelakaan itu ? Kau pikir aku yang merancangnya ?" suara dingin itu terdengar kembali.
Akira menghela nafas belum menetralkan pikirannya yang terus bekerja. Menerima suara dingin itu dipendengarannya membuatnya sedikit kesal.
"Bagiku ini hubungan kita dan aku akan mendapatkanmu bagaimana caranya. Tapi asal kau tau kecelakaan kedua orang tuamu bukan aku yang melakukan"
Tanpa sadar mereka berdua telah sampai di rumah Afdhan. Pria itu segera keluar setelah mengatakan hal itu. Meninggalkan Akira yang makin kesal dengan ucapan Afdhan.
Akira keluar mobil dengan perasaan marah. Di tatapnya punggung Afdhan yang pergi menjauh meninggalkannya. Akira menggenggam tangannya erat.
"Kau tidak melakukannya tapi kau punya bawahan yang mau melakukannya" jerit Akira.
Afdhan menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ketika di ujung tangga. Pria itu menatap Akira dengan senyum kecilnya.
"Jika aku ingin menghabisi orang. Aku tidak akan membuang waktu untuk menyuruh orang menghabisinya. Aku sendiri yang akan melakukan itu, Akira" ucap Afdhan.
"Aku sempat berpikir akan menunda pernikahan kita dan memberikanmu waktu untuk menenangkan pikiran. Tapi sepertinya itu tidak perlu untukmu" ucap Afdhan selanjutnya.
Akira masih terdiam di sisi mobil dengan hati bertanya-tanya tentang apa yang dimaksud Afdhan.
"Xander, siapkan pernikahanku besok!"
*-*-*