Seorang pelayan masuk ke dalam kamar Akira dengan sopan. Pelayan itu tersenyum melihat wajah Akira yang sudah terpoles cantik.
Perempuan itu ditunjuk Afdhan untuk merawatnya di rumah ini. Perempuan yang baik dan murah senyum, Miara.
"Nona sangat cantik sekali" Akira hanya tersenyum tipis.
Entahlah Akira tidak tau harus mengatakan apa. Akira menatap pantulan dirinya di cermin dan memang benar dirinya terlihat cantik.
Tidak dapat diragukan keahlian perias yang dipanggil Afdhan. Mereka begitu memiliki bakat untuk merubah wajahnya yang kumus ini menjadi indah seperti ini.
Hari ini adalah hari pernikahannya dengan pria itu. Pernikahan yang disiapkan dalam beberapa jam saja. Entahlah apa jadinya pernikahannya ini. Harus kalian tau jika pernikahan yang akan diadakan ini semua karena paksaan.
Akira sama sekali tidak menyetujuinya. Tetapi jika Akira melakukan penolakan Akira takut jika keluarganya yang akan menjadi sasaran amukan Afdhan. Itu bukanlah hal yang tidak mungkin.
Tanpa sadar pernikahan itu berjalan dengan cepat dan sekarang dirinya adalah istri Afdhan. Akira sejak tadi hanya diam mengikuti semua arahan. Seperti seorang robot yang sudah diberi perintah.
Pikirannya hanya terfokus kepada kedua orang tuanya. Akira memikirkan keadaan mereka sekarang disana, entah apa yang sedang terjadi.
Tapi Akira tidak bisa mengalihkan pandangan dari dekorasi pernikahannya ini. Pesta pernikahan yang dilaksanakan di taman belakang rumah Afdhan.
Tidak banyak tamu yang hadir di acara ini. Mungkin hanya beberapa teman kerja Afdhan yang tidak diketahui Akira.
Bahkan sejak tadi pria itu sibuk dengan para tamunya dan mengabaikan Akira yang hanya duduk diam.
Bukannya Akira kecewa hanya saja Akira terlihat seperti mempelai mengenaskan. Apalagi beberapa wanita berwajah menor menatapnya sinis.
Akira seperti bukan mempelai wanitanya tapi seperti tamu yang tak diundang. Untuk kesekian kalinya Akira menghela nafas berat.
Afdhan yang sedang membicarakan sebuah proyek baru dengan koleganya menatap Akira. Perempuan itu duduk termenung di salah satu meja.
Dengan sopan Afdhan pamit untuk pergi kepada koleganya. Afdhan mendekati Akira tanpa disadari oleh perempuan yang masih asik dengan renungannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan ?" Akira yang kaget langsung mendongak menatap Afdhan.
Pria itu berdiri di depan Akira dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Afdhan mengulurkan tangannya yang membuat Akira menatapnya.
"Apa kau akan menolak berdansa dengan priamu di pernikahan ?" ucap Afdhan yang membuat Akira tersadar.
Afdhan seakan memberikan kode sebelum lagu mengiringi dengan lembut. Mereka berdua berdansa yang diikuti pasangan lainnya.
Dengan tangan besarnya Afdhan memegang pinggang Akira erat. Seakan menjaga Akira agar tidak jatuh dan hal itu sukses membuat Akira berdebar.
"Kenapa kau tidak kabur ?" pertanyaan itu lolos dari bibir Afdhan yang membuat Akira kaget.
Pria itu menatap Akira dengan tatapan yang seakan tak terbaca. Wajah mereka begitu dekat bahkan Akira dapat merasakan nafas Afdhan yang menerpa wajahnya.
"Apa kau akan mengijinkannya ?" gumam Akira yang membuat Afdhan tersenyum.
"Tentu saja tidak" ucap Afdhan yang membuat Akira memutar bola matanya.
Afdhan terkekeh melihat kelakuan Akira yang baginya begitu berani. Perempuan itu sedikit terhenyak mendengar suara kekehan itu.
"Kau tau tidak ada yang berani memutar mata di depanku, Akira" gumam Afdhan.
"Sepertinya kau mulai berani dan tidak takut padaku hm ?"
Akira menatap kedua mata Afdhan yang melihat sisi yang berbeda. Afdhan lebih lembut bahkan disetiap katanya.
Terlihat sekali perbedaannya jika pria itu sedang dalam keadaan moody. Pria itu akan berubah menjadi sosok yang berbahaya bagi Akira.
Tapi ternyata pria itu memiliki sisi lain yang mampu membuat Akira merasa nyaman. Bahkan pria itu tersenyum kepadanya walaupun hanya senyum kecil.
"Kau tau..." ucap Afdhan menggantung yang membuat Akira menatapnya.
"Apa ?" tanya Akira yag membuat Afdhan tersenyum kecil lagi.
"Tidak ada"
*-*-*
Afdhan masuk ke dalam kamar dan menemukan Akira yang tengah melamun dengan menatap keluar jendela. Perempuan itu terlihat asik dengan lamunannya.
Padahal ini sudah pukul sebelas malam. Bahkan pelayan sudah kembali rumah belakang sejak pukul sembilan tadi. Menyisakan penjaga yang sedang bertugas.
Dengan perlahan tapi pasti Afdhan mendekatinya dan benar saja perempuan itu tidak menyadari kehadirannya dan masih sibuk dengan hal yang dipikirkannya.
Akira menggunakan piyama yang cukup besar yang menutupi perutnya yang mulai membuncit itu. Anaknya mulai berkembang di dalam kandungan Akira.
Tanpa sadar Afdhan tersenyum memikirkan hal itu. Tak pernah dipikirannya akan memiliki anak sebelum bertemu Akira yang mampu memutar balikan dunianya.
"Kau sedang apa ?" tanya Afdhan yang membuat Akira terperenjat dan membalikkan badannya kaget.
"Tidak! Tidak ada" jawab Akira cepat yang membuat Afdhan tersenyum kecil.
Tanpa mengatakan apapun Afdhan menyodorkan segelas s**u untuk ibu hamil. Akira menerimanya dan tersenyum kecil kearah Afdhan.
"Terima kasih"
Afdhan hanya mengedikkan pundaknya dan melangkah mundur. Afdhan hendak membaringkan badannya di atas ranjang. Dua bantal di susunnya sebelum berbaring.
Dilihatnya Akira yang masih terdiam memegangi gelas s**u itu. Perempuan itu akhirnya berniat meminum s**u itu dan mendekatkannya ke bibir Akira.
Namun hal itu diurungkannya dan menarik turun gelas itu. Afdhan yang sejak tadi menatapnya ikut mengernyit heran. Kenapa ?
Belum sempat Afdhan bertanya Akira membalikkan badan dan menatapnya. Afdhan mendudukkan tubuhnya dan mengangkat sebelah alisnya heran.
"Ada apa ?" tanya Afdhan bingung.
"Aku ingin sesuatu" ucap Akira yang membuat Afdhan beranjak dan mendekati Akira.
"Apa yang kau inginkan ?" tanya Afdhan lagi.
*-*-*
Afdhan membuka kulkas dan mencari sesuatu yang sedang diinginkan Akira. Namun hasilnya nihil benda itu tidak di temukan di dalam kulkas super besar di dapurnya.
Dengan sedikit kesal Afdhan menutup pintu kulkas. Bagimana bisa bahan makanan seperti itu tidak ada di sini. Akira yang memang duduk di kursi bar dapur terperenjat kaget.
"Kenapa ?" tanya Akira yang membuat Afdhan menoleh.
Wajah Afdhan yang awalnya menakutkan seketika berganti dengan tatapan biasa saja. Seakan semua rasa kesalnya telah menghilang entah kemana.
"Kentangnya tidak ada. Apa kita pesan saja ?" tanya Afdhan yang membuat Akira menggeleng pelan.
"Lagian ini sudah malam dan apa kau tidak sadar jika rumahmu di kelilingi pepohonan yang menyeramkan. Apa kau pikir ada pengantar makanan yang mau mengirimnya" dengus Akira dengan beranjak pergi.
Afdhan segera menyusul perempuan itu dan menjajarkan langkahnya dengan Akira. Perempuan itu hanya meliriknya sekilas sebelum menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Kau ingin kemana ? Bukannya kau menginginkan kentang goreng ?" Ucap Afdhan yang membuat Akira mengangguk kecil dengan membuka pintu kamar.
"Aku ingin keluar dan berbelanja kentang" ucap Akira yang membuat Afdhan segera menahan tangannya ketika Akira mengambil sebuah jaket tebal.
"AKU TIDAK AKAN MENGIJINKANMU KELUAR, AKIRA!"
*-*-*