Akira menghela nafas menatap Afdhan yang sedang menatapnya tajam tak lupa dengan wajah dinginnya. Dengan perlahan Akira berusaha melepaskan cengkraman tangan Afdhan.
Namun ternyata sia-sia saja karena pria itu memegangnya dengan erat. Dengan lembut Akira mengusap punggung tangan Afdhan pelan. Benar saja Afdhan menunduk dan menatap tangannya yang sedang diusap lembut oleh Akira.
Perempuan itu menatapnya dengan tatapan teduhnya. Afdhan terlihat terkejut beberapa saat sebelum pria itu mengalihkan tatapannya dan menatap Akira lagi.
"Memang tidak salah jika aku berpikir kau memiliki sumbu pendek. Benar saja sekarang kau marah-marah tidak jelas" ucap Akira yang membuat wajah Afdhan tertegun.
Akira tidak pernah bersikap lembut ataupun berbicara dengannya baik-baik seperti ini. Perempuan itu selalu memilih diam atau malah berteriak kepalanya. Tidak ada komunikasi normal selama Akira menginjakkan kakinya di sini.
Bahkan jika mereka bersama selalu mereka akan bertengkar dan saling memaki. Jadi wajar saja jika saat ini Afdhan sedikit terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Akira.
"Dengarkan dulu, aku keluar denganmu untuk membeli kentang oke ? Memangnya kau mau melepaskanku sendiri?" tanya Akira
"Tidak tetap tidak!" ucap Afdhan dengan melepaskan tangan Akira yang masih mengusapnya.
Afdhan duduk di ranjang meninggalkan Akira yang masih berdiri di posisinya. Akira menghela nafas pelan melihat kelakukan pria itu. Tidak habis pikir dengan segala sikap yang selalu ditunjukkan Afdhan padanya.
Entahlah siapa orang yang mampu menyaingi kelakukan mengesalkan pria di depannya ini. Tapi Akira sangat berdoa jangan sampai dirinya bertemu dengan orang itu. Cukup sudah laki-laki b******k ini yang mengganggu hidupnya.
Jangan ada lagi pria yang akan merusak segala hidupnya yang sudah di susunnya, cukup Afdhan. Pria itu mau tidak mau harus di terimanya karena memang posisi pria itu saat ini adalah suaminya.
"Aku ingin kentang, Afdhan!" ucap Akira yang membuat Afdhan meliriknya tajam.
"Aku akan menghubungi Xander untuk membawakanmu kentang" Afdhan mengambil ponselnya di atas nakas dengan wajah mengeras.
"Tidak! Aku tidak ingin lagi jika kita tidak membelinya sendiri" hardik Akira.
Akira berjalan dengan menghentakkan kakinya kesal. Perempuan itu membaringkan tubuhnya setelah melempar jauh-jauh sandalnya saat hendak berbaring. Afdhan sungguh terkejut dengan keganasan yang ditunjukkan Akira seperti itu.
Posisi perempuan itu sedang hamil dan segala keganasannya mulai terlihat. Afdhan tak menyangka jika Akira akan bersikap seperti itu.
Dengan kesal Akira menarik selimut untuk menutupi tubuh mungilnya. Akira membelakangi Afdhan yang masih berada di dalam ruangan itu juga.
Afdhan yang sejak tadi mengawasi Akira menahan tawa melihat kelakukan Akira yang makin hari makin antik. Namun tidak bisa diingkari jika Afdhan merasa frustasi dengan sikap perempuan itu.
Dengan rasa yang campur aduk Afdhan menatap ponselnya yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Afdhan beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Sedangkan Akira yang merasakan jika Afdhan pergi semakin rasa kesal. Pria memang tidak memiliki hati bahkan ketika begini tidak ada inisiatif untuk membujuknya. Bagaimana bisa tuhan memberikannya suami seperti ini.
Mendengar kata suami yang keluar dari mulutnya sedikit membuat Akira merinding. Sedikit menggelikan saja baginya.
Akira makin memberenggut dan menarik selimut semakin erat menutupi tubuhnya. Dengan rasa kesal Akira memejamkan mata tidak rela. Lebih baik tidur daripada mengharapkan pria yang sama sekali tidak bisa diharapkan.
Namun sebuah tangan menarik selimutnya paksa yang membuat Akira membuka matanya kaget. Afdhan berdiri di samping ranjang dengan baju serta jaket yang melekat ditubuhnya.
Tidak lupa dengan celana jeans yang bertengger di pinggang rampingnya. Afdhan menarik tangan Akira tanpa mengucapkan apapun dan memasangkan sebuah jaket.
"Apa yang kau lakukan ?" tanya Akira yang menatap Afdhan yang masih sibuk.
"Memakaikanmu jaket jika kau tidak melihatnya" ucap Afdhan yang membuat Akira merasa sebal.
"Baiklah mari berangkat!" ucapnya setelah puas melihat jaket ditubuh Akira sudah terpakai.
"Kemana ?" cicit Akira yang membuat Afdhan menghela nafas.
"Membeli se-toko kentang" sindir Afdhan dengan menarik tubuh Akira.
*-*-*
Akira dengan semangat keluar dari mobil dan menghirup udara segar yang seakan direnggut darinya. Selama ini Akira hanya menghirup udara di tempat Afdhan menyekapnya, di rumah.
Afdhan mengikuti setiap langkah Akira yang berjalan terlebih dahulu dengan semangat. Ketika akan menyeberang untuk masuk ke dalam toko Akira sedikit berlari.
Tanpa sadar sebuah mobil melaju kearahnya dan hal itu membuat Afdhan yang melihatnya terkejut. Dengan cepat Afdhan menarik tangan Akira dan menghentikannya.
Akira yang kaget dan tidak siap dengan tarikan Afdhan terjerembab di d**a Afdhan yang bidang. Suara erangan sakitnya membuat Afdhan mendengus marah.
"Lain kali kalau jalan di lihat! Lebih sakit ketabrak asal kau tau" ucap Afdhan yang membuat Akira mendengus.
"Jika kau tidak berjalan dengan benar kau akan kuborgol" ancamnya yang membuat Akira mengernyitkan keningnya.
Akira melirik sinis kearah dua bodyguard yang dibawa Afdhan untuk pergi dengan mereka termasuk Xander yang datang dengan wajah mengantuknya.
Memang kejam sekali pria yang ada dihadapannya ini. Xander terlihat sekali kelelahan dan mengantuk tapi dengan kekejaman atasannya dia harus pergi dari tempatnya.
"Memang kau membawa borgol huh ?!" sindir Akira yang memunculkan sebuah senyum licik di bibir Afdhan.
Entah apa yang dilakukan Afdhan ketika menjentikkan jari. Hingga Xander maju dengan menyodorkan benda berkilat dan diterima yang sukses membuat Akira melotot.
"See?"
Akira tidak menyangka jika pria ini benar-benar membawa benda itu. Akira menganggapnya pria itu hanya menggertaknya dengan ancaman yang tak masuk akal.
Dengan kesal Akira mendengus yang membuat Afdhan tersenyum puas. Afdhan menarik tangan Akira dan menggenggamnya erat atau bahkan begitu erat dan menariknya berjalan.
Pria itu seakan mengirimkan panas tubuhnya hanya melalui sebuah genggaman. Hal itu sukses membuat tubuh Akira terasa panas dari atas hingga bawah.
Niat awal yang hanya membeli kentang kini berganti membeli berbagai macam jenis makanan. Dimulai dari nugget, sosis dan lainnya yang menurut Akira menarik.
Akira yang baru saja mengambil dua kotak s**u kembali ke tempat dimana dia meninggalkan Afdhan. Pria itu memberikan kebebasan Akira ke sana kemari memilih.
Asalkan Xander mengawalnya dengan baik. Dari tempatnya sekarang yang kurang tujuh meter dari tempat Afdhan melihat pria itu.
Afdhan tengah menatap deretan minuman alkohol berbagai jenis dan merek. Pria itu terlihat serius dan juga menggenggam trolley makanan mereka atau lebih tepatnya makanan Akira.
Entah kenapa Akira tertegun menatap Afdhan yang jika dilihat terus menerus semakin tampan tidak berkurang sedikitpun.
"Sudah selesai ?" sebuah suara sukses membuat Akira tersadar.
Tanpa sadar Afdhan sudah berdiri di depannya dengan mendorong trolley tersebut diikuti bodyguardnya. Akira mengernyitkan keningnya heran.
"Kau tidak memberikan trolleynya ?" tanya Akira ketika Xander menaruh dua kotak s**u yang dipilih Akira.
"Oh kau ingin kumemegangmu hm ?" ucapnya yang sukses membuat wajah Akira memerah tapi perempuan itu mengalihkan tatapannya.
Akira segera membalikkan badan dan berjalan pelan untuk menutupi rasa malunya. Hingga sebuah genggaman hangat menyelimuti telapak tangannya.
Akira menoleh dan menemukan wajah Afdhan yang fokus ke depan. Sadar tanpa sadar genggaman tangan Afdhan sudah berpengaruh padanya.
Genggaman tangan Afdhan sukses membuat Akira senang dan merasa nyaman. Tapi hal itu membuatnya menjadi bodoh di depan pria itu.
Bodoh karena mengatakan kekecewaannya dengan gamblang di hadapan Afdhan bahkan para bawahannya.
"Tenang saja mereka tidak melihat dan mendengar" gumam Afdhan seakan tau isi pikiran Akira.
Rasa malu semakin menghangatkan tubuh Akira.