Afdhan menopang tangannya ketika Akira sibuk mengeluarkan bahan makanan yang baru saja dibelinya. Afdhan terlihat mengantuk menunggunya. Namun Afdhan antisipasi saja Akira akan marah jika ditinggalkan.
Lebih baik Afdhan menunggu daripada kena sanksi dari perempuan hamil itu. Hubungan mereka sudah berjalan cukup baik dan Afdhan tidak ingin merusak hal itu. Cukup sulit membangun hubungan seperti ini.
Akira tiba-tiba mengambil celemek dan menyerahkannya ke Afdhan. Pria itu mengernyitkan dahinya yang membuat Akira cemberut.
Tanpa banyak bicara Akira memasangkan celemek itu di tubuh Afdhan dan menarik pria itu berdiri.
Namun tentu saja tenaga Akira tidak mampu menarik Afdhan yang badannya mungkin 2 kali lipat daripada badannya.
Akira hampir terjengkal ke belakang jika Afdhan tidak dengan sigap menangkapnya. Wajah Afdhan berubah menjadi gelap.
"Apa yang kau lakukan ? Kau bisa jatuh!" ucap Afdhan tajam. Akira terkekeh dan mengangguk-angguk pelan seakan tidak merasa takut. Akira tersenyum senang melihat penampilan Afdhan.
Terlihat puas dengan apa yang sudah dipasangkannya pada Afdhan. Bahkan Akira sangat terpukau karena pria di depannya ini masih terlihat tampan dan manly walaupun dengan celemek di tubuhnya.
"Masaklah" ucap Akira dengan menepuk tangannya.
"Apa ? Masak ? Siapa ? Aku ?" tanya Afdhan yang membuat Akira mengangguk senang.
"Iyap, sudah sana masak kentang goreng untukku" ucap Akira yang membuat Afdhan menggeleng.
"Tidak! Aku tidak bisa memasak"
"Tidak mau tau aku dan anak ini ingin kau masak" rengek Akira dengan melipat tangannya di d**a.
"Anak kita. Jangan kau sebut anak ini" ucap Afdhan yang membuat Akira memutar matanya.
"Ya anak kita, anak Afdhan" ucap Akira yang membuat Afdhan tersenyum kecil.
Begitu gemas dengan jawaban yang diberikan Akira tentang penyebutannya. Afdhan tidak pernah merasa segemas ini dengan perempuan dan hanya Akira saja yang membuatnya mampu merasakan hal seperti ini.
"Baiklah Tuan Afdhan yang terhormat. Aku ingin kau memasakkan kentang goreng untukku dan anak kita" ucap Akira.
Afdhan menghela nafas pelan. Masak bukan perkara yang sulit bagi Afdhan. Karena pria itu bisa dikatakan pandai memasak.
Bahkan semua jenis makanan apapun itu Afdhan bisa memasaknya.
Apalagi hanya kentang goreng biasa yang diinginkan Akira. Afdhan berbalik dan berjalan menuju dapur. Hingga sebuah tepukan di pantatnya membuatnya terkejut. Afdhan menoleh dan menemukan Akira tersenyum jahil.
"Kau menggoda" ucap Akira polos.
'Awas saja kau'
*-*-*
Afdhan mendudukkan tubuhnya di ruang kerjanya di perusahaan. Pria itu sedang memeriksa beberapa berkas.
Sampai pintu ruangannya dibuka dengan keras. Afdhan melepaskan kacamatanya dan menatap siapa yang datang.
Tebakannya tidak meleset. Hanya satu orang yang berani menerobos masuk ke dalam ruangannnya
Tentu saja orang membesarkannya, Daddynya
"Anak durhaka! Kau menikah tanpa mengabariku. Sialan" teriaknya yang membuat Afdhan menghela nafas pelan
Ini hari pertamanya kerja dan harus dihadapkan dengan orang tua ini. Memang bisa dipastikan jika berita tentang pernikahanku akan sampai ke telinganya dengan cepat
Tetapi Afdhan tidak menyangka jika Daddynya itu akan repot-repot datang ke kantor. Hanya untuk protes tentang pernikahan yang sudah dilakukanya.
"Saya baru tau jika Anda sudi menginjakkan kaki Anda di perusahaan saya" ucap Afdhan yang membuat pria itu menggeram marah.
"Apa kau lupa siapa yang kau ajak bicara sekarang, Cedric" ucap pria itu lagi.
"Nama saya adalah Afdhan bukan Cedric seperti yang Anda maksud" ucap Afdhan dengan mengambil berkas yang ditinggalkannya
"Anak Durhaka!" ucapnya dengan melayangkan tamparan di pipi Afdhan dengan keras.
Pria itu dengan mudahnya menamparnya walaupun dibatasi dengan meja kerjanya. Afdhan hanya diam dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah
"Saya tidak menyangka jika Anda masih mahir memukul saya" ucap Afdhan yang telak membuat Daddynya bungkam
Pria itu tanpa mengatakan apapun meninggalkan ruang kerjanya. Afdhan hanya diam dan mengusap wajahnya pelan.
*_*_*
Akira membuka matanya dan menatap jam yang menunjukkan pukul empat sore. Tidak sadar jika dirinya sudah tertidur hampir 5 jam. Dengan perlahan Akira mendudukkan badannya dan merenggangkan tubuhnya.
Tubuhnya terasa kaku karena tidur siang terlalu lama. Akira melangkahkan kakinya keluar kamar dan menemukan beberapa pelayan sedang membersihkan rumah besar ini.
Mereka yang melihat kehadiran Akira menundukkan badannya memberi hormat yang hanya di balas dengan senyuman manis.
Akira ingin berjalan dan melihat-lihat rumah ini. Hingga tanpa sadar langkahnya berhenti di ruang tamu.
Hal yang membuatnya tertarik adalah tumpukan surat disalah satu meja dekat pintu
Diambilnya tumpukan surat itu dan dibacanya tulisan di depannya
Untuk Cedric Afdhan Darius ?
Afdhan? Kenapa banyak sekali surat yang mampir di sini?
"Apa yang sedang kau lakukan?" ucap sebuah suara yang membuat Akira menoleh dan menemukan Afdhan sudah pulang.
Afdhan mendekat dan mengambil tumpukan surat di tangannya. Dibaca sekilas surat itu dan kembali menatap Akira.
"Sudah mandi hm ?" tanyanya yang membuat Akira menggeleng pelan
Seorang pelayan masuk dan terlihat kaget melihat Afdhan yang membawa tumpukan surat. Pelayan itu menundukkan badannya dalam.
"Maaf, Tuan. Saya yang bertugas mengambil surat. Saya meletakkannya di sana karena tadi ada sampah yang berceceran" ucap pelayan itu yang membuat raut wajah Afdhan datar.
"Taruh ke tempat yang seharusnya. Jangan sampai terulang kembali atau kau tau hukumannya" ucap Afdhan dengan menyerahkan surat itu
Karena gerakan Afdhan itu membuat Akira melihat pipi Afdhan yang sedikit lebam apalagi sudut bibirnya berwarna keunguan
Dengan refleks Akira memegang sudut bibir Afdhan yang membuat pria itu mendesis.
Tangan Akira langsung di genggam oleh Afdhan. Pria itu menatap Akira dan tersenyum kecil. Afdhan gemas sendiri melihat sorotan mata khawatir Akira yang ditujukan padanya.
"Kau kenapa? Bertengkar?" tanya Akira yang membuat Afdhan menggeleng pelan.
"Masalah pria kau tidak perlu tau" ucapnya yang membuat Akira mendengus.
"Ayo ke kamar" ucap Akira dengan menyeret Afdhan
Pemandangan Afdhan yang di seret Akira menuju kamar mereka menjadi bahan lirikan beberapa pelayan
Mereka sangat mengenal bagaimana sifat Afdhan yang sangat tidak suka diperintah. Pemandangan itu menjadi sangat langkah dan mengagumkan.
Afdhan hanya diam saja dan mengikuti langkah kecil istrinya yangs edang hamil iitu. Perempuan itu terlihat begitu semangat menariknya.
"Apa kau ingin aku mengunjungi anak kita ? Jika ya, tenanglah kau akan mendapatkan hal itu" ucap Afdhan ketika mereka sampai di dalam kamar.
"Kau sedang sakit masih memikirkan hal m***m lagi!" ucap Akira yang membuat Afdhan terkekeh pelan.
"Kau sudah tidak takut padaku?" ucap Afdhan sambil melihat Akira megambil kotak p3k
"Kau bukan hantu" ucapnya dengan mendudukkan tubuhnya di samping Akira.
Perempuan itu mengobati sudut bibirnya dengan telaten. Sesekali perempuan itu akan mengomel dengan nada yang sangat pelan
Afdhan hanya diam dan menikmati hal itu. Hal itu sangat langka baginya. Melihat Akira tenang dan tidak memberontak.
Perempuan itu seakan di setting untuk penuh semangat dan membuat hidup Afdhan tidak tenang.
"Kau terlihat tenang" ucap Afdhan yang membuat Akira menatapnya.
"Apa kau pikir aku pasien rumah sakit jiwa yang akan teriak-teriak?" sinis Akira yang membuat Afdhan terkekeh.
"Dulu kau seperti itu" ucap Afdhan yang sukses membuat wajah Akira memerah.
Perempuan itu berdiri dan mengembalikan kotak p3k tersebut. Afdhan terus menatap setiap langkah yang diambil Akira
Memastikan jika Istrinya itu tidak melakukan hal aneh yang dapat mencelakai dirinya sendiri.
"Kau tidak ingin memberontak"
Akira membalikkan badan sambil menutup lemari kecil si samping pintu kamar mandi. Perempuan itu melipat tangannya di depan d**a. Hal itu membuat kedua gundukan itu tertekan dan membuat Afdhan meneguk ludahnya dengan susah payah.
"Apa kau akan memberikan waktu untukku melancarkan aksi pemberontakan?" tanyanya yang membuat Afdhan menatapnya tajam
"Tentu saja tidak"
"Nah, lalu buat apa aku memberontak jika ujungnya sia-sia"ucapnya yang membuat Afdhan terkekeh.
"Walaupun sudut bibirku memar kau tau. Aku masih bisa menciummu hingga lemas"
Akira memutar matanya malas. Selalu saja begitu. Entah darimana kapasitas kemesuman Afdhan berasal
"Diamlah Tuan m***m atau bibirmu akan terus membengkak" ucapnya yang membuat Afdhan tertawa
Entah apa yang merasuki pria itu sampai berkali-kali tertawa tanpa dapat di tahan. Tidak seperti Afdhan yang dikenalnya awal
"Oh ya, kita akan bertemu orang tuaku. Besok"
*_*_*