Akira meremas kedua tangannya ragu. Perasaannya jadi tidak tenang sejak semalam. Namun pria di disebelahnya terlihat biasa saja.
Oh tentu saja pria itu hanya bertemu orang tuannya.
Itu hal biasa tidak seperti dirinya yang pertama kalinya akan bertemu. Apa yang harus dilakukannya. Apakah dia harus meminta bantuan dan mengatakan jika anak mereka telah gila
Ya, seharusnya Akira berteriak mengatakan jika Afdhan menghamilinya bahkan juga menyekapnya. Oh tidak mungkin Akira akan melakukan itu. Bisa-bisa saja kepalanya akan hilang detik itu juga.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Afdhan yang membuat Akira menoleh
"Nothing" Ucap Akira yang membuat Afdhan mengangkat sebelah alisnya.
"Genggam tanganku dan salurkan rasa takutmu" ucap Afdhan dengan membawa tangan Akira dalam genggaman hangatnya.
"Tidak siapa yang takut" ucap Akira dengan memalingkan wajahnya
Tanpa sadar Akira makin menggenggam tangan Afdhan yang membuat lelaki itu tersenyum samar.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan saling bergandengan. Hingga mobil mereka masuk ke dalam perkarangan rumah yang sangat megah.
Rasa takut Akira semakin mengumpul dan mungkin saja akan meledak sebentar lagi.
"Tenanglah. Mereka hanya orang tuaku" ucapnya sambil membawa Akira keluar dari mobil
"Bolehkah kita pulang sekarang?" ucap Akira yang membuat Afdhan bingung
"Kita baru saja sampai, Akira. Kau ingin jalan sendiri atau kugendong" ucap Afdhan yang membuat Akira menggeleng cepat.
Itu bukan ancaman. Afdhan akan melakukan apa yang dikatakannya tanpa tau malu atau mungkin pria itu tidak punya malu
Mereka berdua berjalan perlahan memasuki rumah megah itu. Gandengan mereka tidak pernah lepas
Dengan erat Afdhan menggandeng Akira supaya perempuan itu tidak merasa takut lagi.
"Tuan muda" ucap seseorang berpakaian pelayan yang menyapa Afdhan.
"Sapa istriku, Robin" ucapnya yang membuat perempuan itu membungkukkan badannya
"Nona Muda, selamat datang" salamnya yang membuat Akira hanya mengangguk sambil tersenyum kaku. Selama hidupnya Akira sama sekali tidak menyangka akan di panggil dengan sebutan itu.
Akira bukanlah dari kalangan terhormat yang bergelimang harta jadi tentu saja tidak akan ada yang memanggilnya dengan sebutan 'Nona' seperti ini. Hanya Afdhan yang membuat hidupnya berubah sangat drastis.
"Dimana Mama?" tanya yang membuat perempuan itu tersenyum lembut.
"Nyonya berada di belakang"
Tanpa mengatakan apapun Afdhan menarik Akira menuju tempat yang dapat diperkirakan adalah belakang rumah.
Benar saja Akira dapat melihat kolam renang yang membentang indah di belakang. Afdhan membawanya ke hadapan seorang perempuan dengan kursi rodanya.
"Mama, ini Akira. Istriku" ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di depan Mamanya.
Akira langsung mendudukkan tubuhnya yang membuat Afdhan merasa kaget kemudian tersenyum kecil. Akira kelabakan sendiri setelah mengetahui siapa perempuan yang ada di hadapannya ini.
Perempuan yang sekilas memiliki mata seperti Afdhan itu menatap Akira dan senyuman tulus muncul di sudut bibirnya. Hati Akira menghangat melihat senyuman yang membuatnya ingat tentang kedua orang tuanya.
"Oh sayang, kau sangat cantik" ucap perempuan itu dengan memegang pipinya sayang
Perempuan itu terlihat cantik dan menawan. Kulit kecoklatannya terlihat sangat eksotis bagi Akira. Dengan lembut Akira menggenggam tangan perempuan itu dan menciumnya.
Mama Afdhan terlihat kaget dan tersenyum hangat. Dibelainya rambut Akira penuh rasa sayang. Rasa rindu kepada Mommy langsung merasuki relung hatiya. Bagaimana keadaan Mommy dan Daddy.
Air matanya mengalir yang membuat Mama Afdhan kaget dan memeluknya sayang. Sedangkan air mata Akira semakin meleleh ketika pelukan hangat melingkupi tubuhnya ini.
"Apa yang membuatmu menangis,sayang? Katakan" ucapnya yang membuat Akira menggeleng
"Itu, biasa. Mungkin karena kehamilannya. Ma, kau akan memiliki cucu" ucap Afdhan yang membuat perempuan di depannya tersenyum senang.
"Jaga, menantu dan cucuku, Afdhan" ucap Mama Afdhan yang membuat Afdhan mengangguk kaku
Afdhan mengobrol dengan mamanya sebenar. Sebelum pamit akan menemui Papa. Akira langsung tersadar. Ibu Afdhan sebaik malaikat dan Afdhan seperti iblis. Apakah Papanya juga sama seperti Afdhan?
"Robin, bawa Mama istirahat. Saya akan menemui Tuanmu" ucapnya yang membuat Robin mengangguk
Afdhan membawanya menaiki tangga menuju lantai atas. Akira menghentikan langkahnya yang membuat pria itu ikut berhenti. Afdhan terlihat bingung dan juga khawatir dengan Akira yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kenapa lagi?" tanya Afdhan yang membuat Akira mengigit bibirnya. Afdhan cukup tau apa yang sedang dicemaskan oleh istrinya ini. Apalagi jika bukan pertemuannya nanti dengan Daddynya.
"Kita harus segera menemuinya. Hanya formalitas, setelah itu kita pergi okay?"
Mendengar kata pergi membuat Akira mengangguk dan mengikuti langkah Afdhan kembali. Hingga mereka sampai di depan pintu berukiran kuno yang elegan. Tanpa mengatakan apapun Afdhan membuka pintu.
Seorang pria dengan wajah yang sangat mirip dengan Afdhan. Tak ada yang berbeda dengan mereka berdua. Mungkin hanya umur mereka yang membedakan muka mereka. Tetapi semuanya mereka sama.
Jika umur mereka sama mungkin saja akan terlihat kembar. Akira sangat takjub dengan pemadangan kedua pria tampan itu
"Akira, istriku" ucap Afdhan dingin yang membuat pria itu menyipitkan matanya. Sangat kental aura permusuhan disini hal itu membuat Akira makin merasa tidak nyaman. Ingin rasanya dia keluar dari ruangan.
Tetapi Akira tentu saja tidak bisa bergerak barang sesentipun dikarenakan tatapan tajam pria itu sedang menatapnya lekat dan juga genggaman tangan Afdhan yang begitu erat di tangannya.
Namun Akira cukup bersyukur jika Afdhan menggenggam tangannya saat ini. Jika tidak mungkin saat ini Akira sudah luruh di lantai sangking takutnya.
"Kau tidak mengundang orang tuamu, cih anak macam apa kau?" ucap pria itu sinis
"Mama sudah memberikan restunya" ucap Afdhan yang membuat pria itu tertawa miris
"Kau tidak meminta restuku?" ucapnya lagi yang membuat Afdhan mengangkat tangan Akira dan menunjukkan cincin pernikahan mereka.
"Aku tetap bisa menikah tanpa restumu" ucap dengan menunjukkan cincin mereka.
Ini gunanya Afdhan menanyakan apakah Akira memakai cincin pernikahan mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di sini
Akira sangat merasa canggung dengan keadaannya. Seakan dirinya berada di medan tempur. Medan tempur Ayah dan Anak yang seakan-akan ingin saling membunuh satu sama lain
"Aku tidak memberikanmu ijin, Cedric!"
"Cih! Aku menghamilinya tidak meminta ijinmu dan aku menikahinya tidak membutuhkan ijinmu juga, Tuan Lukas"
Afdhan menarik tangan Akira untuk keluar dari ruangan itu. Akira masih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Tanpa mengatakan apapun Afdhan membawanya pulang. Bahkan pria itu hanya menggenggam tangannya erat.
Akira hanya diam dan tidak memberontak sama sekali. Dalam mood baik pria itu sangat berbahaya. Apalagi jika dalam mood jelek
Bahkan supir mereka tidak berani hanya melirik ke belakang melihat keadaan.
Sepertinya pilihan untuk diam adalah hal yang bagus. Sesampainya di rumah. Afdhan masih menyeretnya menuju kamar. Pria itu tidak menyeret dengan kasar tetapi bisa dikatakan memaksa.
Tetapi hal itu tidak menyinggung atau membuat Akira tersulut emosi. Pria itu terlihat hanya ingin ke kamar. Akira hanya mengikuti apa yang diinginkan pria itu. Hanya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
Pintu tertutup dan Afdhan langsung mendorong tubuhnya ke arah pintu. Akira dikurung dengan kedua tangannya yang kokoh.
Tubuhnya seketika kaku dengan posisi mereka berdua. Tatapan fdhan bukan seperti Afdhan angkuh yang dikenalnya.
Pria itu terlihat berbeda dan Akira melihat sebuah... Kerapuhan.
Akira tidak yakin dengan yang terakhir sebenarnya.
"Bolehlah aku menciummu?" tanyanya yang membuat Akira melototkan matanya kaget.
Tidak disangkanya pria itu akan mengatakan hal itu. Apalagi dengan kejadian yang baru saja dilewatinya. Pria itu terlihat menunggunya. Tetapi bibir dan lidah Akira seakan kaku diberi pertanyaan seperti itu dan diharuskan menjawab.
"Aku tidak memerlukan jawabanmu" ucapnya sebelum melumat bibir Akira dengan semangat.
Dilepaskan lumatan itu ketika mereka kehabisan oksigen. Pria itu menopang tubuhnya. Akira makin tidak bisa menjawab apapun habis dicium seperti itu.
"Tanpa jawabanmu. Aku akan menciummu dan terus menciumimu"
*_*_*