Ana mengerjapkan matanya saat sinar mentari menghangatkan pipinya. Dia terbelalak kaget ketika pakaiannya tanggal, hanya pakaian dalam yang tersisa dan tangan kakinya terikat. Ana tak tau bagaimana dia seperti ini. Dia melihat sekeliling, hanya ada kasur king size yang dia duduki dan nakas. Dari desain interiornya, Ana yakin dia masih di hotel yang sama, hanya saja kamar yang berbeda. Dia menangis, berteriak dan meronta. Dalam hatinya memanggil Arion. Sayangnya, mulutnya disumpal dengan kain, tidak ada satu orang pun yang bisa mendengar suaranya.
Tak lama, seseorang datang dengan wajah tersenyum, tanpa Ana duga, Dzaki dalang dibalik ini semua. Sungguh dia malu karena merasa dilecehkan. Ana berteriak menangis meminta dilepaskan.
“Cup ... cup ... cup ... aduh sayang, jangan menangis begit