Mohon maaf cerita ini dalam tahap revisi. Jika menemukan judul dengan tanda (#), harap dilewati dulu karena isinya pasti ngacoh.
***
"Ya, sebentar," seru Sherina ketika mendengar suara bel yang ditekan. Hanya satu orang yang akan bertamu sepagi ini ke rumahnya. Siapa lagi kalau bulan Om Dadang, manajer pribadi Allen. Benar saja, wajah bapak-bapak berkumis itulah yang muncul ketika Sherina membuka pintu depan.
"Maaf, Om. Allen belum bangun," keluh anak gadis yang sudah mengenakan seragam SMA itu.
"Nggak apa-apa, Om tahu kok. Makanya datang lebih pagi," senyum pria setengah baya itu.
"Sebentar ya, Om. Aku bangunin dia dulu. Om duduk aja dulu."
Setelah mempersilakan Om Dadang duduk, Sherina bergegas masuk ke kamarnya. Dadang tertegun sejenak melihat Sherina yang masuk ke kamar sebelah kiri. Kamar yang lebih kecil itu adalah kamarnya Sherina. Sementara kamar di sebelah kanan yang lebih besar adalah kamarnya Allen. Sherina mau bangunin Allen tapi kenapa dia malah masuk ke kamarnya sendiri?
Dadang berpikir sejenak dan mengingat curhatan Allen semalam. Anak itu kelihatan sedih karena tidak bisa tidur sekamar lagi dengan Sherina. Jadi apa semalam dia menerobos kamar anak gadis itu dalam keadaan mabuk? Dadang sebenarnya sama sekali nggak ngerti Allen dan Sherina itu punya hubungan seperti apa. Yah, lebih baik dia juga nggak ikut campur. Allen kan sudah dewasa. Nggak mungkin dia melakukan hal yang aneh-aneh kan? Selama sepuluh tahun Allen dan Sherina sudah tinggal serumah dan tidak pernah terjadi apa-apa.
Sementara itu Sherina menghela napas melihat Allen yang masih terbaring di atas ranjang tapi cuman pake celana panjang doang. Cowok itu tanpa sadar melepas semua bajunya semalam gara-gara kepanasan. Inilah yang bikin Sherina nggak suka tidur sekamar dengan Allen. Pagi-pagi udah dikasih hidangan roti sobek itu ngeri-ngeri sedap.
Sherina menghampiri Allen dan mengguncangkan bahunya. "Allen, Allen ayo bangun. Om Dadang udah nungguin tuh," ucap Sherina.
Allen terdiam tapi bulu matanya bergerak-gerak. Sherina tahu cowok itu cuman pura-pura tidur biar Sherina kesusahan membangunkannya. Seperti itulah Allen.
"Bangun nggak! Aku tahu kamu cuman pura-pura bobok. Om Dadang udah dateng!" kecam Sherina.
Allen meletakkan telunjuknya di bibir. Ternyata beneran kan si b******k ini udah bangun. "Cium di sini dulu, baru Allen mau bangun."
Sherina mendengkus. Dia terpaksa mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir pria itu. Allen tersentak. Dia nggak nyangka Sherina benar-benar menuruti kemauannya padahal Allen cuman becanda doang. Sejak kapan Sherina jadi penurut begini? Tapi rasanya ada yang kurang kalau cuman nempel doang begini. Mana puas si Allen. Maka Allen pun menjulurkan lidahnya keluar. Netra pria itu melotot ketika tiba-tiba dia merasakan nyeri yang amat sangat sampai menjalar ke sekujur tubuhnya. Sherina menggigit lidahnya.
Teriakan Allen menggema sampai ke ruang tamu sampai membuat Dadang merinding. Teknik macam apa yang digunakan Sherina dalam membangunkan Allen sampai cowok itu melolong begitu? Ya, sepertinya, Dadang tidak perlu tahu meskipun penasaran.
Tak beberapa lama, Allen keluar juga dari kamar itu diiringi Sherina yang mengekor di belakangnya. Pak Dadang melongo melihat Allen yang bertelanjang d**a setelah keluar dari kamar cewek. Apa yang sudah mereka lakukan semalam? Dadang ingin tahu tapi juga nggak ingin tahu. Bocah itu memang berbahaya.
"Oh, Kakak, tunggu sebentar yak. Aku mandi dulu," ucap Allen sembari menggaruk-garuk rambutnya yang berantakan. Kepalanya pusing sekali dan perutnya agak mual.
"Oke," angguk Dadang sabar.
"Minum ini dulu." Sherina membuka kulkas dan menyodorkan yoghurt rasa blueberry pada Allen.
"Oh, makasih, Tante," senyum Allen sembari menerima minuman yang dapat meredakan hangover itu. Perutnya terasa lebih baik setelah meneguk habis yoghurt itu. Allen melemparkan botolnya ke tempat sampah lalu masuk ke kamar mandi.
"Om Dadang mau teh?" tawar Sherina.
"Oh, ya boleh," angguk Dadang.
Tidak ada sekat antara ruang tamu dan dapur di rumah itu. Hanya dibatasi kelambu yang hari ini disibak. Jadi aktivitas Sherina yang sedang sibuk di dapur terlihat jelas. Gadis itu memanggang roti dan memasak telur dan kornet. Sepertinya dia sedang membuat sandwich.
Dadang mengawasi anak gadis itu baik-baik. Sherina benar-benar sudah tumbuh dewasa. Pertama kali Dadang melihatnya, gadis itu hanya bocah kecil yang terus menempel di kaki Allen.
Sherina terlihat tenang sekali walaupun melihat Allen yang wara-wiri nggak pake baju. Padahal kalau cewek-cewek lain pasti udah jejeritan nggak jelas. Yah, sepertinya dia memang sudah biasa. Mereka itu benar-benar kayak suami isteri yang udah nikah lebih dari sepuluh tahun. Mungkin itulah daya tarik Sherina sehingga Allen tidak bisa lepas darinya.
"Om Dadang mau sarapan?" tawar Sherina lagi sembari menyuguhkan secangkir teh di hadapan Dadang.
"Ah, nggak, makasih. Aku sudah makan di rumah tadi," tolak Dadang.
Allen akhirnya keluar dari kamarnya. Dia mengenakan kaos biasa dan celana jeans saja. Baju-baju Allen lebih banyak berada di dalam van daripada di sini. Hanya di dalam rumah inilah, Allen menanggalkan segala atribut keartisannya dan menjadi orang biasa.
"Ayo Kak, aku sudah siap," kata Allen.
"Oke," angguk Dadang.
"Tunggu dulu, hape sama dompetmu nggak ketinggalan, kan?" tegur Sherina.
"Ya, ini udah ada di kantong," sahut Allen sembari menepuk saku celananya.
"Bawa ini buat dimakan di mobil." Sherina menyodorkan kotak makan yang sudah diisinya dengan sandwich.
"Makasih, Sayang," senyum Allen sembari menerima kotak bekal itu.
"Hari ini pulang nggak?"
"Agak sorean, mungkin sekitar jam sembilan."
"Mau dimasakin apa?"
"Soto Betawi boleh."
"Oke, hati-hati ya."
"Aku berangkat dulu."
Dadang merinding melihat obrolan santai Allen dan Sherina yang diakhiri dengan Allen yang mengecup puncak kepala Sherina. Bahkan Dadang dan istrinya saja nggak pernah bicara semesra itu selama hampir dua puluh lima tahun pernikahan mereka. Istrinya tadi pagi bahkan cuman bilang "Hm," doang waktu Dadang berpamitan. Entah mengapa Dadang merasa iri.
"Len, kamu sama Sherina itu udah kayak suami isteri aja lho," komentar Dadang setelah dia duduk di kursi kemudi.
Allen yang sedang memilih-milih outfit yang mau dia kenakan hari sembari menggigit sandwich tertawa kecil. "Soalnya dia kelihatan lebih banyak mengurus aku, kan? Dia jadi begitu setelah kelas dua SMP. Tante-tante banget. Aku juga nggak nyangka dia tumbuh secepat ini. Padahal dulu dia ngiket tali sepatu sendiri aja nggak bisa."
Dadang tersenyum. Dia ingat sepuluh tahun lalu ketika dia menjemput Allen seperti ini, Sherinalah lari-larian dan makan dengan mulut belepotan. Allen yang mati-matian memakaikan baju dan menyisir rambut anak gadis itu. Rasanya itu baru kemarin. Sekarang semua terbalik. Ya, waktu memang cepat berlalu.
"Yah, dia udah cocok jadi isteri," kekeh Dadang.
Allen melotot tajam. "Masih lama!" seburnya sampai beberapa remah roti terlempar. "Aku akan izinkan dia menikah setelah umur dua lima. Eh, nggak. Sebaiknya setelah dia lulus S2, eh nggak S3 aja dan dapat kerja."
***
Halo Kakak-kakakku yang baik hatinya. Terima kasih sudah menemukan dan membaca cerita ini. Jangan lupa di love dan komen ya, biar diriku semangat nulisnya. Mampir juga ke cerita aku yang lainnya yak. Jika sudi, silakan follow i********: aku @shietadm
***