Mohon maaf cerita ini dalam tahap revisi. Jika menemukan judul dengan tanda (#), harap dilewati dulu karena isinya pasti ngacoh.
***
"Yah, dia udah cocok jadi isteri," kekeh Dadang.
Allen melotot tajam. "Masih lama!" seburnya sampai beberapa remah roti terlempar. "Aku akan izinkan dia menikah setelah umur dua lima. Eh, nggak. Sebaiknya setelah dia lulus S2, eh nggak S3 aja dan dapat kerja." Allen manggut-manggut kayak boneka pajangan di dasbor mobil.
Dadang tergelak. S3? Bisa-bisa Sherina jadi perawan tua kalau baru nikah di umur segitu. Dia tahu bahwa sebenarnya Allen hanya mencari-cari alasan saja. Allen ingin menguasai Sherina selamanya. Cowok itu menyayangi Sherina lebih dari yang dirinya sendiri tahu. Dadang sangat yakin itu bukanlah cinta platonik. Hanya saja mungkin Allen belum mau mengakuinya.
"Tapi kalau dia ketemu sama cowok yang dia suka bagaimana dong. Kalau kamu nggak mengizinkan bisa-bisa dia malah kawin lari," goda Dadang.
"Ka-kawin lari?" Allen tergagap. Cowok itu memegangi dagunya dan berpikir dengan serius. Ayah dan ibu kandungnya dulu juga kawin lari karena tidak mendapat restu. Hal ini membuat Allen merasa was-was. Inilah jalan pikiran anak muda yang penuh hasrat. Mungkin saja Sherina juga bisa melakukan hal itu. Allen menggeleng-geleng. Dia bisa mati jika Sherina memutuskan hubungan dengannya seperti itu.
"Uh, aku harus lihat dulu calon suaminya pantas atau tidak," jawab Allen akhirnya.
Dadang tertawa terbahak-bahak. Sungguh lega dan segar rasanya menggoda Allen di pagi hari begini.
"Aduh!" keluh Allen sembari menutup mulutnya. Rasa nyeri tiba-tiba menyerangnya.
"Kak, mampir ke apotik ya, beli madu. Aku sudah kumur pake air garam tadi tapi kayaknya nggak cukup," pinta cowok itu memelas.
"Kenapa? Kamu sariawan?" tanya Dadang. Mengoleskan madu pada sariawan adalah kebiasaan Allen sejak dulu.
"Lidahku sakit, tadi digigit sama Sherina."
Dadang melotot. Lidah? Dari seluruh bagian yang ada di tubuh Allen, kenapa yang digigit Sherina itu bisa lidah? Bagaimana bisa Sherina melakukan itu? Masa dia meminta Allen menjulurkan lidah terus dia gigit? Bayangan Allen dan Sherina yang melakukan adegan erotis jadi memenuhi kepala Dadang. Buru-buru manajer itu mengeleng untuk mengisir pikiran kotor tersebut. Sudah dia duga Allen dan Sherina ini pasti ada apa-apanya. Mereka memang pasangan yang mencurigakan.
Dadang melirik pada lengan Allen dan terkejut. Ternyata Sherina tidak hanya menggigit lidah Allen saja. Di lengannya juga ada bekas gigitan. Kalau diperhartikan dari luar Sherina tidak terlihat agresif. Malah dia itu seperti siswi teladan yang bajunya selalu di masukkan dan panjang rok di bawah lutut. Ternyata dia tipe yang suka gigit-gigit begitu yak? Nggak nyangka.
"Len, hari kamu pake baju lengan panjang ya," titah Dadang.
"Hah? Nggak mau ah, panas begini," gerutu Allen.
"I-itu di lengan kamu, harus ditutupi, kan?" Dadang tiba-tiba jadi gagap.
"Lengan?"
Allen menatap lengan kirinya. Cowok itu tampak tertegun ketika melihat bekas gigitan Sherina semalam. Ternyata bekasnya berubah jadi merah begini. Tapi hal itu malah membuat Allen cengar-cengir bahagia.
"Wow, ini kayak kiss mark yak," kata Allen takjub.
Dadang jadi merinding mendengar ucapannya. Memangnya apa lagi kalau bukan kiss mark?
"Ah, ternyata Sherinaku suka menandai daerah kekuasaan," kekeh Allen gembira.
***
KRL di pagi hari benar-benar padat sampai Sherina tidak bisa bergerak. Sherina yang bosan memandangi monitor panjang yang menggantung di langit-langit kereta. Benda itu menampakkan iklan yang dibintangi Allen. Cowok itu lagi-lagi pamer roti sobeknya.
Sherina berdecak karena teringat ciumannya dengan Allen tadi pagi. Rasanya puas sekali bisa menggigit lidah cowok itu. Ciuman bibir dengan Allen itu hal biasa bagi Sherina. Bahkan jantung Sherina tidak pernah berdebar-debar saat melakukannya. Sherina sudah melakukannya sejak umur lima tahun sampai kelas tiga SD seperti kewajiban. Setiap berangkat dan pulang sekolah dia pasti mencium Allen. Ini terjadi gara-gara Allen, si om-om m***m itu menipunya. Allen dulu bilang bahwa ciuman di bibir itu adalah salam yang harus dilakukan minimal dua kali dalam sekali. Bodohnya, Sherina percaya saja. Baru saat kelas tiga SD, Sherina sadar bahwa dirinya telah dibohongi. Gara-gara dia membaca komik serial cantik bersama teman sekelasnya. Anak-anak cewek heboh hanya karena melihat adegan ciuman antara tokoh utama komik itu yang menurut Sherina sudah biasa itu.
"Emang kenapa kalau ciuman? Itu kan cuma bibir yang menempel aja. Ya kadang-kadang Allen suka pake lidah sih," komentar Sherina yang polos sontak membuat teman-temannya makin histeris.
"Itu bukan hal biasa, Sherina. Ciuman di bibir itu hanya boleh dilakukan dengan orang yang kamu cintai."
Sherina luar biasa malu saat mengetahui fakta itu. Begitu pulang dia langsung memprotes pada Allen. Tapi cowok itu hanya cengar-cengir saja tanpa dosa.
"Kalau di negara asalku, Perancis sana, ciuman seperti itu sudah seperti salam, Tante Celi. Lagian aku dan Tante Celi saling mencintai, kan?"
Dasar Allen b******k! Bule gadungan sialan! Pake ngaku orang Perancis, padahal ke sana aja kagak pernah. Ya memang sih cowok itu mewarisi darah Perancis dari Om John yang bule tulen. Itulah yang membuat warna matanya abu-abu dan rambutnya kecoklatan. Daya pikatnya yang membuatnya menjadi artis papan atas. Tapi Allen hidup dan besar di Indonesia. Bahasa Perancis yang dia tahu aja cuman "J'aime la nuit de eu" doang. Itu pun karena itu merk parfum yang pernah jadi sponsornya. Sejak saat itulah Sherina bertekad untuk tidak memercayai segala kata yang keluar dari bibir om-om m***m nan biadab itu! Sherina mendesah. Dia harus segera lulus dan kuliah di luar kota Jakarta agar dia bisa jauh-jauh dari om-om m***m itu.
Sherina mendengkus. Sudah tidak mungkin bagi dia untuk merasakan percintaan yang normal untuk ukuran anak seusianya. Karena sebagian besar skinship sudah pernah dia lakukan dengan Allen. Gara-gara tipu daya om-om m***m itu. Sungguh menyedihkan sekali hidupnya.
Kereta berhenti sekali lagi di Stasiun Lenteng Agung. Lebih banyak orang yang masuk daripada yang keluar sehingga membuat kereta jadi makin padat saja. Sherina terdorong sampai ke dekat pintu. Pintu itu tidak berbuka karena tidak berada di sisi peron. Yang mendorongnya adalah seorang cowok yang mengenakan masker sepeda motor.
"Eh, anu, maaf," ucap laki-laki itu canggung.
Sherina menatap mata laki-laki itu yang terlihat jernih. Warna matanya berwarna amber. Seperti mata kucing. Unik juga.
Orang-orang mendesak lagi. Ada yang berteriak memaksa masuk tapi kondektur tidak mengizinkan karena sudah terlalu penuh. Laki-laki itu menahan kedua tangannya pada kedua sisi tubuh Sherina agar Sherina tidak terdesak lagi. Bukannya ini kayak adegan di drama Korea yak? Sherina jadi sedikit deg-degan.
***
Cinta platonik adalah cinta yang tulus tanpa hasrat seksual. Seperti cinta ibu pada anaknya, cinta antar saudara dan sahabat.
***
Halo Kakak-kakakku yang baik hatinya. Terima kasih sudah menemukan dan membaca cerita ini. Jangan lupa di love dan komen ya, biar diriku semangat nulisnya. Mampir juga ke cerita aku yang lainnya yak. Jika sudi, silakan follow i********: aku @shietadm
***